My Old Wife

My Old Wife
Awal Kisah


__ADS_3

~Tidak ada kisah yang lengkap tanpa pertemuan, dan tidak ada akhir cerita tanpa perpisahan~


Hari ini jadwal Keisha begitu padat, dia memiliki beberapa hal penting yang memang harus dilakukannya setiap hari. Pukul 13.00 dia sudah harus berada di Kafe untuk mulai bekerja, sementara pada jam-jam pagi sebelumnya di harus mampir ke toko bunga Nyonya Susi dan makam Ibunya. Kemudian sebelum ke Kafe dia akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Siska, adik sahabatnya di sana.


"Selamat datang Kak Keisha," sapa Siska dengan ramah.


"Bagaimana kondisimu adik kecil? Apa sudah membaik?"


Perempuan berponi rata itu mengangguk, dia menyambut kedatangan Keisha dengan hangat. Siska sudah lebih dari dua tahun ini didiagnosa oleh dokter bahwa dia terkena ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) yaitu merupakan penyakit kekurangan sel darah merah, sehingga tubuh mudah mengalami memar dan pendarahan apabila terkena benturan yang menyebabkan luka.


Karena rendahnya sel keping darah dalam tubuh seseorang maka hal itu akan menghambat proses pembekuan darah, sehingga akan sulit untuk menghentikan pendarahan. Pendarahan dapat tejadi di seluruh bagian tubuh, baik hidung, gusi, dan urien. Tubuh penderita akan rentan terhadap memar, jadi sebisa mungkin penderita dilarang melakukan aktivitas yang berat, yang mana hal itu justru akan menyebabkan cedera.


Penyakit ini tergolong dalam kategori langka dan sulit untuk disembuhkan. Namun, penyakit ini tidak menular. Meskipun melakukan operasi pengangkatan limpa, belum tentu itu dapat menyembuhkan penderita karena jika terjadi kesalahan dalam operasi, hal itu akan menyebabkan infeksi dan membahayakan tubuh penderita.


"Apa kakakmu belum datang menjengukmu?" tanya Keisha sembari menaruh setangkai mawar putih dan parsel buah yang sengaja dia bawa untuk Siska.


"Belum Kak, memang Kak Kevin itu terlalu sibuk bekerja. Dia sering mengabaikanku, aku membencinya!" Tutur Siska dengan wajah ditekuk, gadis manis itu memanyunkan bibirnya ke depan beberapa senti.


"Jangan begitu sayang, Kak Kevin kan bekerja untuk mencari uang demi pengobatanmu. Jadi Siska tidak boleh marah pada Kak Kevin," bujuk Keisha pada adik sahabatnya itu.


Iya, Kevin dan Keisha sudah bersahabat sejak lama. Mereka mengenal sejak di bangku SMA kelas X dan persahabatan mereka berlanjut sampai sekarang saat mereka menjadi mahasiswa. Kevin adalah pribadi yang tekun dan bertanggung jawab, Ayahnya telah meninggal sejak lama. Dia hanya tinggal bertiga bersama Ibu dan adiknya Siska.


Meskipun Ayahnya meninggalkan harta kekayaan untuk Kevin, namun hal itu tidak cukup karena semua aset milik ayahnya dijual demi pengobatan adiknya. Karena sekarang dia sudah berada di semester akhir sama seperti Keisha, maka Kevin memutuskan untuk memulai bekerja bukan sebagai pekerja part time seperti sahabatnya itu, melainkan sebagai pekerja tetap di perusahaan swasta yang bergerak dalam industri properti.


"Kakak ada urusan sebentar, kamu makanlah buah dulu yang sudah Kakak kupaskan." Pamit Keisha kepada Siska, dia mengecup pucuk kepala gadis itu dan berlalu pergi dari sana.


Perempuan itu melenggang pergi menuju ke penjaga administrasi rumah sakit, dia memang secara diam-diam membantu biaya pengobatan Siska tanpa sepengetahuan Kevin.


"Sus ini adalah pembayaran untuk pasien bernama Siska Rahayu Wijaya," katanya seraya menyodorkan amplop coklat yang berisi beberapa lembar uang berwarna merah.


"Tunggu sebentar Nona, akan saya cek biaya administrasinya." Ucap pegawai medis itu lengkap dengan pakaian serba putih miliknya.

__ADS_1


"Sus tolong rahasiakan nama saya jika ada yang bertanya soal pembayaran ini. Jika keluarga pasien bertanya, tolong katakan bahwa bantuan ini dari donatur rumah sakit," pinta Keisha kembali.


"Baik Nona, akan saya lakukan."


