
...~Terkadang kita berdiri sendirian karena keyakinan atau mengejar impian, dan kita memerlukan seseorang yang bersedia di samping kita tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Tuhan menciptakan seorang kekasih~...
As-Sana
***
Ella memasuki pintu gate setelah memarkirkan mobilnya di tepi jalur. Tadi ia mengikuti Angga secara diam-diam dari belakang ketika lelaki itu meninggalkan kantor. Ella mulai berjalan melihat-lihat sambil mencari sosok keberadaan Angga. Ia yakin melihat pria itu masuk ke sini.
Keramaian yang terbentuk mengganggu Ella, ia merasa cukup risih. Tentu saja ini terjadi, karena perempuan itu pernah mengalami penyakit asosial semasa kecil. Suatu hal yang membuat ia benci kerumunan dan suka menyendiri.
Suara orang-orang bersahutan. Mereka tampak bersuka cita saling bercengkrama. "Kenapa Angga harus datang ke tempat seperti ini?" gerutunya mengenal lelaki itu tak pernah berkunjung ke tempat seperti ini sebelumnya. Kaki Ella berjalan lambat, setiap kali ada orang yang lewat ia selalu menghindar. Berusaha agar tidak melakukan kontak fisik.
Kini pemilik mata amber itu berdiri di dekat papan reklame yang tampak akan dipasang. Kanan-kirinya ada beberapa foto hasil fotografer yang dipajang. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari sosok Angga. "Astaga, di mana dia?" keluhnya lagi karena tak kunjung menemukan ayahnya Hasa.
Baru beberapa detik netranya menyapu setiap sudut jalur, tiba-tiba orang-orang mulai meneriakinya. "Nona! Awas papan reklame-nya akan jatuh!" teriak mereka bersahutan memperingati Ella. Namun, wanita yang coba diberitahu itu cuma menatap heran belum menangkap maksud mereka.
"Kenapa sih mereka?"
Eliot kebetulan baru saja mengantar pesanan makan malam nanti untuk para seniman dan musisi. Saat mendengar suara gaduh tidak jauh dari tempat ia berdiri. Pria tunawicara itu langsung menoleh, memperhatikan keadaan sekitar. Di sana, ia bisa menangkap bayangan gadis bergaun biru laut yang sepertinya pernah ia lihat. Ya, itu adalah pelanggan yang sempat memprotesnya beberapa hari lalu karena kesalahan yang tidak ia perbuat.
__ADS_1
"Nona! Minggir!"
Retina Eliot menyapu area tempat Ella berdiri, lelaki itu bisa melihat sebuah papan reklame yang satu tumpuannya mulai jatuh menggantung di udara.
'Awas! Jangan berdiri di sana! Papan reklame-nya akan jatuh!'
Ella yang mengetahui gerakan aneh dari pria berseragam kuning pengantar makanan hanya membuka mulut merasa heran. Ia masih tak mengerti juga. "Apa pria bisu itu mulai gila? Jadi ia bersikap aneh seperti itu?" suara benda berderit terdengar dari atas. Ella segera mendongak, ia menjerit ketakutan. Tubuh perempuan itu menegang tak bisa bergerak walau kakinya ingin berpindah. Eliot yang berada dekat dengannya segera berlari melindungi tubuh Ella dalam dekapannya. Punggung laki-laki itu membentur papan reklame, kepalanya sedikit mengeluarkan darah.
Dengan erat Eliot memeluk tubuh Ella, melindungi kepalanya. Merasakan sesuatu yang hangat dari pelukan lelaki itu, tanpa sadar Ella membalas dan menunduk berlindung dalam dekapan Eliot.
'Ella, ayo keluar! Apinya semakin besar!'
'Ibu!'
"Pluto," lirih Ella menitikkan air mata.
Eliot yang mendengar nama tidak asing itu terkesiap, di tengah rasa sakit yang ia terima. Ia seperti ditarik ke masa lalu, bertemu teman masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya yang telah meninggal karena kebakaran.
"Cepat panggil ambulan! Bawa mereka ke rumah sakit!"
__ADS_1
Orang-orang mulai berbondong-bondong menghampiri Ella dan Eliot, mereka mengangkat papan reklame yang berat dan besar dari tubuh keduanya. Lalu menolong mereka. Petugas keamanan juga datang, penanggung jawab acara turut serta berlarian untuk mengambil tindakan.
Darah yang mengucur di pelipis Eliot mengenai bahu Ella, membuat perempuan itu tertegun. Mengembunkan matanya karena meneteskan air mata. "Kau berdarah," tuturnya. Eliot cuma tersenyum entah apa yang pria itu sedang ucapkan, karena ia bisu maka Ella pun tidak mengerti.
'Apa kau Ella? Kau tidak meninggal?'
Secercah kerinduan terlukis di netra Eliot, suatu rasa rindu yang kental akan kepedihan dan cinta. Bagaimanapun ia sangat mencintai Ellanya. Perempuan pertama dan terakhir yang membuat ia tak menikah sampai sekarang.
'Eliot, terima kasih atas semuanya.'
Kenangan masa kecil Eliot berputar, ia mengingat ucapan selamat yang diberikan sahabat baiknya. Sebuah kata terima kasih sekaligus ucapan perpisahan.
"Hei buka matamu?" Ella terus mengguncang bahu pelayan itu ketika sang tunawicara mulai memejamkan mata kehilangan kesadaran.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung.