
~Hanya denganmu aku mencintai dan karena dirimu aku dicintai~
Setelah pulang dari taman Angga langsung memberikan makan istrinya dengan benar, dia menyuapi Keisha dengan sayang dan memastikan perempuan itu memakan habis makanannya serta meminum obatnya. Keisha hanya menerima perhatian suaminya dengan senang hati, mungkin karena sudah dua hari mereka tidak bertemu.
Setelah makan siang mereka hanya menghabiskan waktu bersama di ruang tamu, menonton acara TV dan sesekali bercerita tentang apa yang mereka alami selama tidak bersama. Dan ketika hari mulai sore, keduanya akan melakukan pesta minum teh di halaman belakang rumah mereka, melihat kolam ikan, dan menikmati sinar matahari terbenam.
Kegiatan itu sudah menjadi rutinitas Angga dan Keisha selama di Kanada. Hal itu dilakukan atas saran dari Dokter Gazen, beliau mengatakan bahwa suasana yang tenang dan harmonis akan mempercepat penyembuhan Keisha.
"Apa yang kamu baca sayang?" Tanya Angga penasaran saat mendapati Keisha berlama-lama memfokuskan perhatiannya pada sebuah buku majalah di tangannya. Sedari tadi perempuan itu tampak serius membacanya, bahkan membuat dia tidak bergeming dari posisinya sedikit pun.
"Hanya sebuah artikel sayang," jawab Keisha apa adanya, karena memang dia sedang membaca sebuah artikel yang menulis tentang orang yang cukup terkenal akhir-akhir ini. Angga yang mendapat respon singkat dari istrinya tampak tidak senang. Dia merasa diabaikan oleh Keisha hanya karena sebuah majalah.
Akibat rasa penasaran yang tidak tertahankan, pada akhirnya Angga memberanikan diri mengintip sedikit demi sedikit apa isi dari majalah itu, saat matanya melihat wajah familiar dari foto yang terpampang jelas di header utama kolom artikel, mata Angga membola setelah mengetahui gambar dirinya yang tersenyum konyol berada di sana.
"Jangan dibaca sayang, ini memalukan." Angga langsung mengambil paksa majalah yang ada di tangan Keisha secepat kilat, jika tidak maka rahasia yang ia sembunyikan akan terbongkar. Apabila itu terjadi, maka dapat dipastikan dia tidak akan berani melihat wajah istrinya lagi.
"Kembalikan Angga, aku belum selesai membacanya." Keisha mencoba mengambil majalah yang memuat artikel tentang suaminya dari tangan Angga, tapi pemuda itu tidak membiarkan Keisha mendapatkannya, Angga menyembunyikan majalah itu di balik punggungnya.
"Ini bukan hal yang penting sayang, aku hanya terlihat konyol di sini." Ujar Angga mencoba membujuk Keisha agar mengurungkan niatnya untuk membaca majalah tersebut.
"Baiklah, aku tidak akan membacanya." Keisha mengalah dan berhenti merebut majalah itu dari suaminya. Angga merasa puas dengan hal itu, dia tersenyum senang dan meletakkan majalah itu jauh-jauh dari istrinya. Kemudian dia mendekat ke arah Keisha dan menangkup kedua pipi istrinya dengan sayang.
"Jangan marah ya, nanti aku belikan sekeranjang wortel untuk si Putih agar kamu bisa memberinya makan sampai kenyang." Bujuk Angga mencoba mengambil hati Keisha. Si Putih, kelinci milik Romi itu sudah memiliki keluarga dengan bayi-bayinya yang lucu. Dan Keisha sering menghabiskan waktu bersamanya selama Angga bekerja.
Keisha hanya mengangguk sebagai jawaban, perempuan itu memang mudah untuk dibujuk, terutama jika yang membujuknya adalah suaminya.
Romi terlihat berjalan mendekat ke arah mereka, dia membawa secangkir teh herbal ditangannya yang khusus ia buat untuk Keisha. Saat ia meletakkan cangkir teh itu dihadapan Tuan Mudanya dan istrinya, matanya tertuju pada sampul buku berwarna-warni di belakang punggung Angga. Dia mengambilnya dan membacanya.
