My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 6 Pagelaran Seni


__ADS_3

^^^~Cinta seperti pentas seni, karena tidak semua pemeran berakhir bahagia~^^^


-Dikutip dari Novel Cahaya Cinta Terakhir-


***


Saat ini Keisha tengah mengantarkan pesanan toko bunga pelanggan di dekat galeri seni Ottawa. Ia ditemani Peter yang membantunya menjaga Hasa. Di setiap sudut ruangan, semua lukisan di pajang. Kemudian di sisi lain banyak jepretan foto yang dibingkai di pigura.


"Nona, silahkan masuk. Nyonya menginginkan bunganya di taruh di dalam."


Keisha mengangguk, mengikuti ke mana wanita berseragam cokelat susu tua itu menuntunnya.


"Hasa, tetap di samping Kakak, oke? Jangan pergi ke mana pun." Peter menasihati si kecil yang kakinya mulai melompat merasa senang melihat banyak benda asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Saat Keisha sibuk menata bunga di vas besar kuno berwarna perak berkilau. Peter mulai kesulitan menjaga Hasa yang ingin pergi ke sana ke mari.


Anak itu menyentuh kuas yang terpajang bersama puluhan kanvas kosong yang belum dibubuhi cat. "Hasa, astaga! Dia mencoret-coret kanvasnya. Bagaimana ini?" ekor mata Peter melirik ke arah Keisha yang masih melayani bibi pembeli. Dengan cepat Peter membawa Hasa, menggendong anak nakal itu agar tak lagi membuat ulah. Biar nanti ia bicara dengan Keisha soal ini.


"Rangkaian bunganya sangat indah. Saya menyukainya," puji pemilik galeri.


"Saya senang Nyonya suka." Keisha tersenyum sebagai balasan.


"Nona Keisha, dua pekan lagi akan diadakan pagelaran seni di sini. Kalau tidak keberatan, saya ingin memakai jasa Nona lagi untuk menghias galeri ini."

__ADS_1


Tentu Keisha tidak menolak, ia menerima tawaran bibi pemilik galeri. Sebelum pergi dari tempat memukau itu Keisha mendapatkan undangan secara resmi untuk mengunjungi festival "Mario Art De La Vi" yang akan diadakan di tempat ini.


"Hari itu, Nona bisa melihat-lihat pameran juga. Semua pelukis dan fotografer ternama akan berkumpul di sini. Saya yakin Nona tidak rugi kalau datang."


Hasa yang antusias seolah-olah mengerti arah pembicaraan kedua wanita dewasa itu. Alhasil Keisha tidak menolak, lagi pula ia bisa mengajak Peter dan putranya untuk sedikit memenangkan pikiran melihat-lihat pameran seni di sana.


***


Di tempat lain, Angga baru saja tiba di toko bunga milik istrinya. Setelah mendapatkan izin dari Romi kalau ia bisa pulang lebih awal lelaki itu langsung menuju ke tempat yang biasanya Keisha dan Hasa berada di sana.


"Tuan Angga datang? Nona Keisha baru saja keluar dengan Peter. Mereka mengantar bunga."


Eli pegawai toko Keisha menyapanya lebih dulu sebelum Angga masuk lebih jauh ke dalam. "Nona tidak ada, Tuan Angga seharusnya tetap berada di kantor." Jemy tiba-tiba muncul dari belakang mengejutkan Angga. Lelaki itu memang cukup lama membantu istrinya mengurus toko sejak ia ikut dengan Angga di sini.


Satu detik, dua detik, tidak ada reaksi. Baru satu menit berlalu Jemy mengerti apa maksud dari ucapan suami Keisha itu. Buku-buku Jemy meletakkan pot dan memelototkan mata. "Bagaimana mungkin? Saya laki-laki." Raut muka Jemy mengeras, melihatnya Angga justru tertawa senang.


"Hahaha...ya, karena kau sangat sensitif akhir-akhir ini. Setiap aku berkata apa kau membantah, saat aku mengunjungi istriku kau marah. Kalau bukan datang bulan lalu apa?" tawa Angga tak menyurut saat Jemy mulai menyingsingkan lengan kemejanya terlihat serius.


"Sepertinya Tuan Angga, ingin masuk rumah sakit." Ancaman Jemy bukan main-main. Lelaki yang memang usianya tidak muda lagi itu bersedekap dada menakut-nakuti Angga.


"Tidak-tidak Jemy, aku bercanda. Kau tahu, Kakek juga suka lelucon ini. Ya, dia dulu sempat bercanda begitu denganku."


"Tuan Wilson bukan orang seperti itu Tuan Angga, Anda tidak bisa membohongi saya." Senyum Jemy merekah mengepalkan tangan, dia sudah mengambil ancang-ancang ingin memberi Angga satu pukulan. Aneh memang tapi dulu Jemy yang selalu ditindas Angga, tapi sekarang? Lihat, dia yang balik menekan tuan mudanya.

__ADS_1


***


Sementara di Ottawa kehidupan Angga berjalan harmonis. Di Vancouver, Julian sedang menjalani pemeriksaan. Setelah menerima satu suntikan kesehatan. Lelaki bermata batu rubi itu duduk santai di kursi goyang.


"Kau benar-benar akan ke Ottawa?"


Julian memejamkan mata menikmati hawa udara dingin yang membelai kulitnya. "Kapan kau akan berangkat?" Dokter Zenn bertanya lagi. Lelaki yang ditanya cuma terdiam, menghibur diri dengan kesiur angin. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Dokter Zenn beranjak hendak meninggalkan ruangan. Namun, ia bisa menangkap tiket pesawat tergeletak di atas nakas.


"Kau gila! Kesehatanmu belum pulih benar. Dan kau? Akan ke Ottawa besok pagi."


Julian membuka mata tersenyum samar, "Aku akan mengikuti Mario Art De La Vi, dengan Keishaku." Manik hijau kebiruannya menatap lukisan perempuan di dinding yang selalu ia pajang di kamarnya.


"Wah..., jadi kau ingin mengikuti pagelaran seni dengan kekasih ilusimu. Baiklah-baiklah, aku tidak bisa melarang. Tapi ingat, jika tejadi sesuatu segera hubungi aku. Aku akan langsung datang ke sana."


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2