Setelah acara transaksi administrasi rumah sakit sudah selesai, Keisha kembali ke ruangan Siska. Perempuan itu menemani adik sahabatnya untuk sekedar mengobrol agar gadis kecil itu tidak kesepian. Setelah waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dia berpamitan pada Siska untuk bekerja. Perempuan itu menghabiskan waktunya selama kurang lebih sembilan jam di kafe untuk bekerja.


Ketika waktu telah menunjukkan pukul 22.00 tepat Keisha telah siap untuk pulang ke rumah, dia ingat pesan Ayahnya untuk tidak pulang lewat jam tengah malam, atau pria itu akan menyuruhnya berhenti bekerja. Baru Keisha keluar dari kafe, sebuah mobil hitam telah bertengger manis di depan kafe, pemilik mobil itu tidak lain adalah sahabatnya, Kevin.


"Ayo Kei, aku antarkan pulang." Tawar Kevin dari dalam mobil seraya membukan pintu mobil untuknya.


"Terimakasih," Kata Keisha sembari memasang sabuk pengaman.


"Hari ini Siska bercerita padaku, bahwa kau mengunjunginya tadi pagi," ucap pria berpawakan tegap itu dengan tetap setia pada posisinya.


"Hmm," jawab Keisha seadanya.


Sembari menyetir dan meletakkan fokus perhatiannya pada jalan raya, Kevin masih sempat memegang tangan Keisha.


"Tidak masalah, Siska sudah aku anggap seperti adikku sendiri."


"Kei, jangan terlalu baik padaku dan keluargaku. Aku takut tidak dapat membalasnya di kemudian hari."


"Aku tidak menuntut balasan. Aku melakukannya dengan ikhlas."


Kevin menepikan mobilnya di depan rumah Keisha, pemuda itu menggenggam tangan Keisha dengan erat hingga membuat sahabatnya itu menoleh padanya. Mata mereka beradu pandang cukup lama.


"Aku tahu kau membantuku membayar biaya rumah sakit adikku," tutur Kevin pelan.


Napas pria itu sedikit menggebu-gebu, dia kembali menatap mata wanita di hadapannya ini dengan seksama.


"Apa kau mencintaiku Kei?"

__ADS_1


'Deg, deg, deg,'


Jantung Keisha memompa cepat saat mendengar pertanyaan dari Kevin, sahabatnya yang sudah sangat lama dia cintai saat mereka bertemu. Sosok lelaki yang dia kagumi secara diam-diam selama bertahun-tahun.


"Maaf Vin, aku harus segera turun. Ayah menungguku di dalam," ucap Keisha dengan nada sedikit bergetar.


Perempuan itu tidak berani menyatakan perasaannya saat ini, karena dia takut Kevin akan salah mengartikan bantuan yang dia terima darinya. Memang benar dia mencintai Kevin, tapi bukan berarti dia membantu Siska atas dasar perasaannya pada Kevin. Tidak, dia menolong gadis manis itu tanpa pamrih sedikit pun, karena dia benar-benar manyayanginya. Meskipun, jika dia bukan adik Kevin, dia akan tetap menolongnya. Dan Keisha juga tidak ingin kalau Kevin menerima perasaannya hanya karena balas budi atas jasanya selama ini.


Di depan pintu gerbang perempuan yang memakai dress berwarna biru muda selutut dan sedikit ketat melambaikan tangannya pada Keisha. Dia adalah Helen adik sambungnya dari istri kedua Ayahnya, Heru.


"Kakak! Ayah memintaku untuk menjemputmu," ucapnya seraya menghampiri Keisha.


"Ayo kita masuk," ujar Keisha secara cepat menarik tangan perempuan itu.


"Siapa lelaki itu? Apa dia kekasihmu kak?" Tanya Helen sedikit menggoda Keisha.


"Bukan, dia temanku." Timpal Keisha kembali seraya berlalu pergi dari sana dan meninggalkan Kevin sendirian di luar gerbang.


"Cukup tampan," celetuk Helen yang mana suaranya berhasil didengar oleh Kevin dan Keisha.


Itu adalah awal pertemuan antara Helen dan Kevin, yang mana pertemuan itu membawanya semakin dekat pada pria itu hingga membuatnya jatuh cinta padanya, dan meminta Keisha menyerahkan sahabat yang dicintainya selama ini untuk dirinya.


_______________________^_^


Hallo Reader...


Mohon masih bersabar dan setia menunggu kelanjutan dari My Old Wife....


Jangan lupa dukung Author dengan Like dan Vote (sebanyak-banyaknya😁)


Salam Sayang

__ADS_1


~As-Sana~


__ADS_2