
~Ketakutan akan tunduk pada keteguhan hati mereka yang berani~
Waktu cepat berjalan hari yang dinanti-nanti oleh pasangan suami-istri itu pun tiba, ini adalah bulan kesembilan kehamilan Keisha. Semua orang tampak cemas, termasuk Angga.
Pria itu bahkan melakukan cuti kerja selama satu bulan hanya untuk menemani istrinya mendekati minggu-minggu terakhir kelahiran buah hati mereka.
"Kamu tidak bisa tidur sayang? Mau aku dongengkan sesuatu?" Tawar Angga, pria itu terlihat khawatir karena Keisha belum tidur meski malam sudah larut. Keisha hanya menggeleng, ia hanya merasa kalau malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Aku hanya belum mengantuk Angga," jawabnya sembari mengusap perutnya yang sudah besar. Angga tersenyum sesaat ia menarik selimut tebal milik rumah sakit menutupi tubuh perempuan itu.
Sejak awal bulan Keisha sudah dibawa ke rumah sakit untuk persiapan kelahiran atas saran dari Dokter Margareth. Dengan begitu setidaknya mereka dapat melakukan persiapan jika terjadi sesuatu yang tidak terduga, mengingat kondisi rahim Keisha yang demikian.
"Tenanglah aku ada di sini bersamamu," ucap Angga memberi rasa nyaman pada istrinya.
"Apa Romi dan Lianda masih ada di sini?" Tanya Keisha mengingat kedua orang itu yang menemani dirinya setiap hari saat Angga pergi keluar.
"Mereka sudah pulang, aku menyuruh Romi dan Lian untuk istirahat." Angga menyandarkan punggungnya di kursi, sekarang ia sedang duduk di samping ranjang istrinya. "Kenapa sayang?" Tanya Angga saat Keisha melihat ke arah sofa memperhatikan pria yang sedang tertidur di sana.
"Angga berikan selimut untuk Jemy," pinta Keisha. Angga menoleh melihat Jemy yang tampak nyaman tidur di sofa dengan bersedekap dada.
Setelah kematian Tuan Wilson, Jemy mengikutinya. Ia tidak melayani neneknya Nyonya Marine, karena perempuan tua itu sudah memiliki orang kepercayaannya sendiri. Kesehatan Nyonya Marine juga semakin baik mungkin karena kabar kehamilan Keisha, ia ingin tetap hidup untuk melihat anak cucunya.
Angga beranjak dari duduknya, ia mengambil sisa selimut di almari pasien. "Apa kamu tidak membutuhkan selimut lagi sayang?" Tanya Angga masih belum rela memberi selimut pada Jemy. Angga sudah menyuruh Jemy untuk pulang tadi, tapi pria itu bersikeras tetap tinggal.
Keisha menggeleng, ia menaikkan dua selimut yang sudah membalut tubuhnya. Memberi tanda pada suaminya bahwa ia sudah merasa hangat dan tidak butuh selimut tambahan.
Angga pun pasrah, ia meletakkan secara hati-hati selimut tebal itu di atas tubuh Jemy. Namun saat menaikkan selimut tersebut ke atas menutupi dadanya, tangan Jemy justru menarik Angga memeluk lehernya.
"Jemy lepaskan aku," gerutu Angga kesal karena tenaga pria itu begitu kuat mencekik lehernya. Keisha hanya tertawa melihat pemandangan itu. Angga berusaha melepaskan tangan Jemy yang memeluk lehernya. Bukan terlepas pelukan Jemy justru menguat.
"Tuan Muda apa yang anda lakukan?!" Jemy berteriak ketika mendapati wajah Angga begitu dekat dengannya, ia langsung menghempaskan tubuh Angga ke lantai, membuat pria itu meringis kesakitan. "Anda ingin mencium saya?!" Imbuh Jemy lagi seraya mengusap-ngusap bibirnya.
"Hah?? Kamu sudah gila! Mana mungkin aku melakukan itu!" Tukas Angga tajam, ia berdiri seraya memegangi pinggangnya yang sakit akibat ulah Jemy. "Tadi buktinya Tuan Muda mendekatkan wajah anda ke bibir saya," protes Jemy masih membela diri.
