
...~Dalam keajaiban tangan Tuhan apa pun bisa terjadi~...
As-Sana
***
Lampu-lampu gantung di restoran itu bersinar terang, kerlap-kerlip cahayanya menyilaukan mata. Menambah kesan keindahan tempat makan Paman Gio. Eliot sedang mengambil beberapa pesanan dari dapur utama. Ada satu gaya tulisan yang tampaknya pernah ia lihat. Temannya datang menghampiri saat Eliot terbengong sebentar.
“Jangan melamun, pesanan kita masih banyak.”
Eliot memegang kepala sebagai permintaan maaf, dia menunduk sopan berpamitan ke belakang bertemu dengan koki. “Lagi pula siapa yang memesan sup tomat tanpa apa pun, mungkin pembeli ini sedang tidak punya uang.
Pelayan resto yang menegur Eliot tadi pergi mendatangi salah satu pengunjung tetap di sana. Seorang guru lukis yang biasa makan malam di resto ini dua belas bulan terakhir.
“Tuan Julian ingin makan apa?”
Julian yang tampak memikirkan konsep lukisan baru yang akan ia ajarkan pada Hasa menoleh, tersenyum tipis. “Seperti biasa, nasi goreng putih dan Poutin pedas.” Setelah mencatat menu yang dipesan Julian pelayan itu pergi. “Tunggu,” sang kepala pelayan tak bergeming masih pada posisi. “Kau melupakan catatan menumu,” tuturnya.
Segera pelayan lelaki itu tersenyum lebar berterima kasih. “Saya jadi sering lupa sekarang.” Namun, sebuah tulisan tangan yang tak asing terlihat di netra Julian. Pelukis itu mengambi catatan menu tadi secara paksa.
“Siapa orang yang memesan sup tomat ini?”
“Tuan Julian, ini pesanan pelanggan biasa.”
Julian berdiri memegang lengan pelayan berseragam merah kuning tersebut kuat-kuat. “Katakan siapa orang yang memesan ini?” tangan pelayan itu kesakitan, dia menunjuk meja seberang yang kosong. “ Tadi dia duduk di sana, lelaki memakai hoodie putih.”
Buru-buru Julian pergi mencari area sekitar, pandangannya menyisir setiap sudut restoran. Sampai ia menemukan seorang lelaki berhoodie yang terlihat dari kaca transparan. Pria itu akan menyeberang jalan ke utara.
Kaki Julian berlari menabrak beberapa pengunjung, tanpa peduli dengan kondisi sekeliling Julian langsung menyeberang, dia hampir saja terserempet mobil.
“Tuan! Anda ini bagaimana? Kalau menyeberang lihat-lihat,benar-benar cari mati!”
Para pengemudi mengomel, Julian abai. Dia memilih menunduk meminta maaf sekilas sembari mengejar lelaki yang hilang jejaknya.
“Ke mana dia? Aku yakin dia adalah Angga.”
__ADS_1
Ingatan Julian berputar pada acara festival Mario Art De Lavi, saat itu Angga pernah memberinya catatan kecil agar ia menjaga jarak dengan istrinya. Julian tidak mungkin lupa, walau hanya sekali. Tapi gaya tulisan tadi sama persis dengan Angga, terutama sup tomat. Makanan favorit muridnya Hasa, anak itu merupakan duplikasi ayahnya.
‘Paman Julian, masakkan aku sup tomat saja. Aku suka itu, dulu Ibu sering membuatnya untuk Ayah.’
Selama ini Julian yakin pria itu tidak meninggal. Dia cuma dikabarkan hilang ditelan badai salju, tidak ada jasad yang ditemukan. Pikiran Julian makin kacau, lelaki itu memijat kening merasa pusing.
“Hasa, maafkan Paman. Walau ini hanya praduga, tapi Paman janji akan menemukan Ayahmu jika ia masih hidup.”
***
Keesokan paginya Ella pergi dari rumah pagi-pagi, tetapi seorang lelaki telah menunggunya di depan gerbang. Pria yang dua belas bulan ini menguntitnya setiap hari – Eliot Naver.
Ella mengacuhkan tunawicara itu ketika dia berjalan di belakang membuntutinya. Ella tahu, pelayan di restoran Paman Gio ini baru pergi setelah dia tiba di butik untuk bekerja.
