My Old Wife

My Old Wife
Yang Ditunggu-tunggu


__ADS_3

~Harapan yang menjadi kenyataan akan membawa kebahagiaan~


Keisha masih tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari Nyonya Moly bahwa dirinya mengandung. Sudah lima tahun ia menanti hal ini, perempuan itu masih ingat dulu saat ia mengecek tentang kehamilannya melalui test pack, namun semua hanya berakhir kekecewaan saat ia tahu bahwa dirinya tidak mengandung.


Jadi untuk memastikan lagi, Keisha langsung menuju ke rumah sakit terdekat di pusat kota. Ia ditemani oleh Peter ke sana. Jantung Keisha berdetak tidak karuan ketika dokter mulai melakukan pemeriksaan dan uji laboratorium untuk mengetahui lebih akurat tentang kehamilannya.


"Bagaimana hasilnya Dokter?" Tanya Keisha khawatir, bibirnya bergetar dan napasnya mulai merasa sesak karena menunggu jawaban. Dokter yang menangani Keisha memegang tangannya lembut mencoba menenangkannya.


"Hasilnya positif Nona, anda memang sedang mengandung." Jawab Dokter yang bernama Margareth itu dengan tersenyum. Keisha meremas pakaiannya, jantungnya berdetak lebih kencang, rasanya ada berpuluh-puluh udara yang memenuhi rongga paru-parunya sekarang.


"Apa saya benar-benar mengandung Dokter?" Tanya Keisha kembali mencoba memastikan. Dokter Margareth kembali mengangguk sembari menyodorkan hasil tes uji hCG (human chorionic gonadotropin) pada Keisha.


"Kandungan anda sekarang sudah mencapai usia dua pekan Nona," jelas Dokter Margareth lagi. Keisha semakin meremas pakaiannya mencoba menghilangkan rasa gugup. "Masa awal-awal kehamilan seperti ini, anda harus banyak beristirahat. Karena kondisi janin anda masih lemah." Tutur Dokter Margareth lagi yang dibalasi anggukan dari Keisha.


"Nona." Keisha melihat ke manik berwarna emerald milik Dokter Margareth. "Ini akan menjadi masa yang sulit untuk Nona." Tangannya yang ramping menyentuh buku-buku jari Keisha mencoba memberi rasa ketenangan. "Kandungan anda cukup lemah dari wanita hamil pada umumnya."


Ingatan Dokter Margareth mulai mengelana menulusuri hasil pemeriksaan tadi. Ketika ia menemukan ada hal yang berbeda dari rahim perempuan di hadapannya ini.


Keisha sudah mengerti, mungkin itu disebabkan oleh cederanya dulu. "Saya tahu itu akan terjadi Dokter, tapi saya akan menjaga baik-baik janin yang ada dalam rahim saya. Apa pun yang terjadi, saya akan tetap mempertahankannya," ujar Keisha dengan senyum tipis di bibirnya.


Keisha hanya ingin melihat kebahagiaan di mata Angga suaminya. Dokter Margareth tersenyum. "Saya akan mendampingi anda Nona," tutur Dokter Margareth ramah. Keisha pun mengangguk ia mengucapkan banyak terimakasih pada wanita berjas putih yang usianya lebih muda darinya.


Setelah menjalani pemeriksaan, Keisha kembali ke toko bunga bersama Peter. Hatinya memanas, rasanya ia ingin segera bertemu dengan Angga untuk memberitahukan kabar gembira ini. Entah kenapa, apa yang dikatakan Dokter Margareth tidak berpengaruh apa pun padanya. Karena yang terpenting baginya adalah Keisha mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.


"Bibi tidak apa-apa?" Peter membuka pembicaraan. Anak itu cukup peka dengan perubahan raut wajah Keisha. "Bibi tidak apa-apa Peter, Bibi hanya gugup. Bibi ingin segera memberitahukan kabar gembira ini pada suami Bibi." Keisha mengusap kepala Peter sayang. Sekarang mereka sedang berada di dalam taksi.


