My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 46 Meet


__ADS_3

Angga mengantarkan Hasa ke sekolah ditemani sang istri. Pertemuan wali murid akan diselenggarakan setengah jam lagi, belum terlambat untuk tiba di sana. Sedari tadi Angga melirik Keisha yang duduk di sampingnya, begitu tenang dan anggun.


"Ayah lampu hijaunya menyala," tegur Hasa tertawa kecil melihat gelagat ayahnya yang salah tingkah. "Ah iya," kata Angga sedikit tidak enak. Keisha menoleh membuat jantung Angga berdebar hebat. "Ayah sedang tidak enak badan?" Keisha mencondongkan tubuhnya mencoba menyentuh kening suaminya yang tampak berkeringat, tetapi itu justru memicu getaran dalam diri Angga. Suatu hal yang mendebarkan.


"Ibu, daun telinga Ayah merah. Hahaha." Hasa terkekeh lagi, memukul pahanya beberapa kali melihat ekspresi ayahnya yang tersenyum canggung. Keisha yang mengerti arti kata putranya justru membelai pipi Angga, mengelap keringatnya dengan tisu. "Hati-hati saat menyetir setelah selesai menemui guru Hasa. Ibu akan memberikan Ayah hadiah."


Senyum tipis mencuat di bibir Angga. Ini sebuah keberuntungan. Mobil melaju dengan mulus tanpa kendala berarti. Mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Saat Hasa turun dari kursi belakang, temannya Bernard telah melambai. Bocah bertubuh gempal itu memenuhi mulutnya dengan roti isi salad sosis.


"Mamaku baru saja pergi Hasa, kau terlambat," cetus Bernard menepuk pundak Hasa yang menyanggul tas kecil. Dia sedang memberitahukan kalau Lianda baru saja pulang setelah menemui wali kelas. "Aw!" mulut Bernard terbuka, rotinya lolos dari gigitan gara-gara Hasa menginjak kakinya. "Hasa!" teriaknya melihat putra Paman Angga berjalan lebih dulu.


Keisha merasa senang bisa mengantarkan putranya bersama sang suami. "Sayang." Keisha menoleh kepada pria yang memanggilnya. Tangan Angga menggandeng Keisha lembut, menautkan jari-jemarinya. "Tidak apa 'kan kalau cuma bergandengan tangan?" tanya Angga sedikit tersenyum bingung memegang belakang lehernya.


Keisha terkekeh kecil, mendekat pada Angga lalu mengecup pipinya. "Tidak apa, tidak ada yang melarang." Perempuan ini begitu manis mengatakannya membuat dada Angga bergemuruh mau melompat keluar "Ayo, wali kelas Panda Kecil pasti sudah menunggu kita." Dengan penuh perasaan bahagia Angga membawa Keisha masuk ke area sekolah kanak-kanak. Ia justru tersenyum dan menyapa orang tua wali yang lain saat mereka melihat cara ia menggandeng Keisha dengan mesra. Laki-laki ini benar-benar memanfaatkan situasi agar lebih dekat dengan istrinya.


***


Di butik yang dikelola Ella sedang terjadi kekacauan. Beberapa pelanggan mengajukan komplain kepada Ella karena salah mengukur bajunya. Mereka meminta uang kembali sebagai kompensasi. Ella hanya bisa pasrah tidak ingin berdebat lebih jauh lagi. Alhasil sebagian tabungannya habis untuk ganti rugi.


Dua karyawan yang ia pekerjakan salah satunya menghilang entah ke mana? Pada awalnya ia meminta izin pulang ke kota asal untuk menemui sang nenek. Ternyata sampai lima hari ini pegawai itu belum juga datang dan ia membawa kabur beberapa uang keuntungan penjualan bulan kemarin.


"Hah, hidupku semakin kacau," rutuk Ella kesal. Perempuan memakai blouse bludru ini bangkit, menutup butik memilih pergi dari sana. Berada di tempat ini semakin mengingatkan ia tentang beberapa masalah yang muncul baru-baru ini.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Ella bergabung bersama pejalan kaki, mengikuti jalur trotoar menuju halte bus. Ia harus menghemat uang jika ingin bertahan. Saat bus berhenti di halte Ella segera naik, ia akan ke pusat kota mencari sesuatu yang bisa membuatnya fresh. Restoran Paman Gio menjadi salah satu daftar tujuannya. Meski ia harus menelan ludah bertemu dengan Eliot.


