My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 14 Malam Romantis


__ADS_3

^^^~Sejatinya aku wanita yang beruntung karena mendapatkan pasangan hidup seperti Angga, lelaki yang penuh kasih sayang~^^^


-Keisha Prawijaya-


***


Langkah kaki Angga terasa berat seperti ada paku yang menancap lalu mengikatnya dengan bumi Ottawa. Ia tadi tak mungkin keliru, jelas-jelas pria bermanik batu rubi itu menyebut nama "Keisha" wanita yang juga ia cintai.


'Hanya ditemani seorang kekasih'


Ucapan Julian saat Angga bertanya tentang orang yang menemaninya terlintas kembali. Di belakang Julian tetap memejamkan mata mendongakkan kepalanya ke langit. Angga yang berniat berbalik menghampirinya untuk menanyakan nama wanita yang ia sebut, mengurungkan niat karena Hasa telah memanggilnya berulang kali.


"Ayah!"


"Iya Hasa, Ayah datang!"


Tak ingin merusak suasana hatinya yang sedang bahagia sekarang. Angga segera menemui Keisha menyerahkan gula kapas yang ia beli. Kemudian, menggandeng tangan Hasa membawanya pergi ke tempat kembang api akan dinyalakan.


'Mungkinkah Nyonya Keisha adalah kekasih yang lelaki itu maksud? Tapi itu mustahil.'


Pikiran Angga mulai berkelana, ia cemas. Beberapa kebetulan yang lelaki itu alami bersama Julian mampu menganggu benaknya. Keisha yang ditatap begitu intens oleh Angga mengguncang bahu lelaki itu pelan. "Ada apa Ayah?" Angga menggeleng kecil sebagai jawaban.


"Aku hanya sedikit tidak enak badan."


Melihat ekspresi Angga yang tak seperti biasa, Keisha tahu ada sesuatu yang sedang suaminya itu pikirkan. Dengan penuh pengertian Keisha mengusap punggung Angga. Kemudian meminta Hasa pergi bermain dengan Peter sebentar yang saat ini sedang melakukan pertunjukan bersama regu orkestranya di samping gelanggang.


"Kau memikirkan sesuatu?"


Sungguh istrinya ini begitu peka, ia menyadari dengan cepat apa yang sedang Angga rasakan.

__ADS_1


"Ada seorang lelaki yang membuatku khawatir."


Kedua manik hitam sepasang suami-istri itu saling beradu pandang. Menatap intens penuh perhatian.


"Dia memiliki kekasih yang namanya sama denganmu. Apa dulu Nyonya pernah menjalin hubungan?"


Pandangan Angga serius menunggu jawaban perempuan yang berdiri di sampingnya. Sebenarnya, Angga tak perlu menanyakan ini. Karena itu juga tak masuk akal. Hanya karena Julian memesan gula kapas yang sama dengannya, serta kekasihnya juga bernama "Keisha" bukan berarti itu adalah istrinya.


Keisha tidak menjawab, perempuan itu justru tertawa kecil menutup mulutnya. Dia menangkup kedua pipi Angga lalu berkata, "Jadi? Suamiku ini sedang cemburu?" senyum Keisha merekah memiringkan kepala. Angga yang melihatnya terpesona, wanita itu begitu manis.


"Ah kenapa Anda seperti ini Nyonya? Aku serius."


Jari-jemari lentik Keisha yang dingin membelai pipi Angga, mencubitnya gemas. "Hmm Angga, siapa suamiku sekarang?" alis pria itu menaut merasa heran. "Tentu saja itu aku," jawabnya mantap tanpa keraguan.


"Lalu, siapa ayah dari Hasa?" merasa pertanyaan istrinya terlalu aneh Angga dengan cepat menyahut, "Kenapa Nyonya bertanya lagi? Dia putraku, aku ayahnya. Aku yang menggendongnya saat bayi."


Ketika nada suara Angga terlihat kesal, perempuan bertahi lalat disudut mata itu semakin suka menggoda Angga. "Dan... siapa yang setiap malam menyentuhku? Mencium ku lalu memelukku tak ingin melepaskan?" rona merah menjalar di telinga Angga saat Keisha menanyakan hal yang memalukan.


Lagi-lagi Keisha mengembangkan senyum. "Kenapa tertawa? Apa Nyonya berpikir ini lucu? Aku berkata benar! Setiap malam aku yang selalu meniduri Nyonya bukan pria lain!"


Suara Angga yang begitu keras membuat semua orang di sekitarnya menoleh, melihat mereka dengan senyuman yang tak bisa diartikan.


'Aish.. kenapa mulutku tidak bisa dikontrol!' sesal Angga dalam hati.


Menyaksikan suaminya mulai salah tingkah. Keisha tahu ini sudah saatnya ia berhenti bercanda. Lagi pula orang-orang juga sempat memandang mereka penuh ucapan selamat.


"Tidak ada. Aku tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain dirimu. Dulu aku mungkin punya perasaan kepada Kevin. Tapi itu cuma sahabat tidak lebih."


Angga mendongak menatap Keisha dalam-dalam. "Kamu adalah pria pertama yang mengambil ciumanku, pria pertama yang menyentuhku, dan pria pertama yang aku cintai untuk saat ini dan nanti. Sampai Tuhan mengambil nyawaku."

__ADS_1


Pelupuk mata Angga berair. Ah bagaimana dia bisa meragukan wanita ini? Keisha adalah sosok murni yang paling ia cintai. Perempuan pertama dan terakhir yang akan selalu berada di hati Angga.


Kabut air mata di sudut netra Angga menumpuk. Keisha yang melihatnya tidak tega, jika lelaki yang ia sayang bersedih seperti ini. Dengan cepat tangan Keisha menyeka tak membiarkan bulir bening itu menetes. Hati lelaki itu begitu lembut, dia yakin saat ini hati suaminya tersentuh oleh ucapannya barusan.


"Lihat, kembang apinya sudah mulai dinyalakan." Jari telunjuk perempuan itu mengarah pada langit. Menuntun Angga melihat ke sana.


Angga yang mengetahuinya mengangguk menatap langit luas penuh warna pelangi dengan percikan api. Ketika Keisha mengembangkan senyum di sampingnya, tanpa menunggu lagi tangan Angga meraih dagu perempuan itu menciumnya dengan dalam. Ia meraup kemanisan di bibir Keisha, menyesapnya lalu mengulumnya. Lelaki itu tak mempedulikan jika orang-orang melihat mereka berciuman dengan penuh gairah akan cinta.


"Aku mencintaimu Nyonya."


Keisha cuma mengangguk sebagai balasan.


"Ayah! Ibu!"


Suara cadel Hasa terdengar dari belakang. Anak itu berlari bersama Peter menyusul mereka dengan gula kapas yang tinggal separuh isinya.


.


.


.


.


.


~Bersambung


Konflik ringan semoga tidak bosan dengan ceritanya.

__ADS_1


Berikan dukungan untuk My Old Wife dengan like + komentar + vote.


Salam sayang dari As-Sana.


__ADS_2