
~Semua hubungan yang memiliki dasar yang kuat tidak akan mudah untuk dihancurkan~
Suasana tegang menyelimuti ruang bernuansa Eropa itu, keindahan dan desain interior dari restoran yang biasa dinikmati oleh pengunjung tidak lagi diindahkan oleh Angga. Karena yang menjadi fokusnya saat ini adalah pria tua beruban yang memiliki paras Asia setengah Eropa, yang memaksanya untuk mengakhiri pernikahannya. Dia adalah kakeknya sendiri Wilson Andreas.
"Turunkan sedikit suaramu," ucap Tuan Wilson datar. Manik cokelatnya yang mirip dengan milik putranya Sebastian menatap tajam ke arah Angga seolah-olah memerintahkannya untuk diam dan tunduk.
"Tidak perlu menurunkan suara jika harus berbicara dengan anda," sanggah Angga tegas. Tidak ada lagi panggilan "Kakek" dari mulutnya, yang ada hanya sebutan untuk orang asing. Romi yang berada di tengah suasana tegang tersebut hanya dapat diam, dia tidak berani berkata apa pun yang justru dapat memperkeruh suasana.
Tuan Wilson sedikit menurunkan antensinya, kemudian tangannya menengadah ke arah Jemy meminta berkas yang lain. Amplop berwarna cokelat dengan beberapa lembar dokumen tebal diberikan pada Angga. Isi dari dokumen itu adalah semua informasi tentang istrinya Keisha, baik kehidupannya, riwayat pendidikan, kesehatan, biografi, bahkan surat-surat penting perusahaan.
Angga mengambilnya dengan sedikit terpaksa, perasaannya mulai tidak enak. Ternyata kakeknya bergerak begitu cepat. Mendapatkan semua informasi tentang Keisha tentu tidak sulit bagi kakeknya selama uang ada di tangannya.
"Nona Keisha Prawijaya, tidak pantas menjadi menantu dari keluarga Andreas." Tutur Tuan Wilson datar dan dingin. Matanya menatap tajam pada cucunya Angga, berupaya menunjukkan posisi serta statusnya.
Romi yang melihat pemandangan ini seolah-olah kembali ke masa lalu, pada masa saat Tuan Sebastian dipaksa bercerai dengan Nyonya Susi. Sejak berumur empat belas tahun Romi telah menemani Tuan Sebastian menjadi pengawal pribadianya, hingga sampai usianya yang sekarang menginjak tiga puluh tahun, dia masih setia mengabdi padanya. Semua yang terjadi pada Tuan Sebastian dan keluarganya bukan rahasia lagi bagi Romi.
"Tuan Wilson, anda tidak dapat mengulangi kesalahan yang sama lagi." Tutur Romi halus mencoba memperingatkan, tapi nasihat yang diberikan oleh Romi tidak diindahkan sama sekali oleh Tuan Wilson.
"Tanda tangani surat ini," kata Tuan Wilson lagi sedikit memaksa pada cucunya. Angga yang sedari tadi cukup menahan emosinya sudah tidak dapat menenangkan dirinya lagi. Kakeknya sudah kelewatan, dia sudah melewati batas kesabaran.
Angga mengambil surat itu ditangannya, Tuan Wilson tersenyum tipis melihatnya. Namun, saat Angga tiba-tiba menuangkan air minum di surat cerai itu hati Tuan Wilson memanas. Cucunya membangkang, dia sama seperti putranya yang susah diatur di masa lalu hingga menimbulkan banyak kerugian padanya.
"Kau!" Seru Tuan Wilson meninggi.
"Jika Tuan mengharapkan saya bercerai dengan Nyonya Keisha! Anda salah besar, karena saya tidak akan pernah melakukannya!" Angga meninggikan suaranya tidak kalah sengitnya. Orang-orang mulai menoleh ke meja yang mereka duduki, mencoba mencari sumber suara kegaduhan. Dan beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik. Tuan Wilson yang mengetahui itu pun merasa risih.
__ADS_1
"Pelankan sedikit suaramu," perintahnya mencoba bersikap tenang namun tidak menurunkan aura mengancamnya. Angga kembali duduk di kursi, namun tangannya masih terkepal kuat. Angga tadi sempat berdiri karena sudah tidak sanggup lagi menahan emosinya.
"Tuan Wilson, Tuan Sebastian tidak akan senang dengan ini." Romi mencoba mengambil hati kakek tua itu, tapi seperti biasa omongannya tidak berpengaruh apa-apa pada Tuan Wilson.
"Jemy," panggil Tuan Wilson pada orang kepercayaannya. Jemy langsung menyerahkan dokumen berikutnya. Dan Tuan Wilson kembali menyerahkannya pada Angga.
"Ini adalah data penting Jewelry Group." Tuan Wilson menghentikan ucapannya sejenak.
Angga yang menerima berkas itu sudah dapat menebak bahwa perusahaan yang dimiliki oleh istrinya akan menjadi ancaman untuknya. Kakek tua itu benar-benar sudah mempersiapkan semuanya.
