
~Ketika senja menyapa hari telah berganti, dan menandakan akan datangnya waktu baru ke ruang mimpi manusia~
Acara pernikahan telah selesai dan kini Angga dan Keisha tengah beristirahat di kamarnya, mulai malam ini mereka akan tidur bersama sebagai sepasang suami istri. Kedua pengantin itu sudah lama membersihkan diri mereka, kini keduanya telah memakai pakaian santai, duduk di balkon dan memandang ke luar tepat ke arah langit yang luas di malam hari. Mereka sedang berbicara dari hati ke hati.
“Nyonya, saya masih tidak percaya kalau kita sudah menikah,” ujar Angga pelan membuka pembicaraan.
“Hmm, aku juga,” jawab Keisha.
Pemuda itu masih asik memandang kumpulan bintang di atas sana yang sedang membentuk sebuah pola.
“Angga,” panggil Keisha.
Pemuda itu melihat ke arah Keisha, wajah perempuan itu begitu teduh bagi Angga di matanya.
“Jangan memanggilku Nyonya, kini aku sudah menjadi istrimu,” tutur Keisha pelan.
“Saya juga berpikir begitu, tapi rasanya saya sudah terbiasa dengan panggilan itu, jadi saya susah menggantinya,” jawab Angga, pemuda itu menatap manik hitam milik istrinya.
“Saya terlalu menghormati Nyonya, bagi saya Nyonya adalah wanita yang harus saya jaga. Setiap kata-kata yang saya ucapkan, saya berharap tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti hati Nyonya. Sejak pertama kali kita bertemu 12 tahun yang lalu, panggilan Nyonya adalah hal pertama yang saya dengar dari Anda.” Jelas Angga, pemuda itu kembali mengingat tentang masa lalunya.
“Sekarang hilangkan panggilan itu, kamu bisa memanggilku Keisha. Aku adalah istrimu, bukan orang lain,” tutur Keisha sembari menyingkirkan poni pemuda itu yang mulai menutupi matanya karena terpaan angin malam.
“Akan saya usahakan,” jawab Angga pelan.
“Dan berhenti bicara formal padaku, jangan gunakan kata saya saat berbicara padaku. Cukup aku atau kamu, hmm?” Kata Keisha lagi.
Angga mengangguk pelan, pemuda itu begitu bahagia saat ini, karena perempuan yang dicintainya telah menjadi istrinya, dan dia tidak akan pernah melepaskannya.
“Keisha,” panggil Angga lagi.
“Bolehkah aku memelukmu?”
Keisha mengangguk sebagai jawaban, Angga langsung menghamburkan dirinya untuk dipeluk oleh perempuan itu. Rasa hangat mula menjalar di dadanya, pemuda itu merasa senang tapi juga sedih.
“Nyonya, aku takut suatu saat kita akan berpisah. Saat itu tiba, apa yang harus aku lakukan?” batin Angga dalam hati.
“Entah kenapa hati suamiku ini begitu rapuh? Dia seperti kaca, apabila retak sedikit saja maka tidak akan utuh seperti semula,” batin Keisha. Perempuan itu mengelus pucuk kepala Angga yang masih dalam dekapannya.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyakitimu Angga, aku akan menjagamu. Mari kita saling menjaga,” sambung Keisha lagi dalam hatinya.
Setelah acara pernikahan tadi usai, Ayah mertuanya Heru telah menceritakan semua masa lalu Keisha kepada Angga. Saat mengetahui masa lalu dari istrinya, pemuda itu terlihat sedih. Dia juga sudah tahu penyebab Keisha sulit mengandung, karena cidera di perutnya. Oleh karena itu, pemuda itu tidak ingin melakukan hal yang membuat istrinya tersakiti suatu hari nanti.
__ADS_1
“Angga maukah kamu memulainya dari awal denganku?” Tanya Keisha.
Kini pemuda itu melepaskan pelukannya dari istrinya, dia memandang wajah teduh dihadapannya.
“Iya, mari mulai dari awal,” jawab Angga.
Keisha menggenggam tangan Angga pelan, dia menyalurkan hawa kehangatan di buku-buku jari-jemari suaminya yang dingin.
“Maukah kau menjadi kekasihku?” Tanya Keisha lagi. Ini adalah pertama kalinya perempuan itu menembak seorang pria dan itu adalah suaminya sendiri.
“Iya, aku bersedia,” jawab Angga.
Keisha tersenyum hangat dan mencium bibir suaminya singkat.