Peter tersenyum tulus, lalu memegang tangan Keisha yang terasa dingin karena perempuan itu tidak memakai sarung tangan di musim dingin seperti ini. "Bibi dan Paman Angga adalah orang baik, maka Tuhan juga akan memberikan kebaikan untuk kalian. Jadi Bibi tidak perlu cemas," ucap Peter meyakinkan.


Sungguh bocah berambut cokelat keemasan itu tahu bagaimana menenangkan hati seseorang yang sedang gelisah. Keisha mengusap kepala Peter lembut, hatinya lebih tenang sekarang.

__ADS_1


_____


Di tempat lain Romi terlihat memasuki ruangan, ia menyerahkan beberapa berkas tumpukan file pada Tuan Mudanya. Data tentang panti asuhan yang ada di Ottawa.


"Ini adalah beberapa data profil dari anak-anak yang ada di panti Tuan Muda," lapor Romi kepada Angga yang tampak masih serius meninjau berkas perusahaan yang belum sempat ia selesaikan kemarin. Angga menaruh file yang ada ditangannya, kemudian beralih melihat tumpukan dokumen yang dibawa Romi.


Sudah lebih dari tiga minggu ini Angga memang menyuruh Romi untuk melakukan pencarian informasi tentang data anak-anak panti. Pria itu bermaksud mengadopsi seorang anak, yang dapat ia rawat bersama istrinya.


Meski istrinya terlihat baik-baik saja, tapi Angga memahami bahwa Keisha pasti mengalami tekanan karena diusianya yang sudah matang seperti sekarang seharusnya ia menjadi seorang Ibu.


Tapi karena faktor tertentu di masa lalu, perempuan itu harus kehilangan sebagian besar kesempatannya untuk memiliki anak.


Alis Angga berkerut saat membaca beberapa berkas file yang dibawa oleh Romi. "Apa tidak ada bayi dalam data ini?" Angga memang berniat mengadopsi seorang anak yang masih balita, tapi melihat kumpulan informasi di tangannya ia tahu tidak ada bayi dalam daftar tersebut.


"Tidak ada Tuan Muda, hampir semua panti tidak menerima penitipan bayi tahun ini. Meskipun ada bayi itu masih memiliki orang tua, dan mereka dititipkan untuk sementara." Jelas Romi. Angga hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. "Cari lagi, kau bisa mencarinya di kota lain." Perintah Angga pada Romi.


"Kenapa terburu-buru Tuan Muda?" Romi meminta keringanan waktu pada Angga, tapi sepertinya Angga tidak akan memberikannya. "Hari ini adalah hari jadi pernikahanku, aku ingin memberi kejutan istriku dengan itu." Angga berkata santai, lalu meletakkan file tadi ke atas mejanya. Romi paham dengan perkataan Tuan Mudanya sehingga ia tidak bertanya lagi.


Ketika Romi hendak keluar dari ruangan Angga, pria itu melihat cara jalan Romi yang sedikit pincang. "Kenapa dengan kakimu?" Angga memperhatikan kaki Romi dari atas sampai ke bawah.


Terdapat perban di telapak kakinya. Romi tampak berpikir sebelum menjelaskannya. "Ah itu, karena diinjak kaki gajah," jawab Romi gugup. Angga yang mendengarnya mengerutkan dahinya bingung.


"Memang kau pergi ke kebun binatang sebelum berangkat ke kantor?" Timpal Angga. Romi menghembuskan napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Angga. "Tidak, saya pergi ke rumah sakit." Romi mulai mengingat kejadian tadi pagi saat ia mengantar Lianda ke rumah sakit.


Ada seorang ibu-ibu yang mau melahirkan mengaku bahwa Romi adalah suaminya. Ibu itu terus mendesak Romi untuk mengakui anaknya. Tapi, Romi tidak bisa mengakuinya karena memang bukan dia ayah bayi itu. Bahkan ia tidak kenal dengan perempuan itu.


Lianda pada awalnya marah padanya, tapi setelah kesalahpahaman itu terselesaikan Lianda kembali diam, tapi masalahnya perempuan itu tidak mau berbicara padanya.


