My Old Wife

My Old Wife
Seputih Salju


__ADS_3

~Cinta bisa membuat orang pandai sekalipun menjadi bodoh~


Hawa udara terasa begitu dingin menerpa kulit  manusia, membasuh pakaian tipis milik perempuan itu. Keisha membantu Peter membersihkan pianonya, dan membawanya masuk ke dalam building park yang memang akan dijadikan tempat penyimpanan musik setelah pertunjukkan selesai. 


Seusai para musisi itu berkemas, Keisha membawa Peter untuk berjalan-jalan di sekitar taman kota, untuk melihat-lihat suasana taman yang cukup ramai. Bunga tulip di pinggir jalan masih terlihat kuncup, daunnya yang segar tertutup salju dan akan mekar saat musim semi tiba.  


“Peter, ini ice cream yang Bibi janjikan.” Lianda memberikan sekotak ice cream rasa vanilla dan cokelat pada anak itu. Peter tersenyum senang dan mulai memakannya dengan lahap. Lianda menepuk kepala Peter sayang. 


“Jangan terlalu memanjakannya,” sahut Romi dari belakang. Pria itu baru saja kembali dari kamar mandi setelah buang air kecil. Linda hanya menatap datar Romi, kemudian kembali  mengusap kepala Peter. 


“Bibi tidak mau ice cream?” Tawar Peter pada Lianda dan Keisha. Bocah kecil itu menyuapkan sesendok ice cream ke mulut Lianda. Sementara Keisha hanya menggeleng pelan menolak tawaran Peter. 


“Paman mau?” Peter kembali mengambil sesendok ice cream, kemudian menyodorkannyan pada Romi. Mata bocah itu tampak antusias ketika Romi mulai membuka mulutnya, tapi sayang. Saat sendok itu sudah menyentuh ujung lidahnya. Peter menarik kembali sendok tersebut dan memasukkan ice cream itu di mulutnya sendiri. 


“Karena Paman pria dewasa, Paman harus membeli sendiri ice cream untuk Paman. Baru itu namanya pria mandiri.” Ungkap Peter menasehati Romi, dan menyendokkan kembali  benda lembut itu ke dalam mulutnya. Lianda hanya tertawa melihat Peter yang mengerjai Romi. 


“Kecuali dua Bibi cantik ini, meski sudah dewasa mereka tetap boleh meminta ice cream pada Peter. Karena itu tugas Peter sebagai laki-laki untuk melindungi perempuan,” lanjut Peter lagi di sela-sela acara makannya. Pipinya yang  putih sudah dipenuhi dengan sisa ice cream yang menempel di sana. Bocah itu tampak menggemaskan. 


“Kamu benar-benar pandai Nak, nanti Bibi akan membelikan ice cream lagi untukmu.” Lianda membersihkan sisa ice cream di pipi Peter, kemudian mencubitnya gemas. Peter hanya tersenyum, kemudian mencium pipi Lianda. “Terimakasih Bibi,” ucapnya. 


Lianda hanya tertawa senang, sementara Romi sudah berjalan di depan menutup kedua telinganya agar tidak mendengarkan ocehan bocah yang menyamar menjadi pria dewasa itu. 


Keisha yang memang sedari tadi berjalan di depan untuk melihat para petugas kebersihan membersihkan jalan raya dari sisa salju yang mencair segera menghampiri Romi, dan menyamakan langkahnya dengan pria itu. 


“Sepertinya kamu dan Lianda memiliki kecocokan, apa kamu tidak ada niat untuk berkencan dengannya?” Tanya Keisha masih setia melihat truk-truk besar mulai mengangkut salju dan beberapa orang menyekop tumpukan salju di tepi jalan. Romi yang menangkap apa yang diucapkan Keisha segera menoleh melihat ke arah istri Tuan Mudanya.


“TIDAK! Saya tidak akan pernah berkencan dengan wanita itu,” teriak Romi seraya melirik Lianda sekilas yang tengah asik menyendok ice cream ke mulutnya bersama Peter. Lianda yang mengetahui gelagat Romi membisikkan sesuatu ke telinga Peter.


“Sepertinya penyakit Paman Romi sudah kambuh.” Peter hanya tertawa senang mendengar ucapan Lianda. Romi yang menyadari mereka sedang membicarakan dirinya. Menatap tajam kea rah Peter, hingga membuat Peter buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya yang mungil. “Tuan Voldemort  sudah marah, Bibi.” Bisiknya kembali pada Lianda, hingga membuat perempuan itu tergelak tawa kembali.  


