My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 23 Diantara Dua Kasih Sayang


__ADS_3

...~Ketika seorang ibu dalam kondisi terpuruk, hanya ayah dan anak yang bisa menguatkannya~...


As-Sana


***


Semilir angin di malam hari membungkus keluarga kecil itu dalam kehangatan. Keisha membuka mata, ia telah tidak sadarkan diri selama tiga jam lamanya. Di sampingnya, ia bisa melihat wajah lucu Hasa yang tertidur memeluknya dari samping. Putranya itu meneteskan air liur saat sebagian kepalanya berada di bantal Keisha.


Lalu di sebelahnya ada Angga yang tertidur memeluk perutnya tak ingin melepaskan. Mata Keisha menatap atap tenda yang telah dipasang lampu. Sepertinya mereka akan bermalam di pantai ini. "Dia mengurus Hasa dengan baik," tangan Keisha menyingkirkan poni Angga. Wanita itu tahu selama ia tak sadarkan diri, Angga yang mengganti pakaian Hasa dan mendandaninya sampai wangi.


Perlahan Keisha bangkit, mengecek kondisi tubuhnya. Ia merasa bersalah pada Angga, Keisha tahu suaminya itu pria lembut yang selalu menetapkan batas ketika mereka berhubungan. Pasti sekarang Angga akan menyalahkan dirinya sendiri karena telah melewati batas itu.


"Betapa beruntungnya aku Angga, karena telah memiliki suami sepertimu yang tak pernah menuntut dan selalu memikirkan diriku."


Setelah melakukan operasi besar kelahiran Hasa, Dokter Margareth telah memberitahukan dia dan Angga bahwa sebisa mungkin mereka dilarang melakukan hubungan suami istri. Untuk menjaga kondisi rahim Keisha tetap membaik. Oleh karena itu, selama ini Angga hanya menyentuhnya dan mencium tak berani melangkah lebih jauh dari hal itu.


Meski begitu Angga tak pernah mengeluh, dia bahkan bisa mengerti Keisha dengan baik. Lelaki ini telah banyak berkorban selama pernikahan mereka.


Keisha menaikkan selimut Hasa, lalu bergantian menyelimuti Angga. Perempuan itu beranjak berdiri, ia bahkan tak menyangka Angga memakaikan ia blazer hangatnya dan membiarkan tubuh lelaki itu kedinginan.


"Nona Keisha sudah sadar?"

__ADS_1


Di luar tenda, Jemy telah membakar api unggun. Tenda Jemy masih terbuka, ada Peter yang terlihat tertidur lelap di dalamnya. Jemy mengambil air hangat yang ia rebus dari teko lalu menuangkannya ke dalam cangkir. "Silahkan diminum Nona," pinta Jemmy membagi satu cangkir teh panas pada istri tuannya. Keisha menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih.


"Tadi Tuan Angga begitu cemas, saat Nona tidak sadarkan diri. Tuan Angga bahkan sampai memanggil tenaga medis kemari."


Jemy bercerita, tidak ada yang ingin ia tutupi dari Keisha. Semakin terbukanya hubungan suami istri itu, hal tersebut akan lebih baik untuk rumah tangga mereka.


Keisha menyesap tehnya sedikit, "Aku tahu dia pasti sangat mencemaskanku," tutur Keisha menimpali. "Tuan Kecil sempat menangis, tapi beruntung Tuan Angga bisa menenangkannya," tambah Jemy lagi.


"Sejak Tuan Kecil lahir, Tuan Angga banyak berubah. Dia mencoba menjadi suami yang baik dan ayah yang baik. Walau saya terlihat selalu menentangnya. Tapi sebetulnya saya selalu memperhatikan Tuan Angga setiap saat."


Keisha tersenyum lagi, ah dia ingat bagaimana sikap Angga yang begitu penyayang. Dia meletakkan cangkir tehnya lalu menatap Jemy. "Apa Angga mengatakan sesuatu tadi?" iya yakin, tidak mungkin Jemy berbicara begini jika bukan Angga melakukan hal yang membuat lelaki paruh baya itu merasa cemas. Jemy sudah seperti ayah kedua bagi Angga selain Sebastian.


"Saya tidak sengaja mendengar, Tuan Angga berjanji tidak akan menyentuh Nona lagi. Jika itu terjadi dia akan menghukum dirinya sendiri."


Keisha terhenyak mendengar penuturan Jemy. Ia terkesiap, jika itu terjadi sama saja Angga membunuh dirinya perlahan. Selama ini, Keisha tahu Angga selalu menahan diri. Lelaki itu terbelenggu dalam cintanya.


Raut muka Keisha yang tampak menunjukkan kesenduan, membuat Jemy menuangkan teh lagi untuknya. "Tuan Angga sangat mencintai Nona, apa pun akan ia lakukan asalkan Nona tetap ada di sisinya." Jemy memasukkan kayu bakar, menambah besarnya api.


Berapa banyak lagi Angga akan berkorban? Ini lebih dari satu kali lelaki itu melakukan hal yang tak pernah Keisha minta. Ini semua kesalahannya, yang memiliki kondisi tubuh yang lemah. Dia selalu membuat Angga merasa cemas setiap saat.


'Nyonya, aku takut suatu saat Nyonya akan meninggalkanku dan Hasa sendirian.'

__ADS_1


Ucapan Angga di malam itu terlintas, tidak heran jika suaminya selalu merasa khawatir. Jika dia saja seperti ini?


"Aku telah membuat Angga banyak menderita."


"Itu tidak benar, Nona tidak boleh berpikiran seperti itu."


"Dia sangat baik Jemy, aku selalu menerima darinya. Bahkan sebelum Hasa lahir, dia tidak pernah meminta anak dariku. Karena dia tahu aku tidak bisa memberikannya."


Bulir bening menetes di pelupuk mata Keisha, mengingat senyum Angga yang selalu bersinar bahagia di depannya. Tawa dan kejahilan yang senantiasa ia lakukan untuk menghibur dia.


.


.


.


.


.


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2