
^^^~Hanya kamu yang aku cinta Keisha. Meski begitu rasa keegoisanku tidak akan pernah menahanmu untuk menemuinya. Karena aku tahu, kau hanya mencintaiku. Itu pasti.~^^^
-Angga Wilson Andreas~
***
"Ada yang Ayah pikirkan?"
Keisha seolah mengerti dengan apa yang menganggunya. Tanpa mengatakan apa pun, wanita yang dicintainya itu selalu paham dengan isi hatinya. Senyum Angga tersungging lemah, dia menggenggam jemari Keisha erat. Mereka berdua baru saja selesai mengantarkan panda kecil mereka ke sekolah.
"Ayah."
Bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri, tangan Angga justru bergerak memeluk tubuh wanita itu kuat.
"Nyonya," sebutnya kembali pada dirinya yang dulu. Panggilan sayang yang dia sematkan untuk perempuan itu.
"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" Ibu jari Keisha menyentuh telinga Angga mencoba menenangkan.
Sejenak, Angga mencoba mengontrol emosinya. Perkataan Julian kemarin membuat dia tidak bisa tidur dengan nyeyak, bahkan membuat rasa makanan yang ia makan hambar di mulut. Padahal Keisha telah memasaknya dengan penuh kasih.
"Angga."
Rengkuhan Angga semakin kuat, dia tidak bisa asal menjawab Keisha begitu saja. Seolah dia tidak ingin mengirim wanita itu pergi ke dalam pelukan Julian. Permintaan Julian cukup berat untuk dia kabulkan.
"Jika ada yang membuatmu tidak nyaman. Kamu bisa bicara padaku hem."
Kecupan Keisha yang lembut di pelipisnya membuat Angga geli, mau tidak mau ia tersenyum sedikit. Ah, istrinya adalah obat terbaik untuk mengobati kegelisahannya selama ini. "Julian ingin bertemu denganmu, " kata Angga pada akhirnya. "Dia memintaku untuk memberikan izin menghabiskan waktu satu hari bersamamu. Dan itu membuatku tidak tenang. Aku tidak bisa mengirim istriku kepada pria lain," lanjutnya.
Keisha melerai pelukannya. Melihat wajah tampan suaminya yang begitu memesona. Hidung mancung dengan alis terajut rapi, mata indah yang selalu memuja saat menatapnya."Bagaimana Ayah bisa berpikir Ibu akan berpaling dari Ayah?" kata Keisha meraba pipi Angga yang selalu bersemu merah saat ia menciumnya.
Keisha mendaratkan bibirnya pada puncak hidung pemuda itu, mengecupnya cukup lama. Lalu menatap manik hitam arang lekat-lekakt milik Angga, menangkup kedua pipinya lembut. "Bagi Ibu, tidak ada pria yang setampan Ayah. Sebaik Ayah, dan semanis Ayah. Ayah juga satu-satunya Ayah bagi Hasa. Meski bukan Julian sekalipun. Ibu tidak akan pernah meliriknya. Karena hanya Ayah yang Ibu sayang."
__ADS_1
"Sayang?" tanya Angga.
"Hem," dehem Keisha singkat.
Tiba-tiba saja pikiran negatif Angga menghilang. Hanya dengan kata-kata Keisha barusan, dia sudah luluh dan terbuai. Lelaki itu mendekatkan tubuhnya pada Keisha perlahan. Kemudian merapat ke kursinya hingga perempuan itu terpaksa mundur.
"Apa itu sayang? Ibu tidak pernah mengatakannya pada Ayah?" ucap Angga sengaja memojokkan istrinya sampai punggung wanita itu menatap pintu mobil. Memang mereka berdua belum keluar dari mobil setelah tiba di rumah.
Keisha yang mengerti sifat nakal Angga, hanya pasrah. Dia mengecup pipi pemuda tampan itu lembut. "Hanya Ayah yang tahu, apa itu arti sayang." Angga terkekeh, lalu sengaja menarik pinggang Keisha mesra. Kemudian mengerlingkan mata nakal. "Nyonya," panggilnya. "Saya menyayangimu."
Bibir Angga segera menyambut bibir kenyal Keisha yang tidak pernah bosan ia gigit. Lelaki itu merendahkan kursi hingga Keisha bisa berbaring. Kedua tangan Angga mulai mengungkung Keisha rapat, menindihnya. Sementara kecupannya tidak berhenti terus mencumbui leher jenjang perempuan itu. Mulai membuka kancing bajunya.
"Saya mencintaimu Nyonya."
Keisha hanya tersenyum memeluk leher pria itu, ayah dari putranya yang nakal Hasa. Dia membiarkan Angga melakukannya, menyentuh dan meraba kulitnya. Bibir Angga yang menelusuri bagian perut, punggung, dada, hingga pangkal pahanya. Keisha tidak pernah menolak sentuhan itu. Hanya menyambut tidak ingin melarang. Mereka mulai bercinta di mobil.