“Nona, tolong hilangkan pikiran anda bahwa saya akan berkencan dengan wanita gila sepertinya.” Romi kembali melihat Keisha dari dekat dan menangkupkan kedua tangannya. Keisha hanya tersenyum ramah kepada Romi, kemudian dia menepuk pundak Romi. 

__ADS_1


“Berjuanglah,” ucap Keisha singkat dan padat. Namun, memiliki arti yang mengerikan untuk Romi. Keisha kembali berjalan melihat-lihat pemandangan dan sesekali ia akan memanggil Lianda dan Peter yang berada di belakang. 


Sementara Romi hanya mematung di sana, pria itu sedang membayangkan jika ia menjadi pasangan dengan Lianda. Tubuhnya begidik ngeri membayangkan hal tersebut.  “Tidak-tidak, hidupku akan menyedihkan jika harus memiliki pasangan sepertinya.” Romi menggelengkan kepalanya beberapa kali mencoba menghilangkan bayangan Lianda di kepalanya. 


“Kenapa kamu seperti itu? Apa kamu benar-benar sakit?” Tanya Lianda. Melihat wajah Lianda yang tiba-tiba muncul di hadapannya membuat Romi berjingkat kaget dan memundurkan tubuhnya. 


“Pergi kamu, jangan dekat-dekat denganku!” Ketus Romi pada Lianda seraya berjalan cepat menjauhi perempuan itu. Peter yang sedari tadi berada di samping Lianda menarik tangan perempuan itu. 


“Bibi, sepertinya Paman sudah gila,” ucap Peter lagi. Lianda menganggukkan kepalanya.


“Mungkin Bibi harus melakukan pemeriksaan pada Paman besok. Paman pasti lelah karena bekerja.”


“Ya, kasihan Paman, Bibi. Nanti ketampanannya akan sia-sia kalau dia menjadi gila,” ujar Peter lagi seraya menutup mulutnya saat mengetahui Romi berbalik melihat ke arahnya. Sementara Lianda, kembali tertawa lepas dan mencubit pipi Peter gemas. 


Keempat manusia itu menghabiskan waktu untuk melihat pengangkutan salju di sekitar taman kota. Kemudian ketika hari mulai petang mereka berempat makan bersama disalah satu restoran yang menjual makanan olahan khas negeri  Pecahan Es. 


Seusai menyantap Beavertais makanan klasik khas daerah Ottawa, yaitu sebuah hidangan donat rata tanpa lubang yang dilumuri cokelat di atasnya. Keisha, Romi, beserta Lianda mengantar Peter pulang ke rumahnya. Meski tidak benar-benar di alamat tempat tinggal bocah itu berada. Hanya di sebuah jalan persimpangan  kecil yang melewati beberapa gang sempit. 


“Hati-hati sayang!” Teriak Lianda kencang seraya melambaikan tangan. Hanya dalam waktu satu hari perempuan yang berprofesi menjadi dokter itu sudah akrab dengan Peter. 


“Aku menantikannya Bibi, aku pamit pergi dulu, sampai jumpa!” Peter melambai kemudian menunduk hormat, tangannya penuh dengan makanan yang dibelikan oleh Keisha dan Lianda. 


Setelahnya  mereka kembali pulang ke rumah. Temperatur udara di Ottawa menurun drastis dimalam hari, udara terasa dingin, langit terlihat gelap, dan bintang mulai terlihat terang menandakan hari semakin larut. Jalanan tampak sepi hanya ada beberapa mobil yang lewat dan petugas kebersihan yang membersihkan sisa-sisa salju di jalan. 


Perjalanan mereka memakan waktu empat puluh menit lamanya. Karena Romi sedikit menurunkan laju mobilnya sebab roda mesin berbahan bakar bensin tersebut akan terasa licin melewati jalanan bersalju. 


Ketika mereka sampai di bangunan  berlantai dua, kondisi rumah tampak sepi. Lampu juga terlihat redup belum menyala karena tidak ada yang menyalakannya. Beberapa hari ini penjaga rumah mereka meminta izin untuk cuti karena istrinya sedang melahirkan. Jadi tidak ada siapa pun yang menjaga bangunan itu ketika semua penghuninya pergi keluar. 


Tapi anehnya, lampu taman belakang menyala, cahyanya yang berwarna kuning remang-remang menelusup keluar menembus halaman samping.


