
~Biarkan masa lalu ada dibelakang dan sambutlah masa depan yang akan datang~
Kabar tentang keadaan Keisha membuat Heru terpukul, dia merasa gagal sebagai seorang Ayah karena tidak dapat melindungi putrinya dengan baik. Dia mulai memikirkan bagaimana masa depan putrinya nanti.
Pada akhirnya Heru meminta pertanggung jawaban dari Kevin, dia meminta Kevin untuk menikahi putrinya. Karena dia takut tidak akan ada lelaki yang mau menerima kondisi putrinya yang kurang sempurna.
"Saya ingin kamu menikah dengan anak saya, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa anak saya!" tegas Heru pada Kevin.
Kevin hanya diam mematung dia menganggukkan kepala sebagai balasan. Namun, persetujuan yang diberikan Kevin di tentang oleh Helen secara mentah-mentah dia membela Kevin di hadapan Ayahnya. Ya, karena perempuan itu sudah cinta buta dengan pemuda itu.
"Ayah tidak bisa memaksa Kak Kevin untuk menikahi Kak Keisha! Karena dia mencintaiku Ayah!"
Perlawanan yang diberikan oleh Helen padanya membuat Heru murka, jadi dia tanpa pandang bulu lagi menampar wajah cantik perempuan itu. Sejak saat itu juga hubungan antara Heru dan istrinya Hanum merenggang.
Setelah pertengkaran hebat itu, Dokter Andhika yang menangani Siska datang. Dia menyampaikan kabar bahwa gadis kecil itu sedang dalam keadaan kritis dan dia sedang membutuhkan donor darah golongan AB Resesif yang sulit di dapat. Pada saat itu juga bank darah rumah sakit sedang kosong dan tidak ada stok darah lagi. Jadi mereka membutuhkan donor dari keluarga pasien, tapi sayangnya tidak ada yang memilikinya. Karena golongan darah Siska sama dengan almarhum Ayahnya.
"Dokter saya memiliki golongan darah yang sama dengan pasien, Dokter bisa mengambil darah saya jika diperlukan. Hanya saja, saya tidak akan memberikan ini secara gratis," ucap Helen sembari melirik Kevin.
"Apa maksudmu?" Kevin mulai takut dengan syarat yang akan diberikan Helen padanya.
"Kakak pasien harus mau menikah dengan saya," ucap Helen tak gentar sedikit pun meski saat ini dia tengah di tatap tajam oleh Heru.
"Kamu sudah gila! Barusan aku telah setuju untuk menikah dengan Keisha! Bagaimana mungkin aku... ," ucap Kevin tidak mampu lagi melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak mau tahu! Kamu harus memilih antara Kak Keisha atau adikmu Siska?" Sanggah Helen tegas.
Heru sudah tidak tahan lagi atas tindakan Helen, jadi dia mencoba untuk mendidik anak sambungnya. Namun perbuatannya segera dicegah oleh Hanum istrinya. Sementara itu, Dokter Andhika terus mendesak karena terlambat sedikit saja, nyawa pasien yang menjadi taruhannya. Jadi dengan berat hati Kevin mengambil keputusan untuk menikah dengan Helen dan menyelamatkan adiknya.
Dua minggu setelahnya, Keisha dinyatakan sudah sadar dari komanya, Siska masih belum sadar dari kritisnya dan dalam tahap pemantauan Dokter Andhika. Tepat di hari kepulangan Keisha dari rumah sakit. Helen melangsungkan pernikahannya dengan Kevin.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Keisha lirih. Rasanya hati wanita itu sekarang sedang dicabik-cabik karena terluka.
"Terimakasih Kakak," balas Helen sembari menyalami tangan Keisha yang masih berbalut pakaian rumah sakit.
Bisa dikatakan saat itu, Helen adalah seorang iblis yang mengambil semua kebahagiaannya. Heru tidak dapat berbuat apa pun untuk putri sulungnya itu, dia hanya bisa membatin dalam hati. Genap sebulan sudah pernikahan Helen dan Kevin, Ibu sambungnya tiba-tiba memberikan surat rekomendasi pada Keisha untuk belajar di luar negeri, tepatnya di Jewelry Design NSCAD University Kanada.
__ADS_1
Hanum melakukan semua itu semata-mata untuk menjauhkan Keisha dari menantunya, dia takut Keisha akan merebut suami adiknya sendiri. Sejak saat itulah Keisha menganggap bahwa penderitaannya dimulai. Dia yang baru keluar dari rumah sakit harus meninggalkan Indonesia untuk merantau ke negara asing, yang entah bagaimana rupanya. Kondisinya yang belum pulih benar membuatnya terkadang merasakan nyeri di bagian perutnya.
Sebelum keberangkatannya ke Kanada, Keisha berdoa di makam Ibunya dia meminta kebahagiaan untuknya di negeri orang, dan negara itu dapat menghapus semua luka-lukanya.
"Ibu, jika kamu melihatku di sana. Tolong jagalah aku Ibu, bimbinglah aku agar tetap kuat menjalani kehidupanku di negeri orang," ucap Keisha sembari mencium foto Mariana yang memang dibingkai dan diletakkan di makam itu.
Setelah berpamitan pada Ibunya, perempuan itu mendatangi toko bunga milik Ibunya untuk terakhir kali, yang kini toko itu telah dikelola oleh Nyonya Susi.