"Tuan Muda, anda sangat romantis." Puji Romi tersenyum tulus pada Angga.
"Lihatlah Nona, Tuan Muda mengatakan bahwa Nona seperti rembulan berwarna perak yang menerangi hari-harinya. Dan senyum Nona sangat manis seperti madu, sehingga membuat Tuan Muda mabuk karena kecanduan." Kata Romi jujur membaca beberapa larik kalimat yang dikutip wartawan dalam artikel itu.
"Sial! Kenapa mulut Romi tidak bisa dikunci. Bagaimana sekarang aku melihat wajah Nyonya? Ini memalukan. Wartawan itu, mereka bilang hanya wawancara biasa, tapi aku tidak tahu kalau itu dimuat dalam majalah." Umpat Angga dalam hati.
Angga tersenyum manis namun sedikit mengancam pada Romi. Namun, orang yang diperingatkan tidak peka sama sekali. Romi masih saja membaca artikel tersebut dengan senang seraya mendongengkannya pada Keisha layaknya sebuah cerita pengantar tidur.
"Nona, Tuan Muda juga mengatakan bahwa wajah Nona terlihat cantik saat marah, seperti kecantikan patung Dewi Yunani." Romi masih melanjutkan acara mendongengnya, sementara wajah Angga sudah merah menahan malu sekaligus amarah pada Romi. Tapi bahkan Romi tidak mengindahkan hal tersebut, karena memang pria itu terlalu tidak peka.
__ADS_1
"Romi, kenapa kamu banyak bicara sekarang? Bukankah kamu biasanya pendiam?" Sindir Angga secara halus pada manusia robot itu, karena Angga tidak mungkin menyuruh Romi berhenti membaca artikel itu secara terang-terangan di hadapan Keisha. Namun, nyatanya Romi masih tidak mengerti dengan kode peringatan yang diberikan oleh Angga.
"Saya tidak mungkin diam saat membaca Tuan Muda. Meskipun diam adalah emas, tapi berbicara juga berlian. Saya tidak bisa hanya memilih salah satu diantara keduanya." Jawab Romi dengan senyum tipis di bibirnya.
Rasanya hati Angga sudah memanas, berdebat dengan Romi hanya akan mengurangi sebagian nyawanya saja. Jadi dia membiarkan Romi menceritakan semuanya pada Keisha, dan membiarkan dirinya menahan malu sampai ke ubun-ubun.
"Nona, Tuan Muda juga mengatakan bahwa dia bersyukur memiliki wajah tampan karena dapat membuat Nona tetap mencintainya dan tidak melirik ke pria lain." Mata Romi masih fokus melihat ke majalah itu, tapi pikirannya sedang berkhayal.
Angga yang mendengar perkataan Romi barusan seolah tersadar bahwa dirinya tidak pernah mengatakan hal itu sama sekali dalam semua interviewnya. Lalu bagaimana Romi bisa mengatakan itu pada istrinya saat ini?
"Kamu?" Kata Angga sedikit menekan.
"Kanapa Tuan Muda?" Tanya Romi sambil melihat ke arah Angga dengan sedikit tersenyum.
Saat Angga hendak menjawab Romi, tiba-tiba dia juga mengingat kalau Keisha juga melihat ke arahnya. Angga langsung mengurungkan niatnya yang ingin memaki Romi dan tersenyum pada istrinya.
"Tidak apa-apa lanjutkan," kata Angga sedikit terpaksa seraya memasang senyum semanis mungkin.
Romi membalas Angga dengan senyum yang lebar, dia mulai mendongengkan hal-hal yang tidak masuk akal pada Keisha. Sementara Angga hanya tersenyum getir, dalam hati pemuda itu merutuki kebodohannya yang telah membuka jalan bagi Romi untuk leluasa mempermalukannya di hadapan istrinya.
Malam harinya Angga tidak berani melihat wajah istrinya, dia menyembunyikan wajahnya dibawah bantal dan berpura-pura tidur. Keisha yang mengetahui bahwa suaminya sedang menahan malu untuknya, merasa sedikit terhibur. Dia justru mendekatkan diri ke arah Angga dan memeluknya dari belakang.
"Angga." Panggilnya terjeda sedikit.