Perjalanan ditempuh kurang lebih dua puluh menit, Ella turun menggesek kartu prabayar bus kemudian mengikuti jalur sepeda. Ia bisa melihat banyak orang berjualan di sekitar sini. Termasuk toko bunga milik istri Angga yang selalu ramai pembeli. Berbicara soal Angga, Ella belum mengetahui jika pemuda itu telah kembali ke keluarganya. Apabila sudah tahu, tentu Ella akan melakukan sesuatu.


[Kau datang.]


Begitulah ekspresi Eliot saat menyambutnya di depan pintu resto. Jelas sekali lelaki ini senang melihat dia. Matanya berbinar seperti anak Anjing. "Aku ingin pesan minuman dingin." Tanpa banyak berkata Ella menyebutkan pesanannya yang paling sederhana dengan harga murah. Seiring roti kering susu mentega dan minuman dingin khas musim panas. Cukup menyegarkan tenggorokan.


[Makanlah, ini hadiah dariku.]


Senyum tipis Ella menyinggung menerima catatan kecil dari Eliot, pelayanan ini memberikan ia menu paha ayam pedas. "Aku tidak akan membayarnya, kau yang memberikan ini padaku." Eliot mengangguk tanda setuju. Ia pergi seusai melihat Ella mulai menyantap menu yang ia beli dengan gajinya. Pria ini begitu senang memperhatikan Ella dari kejauhan.


Sekitar lima menit menikmati hidangan, mata Ella menyapu toko bunga "Anggasa Florist" yang berada di seberang. Ada seseorang remaja putri masih mengenakan seragam sekolah memasuki toko itu. Rambutnya bergelombang di cat agak cokelat.


Yang memanggil adalah Sonia, anak ini mulai akrab dengan orang-orang di dekat kakaknya Angga. "Paman sedang buat apa? Biar Sonia bantu." Jemy yang punya kepribadian tidak terlalu suka dekat dengan gadis menyuruh Sonia diam duduk di kursi, tetapi gadis itu justru membuntutinya setiap waktu. Benar-benar menyebalkan.


"Bisa tetap di sana dan melihat."


Sonia tersenyum lebar mengangguk mengerti. Paman Jemy sepertinya marah. "Baiklah, aku akan menunggu Kakak Angga di sini." Kaki Sonia diayunkan, perempuan ini memang tidak bisa diam saja. Ia selalu mencari hal menarik untuk dimainkan. Elli yang melihat tingkah Sonia hanya bisa menggelengkan kepala, pegawai toko itu pasrah.


"Kapan Kak Angga dan Kak Keisha akan ke mari?"

__ADS_1


"Nanti siang."


"Ohh.." Sonia melihat resto sebelah yang sangat ramai, ia jadi ingin makan di sana. "Paman Jemy, Bibi Elli aku tinggal dulu ya," pamitnya keluar membawa tas semplangnya. Sejak Angga kembali ke keluarganya hidup Sonia terjamin. Kakaknya itu memberikan ia uang bulanan untuk makan dan sekolah. Jadi Sonia tidak perlu bekerja lagi.


Saat memasuki pintu resto Paman Gio, ekor mata Sonia langsung tertuju pada Eliot. Pria baik yang sering menghantarkan makanan ke toko Keisha. Diam-diam gadis ini menghampiri Eliot, mengejutkannya dari belakang. "Aku datang, kau tidak ingin menjamuku." Alis Sonia terangkat menggoda Eliot, bersikap semanis mungkin.


[Duduk di mejamu dan pesan sesuatu.]


Membaca catatan kecil yang diberikan Eliot. Bibir Sonia agak berkedut, pria ini sama dinginnya dengan Paman Jemy. Susah di dekati. Berbeda dengan kakaknya Angga yang sangat ramah. Namun, Sonia justru suka dengan kepribadian Eliot ini.


"Oke, kau harus segera mengantarkannya. Karena aku tidak suka menunggu lama."


Sonia menyerahkan buku menu yang sudah ia lingkari. Memakan kari pedas cukup menjadi menu favoritnya. Eliot mengerti ia beranjak pergi ke dapur memberikan catatan pesanan yang baru.


Sambil mencari meja yang cocok, Sonia menyapukan pandangannya ke sekitar. Ia tak sengaja melihat perempuan yang menarik perhatiannya. Wajah wanita itu seperti mengingatkan ia pada seseorang. "Kak Ella?" sontak desainer wanita yang ia panggil menoleh bersitatap dengannya cukup lama.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2