
Maaf bukan update 🙏🙏
Bab 1. Prolog
...~Cinta tak seharusnya buta, hingga kau rela memberikan semua kepadanya,orang yang mungkin akan mengecewakanmu jua.~...
- Rahayu Raherja -
ooo
Gelapnya malam yang semakin pekat mencekiknya, terlebih
ketika orang yang diberi kasih sayang mencampakannya,setelah lima tahun ia mendedikasikan cinta serta kesetiaan pada
sang kekasih. Sepasang mata itu saling memandang, penuh amarah, kebencian, dan ketidakpercayaan.
Sesekali sang pria membuang muka ke samping, lantas memegang pipi seputih susu milik Rahayu, perempuan yang telah menemaninya sejak masih duduk di bangku SMA.
“Bagaimana bisa aku menikahimu? Aku sendiri tidak yakin kalau dia adalah anakku!” sentaknya menunjuk perut rata Rahayu Raherja – putri semata wayang keluarga Raherja – yang mengaku bahwa dia – Giovanni Raksa telah menghamilinya.
Rahayu yang diperlakukan begitu hina oleh pemuda itu tak kuasa menahan tangis. “Aku yakin kau telah tidur dengan pria lain, iya ‘kan?” tegasnya kembali membuat tangan Rahayu segera menampar wajah Giovanni yang dulu selalu dipuja ketampanannya.
Tanpa banyak pikir Giovanni segeramenghimpit tubuh perempuan itu, mendorongnya hingga punggung Rahayu membentur dinding tembok studio musik lama yang sudah tidak beroperasi selama delapan tahun. Giovanni menatap nyalang wanita di hadapannya. Kemudian ia memukul bata merah yang lapuk hingga membuat Rahayu menolehkan muka ke samping menahan rasa takut. Pria itu kembali pada tabiat buruknya yang merupakan seorang pemarah.
“Jangan memancing emosiku, Rahayu! Kenapa kau memperumit masalah sepele seperti
ini? Tinggal gugurkan saja, maka masalah akan selesai! Dan kita kembali bersama,” tawarnya penuh penekanan dengan tatapan tajam mematikan.
Hati Rahayu tersayat mendengar
penuturan Giovanni, cinta yang selalu ia agungkan untuk sang kekasih menyurut seketika, dihempaskan ombak besar yang
menghantam batu karang hingga habis tak tersisa. Rahayu mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan muka pria tampan berkulit tan keturunan Jawa.
“Apa? Masalah sepele, begitukah yang kau pikirkan? Bagaimana bisa kau menganggap masalah ini sepele? Aku hamil Giovanni! Aku hamil! Dia anakmu! Darah dagingmu!Tidakbisakah kau sedikit mengerti akan posisiku sebagai seorang wanita? Bagaimana jika orang tuaku dan masyarakat tahu aku
hamil di luar nikah? Mereka akan berpandangan buruk padaku,” teriaknya mendorong tubuh Giovanni kasar.
Rahayu sudah tidak sanggup menahan diri lebih lama lagi, kesabarannya telah terkikis. Tinggal kekecewaan yang menyelimuti relung hatinya.
“Rahayu, dengar.” Tangan Giovanni
mencekal lengan Rahayu.
“Aku mohon sekali ini saja. Kau gugurkan anak itu dan kita kembali berhubungan seperti sebelumnya. Bukankah kau tahu
sendiri aku belum siap untuk menikah? Aku ingin mengejar karierku terlebih dahulu.” Kini Giovanni sedikit bersikap lembut, menghapus buliran bening yang tengah lama mengering di
pelupuk mata Rahayu.
“Aku masih mencintaimu,” rayunya lebih
lanjut.
Namun Rahayu tak semudah itu termakan bujukan Giovanni, ia tidak ingin menambah dosa lagi dengan membunuh kehidupan di rahimnya, janin yang tidak bersalah. Dengan
terpaksa akhirnya Rahayu mengucapkan kata itu juga.
