
~Seseorang yang tidak diharapkan terkadang datang dari orang terdekat kita~
Rasa kebahagiaan yang terlalu membuncah dalam hati Angga, membuat dia benar-benar tidak dapat tidur semalam. Sehingga lingkaran hitam tercetak jelas di kantung matanya. Dia sudah menyerupai mayat hidup pagi ini.
Untuk menyembunyikan kantung mata tersebut dari Keisha, Angga memakai kacamata hitam yang biasa ia pakai untuk menyamar di luar.
Angga juga sudah siap dengan hoodie abu-abu, kaos putih polos dan jeans yang melekat ditubuhnya. Dia sengaja berangkat kerja pagi-pagi buta agar istrinya tidak menyadarinya.
"Tuan Muda, anda terlihat menyeramkan." Tutur Romi ketika Angga sudah melepas kacamatanya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil samping kemudi.
Mereka akan mulai melakukan perjalanan ke Toronto untuk melakukan pemotretan di sana. Romi sekarang juga berprofesi sebagai supir pribadi Angga.
Toronto merupakan kota padat dan terbesar di provinsi Ontario, dengan kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi serta industri. Seperenam dari pekerjaan yang terdapat di Kanada, berpusat di kota ini.
Sementara Ottawa adalah kota terbesar keempat di Kanada, kota ini terletak di sebelah timur Provinsi Ontario dan berbatasan dengan Queebec. Bisa dibilang bahwa Ottawa adalah pusat pemerintahan dengan national landmark Kanada, sementara Toronto merupakan pusat perekonomian.
"Jalankan saja mobilnya." Angga mencari posisi yang nyaman untuk tidur, entah kenapa setelah masuk ke dalam mobil matanya justru terasa berat.
"Seharusnya anda tidur di rumah saja Tuan Muda, ini juga masih pagi." Romi menyalakan mesin mobil dan mulai mengemudikan kendaraan beroda empat itu menuju ke jalan raya.
Suasana di Ottawa saat pagi buta masih tertutup kabut, namun warna dari dedaunan pohon musim gugur samar-samar terlihat dengan jelas. Sinar matahari belum tampak di peraduannya. Embun masih tercetak di daun jendela kaca mobil dan meninggalkan tempias titik-titik air di sana.
Selama perjalanan menuju Toronto mereka dapat melihat sungai Fraser (Sungai Ottawa), yaitu sungai besar yang mengelilingi Ottawa di sebelah selatan dan menjadi mulut anak sungai Rideau Canal. Perjalanan dari Ottawa menuju Toronto memakan waktu beberapa jam lamanya.
Meski sudah memasuki musim gugur dan akan menuju summer session, suhu udara di Ottawa masih terbilang dingin, dengan suhu panas mencapai 30° C, maka tidak heran jika musim panas di kota ini tergolong dalam kategori lembap karena suhu udaranya yang berubah-ubah.
"Tuan Muda, kita sudah sampai." Romi membuka kaca jendela mobil sehingga membuat cahaya matahari menelusup masuk menyinari mata Angga.
__ADS_1
"Tidak bisakah kau membangunkanku nanti," keluh Angga pada Romi karena acara tidurnya terganggu akibat kaca jendela mobil yang terbuka. Romi hanya tersenyum tipis dan membiarkan Angga untuk istirahat beberapa menit lagi.
Selama menunggu Angga bangun dari tidurnya, Romi hanya dapat memainkan ponsel untuk melihat foto si Putih kelinci tercintanya di sana. Ketika matanya asik menelisik gambar-gambar si Putih dengan bayi-bayi kecilnya.
Notifikasi pesan masuk mengganggu aktivitasnya. Romi segera menggulir layar ponselnya dan membuka pesan singkat tersebut. Pesan tersebut datang dari Tuan Sebastian.
Romi jangan biarkan Ayahku bertemu dengan putraku Angga. Dia sedang berada di Montreal saat ini untuk menemui kliennya.
Sebastian.
Setelah membaca pesan dari Tuan Sebastian, Romi langsung mengirim pesan balasan bahwa dirinya akan berusaha agar Angga tidak bertemu dengan Tuan Wilson, kakeknya.
Baru satu menit Romi mengirim pesan balasan untuk Tuan Sebastian, ponselnya berdering karena ada panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Romi," suara berat dan tegas terdengar dari balik telepon.
