My Old Wife

My Old Wife
Telah Terlewati


__ADS_3

~Jurang yang dalam akan tetap memiliki dasar, seperti derita manusia yang mempunyai batas kewajaran~


Suasana tegang masih menyelimuti hati Angga, pikirannya tidak bisa tenang jika belum mendengar kabar bahwa istri dan anaknya selamat. Jemy pun merasakan hal yang sama, bahkan karena gugupnya ia sampai lupa melapor pada Nyonya Marine atau Tuan Sebastian. Sementara Romi dan Lianda hanya dapat bersikap tenang meski hati keduanya gelisah. 


“Tuan Muda,” panggil Romi halus, ia medudukkan dirinya di samping Angga lalu mengusap bahu Tuan Mudanya yang tampak bergetar karena gugup. Angga hanya melihat Romi sekilas, pikirannya masih berputar pada Keisha dan calon anak mereka. 


Sudah dua jam lebih operasi berlangsung, Dokter Margareth  belum juga keluar membuat perasaan keempat manusia itu semakin cemas. “Tuan Angga, saya yakin Nona Keisha  dan bayinya akan selamat. Karena saya sendiri yang selalu mengecek kondisi kesehatannya bersama Nyonya Moly.” Tutur Lianda mencoba menenangkan Angga. 


Lianda memang secara rutin selalu memeriksa kesehatan Keisha selama mengandung, selain itu ia juga dibantu oleh Nyonya Moly pelanggan setia toko bunga Keisha yang merupakan mantan Dokter Kandungan yang sudah pensiun. 


Terlebih, Keisha juga  mendapatkan perawatan dari Dokter Margareth, maka Lianda yakin bahwa Keisha akan baik-baik saja. 


Tidak berselang lama, lampu hijau ruang operasi  berhenti menyala menandakan bahwa operasi telah selesai. Semua orang langsung berdiri dari duduknya menunggu Dokter Margareth keluar dari ruangan.


Ketika daun pintu dibuka, Angga segera menghampiri Dokter Margareth yang baru saja melepas maskernya. 


“Bagaimana keadaan istriku Dokter?” Tanya Angga gugup. 


“Nona Keisha belum sadarkan diri Tuan,” jawab Dokter Margareth membuat Angga sedikit sendu, jantungnya berdetak lagi takut mendengar kabar yang tidak baik. “Tapi Nona Keisha baik-baik saja, bayi dan ibunya selamat.” Dokter Margareth tersenyum simpul lalu menepuk bahu Angga. 


Jemy yang mendengar kabar baik itu tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya dapat tersenyum. Sementara Romi dan Lianda langsung menarik napas lega, mereka kembali mendudukkan dirinya di kursi tunggu. “Terimakasih, terimakasih banyak Dok.” Ucap Angga berulang kali seraya menjabat tangan Dokter Margareth, perempuan itu hanya mengangguk kecil. 


Angga langsung membuka daun pintu ruang operasi, ia dapat melihat Keisha masih terbaring lemah di sana dengan pakaian rumah sakit.


Angga menghampiri Keisha perlahan-lahan, ia ingin memeluknya tapi tidak bisa, jadi pria itu hanya dapat mengecup kening istrinya. “Bayi anda laki-laki Tuan, kondisinya cukup lemah. Tapi ia baik-baik saja, kami akan membawanya terlebih dahulu.” Ujar salah satu tenaga medis yang merupakan asisten Dokter Margareth. 


Angga mendekat ke arah putranya, bayi mungil kemerah-merahan itu tampak tenang, matanya tertutup namun tangannya sedikit bergerak. Angga menjulurkan jari telunjuk untuk menyentuh bayinya. Saat kulit mereka bersentuhan, perasaan hangat memenuhi hatinya. Mungkin ini yang dinamakan perasaan menjadi ayah. 


“Kami akan membersihkannya dulu Tuan,” ujar tenaga medis itu lagi. Angga langsung mengangguk dan membiarkan putranya untuk dibawa petugas kesehatan tersebut. 


“Ah aku menjadi seorang Ayah, aku tidak percaya ini. Rasanya benar-benar bahagia, dadaku terasa sakit.” Batin Angga sembari memegang dadanya yang mulai merasa sesak, tidak terasa setetes  air matanya menitik.


“Jangan menangis Angga, dasar bodoh! Seharusnya kamu tersenyum karena istri dan anakmu selamat,” gumam Angga menyalahkan dirinya sendiri sembari menghapus air matanya. 

__ADS_1


Angga kembali berjalan ke arah Keisha, memegang tangannya lalu mencium punggung tangannya lembut. “Terimakasih sayang, terimakasih banyak.” Angga menggenggam tangan Keisha lembut lalu meletakkan tangan itu  di keningnya , ia merenung.


Semua kekhawatirannya menghilang, sekarang dirinya sedikit tenang. “Segeralah sadar sayang, kita telah menjadi orang tua. Putra kita membutuhkan Ibunya.” Tutur Angga lamat-lamat di telinga Keisha. 


________


Dua minggu telah berlalu, musim semi akan segera berakhir dan berganti musim panas. Keisha belum sadarkan diri membuat Angga merasa cemas kembali, putranya semakin bertambah sehat tapi ia membutuhkan asih seorang ibu. Dan perempuan yang dapat memberinya asih masih terbaring di ranjang rumah sakit. 


Pagi ini Angga datang ke ruang rawat Keisha membawa sebuket bunga  mawar putih dan sebuah buku novel. Angga meletakkan bunga itu di samping ranjang istrinya, kemudian ia duduk di kursi. Tangannya menggenggam tangan Keisha, menyentuh selang infus yang masih menancap di sana. “Pagi sayang,” sapa Angga sembari tersenyum manis. 


“Hari ini Romi dan Lianda akan pindah rumah, mereka tidak akan tinggal lagi bersama kita.” Angga mulai bercerita, “Aku memberikan mereka  rumah baru, sebagai hadiah pernikahan mereka.” Angga mengecup tangan Keisha, ia berbicara dengan Keisha seperti perempuan itu tengah mendengarkannya meski matanya tertutup. 


Romi dan Lianda memang sudah resmi menikah sejak lima bulan yang lalu, keduanya memang sepakat akan mencari tempat tinggal baru setelah menikah. Tapi mereka tidak bisa meninggalkan Tuan Mudanya saat istrinya tengah mengandung, baru setelah Keisha melahirkan dan Angga memaksanya, pasangan itu pada akhirnya keluar dari rumah Angga. 


“Tapi kamu tenang saja sayang, Romi dan Lianda hanya pindah di samping rumah kita, mereka menjadi tetangga kita sekarang menggantikan Tuan George.” Jelas Angga lagi, ia masih setia mengusap tangan istrinya dan sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya. 


“Jemy menggantikanku mengurus perusahaan Kakek sementara, karena aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu denganmu.” Angga tersenyum lalu mengambil novel yang ia bawa tadi, novel yang kedelapan Angga baca untuk Keisha selama ia menemani istrinya di rumah sakit.


Angga sudah hampir membaca novel tersebut sampai di akhir halaman tapi seperti biasa Keisha hanya akan diam mendengarkannya secara pasif. 


Hari menjelang sore seperti biasa Angga akan melihat putranya terlebih dahulu di ruang bayi sebelum ia pergi ke taman kota menyaksikan pertunjukkan Peter teman kecilnya.


Setiap akhir pekan Angga dan Keisha  terbiasa menyaksikan konser jalanan yang dilakukan Peter bersama kelompok orkestanya. Sekarang Angga melihat konser itu sendirian, ia merindukan  musik simphoni klasik permainan Peter yang dapat membuat hatinya tenang.


“Paman,” panggil Peter ramah. Bocah kecil yang usianya sekarang sudah menginjak 13 tahun ini sedikit lebih tinggi, wajahnya semakin cerah. 


Angga tersenyum ke  arah Peter, mengusap kepala anak itu pelan. “Bagaimana pertunjukanmu? Kapan Paman dapat melihatnya lagi?” Tanya Angga, ia memberi  ruang pada Peter untuk duduk di sampingnya.


“Lancar Paman, bahkan kami menerima tawaran untuk tampil di panggung kecil dekat Gutineau di acara musim panas.  Untuk minggu depan kami akan libur mengadakan konser di sini,” jelas Peter yang dibalasi anggukan dari Angga. 


