My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 20 Mario Art De Lavi IV


__ADS_3

...~Aku berjanji, selama aku mampu. Tangan ini akan ada untuk menggenggam jemarimu. Kaki ini ada untuk melangkah bersamamu. Bahu ini ada untuk menjadi sandaran kelelahanmu. Lalu, mata ini pun hanya akan melihat suasana hatimu. Kala aku masih mampu, hingga akhir waktu, aku akan selalu berusaha mencintaimu~...


^^^-Angga untuk Keisha-^^^


***


Pagelaran Mario Art De Lavi dimulai. Para seniman berdiri di samping karyanya untuk mendapatkan penilaian dari para juri. Kategori suara dibagi menjadi dua, satu dari penikmat seni sementara lainnya dari para pengunjung.


Julian pun ikut andil bersama lukisannya, Angga yang melihat bagaimana wajah istrinya dilukis begitu sempurna merasakan gejolak aneh di dada. Mungkin bisa dibilang ia cemburu, tetapi ini hal yang wajar. Sebagai seorang suami dan lelaki yang mencintai Keisha, ia tidak naif jika harus bersikap normal atau biasa saja.


Selain itu, sejak tadi netra dan senyum Julian senantiasa mengarah pada Keisha. Banyak cinta dari pandangan lelaki tersebut untuk sang istri. Ketika, semua orang mulai berpencar memberi penilaian, tak henti-hentinya Angga menggenggam tangan Keisha enggan melepaskan.


Ke mana pun Keisha pergi, Angga selalu mengikutinya dari belakang. Saat Hasa sibuk memakan cokelat di gendongannya. Perlahan Keisha berbicara pada suaminya baik-baik. "Ayah marah?" tanyanya tetap ramah dan tenang. Kelembutan dari putri Heru Prawijaya itu memang telah mendarah daging. Tak ingin membohongi perasannya sendiri Angga pun mengangguk sebagai jawaban.


"Aku juga marah, karena lelaki itu Ayah jadi merasa risau." Sejenak mata Angga bertemu dengan Keisha bersitatap cukup lama. "Tapi, aku tidak berhak untuk marah. Karena semua orang memiliki hak untuk mencintai. Namun,... " ucapan Keisha terpotong mengangkat genggaman Ayahnya Hasa.


Dia meraba dua buah cincin yang melingkar di jari manis ia dan Angga. "Kita sudah menikah, maka siapapun yang menyukaiku. Seberapa banyak lelaki di luar sana yang tiba-tiba mengatakan suka padaku. Tapi, suamiku cuma satu dan itu adalah Angga Wilson anak Nyonya Susi."


Mata Angga berkaca-kaca, kecemasannya sedikit pudar. Rasa khawatir mulai menghilang. "Aku berjanji padamu. Aku tidak akan mendekati Julian tanpa persetujuanmu. Jika itu bisa menjaga hatimu agar tetap tenang." Seulas senyum Keisha suguhkan secara tulus. Ia mencoba meyakinkan Angga yang tadi terlihat mulai gelisah.


Hasa menyuapkan permen lolipop ke mulut Angga lalu mengoceh lucu, "Hasa tidak suka Ayah belsedih," hiburnya tertawa kecil. Hasa juga bisa merasakan apa yang dirasakan ayahnya.

__ADS_1


"Aku menyayangi kalian."


Segera Angga memberikan kecupan di kedua pipi gembul Hasa lalu berganti mencium kening Keisha. Benar, tidak perlu dikhawatirkan selama mereka saling percaya satu sama lain. Maka semuanya akan baik-baik saja.


***


Tiga hari kemudian pagelaran seni Mario Art De Lavi tiba di penghujung acara. Semua karya telah dinilai, dan juara juga telah diumumkan. Lukisan "My Beautiful Wife" memperoleh thropi perak dan satu medali perunggu. Lukisan Keisha dalam ilusi Julian memperoleh banyak suara dari para pengunjung karena terlihat begitu ekspresif dan nyata.


Hari itu Keisha tidak datang ke festival, ia memilih menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya. Julian sendiri yang mengurus segala keperluannya.


Saat ini lelaki itu tengah duduk di ruang galeri, menyentuh kuas sembari menerima panggilan dari Dokter Zeen.


"Kau akan tinggal di sana?" suara Zenn tampak nyaring di telinga Julian. Lelaki itu cuma menyapukan kuasnya asal tanpa chat ke papan meja. "Aku menemukan Keisha ku. Setidaknya aku harus membuat sedikit kenangan indah bersamanya," timpalnya.


Julian cuma mendongakkan kepada menatap langit-langit ruangan. "Tidak ada gunanya hidup jika tidak bersama orang yang kau cinta. Zenn, kau tak perlu menyembuhkanku sedikit saja waktu yang aku miliki untuk melihat kehidupan Keisha itu sudah cukup untukku."


"Kau gila Julian!"


"Bagaimana lagi, aku mencintainya."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Aku menebak kau tidak bisa lagi memiiki kekasih ilusimu itu."

__ADS_1


"Entahlah, mungkin aku akan terus memperhatikannya dari kejauhan. Menyayangi putranya dan memberikan nasihat yang baik pada suaminya."


Tidak ada jawaban dari mulut Zenn, karena lelaki itu tengah menitikkan air mata. "Aku dokter yang tidak beruntung, karena memiliki pasien bodoh sepertimu. Orang yang hanya mencintai dan menghabiskan sisa hidupnya untuk satu wanita. Dan itu pun, kau tidak bisa memilikinya."


"Dalam cinta tidak ada yang gratis. Setidaknya biarkan aku membayar hidupku untuk Keisha."


Nada suara Zenn terdengar bergetar sebelum berujar, "lakukanlah saat mautmu mulai datang. Kau bisa memanggilku untuk membantumu mengurangi rasa sakit saat menghadap Tuhan."


Julian menulis nama Keisha di kanvasnya tersenyum manis lalu menciumnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan, menyentuh Keishanya dari kejauhan. Dan mencintainya dalam diam.


"Hmm... aku menantinya," jawab Julian menutup panggilan. Tangannya kembali meraba lukisan Keisha, mengecup keningnya sambil menitikkan air mata.


'Aku akan selalu mencintaimu Keisha sampai napas terakhirku.'


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2