
~Suatu hubungan tanpa landasan yang kuat, laksana rumah tanpa tiangnya~
Setelah Angga cukup puas menumpahkan air matanya, pemuda itu mulai berani menunjukkan wajahnya. Di pelupuk matanya dipenuhi dengan gumpalan kristal yang sudah mengering, rambutnya juga sudah acak-acakan tidak tertata rapi seperti sebelumnya.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" Tanya Keisha pelan, perempuan itu belum berani menggeser tubuhnya karena masih ditimpa oleh berat kepala Angga.
"I-ya, saya sudah lebih baik Nyonya," jawab Angga dengan suara paraunya.
Pemuda itu sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya, dia mencoba untuk menengadahkan wajahnya namun dia masih belum berani melihat ke arah Keisha.
"Seharusnya aku tidak menangis di hadapan Nyonya, ini benar-benar memalukan." Batin Angga dalam hati.
"Segera cuci mukamu di kamar mandi agar lebih segar, aku akan membuatkanmu teh hangat." Ucap Keisha pelan.
Pada akhirnya mereka masuk ke dalam rumah, untuk menghangatkan tubuh mereka yang mulai merasa dingin karena hawa embun pagi. Keisha menuju ke dapur untuk melakukan apa yang dia katakan, sementara Angga masuk ke dalam kamar mandi yang sudah ditunjukkan Keisha tadi sekedar menghapus air matanya.
"Bodoh kamu Angga, bisa-bisanya kamu menunjukkan sisi lemahmu pada calon istrimu. Ingat! kamu itu laki-laki jadi kamu harus lebih kuat dari perempuan. Kamu yang akan menjaga Nyonya Keisha, bukan dia yang justru melindungimu. Ahhhhh....!" Gumam Angga dalam hati sembari menepuk-nepuk pipi kanan dan kirinya yang tidak sakit.
Pemuda itu bercermin di kaca toilet untuk melihat wajahnya yang sudah hancur berantakan, hidungnya yang merah, matanya yang sembab, dan pipinya sedikit ada bekas pukulan dari telapak tangannya sendiri karena ulahnya tadi.
Setelah cukup lama di toilet pemuda itu memutuskan untuk menuju ke ruang makan. Di sana Keisha telah menunggunya dengan secangkir teh hangat di atas meja.
"Minumlah," pinta Keisha pada Angga.
"Terimakasih Nyonya," jawab Angga pelan. Dia mulai meneguk sedikit demi sedikit teh hangat yang telah disuguhkan.
Tidak ada percakapan di antara mereka, kedua manusia itu hanya saling diam. Keisha menemani pemuda itu meminum tehnya sampai habis, setelahnya dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Angga dia membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 05.00 pagi, satu per satu manusia di sana mulai bangun dari tidur lelap mereka, yang pertama bangun adalah Bi Asih dia langsung menjalankan tugasnya sebagai asisten rumah tangga.
Setelahnya disusul si pemilik rumah Tuan Heru dan istrinya Hanum. Istrinya menyusul ke dapur dan membantu pekerjaan Bi Asih untuk mulai membuatkan sarapan pagi, sementara Tuan Heru duduk di teras menikmati sinar matahari yang baru terbit.
Adapun Helen dan suaminya Kevin, mereka masih setia di kamarnya. Mereka baru akan turun saat keluarganya sudah berkumpul di meja makan.
Semua penghuni rumah itu tidak menyadari akan kehadiran pemuda yang semalam bertamu ke rumah mereka. Sampai Pak Hendri sang penjaga ke amanan memberitahukan ini pada majikannya yang tengah bersantai di teras rumah.
"Tuan Besar, tadi Tuan Angga kemari pagi-pagi buta. Saya membukakan gerbang untuknya, tapi saya tidak melihatnya masuk ke dalam rumah. Tapi mobilnya juga masih ada di garasi. Jadi apakah Tuan Besar sudah bertemu dengan Tuan Angga?"
"Benarkah? Pemuda itu kemari?"
"Iya, Tuan."
"Terimakasih Pak atas informasinya. Pak Hendri bisa pulang sekarang, nanti biar Anton yang ganti berjaga."
