My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 31 Ayah


__ADS_3

...~Ayah dan Ibu, laksana kaki dengan tangan.Di mana Ayah akan selalu berjalan ke depan, membanting tulang dan menapaki jalan berkerikil demi anak-anaknya. Sementara ibu, dia akan selalu di samping Ayah menggenggamnya setiap saat. Mengingatkan ia jalan kembali jika langkah kakinya mulai tersesat~...


...As-Sana...


***


Cuma butuh waktu tiga puluh menit, mobil Jemy telah terparkir di depan gerbang sekolah Hasa--Taman Kanak-Kanak Ottawa.


"Paman tidak perlu menjemput ku, aku akan pulang dengan Paman Julian."


Hasa berceloteh mengambil tas punggungnya bergambar Nemo. Dia membawa kotak bekal dan botol minumannya yang hampir tertinggal.


"Tuan Kecil, Anda tidak boleh bertengkar dengan anak-anak yang lain," pesan Jemy membantu si kecil membuka pintu mobil serta melepaskan sabuk pengamannya.


Belum ada satu menit Jemy memberikan petuah, Hasa sudah berulah lagi. "Hai Big Bear!" serunya keras penuh senyum lebar. Bernard menoleh masih dengan muka masam. "Hei...? Kau tidak mau masuk kelas bersamaku?" Hasa terbengong sebentar karena bocah gembul dengan pipi tembem itu menatapnya sinis masuk ke gerbang sekolah meninggalkannya.


Jemy cuma menggelengkan kepala. "Kalau Tuan Kecil nakal seperti ini, Anda tidak akan punya teman." Hasa mengusap dahinya saat Jemy menyentil kening itu cukup keras. "Ah Paman ini? Aku 'kan cuma bercanda," belanya memberengut berjalan ke gerbang sekolah menyusul teman barunya.


Jemy hanya menepuk jidat frustasi mengetahui sifat Hasa tidak berubah. Dia justru bertambah nakal dengan menyeret tas sekolah anak Romi ke belakang. Lalu tertawa menjahili temannya. "Tuan Angga, seandainya Anda ada di sini? Mungkin Tuan Kecil akan lebih menurut," tuturnya mengingat bagaimana dulu Hasa begitu patuh pada ucapan sang ayah.


***


Menjelang siang hari, Peter datang menjemputnya. Dia membawakan Hasa satu permen gula kapas raksasa kesukaannya. Seperti biasa Peter datang untuk menjemput Hasa ke galeri lukisan Julian.

__ADS_1


"Kak Peter!" dari kejauhan suara Hasa terdengar nyaring. Anak itu menarik tangan salah satu bocah bertubuh gempal untuk mengikutinya. Peter tersenyum merunduk, dia merentangkan tangan untuk menyambut kedatangan Hasa.


"Kau bersenang-senang di sekolah?" Hasa terkekeh melepaskan pelukannya dari Peter. "Tentu saja aku belajar Kak," sahutnya bangga. Peter cuma tersenyum. Ya, adiknya ini memang pandai bicara. "Bear berikan salam pada Kak Peter," ujarnya dengan cepat menundukkan kepala Bernard untuk berkenalan dengan pianis itu.


"Hasa!" sebetulnya tadi Bernard dan Hasa telah berdamai. Bernard berharap setelah berdamai bocah itu akan berhenti memanggilnya big bear. Tapi lihat, hanya panggilan "big" saja yang hilang, bear-nya tetap ada.


"Lepaskan aku!" ketusnya marah.


"Ayolah Bear berikan salam dulu pada Kakakku." Walau enggan mengatakan Bernard akhirnya menyapa Peter. "Salam kenal dariku Kak." Hasa tersenyum lebar melepaskan cengkramannya pada kepala Bernard.


"Bagus, kau teman baikku," ucapnya mengedipkan satu mata memuji Bernard. Bocah yang dipuji memalingkan muka merasa malu bercampur senang. "Ya, tanpa kau bilang. Aku adalah anak yang baik. Mama sering mengatakannya," timpalnya.


Hasa tertawa memundurkan langkah lalu menendang pantat Bernard pelan. "Anak baik?" tanyanya mengerlingkan mata mengingat bagaimana dengan nakalnya tadi Bernard mengganggu anak perempuan.


"Maafkan Hasa, Bernard."


Peter mendekati Bernard, mengulurkan tangan sebagai bantuan. "Ambillah." Ada beberapa permen asam gula di telapak tangan Peter. Makanan manis kesukaannya. "Terima kasih," segera Bernard tersenyum bahagia.


"Kak Peter itu baik, kau tidak akan menyesal berkenalan dengannya," ujar Hasa bangga menunjuk dirinya sendiri.


Bernard menggangguk mengiyakan sebagai jawaban.


"Jadi? Kita berangkat ke galeri sekarang Kak?" Hasa memanggul tas punggungnya agar lebih tinggi. Anak itu sangat semangat untuk melakukan kursus lukis dengan Julian. Paman Apel merah. Orang yang dulu suka memberi Hasa apel merah sebagai hadiah.

__ADS_1


Peter mengedipkan matanya sekali tanda setuju. Segera Hasa melompat senang. Kemudian berjalan terlebih dahulu menuju ke halte bus untuk mencari tumpangan.


"Bernard, apa Hasa juga ceria di sekolah?" bocah itu menoleh memakan habis permennya.


"Ya, dia sangat ceria Kak. Dan juga menyebalkan." Senyum terlintas di bibir Peter, membenarkan topi bludrunya. "Syukurlah, aku senang mendengarnya." Bernard tertegun sejenak melihat ekspresi Peter yang tampak sedih memandang punggung Hasa. Ada suatu hal yang memilukan di sana.


'Kenapa dengan Hasa?' tanyanya pada diri sendiri mencari hal yang aneh pada bocah nakal itu. Namun, Bernard tak menemukannya.


'Mungkinkah? Dia berpura-pura bahagia.'


Dugaan itu muncul begitu saja, melihat guratan aneh dari raut muka Hasa saat melihat seorang lelaki yang sedang menggendong anaknya di seberang jalan. Pandangan Hasa menunjukkan rasa rindu yang begitu dalam. Suatu hal yang belum pernah Bernard tahu dari anak yang selalu mengganggunya.


.


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2