
~Hati yang merindu tidak akan terobati sebelum bertemu~
Ini sudah lima belas hari Angga meninggalkan Kanada, sekarang ia sedang berada di Singapura tinggal bersama ayah dan kakeknya. Sementara neneknya masih dirawat di rumah sakit. Angga sudah menjenguknya di hari pertama ia tiba di negara ini.
Semua orang menyambut antusias kedatangannya di kediamann keluarga barunya. Tapi Angga justru sedikit merasa asing dengan hal tersebut. Rasa nyamannya hanya ada di Kanada tempat dimana istrinya berada.
"Tuan Muda, tidak bisakah anda duduk sebentar dan mendengarkan penjelasan saya," tutur Jemy mencoba menghentikan aksi pemuda itu yang sedari tadi berjalan ke sana kemari tanpa henti sembari sesekali melirik ke arah gerbang utama.
Semenjak Angga tiba di Singapura, Jemy menjadi pendampingnya yang mengajarkan semua padanya baik masalah perusahaan bahkan sampai adab tata krama seperti layaknya seorang bangsawan. Peraturan di kediaman Andreas begitu ketat seperti penjara bagi Angga, banyak sekali peraturan yang harus ia patuhi.
"Saat anda melakukan pertemuan dengan klien, hal pertama yang anda lakukan adalah mengingat namanya saat ia memperkenalkan diri." Kata Jemy sembari membaca buku panduan sikap yang baik dalam berbisnis. Jemy melanjutkan pembelajaran untuk Angga yang sempat terjeda tadi.
"Ketika klien anda memberikan kartu namanya, anda dilarang langsung memasukkan nama itu di saku kantong anda. Itu sebagai bentuk rasa hormat anda pada klien tersebut. Cukup berikan kartu nama itu pada sekertaris anda, atau pekerja anda yang lain." Sambung Jemy lagi membaca beberapa larik kalimat dari buku tebal yang telah menjadi pedoman tata perilaku keluarga Andreas.
"Ketika melakukan jamuan, anda diharuskan untuk memakan makanan yang disajikan walau hanya sedikit saja. Jika terdapat bahan tertentu dari makanan yang membuat anda alergi atau tidak disukai, lebih baik disisihkan. Atau kalau perlu memberikan informasi tentang makanan yang anda makan pada klien sebelum perjamuan dilakukan," tambah Jemy lagi seraya membenarkan kacamatanya. Namun sepertinya penjelasan Jemy sia-sia saja, karena pikiran Angga sedang berada di tempat lain.
"Tuan Muda, apa anda mendengarkan saya?" Jemy menutup buku itu dan meletakkannya di rak buku. Ia kembali melihat Angga yang terlihat kebingungan seperti kucing tersesat.
Angga kembali melihat ke arah jendela, mengintip jumlah pengawal yang menjaga gerbang utama. Terlihat jelas kalau dia ingin kabur dari tempat ini.
"Jangan coba-coba membuat rencana untuk melarikan diri dari sini Tuan Muda, itu tidak akan berhasil." Ucap Jemy mendengus kecil. Ia mendudukkan dirinya dikursi untuk mengistirahatkan kakinya yang sedari tadi berdiri.
"Kalau berhasil bagaimana?" Ujar Angga yang masih setia menyembulkan kepalanya di daun jendela ruang kerjanya di lantai dua. Jemy hanya membalas Angga dengan senyum simpul mengingat beberapa kali uji coba yang gagal dilakukan Angga untuk kabur dari kediaman tersebut. Dan berakhir mendapat hukuman dari Tuan Wilson untuk menghapal beberapa buku bisnis.
"Itu tidak akan terjadi. Lagi pula anda hanya perlu bertahan selama 350 hari lagi." Angga mengernyitkan alisnya tidak suka atas jawaban Jemy, tiga ratus lima puluh hari bukanlah waktu yang singkat. Itu sangat panjang bagi Angga, satu hari saja ia jauh dari istrinya rasanya dadanya mau sesak. Kalau sampai beratus hari mungkin ia bisa mati.
"Jemy, aku pergi dulu. Katakan pada Kakek agar tidak mengharapkanku bertemu dengan orang selama dua hari, karena aku akan menghabiskan hariku dengan istriku." Kata Angga dengan senyum yang lebar seraya meloncat dari daun jendela menyeberang ke dahan pohon yang berdiri kokoh di sana. Jemy yang melihat aksi Angga langsung memegang dadanya karena terkejut.