"Jadi apa yang kamu lakukan untuk membujuk Lian?" Tanya Angga penasaran. Angga mulai menaruh kedua tangannya sebagai sandaran kepalanya. Mencoba menyimak serius pembicaraan Romi.

__ADS_1


"Lianda memintaku berperilaku romantis?" Romi kembali terdiam. "Lalu?" Tanya Angga lagi. Pria itu semakin menaik turunkan alisnya mencoba menerka-nerka.


Romi menarik napas dalam lagi kemudian melihat ke arah Tuan Mudanya. "Aku membelikannya sepuluh tablet vitamin kesehatan. Tapi ia justru menginjak kakiku." Romi menunjuk kakinya yang sekarang terasa sedikit berdenyut dan dibalut perban oleh tunangannya. Angga justru tertawa lebar setelah mendengar penjelasan Romi.


"Itulah kenapa saya tidak ingin bercerita dengan anda, karena saya tahu anda pasti akan menertawakan saya." Sesal Romi. Angga menghentikan tawanya lalu melihat ke arah Romi lagi.


"Ehm, Romi apa yang membuatmu berpikir memberikan sepuluh tablet vitamin sebagai hal yang romantis." Angga menatap Romi intens saat pria itu tampak berpikir sejenak.


"Karena dia seorang Dokter, jadi saya pikir dia akan membutuhkannya." Romi merasa jawabannya tidak salah, tapi kenapa Tuan Mudanya justru tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya.


"Hahaha.., astaga Romi pemikiranmu terlalu sempit. Lianda adalah seorang Dokter dan kau masih memberinya vitamin? Sementara dia selalu mencium bau obat rumah sakit setiap hari." Pada akhirnya Angga berdiri dari kursinya ia mendekat ke arah Romi lalu menepuk pundaknya.


"Berikan bunga mawar atau cokelat pada Lianda nanti sepulang kerja, aku pastikan dia tidak akan marah lagi padamu." Ucap Angga tulus berusaha membantu memperbaiki hubungan dua orang kepercayaannya ini.


"Anda tidak mencoba membohongiku kan Tuan Muda?" Romi menajamkan tatapannya pada Angga. Tapi Angga justru menyeringaikan bibirnya. "Kita taruhan, jika nanti Lianda semakin marah padamu aku akan menaikkan gajimu tiga kali lipat. Tapi jika tidak? Kau harus menuruti semua permintaanku tanpa membantah selama sebulan, bagaimana?" Tawar Angga memancing Romi.


Romi tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, ia merasa was-was kalau menerima tawaran Angga. Karena ia kenal Tuan Mudanya ini memiliki seribu cara untuk menang, dan ia tahu juga bahwa Tuan Mudanya adalah orang yang romantis jadi mungkin sarannya benar. Ah Romi jadi bingung memikirkannya.


"Tidak, saya menolak." Romi menatap Angga berani. "Saya akan membujuk Lianda dengan cara saya sendiri," ucap Romi terdengar lugas tanpa keraguan sedikitpun. "Kau yakin tidak ingin mencobanya?" Rayu Angga lagi, karena ia yakin dia akan menang jika Romi menerima tawarannya.


"Anda tidak perlu repot-repot Tuan Muda." Akhirnya Angga menyerah, sepertinya ia gagal membuat Romi tidak melawannya selama sebulan ini.


"Ya sudah pergilah, semoga beruntung." Angga mengusir Romi dari ruagannya, pria itu kembali mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya untuk memulai pekerjaanya lagi. Romi pun segera berjalan menuju ke daun pintu, tapi saat tubuhnya sudah berada diambang pintu keluar ia kembali melihat ke arah Angga.


Romi hampir melupakan alasan terpentingnya datang ke ruangan itu selain memberi berkas panti. "Tuan Muda, saya mendapat kabar kalau Kakek anda jatuh sakit. Tuan Sebastian meminta anda bersama Nona Keisha untuk menjenguknya." Kata Romi lagi.


Terimakasih atas segala dukungan kalian untuk My Old Wife baik Like + Vote + Komen yang sudah diberikan.


Salam sayang As-Sana.

__ADS_1


__ADS_2