My Old Wife

My Old Wife
Ditemukan


__ADS_3

~Penantian yang panjang tidak akan berakhir sia-sia, selama masih ada harapan di sana~ 


Heru dan Rafi tampak terburu-buru memasuki gedung bernuansa putih yang memiliki banyak lorong dan sekat-sekat ruangan medis. Nina sekertaris Heru yang memberi kabar kepadanya tentang Kevin itu segera mengantarkan bosnya bersama keponakannya untuk menemui kepala rumah sakit setelah mereka tiba di sana. 


Tanpa banyak basa-basi kedua pria itu langsung menanyakan informasi tentang Kevin kepada kepala rumah sakit. Mereka semua terkejut saat mengetahui bahwa Kevin pernah dirawat di sana dalam kurun waktu dua minggu karena mengalami infeksi lambung yang kronis. 


“Lalu sekarang dimana Kevin?” Tanya Heru tidak sabaran kepada pria yang usianya lebih muda darinya, Tuan Hendriawan pemilik rumah sakit tersebut. 


“Tuan Kevin sudah lama tidak dirawat di sini, Tuan. Beliau sudah keluar dari rumah sakit satu bulan yang lalu.” Ucap Tuan Hendriawan sehalus mungkin untuk menekan emosi pria paruh baya di hadapannya ini yang tampak meluap-luap. 


“Jika tidak dirawat di sini, sekarang dimana dia dirawat? Aku ingin menemuinya.” Tutur Heru lugas penuh penekanan. Tuan Hendriawan mengambil napas sejenak sebelum memberikan penjelasan baik-baik pada tamunya itu. 


“Kami tidak tahu Tuan. Tuan Kevin keluar dari rumah sakit tanpa surat rujukan dari rumah sakit kami. Beliau tidak memberikan informasi pribadi, apakah Tuan Kevin akan tetap melanjutkan pengobatannya atau tidak?” Jelas Tuan Hendriawan sopan pada pria paruh baya itu. Heru yang mendengar jawaban dari kepala rumah sakit itu hanya dapat mengepalkan tangan. Karena tidak mendapatkan petunjuk apapun tentang keberadaan Kevin ayah dari cucunya itu.


Rafi yang melihat pamannya tampak gusar segera menenangkannya. “Terimakasih atas informasi yang anda berikan Tuan, ini sudah lebih cukup untuk membantu kami.” Ujar Rafi mewakili Heru, setelahnya mereka bertiga meminta izin keluar dari ruangan tersebut. 


“Tenang Paman, kita akan mencari keberadaan Kevin.” Rafi mengusap pundak Heru mencoba memberi rasa damai untuk pria paruh baya itu. Sementara Nina, dia masih setia berdiri di belakang menemani kedua atasannya. 


Di tempat lain, Helen dan Hanum baru saja menidurkan Inara yang sedari tadi menangis memanggil ayahnya. Kedua perempuan itu terlihat kacau, terutama Helen yang mulai kekurangan berat badan semenjak putrinya sakit. Perempuan itu kehilangan nafsu  makannya dan tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat. Hampir sepanjang malam ia begadang untuk menjaga Inara. 


Hanum memberikan segelas air pada Helen, agar perempuan itu tampak segar. “Tidurlah sebentar sayang, biar Ibu yang menjaga Inara.” Tutur Hanum sambil mengusap punggung Helen halus. Putrinya hanya menggeleng, matanya masih setia menunduk ke bawah dan sesekali tangannya mengusap pucuk kepala Inara. 


“Aku akan menjaga Inara Bu, Ibu istirahat saja. Sejak semalam Ibu sudah menemaniku menjaga Inara.” Tolak Helen, ia melihat ke wajah putrinya yang tertidur cukup pulas dengan boneka pemberian Kevin di tangannya.


Hanum hanya menghela napas, ia tidak dapat memaksakan kehendak pada Helen, karena ia juga memahami bagaimana perasaan seorang Ibu ketika melihat putrinya seperti ini. “Ibu akan mengambilkan makanan untukmu, kamu harus makan agar kamu juga tidak jatuh sakit.” Hanum beranjak dari duduknya untuk menuju dapur. 


Ya, Inara tidak dibawa ke rumah sakit. Gadis kecil itu dirawat di rumah karena setiap ia dibawa pergi ke luar dari bangunan tersebut ia akan mulai menangis dan meminta pulang. Inara selalu mengatakan bahwa ayahnya akan pulang untuk menjemputnya. 


Helen membasuh keringat dingin di dahi Inara, demamnya sudah mulai turun tapi acara mengigaunya saat tidur belum berhenti. Bibir Inara lamat-lamat masih bergerak memanggil Kevin. Kata “Ayah” selalu Inara sebut beberapa kali. 

__ADS_1


“Mama,” panggil Inara ketika terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba. Helen langsung menggendong putrinya ketika ia mulai sadar. “Tenang sayang, Mama di sini.”


Inara kembali terisak. “Mama, Ala mau Ayah.” Kata Inara sembari menangis kencang. Helen mengusap punggung putrinya dan sedikit menimangnya untuk memberi rasa nyaman. “Nanti Ayah akan pulang, Ara yang sabar ya. Ayah sedang bekerja.” Bujuk Helen agar Inara tenang. 


Hanum yang membawa nampan berisi sup daging dan semangkuk nasi segera meletakkan nampan tersebut di atas meja. Hanum berjalan ke arah Helen untuk membantu menenangkan cucunya. Ketika Inara sudah terlihat tenang dan tidak menangis lagi, baru kedua perempuan itu bisa menarik napas lega. 