"Tuan Muda kembali! Anda sudah gila! Jika Tuan Wilson tahu, dia akan marah!" Justru terdengar gelak tawa dari Angga. Pemuda itu berpindah cabang dan beralih berjalan di atas dinding pembatas rumah.
"Itu tugasmu untuk membujuk Kakek agar tidak marah! Dada Jemy! Aku akan bersenang-senang dulu!" Teriak Angga sembari meloncat lagi dari pembatas dinding ke bawah hingga tubuhnya tidak nampak lagi oleh Jemy. "Kenapa anda begitu nekad Tuan Muda? Bahkan Tuan Sebastian dulu tidak pernah seperti ini," gerutu Jemy sembari menepuk jidatnya frustasi.
Aksi Angga gagal melarikan diri karena ia selalu lewat pintu gerbang utama yang dijaga oleh para pengawal. Tapi kali ini ia memilih cara lain meskipun sedikit menantang. Tapi bukan Angga namanya jika ia tidak memakai cara gila untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
__ADS_1
________
Sekarang Angga sudah tiba di Kanada, penerbangannya cukup lama sampai di negara ini, hampir memakan waktu lima belas jam. Padahal ia sudah menaiki pesawat kelas ekslusif dan paling cepat, tapi memang jarak antara benua Asia dan Amerika sangat jauh. Jadi tidak heran jika ini menjadi perjalanan yang cukup panjang serta membosankan bagi Angga.
Musim gugur di Kanada sudah berakhir dan saat ini musim panas sedang dimulai. Jadi hawa dingin yang biasa menyapa kulit Angga sedikit terasa hangat, meski tidak sehangat di negara yang memiliki dua musim. Terkhusus di Ottawa, suhu udara di kota ini masih terasa cukup lembab.
Setibanya di bandara Angga langsung memesan taksi, ia akan memberikan kejutan untuk istrinya. Dalam perjalanan pulang Angga terus mengumbar senyum senang, pemuda itu tidak henti-hentinya menunjukkan giginya hingga membuat Pak Supir hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
"Tuan, apa anda akan menemui kekasih anda?" Ucap Pak Supir memecah keheningan. Ia dapat melihat wajah Angga yang berseri-seri dari balik kaca spion.
Angga mengangguk cepat, matanya berbinar bahagia. "Saya akan menemui istri saya," jelas Angga dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya. Pak Supir mengangguk mengerti dan memberikan seulas senyum pada Angga.
"Saya punya dua tiket festival musim panas, apa Tuan mau memakainya? Kebetulan saya dan istri saya sudah sering melihat acara tersebut." Pak Supir mengambil dua karcis berwarna kuning dari saku jaketnya, kemudian memberikan benda tersebut kepada penumpangnya.
Angga mengangguk senang, ia mengucapkan terimakasih pada Pak Supir itu berulang kali. Bahkan sampai ia tiba dirumah, Angga masih melakukan hal tersebut.
"Saya doakan semoga anda dan istri anda sehat selalu," kata Angga seraya membungkuk hormat ketika mobil berwarna kuning itu mulai menjauh.
Hari ini sudah petang, matahari terlihat condong ke arah barat. Angga segera melangkahkan kakinya memasuki kawasan perumahan, para tetangga yang melihat kehadiranya menyapa dia dengan ramah. Penjaga keamanan membuka pintu gerbang untuknya ketika ia sudah sampai di depan rumahnya.
Angga menekan bel rumah beberapa kali, menunggu seseorang membukannya. Tidak butuh waktu lama daun pintu terbuka menunjukkan perempuan dengan pakaian hangat berwarna putih berbulu. Perempuan itu menggosok matanya berulang kali, mencoba memastikan bayangan yang ia lihat dimatanya nyata atau tidak?
"Angga?" Tanya Keisha sedikit tidak percaya, karena melihat sosok lelaki yang selama ini ia nanti kedatangannya. Ya, setelah beberapa hari kepergian Angga, Keisha merasa gelisah bahkan ia tidak bisa tidur dan makan dengan benar karena memikirkan pemuda itu.
"Aku merindukanmu sayang." Angga langsung merengkuh tubuh Keisha serta membenamkan ciuman di bibirnya dan keningnya. Merasa sudah cukup puas memeluk istrinya dan menciuminya Angga menjauhkan tubuh Keisha sedikit untuk melihat wajah perempuan yang dicintainya.
"Aku juga merindukanmu," tutur Keisha halus sembari mengusap pelan pipi Angga yang putih seperti bayi. Angga hanya terkekeh kecil saat melihat mata istrinya menunjukkan tatapan mendamba padanya.
"Bagaimana kamu bisa kemari?" Keisha menarik tangan Angga, dan menuntunnya duduk di sofa ruang tamu.