Keisha segera menuruni mobil hendak memeriksa, sementara Romi memasukkan mobil ke dalam garasi dan Lianda membuka pintu rumah yang sedang terkuci untuk menyalakan penghangat di bangunan tersebut. 

__ADS_1


Saat langkah kaki Keisha semakin dekat memasuki taman, matanya dapat menangkap bayangan manusia yang terpantul dari lampu taman. Seorang pria tengah duduk di bangku taman, tubuhnya bersandar pada bangku tersebut. Dan kepalanya menunduk ke bawah. 


“Siapa?” Ucapan Keisha terhenti saat mengenali setelan jas formal yang sempat ia lihat tadi pagi. Dia mendekat ke arah sosok itu dan berjongkok tepat di depannya, tangannya yang ramping memegang pipi pria itu dan menengadahkannya. 


“Angga?” Panggil Keisha lirih pada pria yang dicintainya. Dapat ia rasakan hawa dingin yang menjalar di buku-buku jemarinya ketika menyentuh kulit Angga. Terlihat jelas bahwa pemuda itu telah berada di sana dalam waktu beberapa jam lamanya. 


Angga membuka matanya, dan melihat sosok perempuan yang dia cintai di hadapannya. “Anda lama sekali Nyonya,” ucap Angga lemah. Tubuhnya sudah menggigil menahan suhu dingin yang mulai merasuk ke tulang punggungnya. Bibirnya pucat dan napasnya terdengar berat. 


“Kamu benar-benar pulang, Angga.” Keisha memeluk  leher Angga, air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia begitu merindukan pemuda itu, sosok yang sudah berpisah darinya selama enam bulan. 


“Saya pulang Nyonya, mulai sekarang kita akan tinggal bersama.” Kata Angga seraya mengeluarkan tangannya dari saku jasnya dan memeluk Keisha erat. Udara terlihat menguap dari mulut Angga ketika ia berbicara. Hal ini karena temperatur udara di Ottawa yang begitu dingin. 


“Kakek sudah  mengizinkanku untuk kembali bersama istriku,” kata Angga  sembari melepaskan pelukannya dari Keisha, kemudian ia membasuh air mata di pipi perempuan itu dengan jemarinya.


“Jika anda menangis seperti ini, anda sungguh terlihat jelek Nyonya,” ujar Angga sembari terkekeh kecil.  Keisha hanya tersenyum dan memegang kedua tangan Angga yang dingin di kedua pipinya. 


“Iya, aku memang jelek,” timpal Keisha seraya  melihat ke arah Angga. Keisha dapat melihat wajah tampan Angga yang sedikit terlihat dewasa, enam bulan tidak bersamanya membawa perubahan banyak pada pemuda itu.


Sekarang Angga memakai kacamata yang terselip di daun telinganya, rambutnya dipotong cepak, poni yang biasa menutupi dahinya sudah tidak ada. Pemuda itu juga memakai setelan jas formal bukan kaos dan blazer seperti sebelumnya. Sosok Angga yang sekarang terlihat sedikit berwibawa. 


“Anda kenapa Nyonya?” Tanya Angga, saat mendapati Keisha terlalu lama melamun dan memandang dirinya. Angga menghentikan tawanya kemudian menangkup kedua pipi istrinya dengan gemas. 


“Bagi saya, anda tetap terlihat cantik Nyonya. Meski nanti wajah anda sudah keriput dan menjadi nenek-nenek. Saya akan tetap mencintai Nyonya.” Angga membenamkan ciuman di dahi Keisha dengan lembut. Kemudian ia beralih mencium mata, pipi, dan bibir Keisha. 


“Terimakasih,” kata Keisha sembari tersenyum tulus, tapi buliran air mata juga ikut mengalir dari pelupuk matanya. 


“Iya sayang, jangan menangis lagi.” Angga mencubit hidung Keisha sampai perempuan itu memekik kesakitan. Setelahnya mereka tertawa bersama, dan berjalan bergandengan tangan memasuki rumah mereka.  


Terimakasih masih setia menunggu


My Old Wife..

__ADS_1


Mohon Maaf karena Sana belum bisa membalas komentar kalian satu-satu. Tapi jujur, Sana sangat senang saat membaca komentar kalian terlebih komentar yang positif dan mendukung Sana..🙏🙏


Salam sayang As-Sana.


__ADS_2