
~Burung Merpati akan mengikuti kemanapun pasangannya pergi, begitu juga dengan sang istri yang akan selalu setia pada sang suami~
Tepat pada pukul 21.00 malam, Kevin mengantarkan Helen dan Inara pulang ke kediaman Heru Prawijaya. Putrinya tertidur dalam gendongan Helen sementara dirinya menyetir mobil.
Ketika mesin beroda empat itu sudah berada di depan rumah Heru, Kevin menepikan mobilnya. Kemudian ia membantu melepas sabuk pengaman untuk Helen, lalu membukakan pintu keluar bagi perempuan itu dan putrinya.
“Apa Inara berat?” Tanya Kevin saat melihat Helen sedikit kesulitan menggendong gadis kecil itu dipelukannya. Helen hanya menggeleng sebagai balasan.
“Biar aku mengantarmu masuk ke dalam,” tawar Kevin lagi. Karena melihat perempuan itu sedikit kesulitan membawa mainan putrinya saat menggendong Inara. Pada akhirnya Helen mengangguk memberi persetujuan untuk Kevin menggantikan dirinya.
“Aku akan mengambil mainan Inara terlebih dahulu, Kak Kevin langsung masuk ke dalam saja,” kata Helen setelah Inara sudah beralih pada gendongan Kevin. Kemudian ia beralih membuka bagasi mobil Kevin yang penuh dengan mainan anak-anak. Sementara pria itu sudah membawa putrinya masuk ke dalam rumah.
Kevin menuju ke lantai dua, ia berjalan membuka kamar putrinya yang terletak di samping kamar ia dan Helen dulu. Saat daun pintu kamar terbuka, Kevin dapat melihat desain merah muda memenuhi ruangan itu. Boneka Teddy Bear yang pria itu belikan untuk Inara diletakkan di ranjang tidurnya.
Dengan sangat hati-hati Kevin membaringkan tubuh mungil Inara, pada awalnya gadis kecil itu menggeliat tidak nyaman. Tapi, saat Kevin mengusap kepalanya dan sedikit menyanyikan lagu tidur, Inara kembali terdiam. Ia kembali tertidur seperti boneka.
Kevin menyelimuti Inara dengan sayang, kemudian mencium kening putrinya lembut. “Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah.” Kevin menyalakan lampu tidur dan mematikan penerangan ruangan itu. Tidak lama setelahnya, Helen tampak memasuki pintu membawa mainan Inara di tangannya.
“Kak Kevin, bisa istirahat sebentar. Aku akan membuatkan minuman untuk Kakak.” Pinta Helen seraya menata mainan putrinya di rak yang memang digunakan untuk menyimpan barang-barang Inara.
__ADS_1
“Tidak perlu, aku akan langsung pulang.” Tolak Kevin halus, ia berdiri dan bersiap berjalan ke luar kamar. Helen hanya dapat menarik napas dalam mengiyakan permintaan pria itu. Lalu ia mengikuti Kevin dari belakang untuk mengantarkan pria itu sampai di depan rumah.
Sesampainya di depan pintu utama, Kevin berpamitan kepada Helen untuk pulang. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang ia hormati.
“Kau tidak menginap di sini?” Sahut suara seorang pria sedikit serak, orang itu adalah Heru ayah mertuanya dulu. Sejak tadi Heru sudah mengetahui kedatangan Kevin, hanya saja ia berpura-pura tidak tahu dan memilih diam melihat interaksi Kevin dan Helen dari balik ruang kerjanya.
“Tidak Ayah, aku masih ada pekerjaan besok pagi.” Tolak Kevin halus, Heru hanya mengangguk mengerti dengan jawaban pria itu. “Sering-seringlah berkunjung kemari. Inara membutuhkanmu,” ucap Heru lagi. Kevin mengangguk seraya tersenyum tulus pada pria paruh baya itu.
“Ayah, terimakasih karena telah menjaga Inara dengan baik.” Heru hanya tersenyum tipis, ia beralih memandang Helen.”Setelah mengantarkan Kevin, buatkan kopi untuk Ayah.” Imbuh Heru seraya berjalan meninggalkan mereka lalu menuju ke ruang kerjanya lagi.
Dari balik kaca jendela Heru memperhatikan putrinya yang mengantarkan mantan suaminya itu pergi. Mata pria paruh baya itu memandang mobil Kevin yang sudah melenggang keluar dari halaman rumahnya.