“Ayah dan Rafi sudah mencari Kevin, tapi mereka belum menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Kevin.” Kata Hanum memberitahukan kabar Kevin pada Helen, perempuan itu hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. 


“Mereka hanya mendapat informasi bahwa Kevin sempat dirawat di rumah sakit karena menderita infeksi lambung kronis.” Helen hanya menarik napas dalam lalu menengadahkan kepalannya ke atas, tangannya masih setia mengusap kepala Inara. 


“Aku sudah menduganya, Kak Kevin memang terlihat tidak baik-baik saja. Aku saja yang bodoh, berpura-pura tidak mengetahuinya.” Jawab Helen lirih, hatinya terasa nyeri saat mendengar perkataan Ibunya, rasanya ia ingin menangis tapi tidak bisa. Air matanya sudah kering untuk Inara. 


“Angga bersama Tuan Sebastian juga membantu mencari Kevin, kamu tenang saja.” Imbuh Hanum lagi, ia mengingat kalau Heru sempat menghubungi Angga untuk meminta bantuan pemuda itu mencari keberadaan Kevin di luar negeri. Dengan koneksi yang dimiliki keluarga Angga, hal ini memberi kemungkinan untuk menemukan Kevin jika benar-benar pria itu berada di luar negeri.


Helen hanya tersenyum tipis mendengar penuturan ibunya. Entah sampai kapan ia harus bersabar menunggu kabar tentang keberadaan Kevin, ayah dari putrinya. Harapannya sudah hampir pupus, hingga hatinya tidak tega terus menerus membohongi Inara. 


Lamunannya terhenti saat ia mendengar nada dering dari ponselnya yang menandakan sebuah panggilan telah masuk. 


“Hallo,” sapa Helen datar dan lirih tidak ada semangat dalam nada bicaranya. 


“Helen, Angga telah menemukan Kevin.” Pernyataan dari suara seorang perempuan yang ada di seberang telepon langsung membuat jantung Helen melompat. Ia menjauhkan ponselnya sebentar dari telinganya untuk melihat nama orang yang menghubunginya. Perempuan itu baru sadar kalau kakaknya Keisha yang menghubunginya. 


“Helen? Apa kau masih di sana?” Ulang Keisha memastikan keberadaan adiknya. Helen segera mendekatkan kembali ponsel tersebut ke daun telinganya. 


“Iya, Kak. Aku masih di sini.” Ucap Helen dengan nada sedikit bergetar.


“Kevin berada di Singapura, aku dan Angga akan pergi ke sana terlebih dahulu untuk memeriksanya. Kamu bisa pergi ke sana bersama Ayah dan Inara nanti.”  Helen membungkam mulutnya menahan tangis. 


“Terimakasih Kak, termakasih banyak.” Ungkap Helen berulang kali seraya air matanya terus mengalir. 

__ADS_1


“Tidak perlu berterimakasih. Kamu adalah adikku, jadi sudah sewajarnya Kakak membantumu.” Balas Keisha terdengar halus, Helen hanya mengangguk kecil. Perempuan itu membasuh air mata dari pipinya. 


Setelah panggilan dari Keisha berakhir, Helen menggenggam tangan Inara lembut, ia mencium punggung tangan gadis kecil itu. “Kita akan bertemu Ayah sayang.” Ucap Helen lirih lalu mencium kening Inara. Hanum bersyukur dalam hati karena pria yang menjadi menantunya dulu sudah diketahui keberadaannya.


________ 


Di Ottawa, Keisha sudah mengemas beberapa pakaian dan keperluan yang ia bawa. Dia dan Angga akan melakukan penerbangan ketika suaminya itu sudah pulang bekerja. Ya, sekarang Angga mengurus perusahaan yang dijalankan oleh Tuan Wilson di Kanada.    


Sekitar pukul empat sore waktu Kanada, mobil yang ditumpangi Angga sudah memasuki pekarangan. Keisha segera menyambut kedatangan pemuda itu bersama dengan Romi. Angga yang melihat istrinya sudah berpenampilan rapi menyambutnya, segera turun dari mobil. 


“Jangan cemas sayang, semua akan baik-baik saja,” ungkap Angga menghibur istrinya yang tampak muram beberapa hari terakhir ini  karena memikirkan keadaan adik bersama keponakannya. 


Angga meminta bantuan kepada Romi untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Mereka akan berangkat ke Singapura sekarang. Ia juga sudah menghubungi ayahnya, Sebastian bahwa dia akan pulang ke Singapura untuk mengurus masalah adik iparnya. 


“Apa anda tidak ingin istirahat sebentar Tuan Muda,” tanya Romi khawatir pasalnya semenjak Angga bekerja di kantor. Pemuda itu cukup sibuk hingga menyebabkan ia kekurangan istirahat terlebih saat melihat keadaan Keisha yang cukup tertekan memikirkan Helen dan Inara. 


“Tidak perlu Romi, aku akan tidur setelah aku dan istriku tiba di Singapura.” Romi pun mengangguk mengerti, ia segera mengemudikan mobilnya menuju bandara ketika Keisha dan Tuan Mudanya sudah masuk ke dalam mobil. 


“Sekarang anda sedikit dewasa Tuan Muda,” puji Romi dalam hati melihat perubahan sikap Angga yang banyak berubah. Angga tidak jadi mencukur rambut Romi, ia hanya membuat Romi memotong cepak rambutnya seperti model rambut tentara. Dan sebagai gantinya Angga menaikkan gaji Romi dua kali lipat sampai rambut pria itu tumbuh. 


Terimakasih karena masih setia mengikuti kisah My Old Wife. Tanpa kalian Sana bukan apa-apa.


Salam sayang.


~As-Sana~


 


    

__ADS_1


__ADS_2