
~Seindah-indahnya kehidupan di luar sana, hanya rumah yang menjadi tempat kita kembali~
Sudah dari satu jam yang lalu Angga dan Keisha meninggalkan hotel dan menuju ke tempat baru mereka. Barang-barang Angga yang ada di apartemennya telah dipindahkan oleh Romi ke rumah mereka yang baru, sementara barang-barang milik Keisha sudah berada di sana sejak hari pernikahan. Hal ini tentu saja karena perbuatan dari Ayah tercintanya Heru.
Saat ini pasangan pengantin baru itu baru saja tiba di rumah minimalis berlantai dua dengan halaman yang luas, berwarna cream cerah keputih-putihan dan berpagar cokelat keemasan. Mereka telah sepakat tidak ingin tinggal ditempat yang terlalu besar ataupun mewah, karena hanya akan ada tiga orang yang akan tinggal di sana yaitu Angga, Keisha, dan Romi.
Sementara Lianda, perempuan itu diperintahkan oleh Angga untuk mencari pekerjaan sebagai dokter di kota daripada harus berdiam diri dan hanya mengikutinya maupun Keisha. Karena pekerjaan sebagai dokter menurut Angga adalah pekerjaan yang mulia karena menyelamatkan nyawa orang lain, dan jika Lianda hanya berputar mengikuti keluargannya seumur hidup, ilmunya akan sia-sia, karena mungkin ada orang yang membutuhkan pertolongannya di luar sana. Meski pada awalnya Lianda menolak tapi Angga memaksanya dengan alasan saat dia maupun Keisha membutuhkannnya dia akan memanggilnya.
"Selamat datang Tuan," sapa Romi saat melihat Angga telah turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
"Pagi, Romi. Bisa kau bantu aku mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil?" Angga membuka bagasi dan menenteng beberapa tas berukuran besar.
"Tentu Tuan, biar saya yang bawakan. Tuan dan Nona bisa langsung masuk ke dalam," tutur Romi sopan. Pria itu langsung mengambil alih barang-barang yang dibawa oleh Angga.
"Tidak apa biar yang ini aku bawa sendiri," Angga mengambil koper berwarna silver yang agak besar. Pemuda itu kasihan jika melihat Romi harus membawa banyak barang sendirian, sementara tangannya sudah tidak mampu lagi menampung barang.
"Terimakasih Tuan," kata Romi pelan.
"Tuan Angga sangat baik, beruntunglah Tuan Sebastian memiliki putra sepertinya," batin Romi dalam hati.
"Romi biar yang ini aku juga bawa sendiri," kata Keisha saat Romi juga hendak mengambil tas slempang kecil miliknya.
"Nona juga baik, patut Tuan begitu mengejarnya. Padahal masih banyak wanita lain di luar sana yang akan tergila-gila dengan Tuan, meski dia tidak menggunakan identitas sebagai putra Tuan Sebastian," pikir Romi sembari melihat Angga yang tersenyum ke arah istrinya.
Sementara Romi masih sibuk dengan pikirannya, pasangan suami istri itu sudah memasuki rumah duluan. Mereka langsung menuju ke lantai atas kamar mereka untuk menata baju dan barang-barang pribadi mereka.
"Sayang apa kamu butuh bantuan?" Tawar Angga saat melihat istrinya tengah meletakkan baju-baju mereka ke dalam lemari.
"Tidak perlu, lebih baik kamu membantu Romi untuk membersihkan ruangan yang lain," kata Keisha pelan. Perempuan itu masih setia dengan aktivitasnya menata baju.
Angga mendekat ke arah Keisha, memeluk pinggang istrinya dari belakang, Keisha berjingkat kaget saat mengetahui kalau suaminya sudah berada di belakangnya.
"Angga jangan mulai nakal, cepat bantu Romi! Kasihan dia kalau harus merapikan rumah ini sendirian," tutur Keisha sembari melepaskan tangan Angga.
"Iya, iya, Nyonya besar. Pelayanmu ini siap melaksanakan tugas," kata Angga sembari membungkuk memberi hormat.
Keisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa kecil. Dia melangkahkan kakinya mendekati Angga, saat pemuda itu masih membungkuk dia mengecup pucuk kepalanya dan berbisik di telinganya.
"Baiklah pelayanku yang setia, segera bantu Romi dan selesaikan tugasmu. Setelah itu mari berkencan," bisik Keisha sembari tertawa kecil.
__ADS_1
"Jika setiap hari Nyonya tersenyum sepert ini, maka dapatku pastikan, kadar gulaku akan naik," batin Angga.
Angga tersenyum senang mendengarnya, pemuda itu bergegas melaksanakan apa yang menjadi tugasnya. Dia segera membantu Romi di lantai satu membersihkan ruang tamu, dapur, dan ruang makan. Acara bersih-bersih itu berlangsung selama kurang lebih tiga jam setengah, sekarang matahari sudah mulai naik, dan waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Tubuh Angga dipenuhi dengan keringat, bajunya kotor dan berdebu. Perut pemuda itu juga sudah berbunyi minta untuk di isi.
"Sayang, apa kita perlu membeli makanan?" Tanya Angga sembari merebahkan tubuhnya di sofa dan mengelap peluh keringat di dahinya.
"Tidak perlu, tadi Ibu membawakan kita sedikit makanan. Aku akan memanaskannya, kamu pergilah mandi dulu dan ganti baju hmm," kata Keisha sembari menyalakan oven.
"Aku mandi dulu sayang. Romi, kamu juga pergilah mandi, kita akan makan siang bersama," perintah Angga pada lelaki yang sedari tadi masih berkutat pada kemoceng di tangannya.