"Datanglah ke Montreal bersama cucuku, aku tahu sekarang dia bersamamu." Romi menghela napas sejenak sepertinya Tuan Wilson telah mengetahui semua tentang cucunya.
"Maaf Tuan Wilson, saya tidak bisa membawa Tuan Muda ke Montreal saat ini." Suara sambungan telepon hening sejenak, menandakan bahwa orang dibalik telepon itu sedang menyimak.
"Aku sudah memesankan tiket pesawat dari Toronto ke Montreal, tidak ada alasan untuk tidak menemuiku." Tukas Tuan Wilson mutlak, perintah kakek tua itu memang susah untuk diabaikan.
Dia memiliki kekuasaan lebih besar daripada Tuan Sebastian, putranya. Sekali dia meminta sesuatu pasti itu akan terpenuhi.
"Baik Tuan Wilson," jawab Romi pasrah pada akhirnya. Romi melihat ke arah Angga sesaat terdapat raut wajah kekhawatiran di sana.
Setelah mendapat jawaban yang memuaskan dari Romi, Tuan Wilson mengakhiri panggilannya. "Semoga Tuan Wilson tidak mempersulit semuanya," doa Romi dalam hati.
__ADS_1
Ketika Romi hendak membangunkan Angga dan memberitahukan semuanya. Mata Angga sudah terbuka, wajahnya terlihat sedikit segar setelah beristirahat.
"Bukankah kita akan ke Montreal? Kenapa tidak berangkat sekarang?" Pertanyaan Angga sontak membuat Romi sedikit terkejut, ternyata sedari tadi Tuan Mudanya telah menyimak perbincangannya dengan Tuan Wilson.
"Anda tidak tidur Tuan Muda?"
"Aku sudah terbangun sejak kamu membuka galeri ponselmu, dan memandangi foto si Putih dengan tatapan konyol," cetus Angga sedikit meremehkan Romi.
Sepertinya pemuda itu sedang balas dendam atas apa yang telah Romi lakukan kemarin terhadap dirinya. Hingga membuat dia malu setengah mati pada Keisha.
Romi hanya mendengus pasrah. Dia sedang tidak ingin meladeni Angga saat ini. "Jadi hari ini kita tidak jadi melakukan pemotretan Tuan Muda?" Tanya Romi memastikan lagi.
"Tidak, nanti aku akan menyuruh Marry untuk mengizinkanku mengambil cuti hari ini." Angga kembali memakai kacamata hitamnya dan menyandarkan dirinya kembali ke kursi mobil, dia meneruskan tidurnya.
Marry adalah manager Angga yang mengurusi segala keperluannya selama menjadi seorang model. Perempuan itu cukup cekatan, Angga senang mempekerjakannya karena dia dapat diandalkan di saat-saat genting seperti ini.
Romi mulai menyalakan mesin mobil menuju ke bandara, mereka akan melakukan penerbangan ke Montreal. Kota terbesar ke dua di Kanada yang memiliki nuansa Eropa, karena desainnya yang menyerupai Perancis.
" Jika kedatangan Kakek ke Kanada untuk memisahkanku dengan istriku. Itu tidak akan terwujud dengan mudah." Batin Angga sembari tersenyum tipis dengan seringai kecil di bibirnya.
Semenjak kedatangannya ke Singapura untuk meminta restu pada Ayahnya, Angga sudah menyiapkan hatinya untuk menghadapi situasi ini. Dia tidak ingin hubungannya dengan Keisha berakhir menyedihkan seperti ayah dan ibunya.
Sudah cukup semua air mata yang orang tuanya tumpahkan karena keegoisan dari kakeknya. Dan dia juga tidak bisa lagi menoreh luka di hati perempuan pujaannya, karena sudah banyak luka yang Keisha terima di masa lalu.
Di tempat lain Keisha yang tengah melakukan pemeriksaan rutin dengan Dokter Gazen bersama Lianda mendapat kabar gembira. Karena cedera saraf tulang belakang yang dideritanya sudah pulih secara total. Meski masih harus mendapat perawatan dan pemantauan secara rutin.
Terimakasih atas segala dukungan dari reader. Baik like + Vote + Komen (kritik maupun saran) yang sudah diberikan untuk MY OLD WIFE.
__ADS_1
Sana berencana akan segera menamatkan MOW di akhir bulan Agustus. Jika cepat sebelum akhir bulan Agustus.