"Aku memberimu waktu tiga hari, selama tiga hari itu masa depan keluarga istrimu ada ditanganmu. Pikirkan ini baik-baik." Tuan Wilson beralih menatap Romi.
"Katakan pada putraku, untuk tidak ikut campur dalam urusan ini. Dia sudah menyembunyikan cucuku selama puluhan tahun. Aku tidak bisa lagi menerima kesalahannya." Romi hanya diam, dia tidak berani berkata apa pun, karena sekali dia bersuara keluarganya juga akan terancam.
Tuan Wilson bersiap meninggalkan meja, dia sudah berdiri tegak dan siap melangkah pergi. Tapi sebelum niatnya itu terwujud. Angga mencekal tangannya, dia menyerahkan kembali tiket penerbangan itu ditangan Tuan Wilson.
"Saya tidak membutuhkan tiket ini, uang yang anda pakai untuk membeli tiket dari Toronto ke Montreal juga akan saya ganti." Ucap Angga kasar dan berlalu pergi dari sana. Romi yang melihat Angga sudah berjalan cepat keluar dari restoran tersebut juga segera mengekor di belakang mengikuti Tuan Mudanya.
Angga tidak kekurangan uang sama sekali, selama ini uang yang ia pakai untuk biaya hidup di Kanada bersama istrinya adalah uang dari hasil jerih payahnya. Tidak ada sedikitpun Angga menggunakan uang milik ayahnya. Sementara Romi dan Lianda, tidak ada sangkut paud dengan dirinya karena memang Angga tidak berniat mempekerjakan mereka. Mereka berdua datang atas perintah ayahnya, bukan dirinya. Jadi semua gaji Romi dan Lianda ditanggung oleh Tuan Sebastian.
Angga dan Romi kembali melakukan penerbangan ke Toronto bukan ke Ottawa, karena mobil mereka masih berada di kota itu. Mereka kembali melakukan perjalanan dengan jalur darat menggunakan kendaraan beroda empat tersebut.
Selama perjalanan Angga hanya diam, pemuda itu terlihat sedang berpikir keras untuk menghadapi kakeknya. Sedangkan Romi, dia hanya memfokuskan perhatiannya pada jalan raya. Baik keduanya tidak ada yang ingin membuka pembicaraan.
Mereka tiba di rumah pada malam hari. Suasana rumah cukup sepi hanya lampu berwarna kuning ke putih-putihan yang menyala di bangunan berlantai dua dengan desain modern tersebut.
__ADS_1
Beberapa rumah penduduk lain tetangga Angga dan Keisha, sudah mematikan sebagian lampunya. Meskipun ada beberapa lampu yang menyala itu hanya pada tempat-tempat tertentu seperti halaman depan rumah mereka.
"Sayang kenapa kamu berada di luar? Ayo masuk, nanti kamu kedinginan." Angga merangkul bahu Keisha dan membawanya masuk ke dalam rumah. Perempuan itu telah menunggunya di depan teras cukup lama hingga tubuhnya cukup terasa dingin.
Sementara Tuan Mudanya masuk ke dalam rumah bersama istrinya, Romi memarkirkan mobil di garasi. Dan melakukan pengecekan keamanan terutama pada pintu gerbang utama.
"Kamu baru pulang?" Tanya Romi pada Lianda yang terlihat baru menuruni taksi. Terlihat jelas wajah kusut dari perempuan yang masih memakai jas rumah sakit tersebut.
"Bukan urusanmu," ketus Lianda. Dia langsung memasuki rumah dan melewati Romi begitu saja. Romi hanya dapat menghela napas, hari ini begitu berat untuknya jadi dia tidak ingin menambah beban pikirannya.
Meskipun ada rasa khawatir sedikit di hati Romi untuk rekan kerjanya sekaligus sahabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat apa-apa. Walaupun Romi sadar bahwa mata Lianda sembab karena habis menangis. Akan tetapi, masalah Tuan Mudanya dengan Tuan Wilson jauh lebih penting sekarang.
Ketika malam semakin larut, dan jam sudah menunjukkan pukul 00.00 lebih. Angga terbangun dari tidurnya, pikirannya tidak bisa tidur dengan nyeyak malam ini. Dia melihat wajah istrinya yang masih tertidur pulas, membuat Angga sedikit merasa lega. Dia menaikkan selimut untuk Keisha dan membenamkam ciuman singkat di kening perempuan yang dicintainya itu.
"Tidak akan aku biarkan Kakek merusak hubungan kita Nyonya." Batin Angga.
Angga menuruni ranjang, mengambil ponsel di atas nakas samping tempat tidurnya. Kemudian Angga berjalan ke balkon mencari tempat yang tenang untuk melakukan panggilan.
"Merry, bisa kau lakukan sesuatu untukku?" Ucap Angga terdengar serius.
_________
Selamat membaca.
Maaf jika menunggu lama ^_^
__ADS_1