"Baik Tuan Muda," jawab Romi, dia segera meletakkan alat kebersihan itu dan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tidak butuh waktu lama Angga dan Romi sudah membersihkan diri, ketiga orang penghuni rumah itu sudah duduk tenang bersama di meja makan dan menikmati hidangan yang ada.
"Romi, aku akan pergi keluar dengan istriku setelah ini. Kamu tidak perlu menemani kami, kalau kamu juga ingin keluar untuk jalan-jalan, maka pergilah, jangan hanya berdiam diri di rumah," tutur Angga sembari meminum seteguk air putih.
"Tidak perlu Tuan Muda, saya akan di rumah saja. Nanti jika Tuan Muda membutuhkan bantuan, Anda tinggal menelpon saya. Saya pasti akan datang," jawab Romi.
"Pria ini terlalu kaku, kalau dia begini. Bagaimana dia bisa menikmati hidupnya?" Tanya Angga dalam hati.
"Terserah padamu, aku sudah memberimu kebebasan," jawab Angga datar.
Makan siang itu berjalan damai, setelahnya Angga dan Keisha kembali ke kamarnya. Kini keduanya sedang melihat-lihat pakaian yang mereka miliki di dalam lemari, tentu saja hal itu mereka lakukan untuk memilih pakaian kencan. Tidak berselang lama keduanya telah berpenampilan sempurna, Angga memakai kaos biru muda dan hoodie berwarna hitam beserta celana jeans biru, sementara Keisha mengenakan dress panjang berwarna sama dengan suaminya.
"Ya, ada apa?" Tanya Keisha sembari memperbaiki penampilannya.
Angga menatap istrinya lama, pemuda itu melihat riasan wajah Keisha yang hanya menggunakan liptin dan sedikit bedak tabur, make up tipis dan terlihat natural. Namun, itu terlihat sempurna dan anggun di mata Angga.
"Kenapa Nyonya berdandan secantik ini? Jika ada lelaki yang memandangnya nanti bagaimana? Tidak-tidak, kalau sampai itu terjadi? Ahhh... Nyonya pasti akan berpaling darimu Angga! Cepat lakukan sesuatu, sebelum itu terjadi," Teriak Angga frustasi dalam hati.
"Apa ada yang salah dengan penampilanku? Apa aku terlihat buruk?" Tanya Keisha saat suaminya terus melihat ke arah wajahnya.
"Ehm, Nyonya. Ah maksudku Keisha, bisakah kamu memakai ini," tanya Angga sembari menyodorkan sebuah topi berwarna hitam miliknya.
"Untuk apa ini?"
"Bodoh Angga, kalau kamu menyuruh Nyonya untuk memakai topi mana di mau. Perempuan tidak terbiasa memakai topi," batin Angga merutuki kebodohannya sambil tersenyum canggung.
"Ahahaha.. ehm itu, hanya saja kamu akan terlihat lebih cantik kalau memakai topi ini sayang," jawab Angga kikuk.
__ADS_1
"Tidak ada wanita yang cantik saat memakai topi, yang ada itu wanita cantik saat menggunakan lipstik atau gaun yang indah, dan ini? Kamu memang benar-benar payah," batin Angga sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Baiklah sayang, sekarang pakaikan untukku," kata Keisha sembari tertawa kecil saat melihat suaminya salah tingkah.
Angga langsung mendekat ke arah istrinya, dia meletakkan topi itu di atas kepala Keisha, dan membenahi tatanan rambutnya.
"Terimakasih," kata Keisha sambil tersenyum.
Pemuda itu langsung memeluk Keisha, dan tersenyum senang. Dengan begini hanya dirinya yang dapat melihat wajah wanita pujaan hatinya itu.
"Ah sayang, ada satu yang kurang," kata Angga lagi. Pemuda itu melepaskan pelukannya, dan mengambil sepatu kets di lemari. Dia memasangkan sepatu itu di kaki Keisha.
"Sekarang sempurna," kata Angga tersenyum lebar.
"Baiklah mari kita pergi," ujar Keisha.
"Aku menjadi muda lagi, baru kali ini aku memakai sepatu dan topi saat pergi ke luar," batin Keisha.
Keduanya segera meninggalkan rumah, mereka berpamitan dengan Romi dan pergi ke halte bus. Angga memang sengaja tidak menggunakan mobil, katanya dia ingin kencannya memiliki kesan berbeda. Makanya kedua pasangan itu akan pergi berkencan dengan kendaraan umum. Mungkin bagi pasangan di luar sana, itu akan menyulitkan tapi bagi pemuda itu, hal tersebut akan lebih menyenangkan. Mereka naik bus yang menuju ke pusat kota, tujuan pertama mereka adalah menonton di bioskop.
Kondisi bus yang penuh desak-desakan dengan orang banyak justru dimanfaatkan oleh Angga untuk semakin dekat dengan istrinya. Bisa dibilang dia sengaja melakukannya untuk mencuri-curi kesempatan kepada Keisha.
"Sayang, peganganlah padaku agar kamu tidak jatuh," ucap Angga sembari tersenyum manis.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Keisha yang terlihat cemas karena ini adalah pengalaman pertamanya naik bus dan kendaraan umum.
"Tenanglah, aku akan menjagamu," kata Angga meyakinkan Keisha.
Keisha berpegangan pada lengan suaminya dan sedikit gugup, jarak mereka sangat dekat karena mereka sedang berdiri berhadap-hadapan sebab tidak mendapatkan kursi.
"Mari kita bersenang-senang Nyonya," batin Angga senang dalam hati.
_____________^_^
HALLO REDER.. Maaf lama ya..
Ini part panjang dari biasanya... 🤗🤗
Selamat menikmati....
__ADS_1
Semoga suka..😍😍
Jangan lupa Like+ Vote + Komen nya😘