“Bisa kau tidak menguntitku setiap hari?” Eliot menggeleng sebagai jawaban. Dengusan kesal terukir di mimik muka Ella. Desainer itu mengambil silet tipis berukuran lima centi yang biasa digunakan memotong kain mentah.
“Sekali lagi kau mengikutiku, aku akan bunuh diri,” ancamnya tegas.
Selembar kertas segera Eliot keluarkan ia menulis sesuatu di sana. Tangannya gemetar ketakutan.
[Aku mohon jangan lakukan itu Ella. Aku berjanji tidak akan mengikutimu.]
‘Aku memang berjanji tidak akan menguntitmu. Tapi aku akan mengawasimu dari kejauhan, aku tidak mau kau terluka seperti saat kita masih kecil.’
Dari dalam bus mata Eliot selalu tertuju pada bangunan butik Ella, dia senang telah menemukan teman sekaligus cinta pertamanya. Biarlah hubungan mereka seperti ini sementara sampai Ella mengingat dirinya kembali dan kenangan masa kecil mereka.
***
Keisha memakaikan dasi Hasa, mendandaninya sangat rapi. Jemy juga memasukkan bekal makanan di dalam kantong tas sekolahnya. “Anda tidak boleh nakal Tuan Kecil,” nasihat lelaki paruh baya itu mengepak buku dan kotak pensil. Bocah yang diajak bicara tak memperhatikan sedang sibuk memakan suapan nasi ibunya.
“Ingat, jangan berkelahi atau membuat keributan, atau saya akan datang langsung menghukum Anda di sana.” Hasa terkekeh masih tidak peduli, ia mencium pipi Keisha sayang.
“Aku dan Ayah menyayangi Ibu.”
Hampir setiap pagi Hasa akan melakukan ini, ia selalu memberikan kecupan pagi mewakili ayahnya. Walau Angga tidak ada, tetapi anak itu selalu mengingat sang ayah.
__ADS_1
“Aku juga menyayangi kalian.” Keisha mencubit pipi Hasa memakaikan ia rompi sekolah.
“Hahaha…, Ibu jika Ayah tahu setiap pagi aku mencium pipi Ibu. Ayah pasti akan cemburu, wajah Ayah suka merah saat Ibu menciumnya.” Hasa ingat sebagian memorinya saat kecil, di mana telinga dan pipi ayahnya suka memerah seperti tomat.
“Jangan nakal dan belajar dengan rajin.” Keisha mencubit hidung Hasa merasa gemas dengan tingkah putranya yang suka menggoda orang tua. “Iya-iya Ibu…Paman Jemy aku datang!” satu kali lagi Hasa mengecup pipi Keisha berpamitan, anak itu melompat hendak masuk ke mobil yang sudah Jemy buka.
"Dada Ibu! Jangan lupa makan siang! Hasa tidak suka kalau Ibu belum makan saat Hasa pulang!” teriaknya kencang dari dalam mobil, kepalanya menyembul keluar sambil melambaikan tangan.
“Tuan Kecil, kepala Anda!” Jemy berulang kali memperingatkan Hasa. Tapi sia-sia, karena setiap hari anak itu akan melakukan ini saat mau berangkat ke sekolah. Dia tidak kapok meski terkadang kepalanya akan terbentur ranting pohon sekalipun.
“Aw…, Hahaha!”
Lihat, Hasa bahkan tertawa senang saat daun singgah di rambutnya yang telah di sisir rapi. “Ini tandanya aku semakin bertambah tinggi Paman Jemy, karena daun pun suka menempel di rambutku,” curhatnya membela diri. Dia duduk di kursi mulai memakan cokelat kesukaannya. “Terserah Anda, asal jangan salahkan saya kalau nanti ada yang bilang Tuan Kecil mirip monyet di hutan.”
“Tidak apa, aku suka dipanggil begitu,” jawabnya membuat Jemy tak lagi berkutik untuk membalas. Anak Tuan Angga satu ini memang aneh, dia lebih parah daripada ayahnya.
“Jangan cemberut Paman Jemy, nanti Paman cepat tua,” cetusnya membuat Jemy tersenyum samar.
“Terima kasih atas pujiannya.”
Tawa Hasa menggema kedua kali, menertawakan lelaki yang sedang mengemudi di sampingnya sebagai sopir pribadi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung
Terima kasih yang masih setia menunggu🙏🙏