"Apa wajahku memang secantik patung Dewi Yunani, seperti yang kamu katakan?" Tanya Keisha dengan sengaja. Rona merah sudah menjalar dari leher sampai ke daun telinga Angga karena menahan malu.
Angga hanya diam membisu, pemuda itu justru semakin menarik selimut ke atas sampai menutupi bagian kepalanya.
"Sepertinya Romi membohongiku."
Tidak ada pergerakan dari Angga, pemuda itu diam dibalik selimut seperti kepompong.
"Hmm baiklah, sepertinya aku memang harus melakukan operasi plastik. Karena sudah muncul banyak kerutan di wajahku, aku jadi terlihat seperti nenek-nenek." Goda Keisha sedikit memancing suaminya sembari tersenyum tipis.
"Mungkin Romi bisa menyarankan Dokter yang cocok untukku melakukan operasi plastik," ujar Keisha lagi.
Sedari tadi Angga hanya menyimak monolog istrinya dari balik selimut. Angga sebenarnya masih menahan malu, dan tidak berniat melihat wajah Keisha saat ini. Baru setelah perempuan itu tertidur dia akan melihatnya.
__ADS_1
Namun, mendengar Keisha berencana melakukan operasi plastik dan terdapat pergerakan perempuan itu akan menuruni ranjang. Angga langsung membuka selimutnya dan mencekal tangan istrinya.
"Tidak perlu operasi plastik, saya menyukai wajah Nyonya yang seperti ini." Kata Angga sembari menggenggam tangan Keisha saat perempuan itu sudah sempurna berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Nyonya masih terlihat cantik di mata saya, tidak ada kerutan sedikitpun di wajah Nyonya. Semuanya sempurna." Ucap Angga lagi sembari menunduk malu.
Memang wajah Keisha sangat terawat, meski usianya sudah terbilang tidak muda lagi tapi kulitnya masih kencang. Bahkan satu kerutan pun tidak ada, hanya saja semua pria yang memandangnya dulu selalu menilai penampilannya yang terlalu dewasa dan sedikit membosankan. Terutama karena perempuan itu tidak suka memakai make up.
"Benarkah?" Tanya Keisha lagi.
"Iya." Jawab Angga pelan.
"Tidak perlu operasi plastik?" Tanya Keisha lagi memastikan.
"Tidak perlu." Jawab Angga semakin menunduk ke bawah.
Keisha yang menyadari bahwa dia sudah keterlaluan menggoda suaminya, berhenti tidak berbicara lagi. Dia kembali naik ke tempat tidur membaringkan tubuhnya di kasur sembari menarik Angga agar juga ikut berbaring. Setelahnya dia menarik selimut menutupi tubuh Angga.
"Tidurlah, besok kamu masih harus bangun pagi untuk bekerja. Aku tidak mau suamiku memiliki kantung mata seperti panda." Tutur Keisha tertawa kecil seraya menata bantalnya senyaman mungkin dan memejamkan matanya. Angga yang mengamati bahwa istrinya sudah tertidur pulas juga ikut memejamkan mata.
"Anda benar-benar cantik Nyonya," gumam Angga pelan sembari mematikan lampu ruangan dan menyalakan lampu tidur.
"Terimakasih," ucap Keisha menimpali pujian Angga. Keisha membuka matanya perlahan dan melihat ke arah Angga, terlihat jelas bahwa pemuda itu sedang memejamkan mata secara paksa.
"Kenapa Nyonya belum tidur? Ah ini memalukan," batin Angga merutuki kebodohannya.
Keisha mendekat ke arah Angga dan membenamkan ciuman di pucuk kepalanya. "Selamat malam, semoga mimpi yang indah." Bisik Keisha di telinga Angga. Setelahnya Keisha benar-benar tertidur tanpa berpura-pura lagi. Sedangkan Angga, pemuda itu justru tersenyum tidak jelas dan terjaga sepanjang malam. Terlihat jelas rona kebabahagiaan yang tidak dapat ia tutupi.
"Kenapa aku bisa sesenang ini?" Pikir Angga.
Maaf ya karena kemarin tidak sempat Update. Beberapa part ini tidak ada bawang ya..^_^
HAPPY READING
Salam Sayang
~As-Sana~
__ADS_1