“Mari kita akhiri hubungan ini Giovanni, biarkan aku membesarkannya seorang diri. Jika kau tidak mau menjadi ayahnya, maka aku
akan menjadi Ayah juga untuknya. Selamat tinggal,” ujar Rahayu berlalu pergi melepaskan pegangan tangan Giovanni. Kemudian
__ADS_1
berlari sejauh mungkin meninggalkan sang mantan di sana.
***
Dua minggu setelah putusnya Giovanni dan Rahayu, perempuan itu mengambil cuti kuliah. Ia memilih berada di kamar sepanjang hari sembari membaca buku tentang
kehamilan. Setiap pagi Rahayu akan memuntahkan isi perutnya di kamar mandi dan sesekali merasakan lemas beserta pusing
yang berkepanjangan.
Kedua orang tua Rahayu, Raherja dan Hana begitu cemas melihat kondisi putrinya yang terlihat tidak baik-baik saja, sehingga tanpa sepengetahuan dari Rahayu mereka meminta tolong pada Antoni, Dokter pribadi keluarga
mereka untuk memeriksa kesehatan gadis muda tersebut.
“Kamu telah membuang kotoran tepat di muka ayah, Rahayu! Apa yang salah dengan didikan ayah sehingga dengan lancangnya kamu berani hamil di luar nikah? Tidak cukupkah semua yang ayah berikan padamu? Sampai membuatmu menghina keluarga kita dengan tindakanmu ini!” tukasnya tajam menghakimi putri semata wayang yang selalu ia bangga-banggakan selama ini.
Rahayu terisak, memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Raherja. Pemilik netra sebening kaca itu berlututmemegangi kaki lelaki paruh baya yang membesarkan dia sejak kecil. Air mata mengalir deras menganak sungai meminta maaf. Deru napasnya tersengal dengan tubuh yang bergetar hebat.
“Ayah, maafkan Rahayu,” pintanya penuh harap.
Namun, lelaki berkumis tipis yang memiliki beberapa uban di pelipisnya hanya membuang muka ke samping tanpa mau memandang wajah cantik Rahayu yang pucat pasi.
“Tidak ada maaf untuk kesalahan ini. Katakan! Dengansiapa kamu tidur? Siapa pria yang telah menghamilimu? Biar dia yang mempertanggungjawabkan perbuatannya!”
Rahayu menggeleng, menggigit bibir bawahnya engganmenjawab.Tubuh Raherja segera merunduk, mengangkat dagu Rahayu agar mau menatap pada manik hitamnya yang berkobar
api amarah.
“Jawab! Siapa pria yang telah menghamilimu?”
Kini amarah Raherja tidak dapat ditahan lagi, darahnya mendidih sampai di ubun-ubun. Tangan Raherja yang mengepal
kuat terbuka menampar pipi seputih susu milik Rahayu. Hana yang menyaksikan putri satu-satunya kesakitan bergegas berlari
wajah cantik Rahayu untuk kedua kali.
“Maafkan dia, Suamiku, aku mohon sudah cukup. Jangankau sakiti lagi, dia sedang mengandung.” Tangisnya pecah
menyembunyikan Rahayu dalam pelukan.
“Carikan aku Dokter kandungan! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya agar kau membawanya malam ini juga!”
Mendengar perintah dari suaminya, Hana segera angkat bicara. “Apa yang ingin kau lakukan, Suamiku?”
***
Bab 3 Terenggut
~Kisahku tak seindah negeri dongeng, di mana dunia berputar hanya padaku. Karena nyatanya sebelum kelahiran pun, Tuhan telah menolakku dan mencoba menyingkirkanku. Aku adalah
pangeran terbuang dan tak mendapatkan cinta, hingga seteguk anggur bahagia pun enggan menyapa~
-Taiga Sagara
"Suamiku, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Hana khawatir.
Bayi yang menggeliat dalam gendongan Rahayu kini tergeletak di panti asuhan. Dia dibuang dan dipisahkan dari ibunya.