"Selamat malam Nyonya Susi, maafkan saya karena telah mengganggu malam-malam," tegurnya pada Nyonya Susi yang sedang merajut sebuah switter di tangannya.
"Selamat datang Nona Keisha, kenapa Anda tengah malam begini datang kemari? Mari masuk, udara di luar sangat dingin," tutur Nyonya Susi halus, dia merangkul bahu Keisha dan menggiringnya masuk ke dalam.
"Nyonya, selama saya tidak ada di Indonesia tolong rawat toko bunga Ibu saya dengan baik, saya titipkan toko bunga ini kepada Nyonya," kata Keisha lemah.
"Tanpa Anda minta Nona, saya akan menjaga dan merawat toko bunga ini dengan baik. Karena berkat toko ini saya dan anak-anak saya tidak kekurangan lagi. Nona sangat berjasa pada kami, di saat suami saya meninggalkan saya dan anak-anak, hanya Nona yang mau menolong saya." Tutur Nyonya Susi lembut seraya menggenggam tangan Keisha erat.
"Jika di masa depan ada yang dapat saya lakukan untuk Nona, saya akan melakukannya. Meskipun itu harus memberikan nyawa saya sendiri," sambung perempuan paruh baya itu lagi.
"Jangan berkata begitu Nyonya, saya tulus membantu Nyonya dan anak-anak," balas Keisha ramah.
"Kemarilah Nona, saya ingin memelukmu," ujar Nyonya Susi pelan.
Perempuan paruh baya itu merentangkan tangannya lebar-lebar, agar lebih mudah didekap oleh perempuan yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.
"Jika Nona bersedih, saya akan memeluk Nona lagi. Anggaplah saya sebagai Ibu Nona, jangan menyimpan kesedihan Nona seorang diri," katanya pelan seraya megusap-usap kepala Keisha.
"Bolehkah saya seperti itu Nyoya?"
"Iya tentu, mulai saat ini Nona adalah putri saya, selain dua anak saya yang lain."
"Terimakasih, I-bu."
"Sama-sama sayang," ujar Nyonya Susi yang masih setia mengelus pucuk kepala Keisha.
"Aku merindukanmu Ibu, kembalilah pulang, aku merindukanmu," ucap Keisha sedikit mulai ngelantur.
__ADS_1
Kini perempuan itu tengah memejamkan matanya, dia merasakan kehangatan dari pelukan seorang Ibu yang selama lebih dari enam tahun dilupakannya. Tanpa disadari air mata perempuan itu menetes, akhirnya rasa sesak di dadanya yang dia coba sembunyikan selama ini keluar juga. Benteng kokoh yang ia bangun untuk dirinya sendiri sedikit demi sedikit mulai menunjukkan lubang.
"Aku akan pulang sayang, saat kau sudah pulang dari Kanada mari kita tinggal bersama," ucap Nyonya Susi mencoba menyelami perasaan sebagai Ibunya Keisha.
"Iya, aku akan segera pulang Bu. Saat itu jangan tinggalkan aku lagi," pinta Keisha sembari terisak di dada wanita paruh baya itu.
"Aku berdoa semoga engkau tidak menderita lagi putriku," batin Nyonya Susi dalam hati seraya mengecup pucuk kepala Keisha dengan lembut.
Pada akhinya Keisha tertidur dalam dekapan Nyonya Susi, perempuan itu sedang bermimpi bertemu Ibunya "Mariana". Tanpa disadari Keisha terus meneteskan air mata meskipun dia sedang tertidur. Dan berkali-kali Nyonya Susi menghapusnya dengan sapu tangan miliknya.
"Ibu kenapa Nyonya ini tertidur dalam keadaan berdiri? Apa dia sudah mati?" tanya bocah kecil berusia 12 tahun itu seraya mencoba mendekat ke arah Keisha.
Nyonya Susi mengelus kepala Angga pelan.
"Nyonya sedang kelelahan, Angga tidak boleh mengganggunya," tuturnya sepelan mungkin agar perempuan itu tidak terbangun dari tidurnya.
"Kenapa dia menangis Ibu? Apa dia juga ditindas oleh Kakak-Kakak yang jahat sepertiku," tanya Angga polos.
Tangan bocah kecil itu mencoba meraih pipi Keisha dan berusaha menghapus air matanya.
"Kalau begitu Angga mau janji kan sama Ibu, kalau Angga akan melindungi Kakak ini."
Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya bocah itu belum tahu apa yang dibicarakan Ibunya. Namun pada akhirnya bocah itu hanya mengangguk saja.
"Kalau begitu mari bantu Ibu untuk membaringkan Nyoya Keisha terlebih dahulu."
Bocah kecil itu menuruti perkataan Ibunya, dia membantu Nyonya Susi membaringkan tubuh Keisha di sofa tepat di sampingnya. Karena memang sedari tadi mereka sedang berada di ruang tamu.
Kembali ke 12 tahun berikutnya........
_______________________^_^
Hallo reader akhirnya part masa lalu selesai...........
Di tunggu kelanjutannya untuk Part Berikutnyaa........
__ADS_1
Jangan lupa dukung saya dengan cara kasih Like + Vote sebanyak-banyaknya 😁😁