My Old Wife

My Old Wife
Gara-gara Ruam


__ADS_3

~Jika hitam dan putih dapat menjadi abu-abu, maka benci dan cinta dapat menjadi tawa atapun tangis~


Sinar matahari menyelusup masuk lewat jendela-jendela kaca rumah berlantai dua dengan warna cream keputih-putihan tersebut. Burung berkicau ria di pohon cemara di samping rumah, menyanyikan lagu pagi yang indah menemani seorang pria yang tengah asik berkutat di dapur dengan apron hitam di tubuhnya yang sudah sedikit ternoda oleh tepung. 


“Selamat pagi Tuan Muda,” sapa Romi ramah sembari menunduk hormat saat mendapati Angga telah turun dari anak tangga dan berjalan ke arahnya. 


“Pagi Romi, apa yang ingin kau buat hari ini?” Angga mengambil segelas air putih dan meneguknya untuk menghilangkan rasa dahaganya. 


“Pai apel Tuan Muda,” jawab Romi ramah di selingi senyum tipis di bibirnya. Romi bermaksud membuat makanan yang manis agar suasana Angga dan Keisha membaik setelah kejadian kemarin. 


Angga mengangguk mengerti, dia juga merasa mungkin menu baru untuk sarapannya akan bagus untuk istrinya, mengingat tentang Keisha pemuda itu kembali memikirkan pergelangan tangan istrinya yang terluka dan sedikit terkelupas. 


“Romi, bisa kau panggil Dokter Lianda? Aku ingin dia mengobati luka istriku dan memeriksa keadaannya,” pinta Angga ramah. Angga mengambil gelas kaca bersih dan menuangkan dua sendok susu bubuk di gelas tersebut lalu menyeduhnya dengan air hangat. Dia sedang membuatkan susu untuk Keisha seperti yang ia lakukan setiap pagi. 


Sembari membuat adonan pai, Romi menelpon Lianda rekannya untuk datang ke kediaman Tuan Mudanya. Pria itu memang selalu cekatan dalam melaksanakan tugasnya, apa pun perintah Angga dan Keisha akan segera ia laksanakan dengan  senang hati selama hal itu bersangkutan dengan kebaikan majikannya. 


Tidak lama setelahnya terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah, mobil tersebut adalah milik Lianda, dokter pribadi Tuan Sebastian yang sudah beralih menjadi dokter umum dan dokter pribadi untuk keluarga kecil Angga. 


“Selamat pagi Tuan Angga,” sapa Lianda dengan senyum manis saat melihat Angga yang membuka daun pintu untuknya. 


“Pagi Lian, bagaimana pekerjaanmu? Apa semua baik-baik saja?” Angga memberikan ruang untuk perempuan itu masuk ke dalam rumahnya. Lian mengekor di belakang Angga mengikutinya menuju ke dapur dan meja makan. 


“Pekerjaan saya baik Tuan, anda tidak perlu khawatir.” Lianda mendudukkan dirinya di kursi meja makan, menerima secangkir teh hangat pemberian Romi. Saat melihat rekan kerja sekaligus sahabatnya itu, Lianda tersenyum senang tapi juga menahan tawanya karena penampilan Romi. 


“Oh God! Aku jauh lebih beruntung, daripada Romi. Dari pengawal turun menjadi asisten rumah tangga, sungguh Tuan Angga ini unik sekali,” batin Lianda bersyukur sembari menyesap tehnya, dia cukup menikmati pemandangan langka ini ketika Romi sedang sibuk memasukkan adonan yang sudah dicetak ke dalam oven.


“Kemana Nona Keisha Tuan?” Tanya Lianda mencoba membuka pembicaraan, perempuan itu mengingat maksud kedatangannya kemari. 


“Istriku sedang ada di kamar, dia sedang beristirahat. Setelah bangun nanti, kamu bisa memeriksanya.” Angga menjawab Lianda tanpa melihat ke arah perempuan itu sedikitpun, dia tengah sibuk menghias kue kering berbahan gandum ke dalam piring membentuk pola hati. 


“Semoga Nyonya senang dengan ini,” batin Angga senang melihat hasil kerjanya. 

__ADS_1


“Kalau hanya untuk dimakan, kenapa anda menatanya dengan sangat teliti Tuan Angga?” gumam Lianda dalam hati saat melihat Angga tengah tersenyum tidak jelas memandangi hasil kreasinya. Bisa ditebak kalau pemuda itu sedang membayangkan wajah Keisha. 


“Tuan Muda, painya telah matang,” ujar Romi sembari menaruh beberapa pai kering berwarna cokelat keemasan dengan kismis di atasnya. 


“Sempurna,” puji Angga setelah menaruh satu buah pai apel di tengah tatanan kue kering berbentuk hati. 


Romi hanya mendengus pasrah, kekonyolan Tuan Mudanya telah kembali, sepertinya dia tidak perlu mengkhawatirkan pemuda itu setelah melihat keadaannya yang berantakan dan menyedihkan kemarin malam. 


Mereka melakukan sarapan pagi dengan hikmat, tanpa berbincang sesuatu hal yang tidak perlu, karena mereka sudah cukup terhibur dengan tingkah Angga yang begitu posesif hanya pada pai apel yang khusus ia hias untuk Keisha. 