Angga memiringkan kepalanya, dahinya berkerut, pria itu sedang mengumpat dalam hati. Jika bukan karena istrinya ada di sana ia sudah memaki Jemy saat ini.
__ADS_1
"Itu karena kamu memeluk leherku begitu erat, aku ingin melepaskannya. Tapi kamu justru mencekikku." Angga tidak terima atas tuduhan Jemy, bagaimana bisa ia ingin mencium Jemy jika ada bidadari pujaannya yang dapat ia cium setiap saat.
"Saya tidak mungkin melakukannya," bantah Jemy masih kekeh, membuat Angga geram dan ingin membuang pria itu di jalanan karena sudah mempermalukan harga dirinya di hadapan Keisha.
"Tanyakan pada istriku dia melihatnya," putus Angga pada akhirnya. Jemy tampak berpikir, kemudian matanya beralih pada Keisha mencoba mencari jawaban dari saksi mata.
Keisha menghentikan tawanya, ia tersenyum ke arah Jemy. "Kali ini suamiku tidak berbohong, tadi kamu benar-benar memeluk lehernya Jemy." Tutur Keisha halus.
Melihat sorot mata Keisha, Jemy pun tahu kalau perempuan itu jujur. Apalagi dengan kepribadiannya yang demikian membuat Jemy tidak bisa meragukan kata-katanya.
Jemy melirik ke arah Angga, ia melihat wajah datar Angga dan tatapannya yang mematikan seperti milik Tuan Wilson. "Bagaimana?" Tanya Angga mengintimidasi, membuat Jemy menelan ludahnya kasar.
Tekanan yang diberikan oleh Angga berbeda dengan Tuan Wilson yang bisa ia atasi sebelumnya. "Tuan Muda tolong maafkan saya," kata Jemy pada akhirnya. Ia begitu gugup sekarang saat Angga mendekat ke arahnya.
"Apa yang akan Tuan Muda lakukan pada saya?" Tanya Jemy cemas, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Angga berdiri tepat di hadapan Jemy, menatapnya dingin. "Minggir!" Tukas Angga datar, membuat tubuh Jemy secara reflek bangkit dari baringnya.
Angga langsung menyingkirkan tubuh Jemy, kemudian mengambil tempatnya untuk berbaring. "Pulanglah," perintah Angga. Jemy masih mematung tidak bisa menjawab. "Jika tidak mau, tidurlah di lantai." Tambah Angga lagi seraya menjadikan tangannya sebagai bantal, matanya memejam sesaat.
Jemy mengerti Angga sedang marah sekarang jadi dia diam, ia melihat ke sekitar ruangan tidak ada lagi tempat untuk tidur, hanya ranjang besar milik Keisha yang biasa ditiduri Tuan Mudanya dan istrinya. Jemy mencoba mengambil selimut dengan niat menggunakannya untuk alas tidur.
"Bisa anda tidur di ranjang bersama Nona Keisha," kata Jemy sedikit memelas.
Angga masih diam ia justru memejamkan matanya lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Jemy tampak bingung, ia ingin pulang tapi dia tidak bisa meninggalkan Angga dan Keisha sendirian di rumah sakit.
Seolah-olah mengerti gerak-gerik Jemy yang tampak ragu-ragu membuka kenop pintu, membuat Keisha merasa kasihan.
"Jemy tidurlah denganku," ucap Keisha.
"TIDAK BISA!!" Teriak Angga reflek seraya menyingkap selimutnya, pria itu langsung bangun dari acara tidurnya saat mendengar ucapan istrinya.
Keisha terkekeh pelan, perempuan itu tahu cara tersebut akan efektif pada suaminya. Angga berjalan cepat menaiki ranjang Keisha lalu membaringkan tubuhnya di sana.
"Jemy kau bisa tidur sekarang," ucap Angga sembari merebahkan tubuh Keisha secara perlahan-lahan. Jemy tersenyum tipis, ia menundukkan kepalanya mengucapkan terimakasih.
"Matikan lampunya," pinta Angga yang dibalasi anggukan dari Jemy. "Baik Tuan Muda, selamat malam." Jemy mematikan lampu ruangan dan merebahkan tubuhnya kembali di sofa, mereka mencoba kembali tidur.