“Mari kita tidur, ini sudah malam,” tutur Keisha. Perempuan itu menarik tangan Angga dan membawa pemuda itu masuk ke dalam kamar mereka.
Pada akhirnya mereka tertidur dengan saling berpelukan, melepaskan segala beban dalam hati dan pikiran mereka. Mereka tertidur dalam diam, dan menunggu datangnya hari esok, hari baru bagi hubungan mereka.
Saat matahari telah mulai naik diperaduannya, burung-burung pun berkicau merdu, mata pemuda itu terbuka. Dia baru tersadar dari mimpinya.
“Pagi, Nyo___,” kata-kata Angga terhenti saat mengingat kalau dia telah sepakat untuk tidak memanggil istrinya dengan sebutan itu lagi.
“Pagi sayang,” sapa Angga mengganti ucapannya yang tadi sempat terhenti.
“Iya sayang,” jawab Angga sembari bangun dari tidurnya. Dia memberikan kecupan kecil di pucuk kepala Keisha dan berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
"Aku benar-benar menjadi suami Nyonya Keisha, aku masih tidak percaya. Angga kamu tidak bermimpi bukan?" batin Angga sambil berjalan ke kamar mandi dan menepuk-nepuk kedua pipinya.
Keisha hanya tersenyum manis menerima perlakuan dari Angga, perempuan itu bergegas membereskan semua barang-barang milik dia dan suaminya ke dalam koper. Hari ini mereka akan pulang ke rumah baru mereka, bukan kediaman Ayahnya atau pun apartemennya dan apartemen Angga. Baik Tuan Sebastian maupun Heru telah membelikan rumah untuk menantu maupun anaknya, dan hal ini sudah diberitahukan pada Angga dan Keisha di malam hari sebelum pernikahan mereka.
“Sayang bisa kau ambilkan baju ganti untukku?” Tanya Angga yang masih ada di dalam kamar mandi.
“Tunggu sebentar, aku akan ambilkan,” kata Keisha. Dia mengambil kaos untuk Angga di dalam kopernya.
“Ini baju gantinya,” ucap Keisha sembari menyodorkan sepasang pakaian untuk Angga, tapi pemuda itu tidak segera mengambilnya, dia masih lama-lama berada di dalam kamar mandi.
“Angga,” panggil Keisha lagi.
“Angga,” masih tidak ada jawaban.
Dengan terpaksa Keisha membuka kamar mandi, namun saat membukanya orang yang dicarinya justru tidak terlihat di sana.
__ADS_1
Dan saat berbalik di melihat wajah menyeramkan di belakangnya. Keisha berjingkat kaget, dan memegangi dadanya.
“Angga!” Marah Keisha pada akhirnya.
“Hahahaha.. apa kamu suka dengan kejutannya sayang,” kata Angga sembari melepas topeng di wajahnya dan tertawa puas.
“Kamu membohongiku, tadi katanya tidak ada baju ganti. Tapi ini?” ujar Keisha sembari menunjuk baju yang sudah dikenakan oleh Angga.
“Hahahaha.. maaf Nyonya. Ah maksudku sayang, aku hanya ingin membuat sebuah lelucon,” elak Angga.
“Ya sudah, sekarang kita turun ke bawah,” pinta Keisha.
“Kamu marah sayang?” Tanya Angga sedikit memelas.
“Tidak,” Keisha berlalu mengambil ponselnya.
“Pasti kamu marah padaku,” kata Angga lagi sembari mencebikkan bibirnya.
“Tidak sayang, aku tidak marah,” jawab Keisha pada akhirnya.
Angga tersenyum manis, dan memeluk tubuh istrinya. Dia meletakkan kepalanya di tengkuk leher Keisha.
“Sayang.” Kata Angga tepat ditelinga Keisha.
“Iya.”
“Mari berkencan.”
“Kencan?”
Angga melepaskan pelukannya, pemuda itu membalikkan tubuh Keisha dan menghadapkan wajah perempuan itu tepat di hadapannya.
“Iya, kencan pertama kita sebagai sepasang kekasih,” jawab Angga sembari tersenyum manis.
“Mari kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nyonya, setidaknya sebelum badai datang di antara kita,” batin Angga dalam hati.
_____________^_^
Selamat membaca reader semoga sukaa🤗🤗
BESOK saya TIDAK LIBUR.. saya akan UP lagi di tunggu yaaa😁😁
__ADS_1