***
Bab 6 Karangan Bunga
“Dia, Tuan Hadi, dia akan menjadi ayah angkatmu mulai saat ini.”
__ADS_1
Air mata menganak sungai dari pelupuk mata Taiga setelah mendengar penuturan dari teman Haniza. Anak ini tidak pernah menyangka kalau masih ada seseorang yang mau mengadopsinya, sosok orang tua yang selalu diperjuangkan oleh Haniza sekarang datang berdiri di hadapannya, mengulurkan tangan meraih Taiga untuk menjadi bagian keluarganya.
Hadi mendekat menghampiri Taiga, bayi merah yang dulu ia tinggalkan di panti asuhan delapan tahun yang lalu. Cucu dari Raherja yang telah memikat hati Hadi sejak ia lahir ke dunia ini.
“Jangan menangis, kau laki-laki.”
Takdir itu unik, anak majikannya yang ia buang di panti asuhan kini menjadi putra angkatnya.
***
Bab 8 Sebuah Permintaan.
Di bawah rintik-rintik hujan, iris hitam Taiga menangkap bayangan sosok perempuan berambut panjang sepinggul yang
dibiarkan tergerai. Perempuan itu menatap kosong ke depan, ia menjinjitkan kakinya melakukan suatu tarian. Tongkat merah putih ia geletakkan begitu saja. Kemudian melangkah
ke jalan raya dengan sebuah koreografi tarian yang Taiga yakini merupakan gerakan seorang penari balet.
Tangan dan kaki Andara Surya terus menari tanpa henti, menerobos rinai hujan
yang semakin deras. Sorot lampu kekuningan datang dari arah utara, milik mobil truk besar pengangkut potongan kayu Jati.
“Awas, Nona!” Taiga reflek berdiri.
Truk besar itu semakin dekat, klakson dibunyikan beberapa kali. “Hei, Nona! Menyingkir dari jalan!” seru sang
sopir menyembulkan kepalanya dari jendela mobil yang dibuka. Rem dipijak perlahan, untuk menghentikan laju truk, tetapi derasnya hujan dan jarak yang dekat membuat sang sopir sulit
menghindari kemungkinan adegan tabrakan terjadi.
“Kamu mau mati, ya?” Taiga mencekal bahu Andara, lelaki ini berlari secepat kilat menarik tubuh balerina tersebut menjauh dari jalan. Kini mereka sedang berada di trotoar dekat
bangunan halte.
“Jangan sentuh aku!” Andara menyingkirkan tangan Taiga, menghempaskannya secara kasar. Kemudian ia berjalan sedikit
terhuyung, lalu merunduk meraba-raba lantai trotoar.
“Di mana tongkatku?” gumamnya seraya menggigit bibir bawahnya.
‘Apakah dia buta?’
Taiga melihat sekeliling, ia menemukan tongkat dengangaris merah putih tergeletak di bawah pohon Tabebuya. Ia melirik Andara yang masih meraba-raba lantai trotoar yang kasar, pemuda itu mengembuskan napas jengah lalu berjalan
ke Tabebuya mengambil The White Cane yang tergeletak di sana. Taiga berjongkok di hadapan Andara, menarik tangan perempuan itu paksa untuk menerima tongkatnya.
“Ini tongkatmu.”
“Pergi kau! Aku tidak perlu kau kasihani!” bentaknya mendorong tubuh Taiga ketika pemuda itu membantunya berdiri.
“Menyebalkan.” Taiga menyentuh bagian bahu yang sedikit nyeri karena ulah Andara, kemudian ia berjalan ke halte bus,
memilih pergi dari sana.
***
Tadi merupakan cuplikan dari cerita novel "Cahaya Cinta Terakhir" yang terbit cetak. Bagi yang ingin membaca novel Sana ini lengkapnya bisa pesan.
Bisa hubungi Sana lewat DM IG: @rain_session atau FB: As-Sana
Atau bisa masuk GC Sana dengan memberikan password " Cahaya Cinta Terakhir " 🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih.