My Old Wife

My Old Wife
Sang Pengacau


__ADS_3

~Dalam ketenangan yang dalam akan ada lubang keresahan~


Pintu lift yang terbuka langsung menampakkan pemandangan yang kacau di hadapan Keisha. Perempuan itu keluar dari lift ditemani oleh Fina sekertarisnya dan Ferdian asistennya. Pertengkaran antara Angga dan Pak Satpam berhenti seketika saat melihat Keisha berjalan ke arah mereka.


"Ibu Kei, mohon maaf Bu. Karena saya tidak dapat menjaga keamanan dan ketertiban kantor seperti yang sudah Ibu tugaskan kepada saya." Ucap Pria paruh baya yang tidak lain adalah petugas keamanan perusahaan.


"Tidak apa-apa, saya bisa mengerti," kata Keisha sopan mengingat dia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua.


Sekarang mata perempuan itu tertuju pada pemuda yang berpenampilan kasual di depannya dengan kaos polos dan celana jeans hitam dengan sedikit serutan benang sama seperti saat mereka bertemu pertama kali di ruang kerjanya.


"Kenapa Anda datang kemari lagi?" Tanya Keisha dengan nada yang sedikit menekan menunjukkan rasa ketidaksukaanya.


"Saya ingin melamar Nyonya," kata Pemuda itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Jawaban yang diberikan Angga sontak membuat beberapa pasang mata langsung menatapnya tidak percaya. Beberapa orang karyawan yang pada awalnya mengabaikan pemuda itu kini mulai memperhatikannya. Mereka ingin memastikan apa yang dikatakan pemuda itu benar atau tidak? Mereka juga sangat tertarik untuk melihat kejadian ini. Mengingat baru pertama kali ada seorang lelaki yang berani mendekati bosnya dan melamarnya. Apalagi pria itu masih muda, itu sungguh fenomena yang langka.


"Jaga bicaramu! Jangan berani mencoba untuk berbuat kurang ajar pada Bu Kei!" Ancam Pak Satpam yang tepat berada dibelakang pemuda itu dan masih mengunci tangan Angga ke belakang.


Namun, Angga justru semakin melebarkan senyumnya tidak menghiraukan ancaman dari lelaki tua itu. Dia hanya memiliki satu fokus yaitu menunggu respon dari perempuan di hadapannya.


"Saya tidak menanggapi serius ucapan Anda. Jadi lebih baik Anda segera pergi dari kantor saya, jangan datang kemari lagi." Tolak Keisha seraya memandang berani pemuda itu untuk menegaskan atas penolakannya.


"Maaf Nyonya, saya tidak bisa untuk tidak menemui Nyonya. Saya harus menepati janji saya pada almarhum Ibu saya untuk menjadikan Nyonya sebagai istri saya." Bantah Angga seraya mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Pak Satpam.


"Saya sudah memiliki calon suami, dan saya akan segera menikah. Jadi jangan ganggu saya lagi. Saya harap Anda menghargai permintaan saya." Kata Keisha sembari melangkah pergi dari ruangan itu dan berencana kembali ke ruang kerjanya.


"Nyonya! Saya masih akan datang untuk melamar Nyonya! Selagi Nyonya belum melangsungkan pernikahan, saya tetap memiliki kesempatan!" Teriak Angga dengan keras hingga suaranya masih terdengar oleh perempuan itu meskipun dia sudah menutup pintu lift untuk menuju ke lantai atas.


"Kei_" Panggil Ferdian pelan.

__ADS_1


"Jangan berkata apa pun padaku, aku tidak ingin mendengarnya," tutur Keisha cepat menyela ucapan sahabatnya.


Keisha cukup malas membahas soal pemuda tadi, jadi dia mengganti topik dengan bertanya pada sekertarisnya.


"Fin, apa jadwal saya selanjutnya?" tanyanya pada perempuan dengan rambut kuncir kuda di sampingnya yang masih memegang beberapa map ditangannya.


"Bu Kei, akan menghadiri rapat dewan direksi nanti pukul 16.30 tepat," jawab Fina sedikit ragu-ragu. Perempuan itu merasa gugup berada di dekat atasannya setelah kejadian barusan.


Di tempat lain Angga sedang berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari cengkraman petugas keamanan di sana. "Ah sial, hari ini aku tidak bisa menemui Nyonya Keisha karena ulah Pak Tua ini," pikir Angga dalam hati sambil berdecak kesal. Tingkah Angga yang demikian membuat pria paruh baya yang bekerja sebagai petugas keamanan itu melotot tidak terima. Pemuda itu diseret keluar dari gedung tersebut secara paksa.


"Sudah pergi dari sini! Dan jangan kembali lagi! Bu Kei sudah menolakmu bukan? Jadi jangan menampakkan batang hidungmu lagi di sini! Kamu hanya membuat pekerjaan saya bertambah!" Omel pria paruh baya itu dengan napas tersengal-sengal karena kelelahan menahan Angga.


"Bapak tidak perlu mengusir saya, saya akan pergi sendiri. Tapi besok saya akan ke sini lagi, untuk menemui calon istri saya," jawab Angga emosi sembari merapikan kaosnya yang sedikit kusut karena aksi dorong mendorong tadi ketika dia hendak menerobos masuk ke kantor Keisha.


"Apa kamu bilang? Calon istri? Memang Ibu Keisha mau dengan pemuda ingusan seperti kamu! Lihat saja penampilanmu seperti berandalan, sedangkan Bu Keisha adalah wanita terhormat," ujar Pak Satpam dengan nada mengejek dan menunjuk-nunjuk wajah Angga.


"Meskipun Nyonya Keisha menolak saya saat ini. Saya yakin, beliau akan menerima lamaran saya suatu saat nanti. Bapak tinggal tunggu waktunya saja, saya pasti akan menikahi Nyonya Keisha," tegas Angga untuk meyakinkan pria tua di hadapannya ini.


Pemuda itu berlalu meninggalkan petugas keamanan itu dengan perasaan tidak senang, sudah ketiga kalianya dia berkunjung ke perusahaan ini hanya untuk sekedar bertemu Keisha, tapi petugas keamanan itu selalu mengacaukannya. "Bagaimana aku bisa


dekat dengan Nyonya Keisha, bahkan untuk bertemu dengannya saja itu sangat


sulit," monolog Angga seraya memijit pelipisnya.


Dia kemudian berjalan ke arah parkiran motor dan mengenakan helm motornya untuk segera pergi dari sana, karena dia ada kelas pengganti sore ini. Jika tidak, dia akan memilih menunggu calon istrinya itu sampai perempuan itu selesai kerja dan mencoba mengajaknya makan malam atau hanya sekedar menonton.


Setelah kepergian Angga lima belas menit lalu, ruang para staf dalam suasana yang ricuh karena beberapa karyawan mulai bergosip tentang kasus bosnya barusan.


"Aku tidak menyangka pemuda itu berani melamar Ibu Kei. Terlebih di kantornya sendiri, bukankah kamu lihat bagaimana wajah Ibu Kei? Dia terlihat sedikit kesal. Aku kasihan pada pemuda tampan itu, dia ditolak oleh Ibu Kei secara mentah-mentah. Sungguh pemuda yang malang," sesal seorang pegawai perempuan yang memegang jabatan di Devisi Desaign dan Artistik.

__ADS_1


"Tapi aku sedikit bahagia setidaknya Bu Kei menolak pemuda itu bukan tanpa alasan. Dia menolak lamaran pemuda itu karena Bu Kei akan menikah. Akhirnya Bos kita tidak melajang lagi," ucap pegawai wanita lainnya.


"Iya kau benar juga. Tapi siapa suami Bu Kei? Bukankah kita tidak pernah melihat Bu Kei dekat dengan pria lain? Kecuali Pak Rafi dan Ferdian. Apa mungkin Bu Kei akan menikah dengan salah satu dari mereka?"


"Jangan bicara asal kamu! Tidak mungkin itu terjadi. Pak Rafi itu sepupunya Bu Kei dan Ferdian itu sahabatnya, tidak mungkin mereka menikah. Lagi pula Ferdian sudah punya istri, sementara Pak Rafi sudah bertunangan dengan kekasihnya."


"Tapi mungkin saja bukan? Bisa saja mereka menjalin hubungan secara diam-diam."


"Kalian ini bicara apa? Cepat kerja! Jangan menyebar gosip yang bukan-bukan!" bentak Fina yang datang secara tiba-tiba dan tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Fina memberikan beberapa berkas kepada mereka untuk segera dikerjakan dan mengumumkan pada para staf lain untuk segera mempersiapkan rapat dewan direksi yang akan diadakan sebentar lagi. "Astaga Bu Kei, kenapa semuanya mulai menyebar rumor yang tidak benar? Semoga Ibu baik-baik


saja," gumam Fina dalam hati sembari mengusap wajahnya kasar karena keringat yang terus bercucuran, akibat ketegangan yang dirasakannya beberapa saat lalu di ruang bosnya tadi.


.


.


.


______^_^________


Terimakasih karena sudah setia membaca "My Old Wife".. (^:


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini dengan like + komen + rate + vote ( kalau berkenan).


Oh ya.. sambil nunggu My Old Wife kalian bisa mampir ke karyaku yang satunya "SECRETUM MENSIS: Rahasia Bulan" (^:;


Salam Sayang

__ADS_1


~As-Sana~


__ADS_2