***
Ella tengah duduk di meja administrasi, mengecek pembukuan sambil pandangannya menyapu butik yang sepi. Dua pegawainya baru saja keluar pagi tadi. Sekarang ia benar-benar harus menjalankan butik ini sendiri. Merasa jenuh, Ella membuang pembukuan itu kasar ke kursi di sebelahnya. Pikirannya kalut, dia tidak bisa berkonsentrasi. Omongan Sonia waktu itu cukup membuat ia frustasi. Walau ia tidak percaya dan menganggap itu sebagai sebuah kebohongan. Tapi bagaimana jika yang dikatakan Sonia benar. Sahira--ibunya telah meninggal.
Ting Tong.
Bel depan butiknya berbunyi. Ella mendongakkan wajah melihat siapa yang datang. Jika itu pembeli maka ia akan bersyukur, tapi jika itu ibu pemilik tanah yang menagih uang sewa. Dia akan sengsara. Karena ia belum bisa mengumpulkan uang sewa bulanan disaat butiknya sepi pembeli.
"Kau?" Namun ternyata bukan pembeli ataupun ibu pemilik tanah. Melainkan Eliot, pria pelayan restoran pizza paman Gio.
"Untuk apa kau ke mari?" sengit Ella kesal. Menutup pintu lagi, tidak membiarkan Eliot masuk.
Pria tunawicara itu mengetuk pintu kemudian menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengannya. [Aku membawakan makan siang untukmu.] Kira-kira begitulah yang Eliot katakan. Ella tidak berminat, dia hanya pergi kembali pada meja kerjanya.
Hanya saja Eliot adalah pria yang keras kepala. Walau diusir sekalipun, laki-laki itu masih saja berdiri di depan butiknya sembari membawa bingkisan kotak makan. Lebih lima belas menit Ella membiarkan Eliot seperti itu, tetapi lama-lama ia tidak tahan juga. Pada akhirnya Ella membuka pintu kaca itu paksa.
__ADS_1
"Berikan dan cepat pergi," tukasnya tajam. Eliot tersenyum menyerahkan kotak makan siang pada gadis yang ia cintai. Teman masa kecilnya. Kemudian Eliot menaruh catatan kecil di tangan Ella.
[Jangan disisakan. Aku tahu kamu suka dengan tempura ikan.]
Sebelum Ella memakinya, Eliot sudah melenggang pergi berlari ke arah jalan raya di utara. Laki-laki itu melambai padanya. Ella mengernyitkan dahi. "Bagaimana dia tahu makanan kesukaanku?" tanyanya semakin heran dengan sikap pria bisu itu.
"Masa bodoh," kata Ella langsung masuk begitu saja mencoba mengabaikan tentang laki-laki tidak waras itu yang selalu menguntitnya akhir-akhir ini. Meski kenyataan Eliot lebih sering membantunya dan membuat perutnya kenyang.
***
Setelah persenggamaan itu selesai, Angga mulai merapikan kancing bajunya. Dia masih lh melihat Keisha yang berantakan di sampingnya. Mereka pada akhirnya pindah ke kamar. Karena Keisha memaksanya, wanita itu takut ada orang yang melihat percintaan mereka di mobil garasi rumah.
"Tuan Angga."
Suara dari asisten rumah tangganya terdengar. Angga mengecup kening Keisha kemudian mulai berjalan membuka pintu kamar melihat Bibi Elin.
"Ada apa Bi?"
"Itu Tuan. Ada Tuan Julian di bawah, katanya mau menemui Tuan Angga kalau ada di rumah. Bibi tidak berani memberikan izin masuk kalau Tuan belum bilang boleh."
Angga melihat Keisha sejenak kemudian dia berkata, "Katakan pada Julian sepuluh menit lagi aku dan Keisha akan turun menemuinya."
"Iya Tuan, kalau begitu Bibi pamit ke bawah dulu."
Angga mengangguk berterima kasih. Selanjutnya dia menghampiri almari, mencarikan baju bersih baru untuk istrinya. "Julian ada di bawah," ucapnya duduk di tepi ranjang. Keisha mengambil ceruk leher Angga mengecup bibirnya singkat. "Ayah adalah pria yang baik." Keisha sudah mendengar tentang keputusan Angga tadi yang akan mengizinkan Keisha berbicara dengan Julian dari hati ke hati.
"Nyonya."
Mata Angga menatap Keisha dalam. "Saya selalu percaya padamu." Keisha membalasnya dengan memeluk tubuh pemuda itu, merengkuhnya lembut. "Aku mencintaimu Angga," katanya mengecup pelipis Angga kesekian kalinya.
***
__ADS_1
-Bersambung.
Sana bisa upnya jarang ya Kak. Maaf, masih aktif nulis di sebelah juga. Kalau mau mampir dipersilahkan. Oh ya, makasih untuk yang masih setia baca MOW. Follow IG Sana di @rain_session untuk tahu update novel terbaru Sana. See you next chapture.