
~Tiada hari yang indah selain bersamamu~
Tindakan Romi barusan membuat Angga begitu kesal, pemuda itu mengumpat dalam hati tapi tidak di lidahnya, karena lidah Angga selalu bekata manis di depan istrinya. Lianda hanya dapat melihat Romi dengan tatapan iba, mungkin gajinya akan dipotong bulan ini oleh Tuan Sebastian karena telah membuat putranya marah.
“Makanlah sayang,” ucap Angga sembari menyuapkan pai apel ke mulut Keisha. Perempuan itu menerimanya dengan senang hati dan memakan pai apel tersebut dalam beberapa gigitan.
“Apa kamu yang membuatnya?” Tanya Keisha sehalus mungkin pada Angga seraya menggigit pai apel yang disuapkan oleh suaminya.
“Ini buatan Romi,” kata Angga datar sembari melirik ke arah Romi sekilas. Terlihat raut ketidaksukaan di wajah Angga. Dia masih mengingat bagaimana Romi menyebut tanda cintanya untuk Keisha sebagai ruam. Romi hanya menanggapinya dengan menunduk sebagai rasa permintaan maaf.
“Terimakasih Romi, ini terasa manis,” puji Keisha sambil tersenyum hangat ke arah Romi. Pria itu pun balas tersenyum ramah pada Keisha dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Angga yang melihat itu memasang wajah datar, dia berhenti menyodorkan pai apel ke mulut Keisha dan justru memasukkan pai tersebut ke mulutnya sendiri. Pemuda itu sedang menggerutu dengan bibir mencebik lucu.
“Apanya yang manis? Ini sangat pahit dan keras, tidak terasa enak sama sekali.” Angga memakan hampir semua pai apel yang sudah ia hias tadi untuk Keisha, pemuda itu menghabiskannya seorang diri. Dia sudah lupa pada tujuan awalnya membuat dan menghias pai itu untuk istrinya.
“Jika tidak enak, kenapa anda memakan semuanya Tuan Muda?” Tanya Romi pada akhirnya. Pria itu memberanikan diri melihat Angga.
“Aku tidak mau istriku keracunan karena memakan makanan buatanmu,” ketus Angga masih setia memasukkan semua pai itu ke dalam mulutnya sampai penuh. Pipi pemuda itu sudah menggembung seperti balon, karena kelebihan makanan.
Lianda tertawa kecil melihat tingkah Tuannya, perempuan itu merasa puas telah datang ke rumah ini karena mendapatkan pertunjukkan gratis tanpa harus datang ke gedung theater.
“Sayang hati-hati makannya, nanti kamu tersedak.” Tutur Keisha mengingatkan suaminya dan memberikan segelas susu yang seharusnya ia minum tapi tidak jadi karena Angga terlihat lebih membutuhkannya. Angga tersenyum manis ke arah Keisha. "Terimakasih sayang," ucapnya dan kemudian berbalik melihat sinis ke arah Romi.
Pada akhirnya hanya tersisa satu pai apel terakhir di piring tersebut, sebelum Angga memakannya juga. Romi buru-buru mengambilnya dan menggigit pai apel itu sedikit, Romi berniat membantu menghabiskan pai apel tersebut untuk Angga, agar Tuan Mudanya tidak menambah isi lagi di mulutnya dan membuat pipinya semakin terlihat gembung seperti marmut.
__ADS_1
“Kenapa kau memakannya?” Tanya Angga kesal di sela-sela kegiatan mengunyahnya.
“Agar Tuan Muda tidak keracunan,” jawab Romi jujur. Lianda sudah tidak tahan lagi menahan tawanya, perempuan itu pada akhirnya tertawa lepas tanpa ada rasa malu sedikitpun. Sementara Angga, wajah pemuda itu begitu geram terhadap Romi, jadi dia langsung mengambil pai itu dari tangan Romi dan memakannya habis dalam sekali telan.
“Tuan Muda itu sisa saya,” ujar Romi sedikit khawatir karena Angga memakan bekas gigitannya. Biasanya pemuda itu bahkan tidak mau menyentuh makanan yang pernah disentuhnya, kecuali itu bekas dari Keisha. Tapi sekarang justru ia memakan makanan sisa darinya.
“Tidak apa, biar aku keracunan sekaligus.” Jawab Angga tajam.