“Apa pria itu tidak merawat dirinya setelah bercerai dengan putriku? Dia benar-benar terlihat berantakan.” Heru menarik napas dalam kemudian menghembuskannya berat, ia merasa pusing memikirkan kehidupan putri bungsunya dan cucunya yang rumit.
Sudah lebih dari dua bulan ayah dari cucunya itu telah hilang kabar. Benar, Kevin sudah tidak berkunjung ke rumahnya lagi sejak malam itu. Hari terakhir ia melihat Kevin mengantarkan Helen dan Inara pulang dua bulan yang lalu. Setelah itu, ia tidak pernah melihat pria itu datang lagi ke rumahnya. Bahkan kabar tentang Kevin seolah-olah hilang seperti ditelan bumi.
Heru sudah menyuruh Rafi keponakannya, untuk mencari Kevin di apartemennya dan tempat kerjanya yang baru. Tapi, Kevin justru dikabarkan sudah resign dari pekerjaannya sejak tiga bulan yang lalu. Itu berarti bahwa saat Heru menawarkan Kevin untuk menginap malam itu. Alasan pekerjaan yang digunakan Kevin untuk menolak tawarannya, hanya bohong belaka.
“Raf, apa kamu sudah medapatkan kabar tentang Kevin?” Tanya Heru tidak sabaran saat melihat Rafi baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya untuk melaporkan hasil pencariannya. Kini mereka sedang berada di kantor Heru.
__ADS_1
Rafi hanya menggeleng pelan, ia mendudukkan dirinya di sofa. Lalu Rafi menyerahkan beberapa file kepada Heru. “Aku sudah mencarinya kemanapun Paman, tapi aku tidak menemukannya.” Rafi mengusap wajahnya kasar, kepalanya juga terasa pusing memikirkan keberadaan sahabatnya itu.
“Orang-orangku sudah menelusuri semua tempat yang ia pernah datangi, tapi aku tidak menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Kevin. Semuanya sia-sia.” Kata Rafi bersaman dengan helaan napas panjang dari mulutnya. Ia menyandarkan kepalanya di sofa. Sementara Heru terlihat memegangi pelipisnya karena kepalanya mulai terasa pening.
“Kemana pria itu pergi? Dia benar-benar membuat cucuku sakit karena ingin bertemu dengan Ayahnya!” Kesal Heru seraya membanting tumpukan map di tanganya. Rahangnya mengeras, emosi mulai menguasainya.
Ia kembali memikirkan Inara yang terserang demam berkepanjangan. Gadis kecil itu selalu mengingau menyebut ayahnya di malam hari. Hingga membuat Helen dan istrinya berjaga sepanjang malam karena khawatir memikirkan kondisi Inara.
Rafi hanya dapat diam, ia tidak mampu berkata apa pun untuk menenangkan pamannya.Tidak berselang lama ponsel Heru berdering, ada sebuah notifikasi pesan dari Nina sekertarisnya.
Tuan Heru, saya mendapatkan kabar dari rumah sakit yang pernah merawat Nona Keisha dulu. Bahwa Tuan Kevin sempat berkunjung ke sana untuk memeriksakan kesehatannya tiga bulan yang lalu.
Nina.
Seusai membaca pesan dari Nina, Heru segera mengambil kunci mobilnya. Rafi yang melihat pamannya tampak terburu-buru segera mengikutinya. “Paman mau pergi ke mana?” Tanya Rafi cepat-cepat sembari mengekor di belakang Heru masuk ke dalam lift.
“Aku akan ke rumah sakit, Nina baru saja mendapat kabar bahwa Kevin pernah berkunjung ke rumah sakit itu untuk memeriksakan kesehatannya.” Jawab Heru lugas, ia menekan tombol angka ‘0’ untuk menuju ke basemant tempat mobilnya berada. Rafi tampak berpikir sejenak sebelum kemudian ia berbicara kembali. “Aku ikut Paman,” tawar Rafi yang dibalasi anggukan dari Heru.
Sebelumnya Sana meminta maaf ya reader. Sana mau minta tolong pada reader tercinta, untuk memberikan LIKE pada BAB TERTINGGAL yang mungkin lupa reader beri Like karena keasikan baca marathon hehehe..(:
__ADS_1
Terimakasih...✉
~Salam sayang As-Sana~