__ADS_1
Ketika jam telah lewat tengah malam, Keisha membuka matanya. Ia tidak bisa tidur, perempuan itu merasakan rasa yang aneh pada perutnya suatu yang mencoba untuk keluar. Keisha melihat Angga yang tertidur lelap disampingnya, pria itu meletakkan tangannya di atas perut Keisha.
Keringat dingin mulai memenuhi dahinya, rasa sakit di perutnya bertambah. Keisha sudah tidak sanggup menahannya. "Angga," panggilnya halus mengguncang bahu suaminya. "Angga," panggilnya lagi. Angga mengerjapkan matanya perlahan, ia merasakan kasurnya basah di bagian bawah.
Saat mata Angga sudah sempurna terbuka, ia melihat wajah istrinya yang sudah menahan sakit. Tubuhnya bergetar dan keringat terlihat memenuhi dahi dan lehernya. "Sayang," kata Angga panik.
Angga langsung menyibak selimut tebal yang menyelimuti tubuh istrinya. Angga dapat melihat cairan bening begitu banyak memenuhi kasur.
"Jemy!!!" Panggil Angga keras hingga membuat Jemy tersentak kaget, Jemy langsung bangun dari tidurnya. "Cepat panggilkan Dokter Margareth! Istriku ingin melahirkan!" Angga masih setia melihat ke arah Keisha mencoba menenangkan perempuan itu yang napasnya tampak naik turun tidak teratur.
Tanpa banyak bicara, Jemy langsung berlari ke keluar ruangan mencari Dokter Margareth. Angga berulangkali mengecup pucuk kepala Keisha menguatkannya.
Jantung Angga memompa tidak kalah cepatnya, rasa gugup memenuhi pikirannya. "Sabar, sayang. Tahanlah sedikit lagi," ucap Angga yang dibalasi anggukan dari Keisha karena perempuan itu sudah tidak punya tenaga lagi untuk berbicara.
Tidak berselang lama Jemy datang bersama Dokter Margareth dan beberapa tenaga medis lainnya. Angga langsung menyingkir dan memberi ruang pada Dokter Margareth. "Segera siapkan ruang operasi," perintah Dokter Margareth pada asistennya.
"Tuan Angga, bisa kita bicara sebentar." Pinta Dokter Margareth cepat, Angga langsung mengangguk ia berjalan mengikuti perempuan itu keluar ruangan. Sementara dua asistennya yang lain mengurus Keisha di dalam.
Jemy yang juga merasa gugup tetap mencoba bersikap tenang, ia menghubungi Romi dan Lianda untuk datang ke rumah sakit saat itu juga.
Mata Angga tampak menunjukkan kerisauan, saat Dokter Margareth mulai menceritakan kondisi Keisha. "Jika kami hanya dapat menyelamatkan salah satu antara istri dan anak anda? Apa yang akan anda pilih Tuan?" Bibir Angga langsung bisu ia tidak bisa mengatakan apa pun. Karena kedua pilihan itu sama-sama berharga untuknya.
Pada awalnya Angga ingin mengatakan untuk menyelamatkan istrinya, tapi ketika ia melihat ke dalam ruangan, dan tanpa sengaja melihat Keisha yang melihat padanya dengan tatapan
memohon membuatnya berubah pikiran.
"Tidak, selamatkan keduanya Dok. Saya tidak bisa kehilangan salah satu di antara mereka berdua." Ucap Angga. Dokter Margareth tersenyum dan menepuk bahu Angga. "Kami akan berusaha melakukan yang terbaik."
Operasi pun dimulai, para tenaga medis mulai menjalankan tugasnya. Angga bersama Jemy menunggu di luar, perasaan keduanya campur aduk antara cemas, tegang, sedih, dan bahagia.
Tidak berselang lama Romi dan Lianda juga datang, napas mereka memburu menandakan bahwa mereka tergesa-gesa datang ke sana. Keempat manusia itu menunggu kabar tentang operasi persalinan Keisha. Dalam hati mereka selalu mengucap doa agar bayi dan ibunya selamat.
Terimakasih atas doa-doa yang sudah kalian berikan pada Sana dan menyemangati Sana untuk tetap UP..
Salam Sayang As-Sana❤️❤️
__ADS_1