
...~Tak mendengar suaramu sebentar aku resah, bagaimana jika aku tak mendengar kabarmu jua? Maka aku pun akan merasa hampa~...
-Keisha Prawijaya-
***
Sesampainya Keisha di rumah, Bibi Elin segera membantu membawa Hasa. Sementara Pak Samm membukakan gerbang. Tidak berselang lama, mobil Jemy menyusul dari belakang memasuki pekarangan. "Nona maaf, saya terlambat." Buru-buru Jemy menyembulkan kepala mematikan mesin, dan turun dari mobil. Dia menghampiri Keisha yang berdiri di teras menyuruh Bibi Elin menidurkan Hasa di kamar.
"Apa Angga juga belum pulang?" Jemy menggeleng sebagai jawaban. "Nona mau ke mana?" Keisha telah mengambil kunci mobil yang ada di tangan Jemy. Perempuan itu masuk ke dalam mobil menyuruh Pak Samm membuka pintu gerbang. "Aku akan mencari Angga di kantor," tuturnya menyalakan mesin mobil.
Segera Jemy menghadang jalan mobil itu lewat. Tidak, ini sudah larut malam. Kalau terjadi sesuatu dengan istri tuannya maka akan ada kekacauan. "Biar saya temani," tawar Jemy memohon. "Tidak perlu Jemy," tolak Keisha lagi. "Saya mohon Nona, ini demi keamanan Nona juga. Tuan Angga akan marah kalau sampai terjadi sesuatu pada istrinya." Jemy bersikukuh, tatapannya tegas menatap Keisha. Tak ingin menunda waktu, Keisha menurut membiarkan Jemy masuk. Lelaki itu mengambil alih kemudi meminta Keisha duduk di kursi samping.
"Romi hari ini tidak masuk, tidak mungkin suamiku pergi dengannya."
Raut kecemasan terpampang di wajah Keisha. Jemy hanya bisa menyaksikan tak berani berkata apa pun. Karena memang bahkan nomor Angga tidak bisa dihubungi. Dia juga tidak diketahui sedang berada di mana sekarang. "Jika nanti Tuan Angga tidak ada di kantor, Nona Keisha harus berjanji pada saya untuk pulang ke rumah. Biar saya yang mencari Tuan Angga."
__ADS_1
Mobil melenggang pergi meninggalkan kawasan perumahan membaur dengan kendaraan lain di jalan raya. Keisha memandang jendela luar, ia khawatir. Dalam waktu kurang dari satu jam mereka sampai di depan gedung kantor Angga. Penjaga keamanan di sana yang menyambut kedatangan keduanya pertama kali. Suasana bangunan itu tampak sepi, mobil-mobil pegawai telah tiada. Kecuali satu atau dua orang yang sedang lembur menambah jam kerja.
"Nona Keisha, Tuan Jemy." Lelaki memakai seragam cokelat tua itu menyapa Keisha. "Apa suamiku masih berada di dalam Pak?" tanyanya cepat. Penjaga keamanan tampak berpikir sejenak, "Sepertinya tidak Nona, mobil Tuan Angga saya lihat sudah tidak ada di parkiran." Hening, kabut kecemasan semakin terlukis di mata Keisha. Pikiran-pikiran buruk bermunculan di benaknya.
Jemy beralih turun dari mobil mengecek dengan mata kepala sendiri, dia memijat pangkal hidungnya setelah mendapati apa yang dikatakan penjaga keamanan ini benar adanya. Jemy mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Angga namun tak kunjung tersambung.
"Apa Tuan Angga meninggalkan pesan ia pergi ke mana?" Penjaga keamanan itu menggelengkan kepala, dia juga tidak tahu. "Coba tanya karyawan di dalam Tuan Jemy, mungkin mereka tahu Tuan Angga pergi ke mana." Usulan dari Pak Satpam memberikan setitik harapan untuk Jemy. Tanpa menunggu lagi, Jemy masuk ke dalam. Menemui salah satu pekerja perempuan di sana.
Beruntung, pegawai wanita yang sempat mengurus tiket penerbangan Angga ke Montreal belum pulang. Jadi dia memberitahukan kabar ini pada Jemy. "Maaf saya lupa menghubungi Nona Keisha, padahal Tuan Angga telah berpesan tadi." Mimik muka Jemy menunjukkan kelegaan. Setidaknya ia tahu keberadaan tuannya sekarang. Keisha yang mendengar kabar itu menarik napas dalam, ia cukup tenang.
Tetapi tiba-tiba memori tentang berita di layar televisi tentang badai yang terjadi di Montreal terlintas. Pikiran Keisha kembali dirundung kecemasan. Dia mengambil ponsel mencoba mengirim pesan pada sang suami. Namun, tak satu pun pesan yang berhasil masuk.
"Bisa kau hubungi tempat penginapan yang dipesan untuk Tuan Angga." Pegawai wanita itu mengangguk, segera menekan digit-digit nomor menghubungi pihak hotel yang rencananya akan ditempati bosnya untuk menginap.
Mata Keisha kian mengembun, cemas dan takut bercampur menjadi satu. "Mereka bilang Tuan Angga belum sampai di sana." Hati Keisha ngilu, ia tidak bisa tenang sekarang.
__ADS_1
"Kapan, penerbangan suamiku ke sana?"
"Sejak pukul 4 sore tadi Nona, seharusnya Tuan Angga telah tiba di sana tiga jam yang lalu."
Deg, jantung Keisha bergemuruh. Tubuhnya bergetar hebat. Angganya dalam masalah. Perempuan itu mundur beberapa kali, ia menitikkan air mata. Mulutnya menyebut nama Angga berulang kali. Jemy yang melihatnya menyentuh bahu Keisha, mencoba menenangkan. Walau dia juga bingung harus berkata apa, tetapi setidaknya ia ingin agar Keisha tetap bersikap tenang.
"Tuan Angga akan baik-baik saja, Nona Keisha jangan cemas. Saya dan Romi akan segera pergi ke Montreal untuk mencari Tuan Angga."
.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung.