My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 39 Harapan


__ADS_3

...~Kau yang mencintainya dan aku yang mencintaimu tidak akan pernah mengharapkan apa pun selain kebahagiaan dirimu Keisha~...


...(Julian Fernandez)...


***


Langit tampak cerah kebiruan, udara menghangat di siang hari. Meski salju turun di jalanan, tetapi ruang lukis itu memiliki suhu yang tinggi. Julian tengah menata panel-panel lukisan, memajangnya berjajar. Kuas-kuas beserta cat minyak masih dibiarkan berserakan.


Lelaki itu menggoreskan sapuan kuas ke kanvas dengan teliti melukis wajah seseorang. Gambar perempuan telah jadi, ia sedang duduk di kursi sementara di pangkuannya ada anak kecil yang tampan. Tinggal gambar sosok pria yang berdiri di belakang mereka yang belum sempurna.


Ponsel Julian berdering, itu panggilan dari Dokter Zen. Sejenak tangan Julian menyentuh layar menekan tombol hijau untuk mengangkat. Dengan posisi ponsel tetap di atas meja kecil Julian mendengarkan apa yang dikatakan Zen.


"Julian! Kau bercanda!" seperti biasa nada dokter itu akan menggebu-gebu. Sapuan kuas Julian tidak berhenti bahkan kini catnya sedikit menghias jari-jemarinya.


"Kau sama sekali tidak melakukan kontrol atau terapi! Apa kau serius dengan resiko yang akan kau terima?"


Tanpa menghentikan gerakan tangannya Julian membalas ucapan Zen. "Ini jalan yang ku pilih Zen, kau tidak perlu khawatir." Makian kembali terdengar dari seberang sangat keras dan nyaring. "Jalan kematian? Yang benar saja? Hah!" gusarnya berat.


"Aku tidak mau tahu, aku akan ke Ottawa sekarang."


Bibir Julian tersenyum tipis, sedikit tawa kecil terdengar. "Jangan bersikap berlebihan, kau terdengar seperti Ibuku daripada seorang dokter," komentarnya.


Kini lukisan lelaki yang tersenyum berusaha sedang memeluk perempuan dan anak itu mulai terlihat. "Aku tidak peduli apa katamu! Pekan ini aku akan mengambil surat tugas ke Ottawa," putusnya menutup panggilan tanpa bisa diganggu gugat.


Kepala Julian cuma mendongak menatap jendela luar. Ini sudah siang tapi murid kecilnya belum juga datang. "Aku merindukan suara Hasa," gumamnya pelan melanjutkan lukisannya yang akan segera selesai.


Menjelang sore hari Julian menutup galerinya, pria itu memesan taksi untuk pergi ke restoran Paman Gio. Banyak orang sudah berkumpul duduk di meja untuk memesan makanan. Mata Julian menelisik memperhatikan setiap orang. Pelayan yang biasa mencatat menunya datang menawarkan beberapa hidangan baru.


"Satu sup ikan pedas," pesannya.

__ADS_1


Sambil menunggu menu makanannya datang, Julian diam-diam melihat toko bunga Anggasa Florist yang terlihat dari sana, dinding restoran Paman Gio yang transparan agak buram cukup jelas menampakkan pemandangan luar.


Dari kejauhan Julian bisa memotret bayangan Hasa berlarian keluar masuk toko, seorang lelaki mengenakan blazer hitam mengejarnya. Anak itu tertawa senang ketika pria tadi menggelitiknya. Cukup lama melihat, Julian langsung berdiri mengamati dengan teliti. Dia menggosok matanya sekali untuk memastikan.


Senyum Julian tersemat tanpa sadar, "Dia telah kembali." Menit kemudian seraya melihat Angga dan Hasa diam-diam, Julian duduk lagi menikmati secangkir madu panas dengan kayu manis.


"Aku tidak perlu lagi mencemaskan mereka," tuturnya menyesap minuman itu melihat sosok wanita yang datang menghampiri ayah dan anak tersebut. Semburat kebahagiaan terlukis jelas di masing-masing wajah ketiganya.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" pelayanan itu datang meletakkan mangkuk sup di meja. Mengambil tisu untuk Julian ketika setetes darah keluar dari hidungnya.


"Terima kasih." Segera bekas darah itu dibersihkan, lalu melihat jam di ponselnya untuk memastikan jeda waktu meminum obat. Ini sudah hampir enam jam ia tidak menelan pil itu lagi. "Mau saya panggilkan dokter?" tawar sang pelayan. Namun, Julian menolaknya dengan keras.


"Ini akan berhenti dengan sendirinya."


Pada akhirnya ia izin ke kamar mandi untuk membersihkan semua aliran darah yang belum juga mau berhenti.


***


Ketika Ella hendak kembali masuk ke butiknya mengambil barang, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok pria tunawicara yang berdiri di depan toko dengan jaket tebal. Lelaki itu tersenyum lebar padanya seolah-olah ia benar-benar bahagia melihatnya.


"Mau apa kau kemari? Aku sudah melarangmu bukan?" ketusnya acuh melalui Eliot seperti orang asing.


Eliot menggaruk tengkuk lehernya tersenyum lagi. Ah Ella yang melihatnya muak. "Pergilah! Jangan menghalangi pemandangan!" serunya yang terdengar lebih seperti perintah. Eliot tidak bergeming, lelaki itu justru menyerahkan satu syal tebal berbahan wol.


"Hah? Kau ingin aku memakai ini?" Ella membuang syal itu ke jalan tak ambil pusing. Eliot yang melihatnya segera memungut syal itu kembali. "Terserah kau pergi atau tidak. Tapi jangan salahkan aku jika kau jatuh sakit karena udara dingin," putusnya menutup pintu butik rapat-rapat tak mempedulikan Eliot yang terus memandangnya.


Perempuan itu berjalan masuk mendudukkan dirinya di kursi, ia memijat pangkal hidungnya melirik jam di dinding yang tengah menunjukkan pukul 10.05 PM. waktu yang cukup larut. "Dia bisa membuatku gila," gumam Ella melihat punggung Eliot yang terpantul dari kaca ruang busana.


Malam bertambah gelap, hampir menyentuh pagi dini hari. Ella membuka mata, ia ketiduran. Sejenak wanita itu merenggangkan ototnya mengambil tas dan kunci hendak pergi. Namun, niatnya tertahan ketika masih mendapati bayangan Eliot yang tampak berjongkok di depan butiknya terus menunggui dia tidak mau beringsut dari posisinya.

__ADS_1


"Mau sampai kapan dia di sana? Apa lelaki itu tidak waras?"


Sedikit kesal Ella beranjak bangkit berjalan keluar, membawa semua barang-barangnya mengunci butik. Eliot yang tahu ia akan pulang tersenyum konyol mengikuti dia dari belakang.


Lima belas meter tidak ada yang berubah, mereka cuma berjalan dalam diam. Ella di depan sementara Eliot mengekor seperti anak anjing di belakang. Baru pada jarak dua puluh meter menuju persimpangan lampur merah dengan salju yang menebal di jalanan Ella berbalik menatap Eliot intens. Mata mereka bertemu saling bersirobok bertatapan.


"Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau selalu mengikutiku?"


Lontaran pertanyaan itu menahan tubuh Eliot bergerak, dia meremang memandang manik hazel Ella --- wanita yang dicintainya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


Semua teka-teki tentang siapa Julian di masa lalu. Bagaimana Angga mengalami kecelakaan sampai lupa ingatan dan hubungan Eliot serta Ella akan terjawab perlahan-lahan di pertengahan bab mendekati akhir.


__ADS_2