
Mohon maaf Reader dan Kakak Author yang sudah berkunjung ke lapak saya, karena saya belum bisa balas berkunjung ke lapak kalian satu-satu.. dan maaf karena belum bisa balas komenan kalian juga.. 🙏🙏
Beberapa hari ini Author sedang sibuk di dunia nyata.. jadi belum bisa UP beberapa episode seperti minggu yang lalu.
Sebagai permohonan maaf Author UP 1 EPS tapi partnya lebih panjang dari biasanya.
Semoga suka..😁😁
Jangan lupa Like + Komen + Votenya ya...🤗🤗
____________^_^____________
~Bersikap lembutlah pada orang yang kamu sayang, agar orang itu merasa nyaman di sisimu~
Perjalanan dari taman kota ke rumah mereka cukup jauh hingga menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Para penumpang di bus sudah mulai turun satu per satu, hanya tinggal segelintir orang di kendaraan roda enam itu termasuk Angga dan Keisha. Angga menyandarkan kepala istrinya dibahunya karena dia sedang tidur, perempuan itu telah menangis cukup lama dan sekarang dia merasa kelelahan. Sesekali Angga melihat wajah istrinya yang begitu damai, pemuda itu tersenyum, dia menghapus sisa air mata di pipi Keisha dan mengelus pucuk kepalanya lembut.
Ketika bus berhenti di pemberhentian terakhir, para penumpang mulai turun begitu juga dengan pemuda itu, dia dengan hati-hati meletakkan jaket hoodie di tubuh wanita yang di cintainya agar tidak kedinginan karena angin malam. Saat Angga mulai menggerakan tubuhnya perlahan untuk menggendong istrinya di punggungnya, perempuan itu terbangun dan menggosok matanya yang masih merah dan sembab.
"Apa kita sudah sampai?" Tanya Keisha dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Iya sayang, kita sudah sampai. Ayo naik ke punggungku biar aku menggendongmu."
Tanpa menunggu respon dari Keisha, Angga langsung menarik tubuh wanita itu mendekat, dia mengalungkan tangan Keisha di lehernya, dan mengangkat tubuh istrinya di punggungnya.
"Pegangan yang kuat sayang, agar kamu tidak jatuh," pinta Angga sembari mengeratkan gendongannya dan mengapit kedua kaki perempuan itu di pinggangnya dengan tangannya.
"Terimakasih Pak atas tumpangannya," kata Angga ramah pada supir bus yang sudah terlihat tua dan beruban.
"Sama-sama Nak, hati-hati saat keluar, nanti kekasihmu jatuh," tutur Pak Supir yang memperhatikan Angga sedang menggendong perempuan bertopi.
"Dia istri saya Pak," kata Angga.
Pak Supir tersenyum ke arah Angga dan mengangguk mengerti, tidak lama setelah itu pemuda itu berhasil keluar secara perlahan-lahan dari bus.
"Aku bisa berjalan Angga, kamu tidak perlu menggendongku."
"Tidak perlu sayang, aku tahu kamu lelah, tidurlah. Saat kamu membuka mata, kita nanti sudah tiba di rumah," Angga tersenyum manis sembari berjalan menyusuri jalan mulai menyeberang jalan raya saat lampu merah menyala.
Keisha menyandarkan dagunya di bahu Angga, dia dapat mencium aroma Jasmine bercampur mint ditubuh pemuda itu, hingga membuatnya terlelap kembali.
__ADS_1
Mereka berjalan cukup lama melewati beberapa toko roti dan mini mart. Setelah dua puluh menit lamanya pada akhirnya mereka tiba di gedung berlantai dua berwarna cream, di halaman rumah itu seorang lelaki berjas sedang berlari terburu-buru menghampiri Angga.
"Tuan Muda, apa Nona baik-baik saja?" Romi segera membuka gerbang lebar-lebar agar Tuan Mudanya dapat masuk dengan mudah.
"Istriku tidak apa-apa, dia sedang tidur, bisakah kamu membantuku membuka pintu rumah juga?" Angga berjalan memasuki halaman rumah yang cukup luas
"Tentu Tuan." Romi mengikuti Angga dari belakang, ketika mereka sudah sampai di depan pintu utama dia membantu memutar kenop pintu hingga daun pintu itu terbuka lebar.
"Terimakasih," Angga tersenyum ke arah Romi dan segera menaiki tangga perlahan-lahan menuju kamarnya.
"Saya akan menyiapkan air hangat untuk Tuan Muda mandi," tutur Romi lagi yang dibalas anggukan dari Angga.
Setibanya di lantai dua, Angga berjalan ke arah ruangan yang cukup besar, dia membuka kenop pintu ruangan itu. Ketika sudah masuk ke dalam, pemuda itu dapat melihat ranjang king size berwarna abu-abu dengan bantal dan selimut yang sudah tertata rapi di sana. Angga membaringkan perlahan-lahan tubuh Keisha agar perempuan itu tidak terbangun dari tidurnya.
Dia melepaskan topi yang masih melekat di kepala istrinya, kemudian menaikkan satu persatu kaki perempuan itu seraya melepas sepatu kets yang masih melekat dengan baik di kaki Keisha. Ketika kedua sepatu itu berhasil di lepas, pemuda itu dapat melihat rona merah di atas tumit kaki Keisha.
"Nyonya pasti menahan sakit, seharusnya aku tidak mengajaknya berjalan terlalu jauh," batin Angga sembari memeriksa luka di tumit Keisha yang kulitnya sudah hampir terkelupas.
Secara perlahan-lahan Angga menaruh kaki Keisha kembali di kasur, dia melangkah ke luar kamar dan menutup pintu itu rapat, kemudian dia menemui Romi di lantai bawah.