Romi mendengus pasrah dan mengelus dadanya, mencoba bersikap sabar menghadapi tingkah aneh Tuan Mudanya.
“Hahahaha.., kalian sangat lucu.” Kata Lianda tanpa sadar di sela-sela tawanya seraya memegangi perutnya yang mulai merasa kram karena menertawakan perbuatan dua pria konyol dihadapannya ini.
Angga dan Romi berbalik menatap Lianda dengan tatapan tajam seolah-olah berkata padanya untuk diam dan tutup mulut. Lianda yang mendapatkan peringatan itu pun segera sadar dan membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
“Jika aku tidak segera pergi, gajiku juga akan dipotong.” Batin Lianda dalam hati masih menahan tawa.
Perempuan itu meninggalkan rumah berlantai dua tersebut dan memilih kembali ke rumah sakit untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter.
Berbeda dengan rumah Angga yang penuh keharmonisan, di kediaman Heru Prawijaya diselimuti akan suasana yang dingin dan mencekam. Helen telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Namun, kedatangan Helen tidak disambut hangat oleh Heru ataupun Hanum. Karena kedua orang tua tersebut telah mengetahui penyebab dari permasalahan mereka dari Angga, pemuda itu memberitahukan semuanya pada mertuanya untuk menjaga keselamatan istrinya, Keisha.
Kevin juga bersikap dingin, tindak tanduk pria itu sudah menyerupai mayat hidup karena sisa harinya hanya dihabiskan di kantor, dan setelah pulang dia langsung tidur di sofa, dia berusaha membuat kontak seminimal mungkin dengan istrinya.
“Kak Kevin,” panggil Helen lirih. Dia sedang menahan dahaga karena sejak pagi belum meminum apa pun, sementara tubuhnya terasa lemas sebab muntah beberapa kali di kamar mandi.
Tidak ada sahutan dari Kevin, pria itu justru tengah sibuk mengikat dasinya dan membenarkan kancing kemejanya bersiap pergi ke kantor.
__ADS_1
“Kak, bisakah Kakak ambilkan minum untukku, aku merasa haus.” Pinta Helen lagi terdengar lemah. Namun, Kevin justru meninggalkan Helen tanpa berniat sedikitpun untuk menuruti permintaan istrinya, meski dia tengah mengandung.
Ketika pintu telah tertutup rapat, Helen menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sakit yang teramat sangat karena diperlakukan demikian oleh suaminya yang biasanya begitu baik padanya. Tapi, kini semuanya telah sirna, tidak ada kelembutan lagi untuknya.
“Ayah sedang marah sayang, tapi Ibu tidak akan membiarkan Ayah membencimu. Jadi jangan bersedih,” ujar Helen seraya mengusap perutnya yang sedikit menonjol. Dia sedang berbicara dengan anak dalam kandungannya, buah hatinya bersama Kevin.
Sementara itu, Kevin yang baru saja memasuki mobilnya terlihat frustasi, pria itu mengacak rambutnya kasar dan membenturkan kepalanya di setir mobil. Akhir-akhir ini pikirannya kacau dan hanya diliputi amarah untuk Helen, terlebih setelah dia mengetahui kebenaran yang telah disembunyikan selama dua belas tahun darinya.
Aku akan pergi ke Amerika sore ini, bisa kau temui aku di kafe tempat pertama kali kita bertemu? Ada yang ingin aku sampaikan padamu.
Dokter Andhika.
Itu adalah pesan yang dikirim Dokter Andhika untuknya, tanpa banyak berpikir Kevin langsung menancap gasnya menuju ke alamat yang telah dikirim Dokter Andhika. Kemudian dia mencari nomor orang yang dia kenal, dan menekan tombol panggil. Tidak butuh lama panggilan pun terhubung.
“Hallo, Tuan Kevin.” Sapa orang dari balik telepon, dia adalah Nina sekertaris Heru.
“Nina, katakan pada Ayah aku tidak bisa ke kantor. Ada hal penting yang harus aku selesaikan hari ini.” Ucap Kevin cepat.
“ Baik Tuan, akan saya sampaikan.”
Tidak butuh waktu lama panggilan itupun terputus, karena Kevin sudah mengakhirinya.
______^__^_____
Mohon maaf ya karena baru Update🙏🙏
__ADS_1