My Old Wife

My Old Wife
Salam Terakhir


__ADS_3

~Tiada hal yang paling menyedihkan di dunia ini, selain kata "perpisahan"~


Kevin masih menarik paksa kerah kemeja Dokter Andhika, cengkramannya pada pria itu tidak mengendur sama sekali, bahkan dia semakin kuat menariknya hingga membuat leher Dokter Andhika terasa seperti tercekik. Dokter Andhika yang diperlakukan oleh Kevin pun tidak tinggal diam, dia melepaskan paksa cengkraman Kevin dan menghempaskan tangan pria itu kasar, hingga membuat kancing kemejanya ikut terlepas dan membuat kerahnya terbuka menunjukkan


lehernya yang putih sedikit kemerah-merahan.


"Tidak bisakah kamu tenang sedikit! Aku belum menyelesaikan ucapanku!" Cetus Dokter Andhika kesal dan memegangi lehernya yang terasa sakit karena ulah Kevin.


Kevin kembali bersikap tenang dan mendudukkan dirinya di kursi lagi, dia mencoba memperhatikan apa yang akan dikatakan oleh Dokter Andhika selanjutnya.


"Apa kepalamu sudah dingin? Jika tidak, rendam dulu pakai es batu," sindir Dokter Andhika seraya tersenyum sinis. Pria itu sungguh bersikap frontal jika bersama Kevin tidak ada rasa sopan sedikit pun, mungkin rasa hormatnya pada Kevin telah hilang meski dia merupakan kakak dari pasiennya dulu.


"Oke, sampai dimana tadi?" Dokter Andhika menyesap minumannya yang sudah tidak dingin lagi.


"Kau bilang Keisha akan lumpuh sedikit demi sedikit," timpal Kevin pada akhirnya dengan nada datarnya tanpa ekspresi sama sekali.


"Ya aku memang menduga kalau Nona Keisha dalam fase lumpuh sedikit demi sedikit, tapi itu dulu saat dia di Kanada." Dokter Andhika menghentikan ucapannya dan melihat serius ke arah Kevin.


"Bisa kau jangan melihatku seperti itu? Huh.., kau memang bertindak dengan emosi bukan dengan otak. Pantas dulu kau tidak tahu mana yang salah dan benar." Dokter Andhika menghembuskan napas berat dan menyandarkan dirinya di kursi.


"Aku sempat bertemu Nona Keisha di Kanada dulu, saat itu dia sedang menjalani perawatan penyakit 'Paraplegia' yang sempat ia derita karena cedera saraf tulang belakang. Dan tentu ini adalah efek samping dari operasi transplatasi sumsung tulang yang dia lakukan untuk Siska. Tapi dia tidak mengenaliku, aku yang mengenalinya. Jadi jangan tanyakan ini pada Nona Keisha, dia tidak akan mengetahuinya," imbuh Dokter Andhika.


Kevin menarik napas lega, dia sudah sempat khawatir tadi, jika sampai Keisha juga lumpuh maka dosanya akan semakin bertambah, sahabatnya itu telah menolongnya terlalu banyak. Tapi dia bahkan tidak memberikan apa pun pada Keisha, dan hanya memberinya luka.


"Apa penyakitnya sudah sembuh?" Kevin mulai berbicara tenang, matanya menunjukkan secerca cahaya sedikit.


"Menurut catatan medisnya, mungkin belum sembuh total mengingat cedera itu cukup fatal. Dia mungkin akan mengalami kesemutan dan lemah pada bagian tungkai dan panggulnya. Bisa ku katakan pada saat-saat tertentu penyakit itu akan kembali, tapi juga dapat hilang."

__ADS_1


Kevin mengangguk sebagai jawaban mengerti, dia baru paham apa yang dikatakan Dokter Andhika. Dan dia juga baru menyadari hal ini saat ia mengingat kembali bahwa sejak Keisha pulang dari Kanada dia sering duduk daripada berdiri. Namun, kali ini kesehatannya cukup membaik.


"Aku hanya ingin berpesan padamu, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kali. Sudah cukup Nona Keisha yang menjadi korbannya, jangan ada lagi orang lain. Dan pastikan pemuda yang telah menjadi suami Nona Keisha itu menjaganya dengan baik," ujar Dokter Andhika.


"Terimakasih karena telah memberitahuku." Wajah Kevin terlihat sedikit berbinar, dia menunjukkan rona kegembiraan. Dokter Andhika mengangguk kecil sebagai balasan.


Keduanya kembali menikmati hidangannya dengan nikmat, tanpa banyak berbincang hal yang tidak perlu. Setelah menu yang mereka pesan telah habis dimakan, baru mereka mulai mengobrol.


"Sebenarnya tujuan utamaku mengundangmu kemari untuk memberikanmu sesuatu, benda yang sudah seharusnya aku berikan dua belas tahun yang lalu. Tapi berhubung kau masih belum mengetahui soal kebenaran pendonor transplatasi sumsung tulang itu, maka aku beritahu sekalian. Agar saat aku terbang ke Amerika, aku sudah tidak mempunyai beban lagi."


Dokter Andhika mengambil sesuatu dalam tas kerjanya, sebuah kotak persegi berbentuk kubus yang sudah terbalut dengan pita berwarna hitam. Kotak itu jelas terlihat seperti sebuah kado karena dihias dengan indah dan dibungkus rapi oleh kertas warna bermotif beruang.


"Ini milikmu." Dokter Andhika menyodorkan kotak kado tersebut ke arah Kevin. Dengan perlahan-lahan Kevin mengambilnya, entah kenapa ada gejolak aneh dalam hatinya.


"Adikmu yang memberikan ini secara khusus untukmu, dia menitipkannya padaku. Katanya sebagai kejutan, karena jika ditaruh di ruang rawatnya. Kakaknya akan menemukanya dan itu bukan kejutan lagi."


"Dokter Andhika, berikan ini pada Kakakku di hari ulang tahunnya. Aku takut tidak bisa memberikan ini pada Kakak karena aku sudah tidak ada lagi di dunia ini." Ujar Siska senang dan menaruh kotak kado itu di tangannya.


"Kau pasti sembuh putri kecil, jadi berikan ini untuk Kakakmu sendiri hmm." Dokter Andhika berusaha mengembalikan kotak itu di tangan Siska, tapi gadis itu menolaknya.


"Tidak. Aku tahu ini akan lebih aman di tangan Dokter, karena Dokter Andhika adalah peri besar Siska. Siska tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil hidup Siska? Jadi Dokter Andhika yang menyimpannya ya?? Siska mohon??" Siska memeluk Dokter Andhika erat dan tidak melepaskannya sebelum ia menuruti permintaanya.


"Baiklah, demi putri kecil, peri besar akan menurut. Tapi sebagai imbalannya putri kecil harus minum obat yang rajin ya? Bagaimana?" Dokter Andhika melepaskan pelukan Siska dan menjajarkan tubuhnya dengan gadis itu.


"Iya, sepakat. Siska akan rajin minum obat dan ikut kemoterapi, meski jarum itu sangat mengerikan hehehehe," kata Siska dengan tawa di bibirnya dan sesekali melirik jarum infus di tangannya.


"Bagus, sekarang peri besar akan menyimpan harta karun putri kecil dengan aman sampai pangeran berkuda putih mengambilnya." Dokter Andhika mengusap rambut Siska yang halus dan hitam legam seperti malam.

__ADS_1


"Siap peri besar. Pangeran berkuda putih akan mengambilnya di akhir bulan ini, 28 April." Jawab Siska antusia dan memasang sikap hormat layaknya seorang polisi.


"Hahaha.. kemari, putri kecil akan mendapat hadiah." Dokter Andhika mengecup pucuk kepala Siska dan memberinya beberapa cokelat koin yang selalu ia bawa.


"Aku menyayangimu Dokter Andhika." Ujar Siska antusias dan memeluk leher Dokter Andhika lembut dan mengecup pipi Dokter Andhika seperti anak kecil yang senang diberi permen.


Saat mengingat kembali memori tentang hari itu, dan hari-harinya bersama Siska hati Dokter Andhika seperti dicabik-cabik, pria itu begitu menyayangi putri kecilnya itu. Dia sudah menganggap Siska seperti adiknya sendiri, lalu bagaimana hatinya tidak sakit saat dia dituduh membunuh malaikatnya itu?


Gadis manis yang selalu menemani hari-harinya di rumah sakit. Putri kecil yang menjadi semangatnya untuk semakin giat bekerja dan mengobatinya sampai sembuh. Bahkan saat kematiannya sekalipun dia masih melihat senyum di gadis itu untuknya.


Lalu, saat dia pergi ke Amerika untuk menuntut ilmu dan memperdalam keahliannya, dia masih tidak bisa melupakannya. Sosok Siska selalu terbayang dibenaknya, menjadi kenangan yang manis dan pahit bersamaan untuknya di masa lalu.


Bahkan sampai sekarang pun sosok itu masih ada di ingatannya, menjadi pelajaran yang berharga untuknya dalam menghargai hidup yang diberikan Tuhan. Seperti gadis itu yang selalu berjuang untuk hidupnya meski menyakitkan.


Dokter Andhika.


Dokter Andhika hehehe.


Semua tentang Siska masih menjadi memori segar untuknya, seperti bunga Dandelion yang indah dan berwarna terang dibawah cahaya rembulan di malam hari.


"Maafkan peri besar, karena tidak bisa mengobatimu putri kecil." Gumam Dokter Andhika seraya memandang keluar melihat langit yang berwarna biru cerah, dan bayangan Siska yang tersenyum untuknya di atas sana seolah-olah mengucapkan kata terimakasih untuk yang terakhir kali.


______^__^______


Maaf ya Sana akan membuat Reader menangis lagi 😢😢😓


Maaf juga telah membuat emosi kalian naik turun🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2