"Air hangatnya sudah siap Tuan," Romi menunduk hormat saat melihat Angga menuruni tangga.
"Aku akan mandi nanti, tolong jaga istriku sebentar, aku ingin keluar untuk membeli sesuatu," Angga mendekati Romi dan berjalan keluar dari rumah.
"Romi, besok tolong carikan Satpam, agar kamu tidak perlu lagi membuka pintu dan menjaga rumah ini setiap waktu." Angga kembali menaikkan kaca jendela mobilnya dan berlalu pergi. Romi hanya mengangguk mengerti dan segera memasuki rumah itu lagi.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Tuan Mudanya keluar rumah, pria itu mulai merasa cemas karena malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan pukul 23.20 WIB. Romi terus saja melihat ke luar jendela, dan menantikan kedatangan Angga.
"Romi, apa kamu melihat Angga? Dia tidak ada di kamar."
Romi yang mendengar suara perempuan yang dikenalnya tersentak kaget, pria itu segera menghampiri Keisha dan membantunya turun dari tangga saat melihat Keisha sedikit kesulitan berjalan.
"Tadi Tuan Angga keluar sebentar Nona Keisha, Tuan bilang ingin membeli sesuatu," jawan Romi yang dibalasi anggukan dari Keisha.
Keisha sudah bangun lima menit yang lalu. Saat menyadari dirinya ada di kamar seorang diri, dia bergegas mencari suaminya. Tapi setelah mencarinya di berbagai sudut ruangan yang ada di lantai dua, sosok yang dicarinya tetap tidak ada, maka dari itu dia memilih untuk turun ke bawah.
"Apa Anda perlu sesuatu Nona?"
"Tidak ada, aku akan menunggu suamiku di sini. Kamu pergilah istirahat, lihat matamu sudah merah menahan kantuk." Keisha mendudukkan dirinya di sofa dan mulai menyalakan TV.
__ADS_1
"Tidak Nona, saya akan menemani Anda menunggu Tuan Muda," Romi juga ikut mendudukkan dirinya di kursi kayu yang terletak di dekat jendela sambil membawa majalah di tangannya.
"Nona, tadi sore Tuan Heru datang kemari. Beliau menitipkan pesan pada saya agar Nona Keisha dan Tuan Angga datang ke rumahnya besok."
"Terimakasih Romi, nanti biar aku menghubungi Ayah dan memberitahu Angga."
Setelah lebih dari dua puluh menit menunggu, pada akhirnya mobil Angga terlihat akan memasuki gerbang, Romi bergegas keluar untuk membukakan pintu gerbang sementara Keisha juga ikut menyambut kedatangan suaminya.
"Kenapa kamu keluar rumah sayang, ini sudah malam," ucap Angga dari dalam mobil.
Dia segera mematikan mesin mobilnya dan memberikan kuncinya pada Romi untuk memarkirkannya di garasi, sementara dirinya langsung merangkul bahu Keisha dan mengajak perempuan itu masuk ke dalam rumah. Kini keduanya telah duduk di sofa ruang tamu, Angga dengan perlahan-lahan membantu Keisha untuk duduk. Pemuda itu sangat lembut memperlakukan istrinya.
“Aku tidak apa-apa Angga, aku bisa sendiri.” Keisha menolak ketika suaminya meletakkan kakinya di sofa agar bisa berselonjor.
“Kakimu sedang sakit sayang, lihatlah, Kulitnya sedikit terkelupas.” Angga memperhatikan setiap inchi kaki Keisha, pemuda itu mengambil sesuatu dari dalam kantong plastik, benda yang sengaja ia beli tadi.
“Tahan sedikit sayang, ini akan terasa perih,” kata Angga sembari mengoles cream di tumit Keisha dan sesekali meniupnya.
“Seharusnya aku tidak mengajakmu naik bus dan berjalan kaki, sekarang kakimu jadi begini. Maafkan aku,” kata Angga sedih. Pemuda itu menundukkan wajahnya, dia menyesali perbuatannya. Keisha yang melihatnya jadi tidak tega, dia bergegas menghampiri suaminya dan sedikit menghiburnya.
“Jangan minta maaf, aku senang melakukannya.” Keisha tersenyum dan mengangkat dagu pemuda itu agar dia dapat melihat wajahnya secara jelas.
“Lihat, Apa aku bersedih? Aku senang melakukannya Angga, jadi jangan bersedih hmm.”
Angga langsung memeluk erat perempuan di hadapannya ini, entah kenapa setiap melihat wajah istrinya dengan ekspresi demikian dia tidak bisa mengabaikannya. Pemuda itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Setelah itu, Romi datang membawa seember air hangat dan handuk kecil, seperti yang diminta Angga padanya beberapa waktu lalu seusai memarkirkan mobilnya di garasi. Pemuda itu mengompres kaki istrinya dengan air hangat secara pelan-pelan, dan sesekali meniupnya.
“Tuan Angga, saya mendapat pesan bahwa Tuan Sebastian akan datang kemari.”
Angga memberhentikan tindakannya, dia beralih melihat ke arah Romi.
“Untuk apa Ayah datang kemari?”
“Beliau ingin memberikan ucapan selamat kepada Anda secara langsung Tuan, dan Tuan Heru juga sudah mengundang beliau untuk bertemu dengannya besok.”
Angga mengerutkan dahinya, dia sedang berpikir alasan apa yang membuat Ayah mertuanya ingin menemui Ayahnya.
“Angga, Ayah juga ingin kita pergi ke sana besok,” ucap Keisha menyahuti.
__ADS_1
“Baiklah kita akan pergi ke sana sayang, sekarang kita obati dulu luka di kakimu,” tutur Angga sembari mengecup tangan istrinya.
“Semoga ini hanya pertemuan keluarga,” batin Angga.