"Ah itu? Aku mendapatkan izin dari Kakek," jawab Angga sedikit gugup sembari tersenyum lebar dan menggaruk belakang tengkuk lehernya. Ia terpaksa berbohong pada Keisha karena takut perempuan itu akan menyuruhnya kembali ke Singapura jika ia ketahuan kabur dari rumah.
"Meski kamu kabur pun aku tidak akan marah," ujar Keisha sembari menarik hidung suaminya yang mancung. Ia sudah mengetahui kebiasaan pemuda itu, jika ia membuat kesalahan maka Angga berlaku seperti itu di depannya.
__ADS_1
Angga hanya tertawa kecil pada Keisha, ia membiarkan hidungnya memerah karena ulah perempuan itu. "Sayang," panggil Angga lembut. Keisha langsung menghentikan aksinya mencubit hidung Angga dan beralih menatapnya. "Mari berkencan, kencan kita yang kedua." Angga mengembangkan senyum sembari menunjukkan dua buah tiket ditangannya.
"Festival musim panas," ucap Keisha saat membaca secarik kertas tersebut. Angga hanya mengangguk seperti anak anjing dengan mata berbinar-binar. "Kamu mau kan?" Angga menarik tangan Keisha penuh harap. "Iya, kita akan pergi," ucap Keisha sembari membenamkan ciuman dipucuk kepala suaminya. Angga hanya terkekeh kecil menerima perlakuan istrinya.
"Bagaimana bisa aku jauh-jauh darimu Nyonya? Jika kamu begitu menggemaskan seperti ini. Maafkan aku kakek karena membuatmu sedikit naik darah," batin Angga.
Di tempat lain kediaman keluarga Andreas terlihat Tuan Wilson baru menuruni mobil, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia baru saja tiba setelah melakukan perjalanan bisnis ke Malaysia. Melihat kedatangan Tuannya, Jemy pun segera menghampiri untuk menyambutnya.
"Selamat datang Tuan," sapa Jemy ramah sembari menunduk hormat.
"Putraku?" kata Tuan Wilson menanyakan kabar Sebastian.
"Tuan Sebastian baru saja keluar untuk mengujungi Nyonya besar," tutur Jemy pelan.
"Cucuku?" Sambung Tuan Wilson lagi ketika menyadari keadaan sekeliling rumah yang sepi tidak seperti biasanya saat Angga ada di rumah dan membuat keributan dengan para pelayan.
Jemy tampak bingung sesaat, keringat dingin mengucur dari dahinya. Entah apa yang harus ia sampaikan pada Tuannya saat mengetahui Tuan Mudanya kabur dari rumah.
"Ah Tuan Muda, ia sedang.....," ucapan Jemy terhenti sesaat sebelum melanjutkan kembali.
"Tuan Angga sedang melakukan tugas mulia, Tuan." Tuan Wilson mengerutkan dahinya tidak mengerti mencoba memahami ucapan Jemy.
"Tugas mulia apa?" Tanya Tuan Wilson lagi. Jemy langsung mendekatkan diri ke telinga Tuan Wilson dan membisikkan sesuatu di sana.
"Tuan Muda sedang berusaha memberikan keturunan untuk anda Tuan," kata Jemy berhati-hati agar Tuannya tidak tersinggung dan berbalik memarahinya jika tahu cucunya kabur. Namun, sebaliknya Tuan Wilson berjalan gontai menaiki anak tangga tanpa berkomentar apa pun.
"Kapan dia akan kembali?" Jemy segera mengikuti Tuan Wilson di belakangnya, sembari membawakan barang bawaan Tuannya.
"Lusa Tuan." Tuan Wilson hanya diam selama perjalanan menuju lantai dua. Jemy pun bersyukur dalam hati karena dirinya aman dari murka pria tua itu. Ketika sampai di depan ruangan besar milik Tuannya, Jemy menurunkan barang bawaanya. Sementara Tuan Wilson mulai mendudukkan dirinya di kursi empuk kesayangannya.
"Semoga tugas mulia cucuku segera terwujud," ujar Tuan Wilson sepelan mungkin. Jemy yang berhasil mendengar penuturan pria tua itu hanya dapat tersenyum, "semoga saja Tuan." Jemy menuangkan segelas air putih untuk Tuan Wilson.
"Anda selamat Tuan Muda," ucap Jemy dalam hati penuh syukur.
__ADS_1
Jika yang LDR-an Angga dan Kei tidak akan ada drama perselingkuhan reader hehehe,, Jadi jangan khawatir..