“Apa Bibi Keisha belum sadar?” Tanya Peter halus, Angga hanya menggeleng kecil sebagai jawaban. “Paman jangan cemas, Tuhan akan selalu bersama Bibi Keisha karena dia orang baik,” timpal Peter dengan senyum manis yang menunjukkan kedua lesung di kedua pipinya. 


“Terimakasih,” balas Angga. Peter mengangguk antusias. “Paman ingin mendengar laguku?” Tawar Peter, “Ini adalah lagu ciptaan Ibuku yang ditulis untuk ayah, ‘Symphony Love Summer Session’,” tambah Peter lagi. 

__ADS_1


Sebelum  Angga berkata, Peter sudah menaiki panggung kebesarannya kembali. Banyak pengunjung telah pergi dari sana, bahkan para musisi yang lain juga telah bersiap berkemas. Tapi Peter justru membuka piano kesayangannya, dengan pelan namun pasti ia menekan tuts demi tuts tombol piano tersebut menciptakan nada yang indah. 


Harmoni bercampur  dengan suasana di sore hore hari yang tampak tenang, burung Snowy berkicau cukup merdu, dan sinar matahari tampak jingga kekuning-kuningan. 


Ketika musim panas tiba, kehangatan cinta itu datang. 


Melukis pelangi di hatimu yang beku. 


Cinta yang berwarna merah-jingga bersemi,mengantarkanmu pada pelukan keluarga. 


Saat Peter masih asik menikmati lirik demi lirik di buku catatan note lagu pribadinya, ia tersenyum ketika melihat Angga buru-buru bangkit dari duduknya setelah mengangkat sebuah telepon. 


Senyum pria itu mengembang, dalam sekali lihat Peter langsung tahu bahwa itu pasti berkaitan dengan Keisha. Angga melihat Peter sekilas seolah-olah meminta izin untuk pergi, Peter hanya mengangguk tanpa menghentikan permainan pianonya. 


“Berbahagialah Paman, doaku selalu menyertaimu.” Ucap Peter dalam hati sembari terus menekan tuts demi tuts seraya tersenyum simpul membayangkan ibunya yang tengah melihatnya di bangku penonton.  


Tidak butuh waktu lama Angga telah sampai di rumah sakit, Jemy tadi memberi kabar bahwa istrinya telah sadar. Angga tidak dapat menahan rasa bahagianya, ia menapaki lorong gedung putih itu dengan hati yang bergetar. 


Setelah sampai di pintu ruang rawat istrinya, secara perlahan Angga memegang kenop pintu, memutarnya sedikit. Jantungnya bergejolak, dadanya terasa sesak memburu udara. Saat daun pintu dibuka secara perlahan-lahan, ia dapat melihat Jemy tengah berdiri membelakanginya. 


Di balik tubuh Jemy Angga dapat melihat bayangan perempuan yang tengah duduk, hatinya berdesir saat Jemy berpindah posisi dan menampilkan wajah dari sosok itu.


Perempuan yang sangat dirindukannya, bibir pucat pasi itu tersenyum tulus padanya. “Maaf aku baru bangun,” ucapnya. Membuat Angga mematung sesaat. Bibirnya kaku untuk membalas perempuan yang dicintainya. 


Tanpa banyak bicara Angga langsung menghamburkan diri memeluk istrinya. “Terimakasih atas segala cerita yang kamu dongengkan untukku, Angga. Aku mendengarnya.” Kata Keisha lagi sembari menyentuh buku novel di pangkuannya dan sebuket bunga pemberian suaminya. 


“Jangan pernah tinggalkan aku Nyonya. Aku sungguh sangat takut kehilanganmu.” Ucap Angga semakin mempererat pelukannya, Keisha mengusap kepala Angga dan menikmati  harum mints tubuh pria itu. Wangi kesukaannya.  


Maaf kemarin Sana terkena demam jadi tidak bisa Up.. masih ada 1 Episode lagi ya...🤗🤗


Jangan lupa berikan dukungan kalian..


Salam sayang

__ADS_1


~Angga & Keisha~❤❤


__ADS_2