
...~Tak ada gunanya terus terpuruk dalam kesedihan, karena sesuatu yang telah terjadi tak akan pernah kembali~...
As-Sana
***
Sinar surya tampak mengintip malu di ujung pantai, beberapa burung Camar bermigrasi menuju hutan perdu di selatan. Angga membuka mata, tangannya meraba tempat di mana Keisha tidur semalam. “Nyonya,” ucapnya gelagap bergegas bangkit. Hasa juga tidak ada di sana. “Hasa!” teriak Angga menyibak penutup tenda, menyingkirkan selembar selimut yang membungkus kakinya.
Pria itu berlari keluar, melihat tenda Jemy terbuka tanpa si empunya. Kecemasan mendera hati Angga, ia takut terjadi sesuatu pada Keisha semalam yang tidak ia ketahui. Namun, mendengar suara ombak yang menghantam karang dan tawa riuh dari si kecil membuat Angga menarik napas lega. Ternyata Keisha dan Hasa tengah bermain pasir di tepi pantai.
“Tuan Angga sudah bangun.” Jemy datang dari belakang membawakan semangkuk sup ikan yang baru saja dimasak. Asap mengepul di atas benda beling tersebut.
“Paman, di mana aku harus meletakkan ini?”
Peter mengemasi sedikit barang-barang mereka. Kepala anak itu menyembul dari belakang tenda setelah mencabut beberapa paku tanam. “Taruh saja di ranjang Peter, aku akan mengurusnya.” Sembari menyiapkan sarapan pagi, Jemy memperhatikan Angga yang tampak mematung memandang istri dan anaknya. “Nona Keisha baik-baik saja, semalam Nona sadar saat Anda tertidur.”
Kepala Angga menoleh melihat Jemy yang sepertinya membutuhkan bantuan. Dengan cepat Angga berjalan ke belakang, menata piring. Namun, Jemy melarangnya, “Biar saya saja, Tuan Angga bisa menghabiskan waktu bersama Nona dan Tuan Kecil selagi kita belum pulang.”
__ADS_1
Peter mengelap peluh keringat di dahi, anak itu duduk di tikar menselonjorkan kakinya. “Paman tidak mau bermain dengan Hasa?” tanyanya menyisir rambut yang agak lengket. “Hasa dari kemarin menanyakan Paman Angga, anak itu selalu mengoceh ‘Kak Petel Hasa mau main sama Ayah’,” jelas Peter menirukan ucapan cadel Hasa yang lucu.
Angga terkekeh sebentar, kekhawatirannya sirna sudah saat putranya memanggil dari kejauhan. Ada bak penuh pasir di tangannya, anak gembul itu bertelanjang dada menenteng sekop. “Ayah!” panggilnya cekikan, dia mulai nakal tak mau memakai bajunya meski Keisha telah membujuk. Sifat nakal Hasa benar-benar menurun darinya.
Bergegas Angga berlari, menyusul buah hatinya tercinta. Dia tertawa lepas mengangkat tubuh Hasa ke udara lalu mencium perutnya.
“Hahaha, Ayah hen – tikan, Hasa tidak suka geli,” protesnya memukul dada Angga dengan sekop kecil merah terang. “Ibu! Hahaha…, Ibu Ayah nakal,” tambahnya lagi menjatuhkan bak pasir menjambak rambut Angga. Keisha yang mendengar tawa di bibir suami dan putranya tersenyum senang. Ini adalah salah satu momen yang tak akan pernah ia lupakan selama hidupnya.
“Ayah! Hahaha…, jangan gelitiki pelut Hasa,” ocehnya menggigit tangan Angga sampai membekas merah di sana. Hasa sedang mode marah, ia tidak suka kejahilan ayahnya. “Oh Panda kecil Ayah mulai marah?” godanya bertambah gemas melambungkan Hasa ke udara.
Si kecil langsung melompat ke dalam pelukan perempuan yang telah melahirkannya. Dengan lembut Keisha mencium pipi Hasa, membersihkan sisa pasir di tubuhnya. “Hasa pakai baju ya? Agar Ayah tidak nakal lagi menggelitiki perut Hasa.” Putranya mengangguk sebagai jawaban, dia menurut tak lagi menolak saat Keisha memasukkan kepalanya ke dalam lubang kaos polos biru bergambar Nemo, salah satu tokoh kartun favorit Hasa.
“Anak pintar,” puji Angga mengusap rambut Hasa.
Kini manik hitam Angga dan Keisha saling beradu pandang, mencari setitik kerinduan di dalamnya. Tak perlu menunggu lagi, seusai Hasa berlari menuju istana pasirnya. Sepasang suami-istri itu saling berpelukan, mengisi kekosongan masing-masing. Bahkan pelukan mereka bertambah erat tak ingin melepaskan.
Angga berulang kali mencium kedua pipi Keisha sebagai bentuk rasa sayangnya. “Terima kasih karena telah kembali Nyonya,” ujarnya penuh damba.
__ADS_1
Keisha mengusap rambut Angga menghirup aroma segar lelaki itu, “Aku tidak akan meninggalkanmu, jadi jangan pernah berjanji untuk menghukum dirimu sendiri karena menyentuhku. Atau aku akan benar-benar marah dan tidak memaafkanmu.”
Bahu Angga bergetar, wanita ini tahu semuanya. Apa yang ada dalam pikirannya. Perlahan Keisha melepaskan pelukannya, meraba wajah rupawan pria yang telah mencuri hatinya. Seseorang yang menggenggam tangannya di kala terpuruk maupun senang.
Perempuan itu menyunggingkan bibir, menangkup kedua pipi Angga lalu berkata, “Aku sangat mencintaimu daripada yang kau tahu, percayalah padaku Ayah.” Sudut bibir Angga perlahan ditarik ke samping membentuk senyum manis, lalu berubah menjadi tawa yang menggema, “Hahaha…, Hasa! Ayah sangat mencintai Ibu!”
Anak kecil yang dipanggil bertepuk tangan merusak istana pasirnya, dia tertawa sambil melihat kedua orang tuanya. Entah, apakah Hasa paham atau tidak dengan perkataan Angga yang pasti ia senang.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1