“Jangan menyentuhnya, itu khusus untuk istriku,” ketus Angga ketika melihat Romi mencoba memperbaiki tatanan kue kering yang sedikit miring di piring yang sudah ditata Angga. 


“Iya, Tuan Muda.” 


Melihat pemandangan itu, Lianda hanya tertawa dalam hati, jika bukan di depan Angga dapat dipastikan tawa perempuan itu sudah meledak karena melihat interaksi Romi dan putra Tuan Sebastian yang menurutnya sangat lucu.


Setelah cukup puas memakan sarapan pagi, ketiga orang tersebut berjalan gontai menuju ke lantai dua untuk bertemu dengan Keisha. Angga yang memimpin di depan, pemuda itu tersenyum senang sembari membawa nampan di tangannya. Ketika ketiganya sampai di depan pintu kamar milik Angga, secara mendadak pemuda itu menghentikan langkahnya, dia mengingat kalau istrinya masih dalam keadaan yang sama seperti tadi malam. 


“Ingat, jangan mengintip!” Ancam Angga seraya membuka kenop pintu dan melangkah masuk. 


“Jika kalian berani mengintip, akan aku kirim kalian pulang ke Singapura!” Tambah Angga lagi dan menutup pintu itu rapat-rapat, agar dua mata jahanam dibalik pintu itu tidak berani melihat bidadarinya. 


Romi dan Lianda hanya pasrah diperlakukan demikian oleh Angga, keduanya hanya berdiam diri diluar seperti patung pancuran, tanpa ada niatan sedikitpun untuk masuk kecuali atas perintah Angga. Selang lima belas menit, baru mereka diijinkan masuk, dua orang tersebut memasang senyum hangat saat melihat Keisha tengah bersandar di kasur sementara Angga berada di samping perempuan itu menggenggam tangannya begitu erat. 


“Bisakah saya mulai melakukan pemeriksaan Nona Keisha?” Tanya Lianda ramah, perempuan itu mulai mengeluarkan alat kesehatan dari tasnya dan melakukan tugasnya sebagai dokter. Keisha mengangguk sebagai jawaban, dia tidak ingin membuat suaminya marah lagi seperti tadi malam jika dia menolaknya. 


“Bagaimana keadaan istriku? Apa lukanya akan menyebabkan infeksi?” Tanya Angga penasaran dan tidak sabaran, karena baru satu menit Keisha diperiksa oleh Lianda, namun perempuan itu sudah diberi pertanyaan beruntun oleh Angga.


“Tenanglah Angga, biarkan Dokter Lianda melakukan tugasnya,” nasihat Keisha ramah pada Angga mencoba menenangkan suaminya yang terlalu cemas sembari mengecup pipi Angga singkat. 


“Lukanya sudah tertutup Nona, berkat cream obat yang anda oleskan, saya akan memberikan obat yang mempercepat penyembuhan lukanya. Lukanya mungkin akan berbekas, tapi ini akan segera sembuh,”  jelas Lianda sembari memeriksa pergelangan tangan Keisha yang masih ada bekas olesan cream obat yang mengering. 

__ADS_1


Angga menarik napas lega mendengarnya, pemuda itu sangat takut jika terjadi apa-apa pada istrinya, dia berterimakasih pada Lianda atas pemeriksaannya. Selain memeriksa luka itu, Lianda juga melakukan pemeriksaan tambahan terkait tubuh Keisha dan memberinya sedikit vitamin dan suntikan kesehatan. Ketika Lianda bermaksud menyelesaikan pemeriksaannya, pertanyaan dari Romi menghentikannya. 


“Kenapa kamu tidak memberikan Nona Keisha obat alergi juga?” 


Lianda melihat ke arah Romi dengan alis berkerut, mencoba mencari jawaban dari Romi apa maksudnya dengan obat alergi, karena Nona Keisha tidak memiliki tanda-tanda sedang terkena alergi. 


“Lihat, di leher Nona Keisha banyak ruam,” kata Romi sembari menunjuk leher putih bersih milik Keisha yang tidak sengaja terlihat karena kera bajunya sedikir melonggar. 


Angga dan Lianda sontak melihat ke tempat yang ditunjuk Romi, perempuan itu menepuk jidatnya frustasi karena ternyata sahabatnya itu benar-benar polos. “Tanda cinta dia bilang ruam? Oh astaga Romi, sepertinya aku harus membawamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, agar otakmu sedikit lebih bekerja,” batin Lianda dalam hati. Sementara Angga, pemuda itu langsung meraih syal di sampingnya dan melilitkannya pada leher Keisha. 


“Tuan itu syal saya,” protes Lianda setelah sadar syalnya telah terbalut rapi di leher Keisha. 


“Akan aku ganti sepuluh kali lebih banyak nanti,” ujar  Angga kesal seraya menatap tajam pada Romi, tapi orang yang ditatap itu justru tidak merasa bersalah sedikit pun. 


“Memang apa salahku?” Tanya Romi dalam hati sembari menunduk hormat pada Angga.  


Sedangkan Keisha, perempuan itu hanya tersenyum seperti biasanya sambil memegang lengan suaminya.  


______^_^______


Karena dari kemarin sedih.. saya coba buat part yang ada humornya...


Happy Reading🤗🤗


Jangan lupa tinggalkan Like + Vote + Rate Bintang Lima yaa😁😁


 


  


 

__ADS_1


__ADS_2