"Iya, Tuan. Saya pamit pulang."
"Ayah jangan bangunkan dia, dia baru saja tertidur." Tutur Keisha.
"Kapan dia datang? Apa dia mengganggumu Kei?" Heru mendudukkan dirinya di sofa sebelah yang ditiduri Angga.
"Dia tidak menggangguku Ayah. Aku akan membantu Ibu dan Bibi di dapur sebentar," pamit Keisha sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur dan meninggalkan Heru sendirian bersama Angga.
Heru hanya melihat wajah Angga yang begitu tenangnya tertidur dengan satu tangannya menutupi matanya. "Aku menyuruhnya untuk datang esok hari. Tapi, dia justru datang pagi-pagi buta, apa dia tidak dapat berpikir? Kalau sampai Pak Hendri tidak ada dan putriku tidak membukakan pintu untuknya dia akan mati kedinginan di luar sana? Hah.. pemuda ini terlalu gegabah." Batin Heru.
Meskipun dia sedikit merutuki kebodohan Angga, tapi pria paruh baya itu tersenyum samar. Dia merasa sedikit tenang karena ternyata pemuda ini benar-benar serius dengan putrinya. Keraguannya dengan Angga yang masih ada di hatinya sedikit demi sedikit mulai berangsur hilang.
__ADS_1
"Aku berharap kamu dapat menjaga putriku dengan baik. Kali ini aku benar-benar merestuimu," ucap Heru dalam hatinya.
Beberapa jam kemudian semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan, tak terkecuali dengan Angga. Pemuda itu telah bangun dari tidurnya kurang lebih tiga puluh menit yang lalu. Saat Ayah mertuanya membangunkannya dan memintanya segera bersiap-siap untuk ikut pergi bersama mereka ke perusahaan Keisha. Kini Angga telah berpenampilan rapi dengan kemeja dan jas yang dipinjamkan Kevin untuknya.
"Makanlah yang banyak, agar tubuhmu sedikit bertenaga," kata Hanum sembari menaruh satu sendok nasi dan dua paha ayam goreng ke piring Angga.
"Jangan terlalu memanjakannya, dia akan semakin besar kepala," tutur Heru tidak suka. Karena istrinya lebih dulu mengambilkan nasi untuk Angga dan bukan dirinya.
"Sepertinya Ayah mertua sedang cemburu," batin Angga.
"Terimakasih Ibu mertua, Ibu sangat baik. Pantas Ayah sangat menyayangi Ibu," puji Angga pada Hanum.
Perempuan itu tersenyum ramah, sementara Heru menatap tajam ke arah Angga. Pria itu sedang memberikan peringatan pada calon menantunya. Hanum yang melihat tingkah suaminya hanya tersenyum kecil. Acara makan pagi keluarga mereka berjalan harmonis.
"Setelah ini kamu ikut kami ke perusahaan Keisha, aku yakin pasti akan banyak wartawan yang datang ke sana. Kita akan melakukan klarifikasi atas berita yang sudah mulai muncul di internet. Dan mungkin juga tentang hubungan kalian," kata Heru.
"Iya, Ayah mertua." Sahut Angga sopan, karena ini adalah pembicaraan yang serius jadi dia tidak bercanda.
"Kamu pergilah bersama dengan Keisha, aku akan bersama dengan Kevin." Pungkas Heru lagi.
Angga mengangguk sebagai jawaban. Kini mereka segera menghabiskan makanan mereka yang ada di piring. Setelahnya mereka segera berangkat menuju ke perusahaan Keisha seperti yang telah di rencanakan.
Selama dalam perjalanan Angga terus berdoa agar semuanya berjalan lancar, dan publik dapat menerima hubungan mereka. Sementara itu, Nona Anggie Nicoline juga telah mengirimkan pesan bahwa dia juga akan ikut bersama mereka ke Jewelry Group. Dia dan asistennya akan berada di sana untuk membantu Angga menangani para wartawan.
"Nyonya aku harap semuanya akan baik-baik saja," doa Angga dalam hati.
_________________^_^
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan Like + Vote + Komen yaa...
Author update lagi nanti Sore (ditunggu yaa🤗🤗)