My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 28 Menanti


__ADS_3

...~Dalam waktu yang lama aku menunggunya di sini. Namun, setelah sekian purnama tak kunjung aku bertemu dia. Suamiku tersayang Angga.~...


-Keisha Prwaijaya-


***


Satu tahun, waktu yang sangat lama bagi perempuan itu. Dia akan duduk di kursi goyang teras depan rumah menatap gerbang menunggu seseorang datang. Namun, semakin dinanti tak kunjung lelaki itu menampakkan diri. Syal rajutnya memudar, matanya cekung, tak ada riasan wajah di sana. Musim berganti dan langit pun berubah.


“Nona, waktunya untuk makan siang.” Jemy berdiri di sampingnya membawa mangkuk, sup hangat daging ikan Salmon. Keisha menatap kosong, ia tidak berselera. Sedikit bibirnya bergerak untuk bicara, hanya sebatas kata tidak. “Sejak pagi Nona belum makan, tubuh Anda juga semakin kurus."


Mangkuk berisi sup panas itu kembali di letakkan di atas nampan. Pandangan Jemy beralih pada bocah laki-laki berusia empat tahun yang memanggul ransel kecil. Ada seorang lelaki bersamanya, dia membawakan beberapa cat gambar yang agak basah.


“Ibu, aku pulang!” seruan Hasa melengking, anak itu berlari dengan tas Nemo-nya bergoyang ke kanan dan kiri. “Paman Julian tidak ingin masuk?” lelaki yang dipanggil mengusap kepala muridnya sayang, memberi pengertian bahwa ia harus segera pergi.


“Lain kali Paman akan mampir,” ucapnya lalu memandang Keisha di teras. “Jaga Ibumu dengan baik, besok Paman akan menjemputmu lagi untuk belajar di sekolah.”


Hasa mengagguk antusias, dia membiarkan Julian pergi meninggalkan kawasan rumahnya. Anak yang kini berusia empat tahun itu mulai duduk di samping Keisha, menggoyang jemarinya sebentar. Dia melirik sup mangkuk yang masih utuh tanpa tersentuh sedikit pun. “Ibu belum makan?” Jemy yang menggeleng sebagai jawaban.


Kaki mungil Hasa turun dari kursi, mengambil sesuap kuah panas lalu meniupnya. “Aaa… Ibu makan ya, kalau Ibu sakit nanti Hasa sedih,” bujuknya manja memainkan kaki Keisha. Semenjak kepergian Angga, Hasa tumbuh menjadi anak yang mandiri. Walau terkadang sikap nakalnya sering muncul. Dia mulai bisa berbicara dengan benar, Romi yang mengajarinya. Anak itu bahkan telah bersekolah di taman kanak-kanak, di juga mengambil kursus melukis dari Julian.


“Aaaa…”


Keisha membuka mulut menerima suapan Angga kecilnya, buah hatinya tersayang. “Apa kau senang bertemu teman barumu?” tangan Keisha membelai lembut pipi Hasa, mencubitnya. “Hahaha…, jangan tanyakan itu Ibu. Bear adalah teman yang nakal,” tuturnya memanyunkan bibir menggosipkan Bernard putra Paman Romi. Dia juga bersekolah bersama Hasa, entah kenapa Romi memasukkan Bernard ke sekolah walau usianya lebih muda satu tahun dari Hasa.


‘Dia sangat mirip dengan Angga.’


“Mama Hasa tadi menghabiskan makananku,” adu Bernard dari halaman teras. Anak itu baru saja pulang dari klinik bersama sang ibu. “Nanti Mama belikan lagi. Ingat, Hasa juga temanmu kau harus berbagi dengannya,” nasihat Lianda ramah menyapa Keisha sebentar.

__ADS_1


“Kau baru pulang?” Jemy menyahut, Lianda tersenyum tipis sebagai balasan. “Iya Jemy, tadi ada beberapa pasien di klinik. Kalau kau mencari Romi, dia masih ada di jalan.”


Sekarang Romi yang sibuk mengurus perusahaan, mengatur segala urusan bisnis yang ditinggalkan kakeknya Angga.


“Mama, Hasa nakal,” Bernard menangis saat Hasa menimpuknya dengan benda persegi berbentuk kubus yang ia ambil dari saku tas. “Dasar cengeng, itu aku kembalikan.” Satu kotak penuh berisi cokelat ada di bawah kaki Bernard, bahkan ada beberapa koin cokelat tambahan. Senyum Bernard melengkung memakan cokelat-cokelat itu rakus.


“Hasa, minta maaf pada Bernard. Kau tidak boleh bersikap seperti itu.” Bernard tersenyum diam-diam saat Bibi Keisha membelanya, ia senang melihat Hasa kesal.


“Ayo sayang, minta maaf sama Bernard.”


Dengan guratan malas, Hasa berjalan menghampiri Bernard, langkah kakinya sengaja di perlambat. “Maaf, aku bersalah.” Bernard tersenyum girang, tapi ucapan Hasa masih menggantung. “Big Bear,” sambungnya lagi.


“Mama lihat! Dia memanggilku Beruang besar,” tangisnya pecah.


“Hahaha…., big bear, big bear,” lanjut Hasa menjadi-jadi. Semakin Bernard berteriak kencang, bertambah senang pula hati Hasa menggodanya.


Puk.


“Maafkan atas sikap Tuan kecil, dia sudah keterlaluan.”


Jemy menekan kepala Hasa dengan buku tebal, menundukkan kepala anak nakal itu. Hasa berusaha memberontak, tapi pegangan Jemy terlalu kuat. Alhasil Hasa mencebikkan bibir membuang muka ke samping. “Aku tidak mau minta maaf, dia jahat,” tolaknya kekeh tak mau mengalah. “Hasa,” suara Keisha terdengar dari belakang. Hasa yang melihat raut muka perempuan itu tampak bersedih tidak suka, ia paling tidak bisa melihat mata ibunya berkaca-kaca.


Sejenak, Hasa menghembuskan napas. Mengulurkan tangan ragu-ragu, “Ma – af."


“Bernard kau juga harus minta maaf. Mama tahu kau mengganggu Hasa tadi di sekolah.”


Bernard menerima jabatan tangan bocah di depannya, “Ma – af karena menghinamu di sekolah.”

__ADS_1


Kedua anak itu beradu pandang, Hasa yang pertama kali mengangkat wajah menatapnya. “Hahaha…, Paman Jemy pipi Big Bear seperti bakpau, bundar dan terlihat lezat untuk dimakan,” tawanya mencubit pipi Bernard sampai memerah, lalu meneteskan air liur berpura-pura ingin menyantap makanan lezat di hadapannya.


Bernard yang tahu bocah bermanik hitam ini akan mendekat dengan tatapan aneh segera mundur berlindung dibalik punggung Lianda. “Mama, dia mau memakanku,” rengeknya.


Seketika, Hasa terpingkal-pingkal memegangi perut. Anak ini benar-benar merasa lucu sendiri dengan respon Bernard. “Hahahaha…, aduh perutku sakit,” keluhnya.


“Anda sangat nakal Tuan Kecil, sepertinya saya harus memberi hukuman.”


“Ya ampun lucu sekali!” serunya. Jemy menarik daun telinga Hasa yang mulai bersikap jahil. “ Aduh-duh, Paman Jemy sakit! Tolong lepaskan,” pintanya mengaduh kesakitan saat daun telinganya dijewer ke atas.


Keisha yang menyaksikan pemandangan itu tertegun, ia jadi mengingat Angga. Apa yang dilakukan Jemy pada putranya sama seperti hal yang Keisha lakukan saat Angga mulai nakal. Anak itu benar-benar duplikasi ayahnya.


‘Kau di mana Angga? Hasa mulai tumbuh besar, dia nakal sepertimu,’ batin Keisha berkabar pada hati nurani, berbicara dengan lelaki itu melalui kerinduan yang tak terbalas selama dua belas bulan ini.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


Terima kasih yang masih setia menunggu. Salam sayang dari As-Sana.


__ADS_2