
~ Tidak perlu membawa pedang untuk membunuh seseorang, karena hanya dengan perkataan saja kamu bisa membunuhnya~
Perkelahian Rafi dan Doni belum berakhir, karena saat Rafi hendak menghentikan tinjunya karena Keisha memintanya, justru Doni membalas pukulan Rafi dan menghajarnya habis-habisan. Kini kedua lelaki itu dalam kondisi yang sama, wajah mereka dipenuhi dengan lebam-lebam yang berwarna kebiru-biruan.
Kevin, Heru, dan Haris bersusah payah memisahkan kedua pria dewasa itu, bahkan tidak jarang Kevin mendapatkan pukulan di wajahnya hingga membuat pipinya ikut membiru. Sementara Heru dan Haris menarik tubuh Doni yang berada di atas tubuh Rafi dan menguncinya. Kedua pria paruh baya itu dibuat kewalahan atas tingkah mereka yang saling baku hantam.
Suasana menegangkan itu membuat para perempuan di keluarga besar itu sedikit ketakutan melihat perkelahian tersebut. Helen memeluk erat tubuh Ibunya dan menyembunyikan wajahnya. Sementara Nyonya Rita mendekap erat cucunya Alisa dan menutupi telinganya, agar anak kecil itu tidak melihat kekerasan yang dapat menyebabkan trauma karena melihat Ayahnya yang sudah seperti hewan buas.
"Doni! Rafi! Sudah hentikan! Apa kalian tidak malu dilihat semua orang?" Tukas Heru tajam.
"Lihat Ibu dan putrimu Don! Kau membuat mereka ketakutan!" Bentak Haris keras dengan melengking.
"A-yah, aku___," tutur Alisa dengan air mata yang mengalir deras.
Mendengar namanya di sebut oleh buah hatinya, Doni mulai menemukan kembali kesadarannya. Dia sudah sedikit tenang dan tidak lagi kesetanan. Lelaki itu bergegas bangkit dari tubuh Rafi yang sudah terkulai lemas. "Maafkan aku," ucapnya lirih. Rafi terkapar dibawah kungkungan Doni dan sudah mulai kehilangan kesadarannya.
Keisha langsung menghampiri sepupunya itu dan menopang kepalanya. "Rafi bangun! jangan pingsan, aku mohon," kata perempuan itu rendah. Hati Keisha merasa sakit melihat orang-orang yang disayanginya terluka parah hanya karena dirinya. Perempuan itu mulai merutuki kebodohannya yang tidak dapat mencegah Ferdian mengirim pesan itu pada Rafi. Terlebih dia tahu bahwa sepupunya itu adalah tipikal orang yang gegabah dan mudah emosi, apalagi jika itu menyangkut keluarganya.
Pernah dulu waktu mereka masih kuliah, Rafi bahkan sempat hampir masuk penjara gara-gara memukuli pemuda yang hampir melecehkan Helen. Untung saja polisi tidak jadi memenjarakan Rafi setelah mengetahui alasan dibalik tindakannya, dan mereka hanya menuntut uang tebusan dan biaya rumah sakit untuk korban.
"Kakak lebih baik kita segera membawa Rafi ke rumah sakit," tawar Helen dari belakang seraya mengusap pundak Keisha.
Keisha hanya mengangguk dan dia segera memanggil ambulan ke sana, saat mobil ambulan datang mereka sekeluarga segera memasuki mobil dan menuju ke rumah sakit. Kecuali keluarga Doni yang memilih untuk pulang ke rumah agar tidak memperkeruh suasana. Sesampainya di gedung putih itu, para suster langsung datang dan menangani Rafi.
"Suster tolong segera siapkan ruangan, pasien ini membutuhkan penanganan darurat," perintah Dokter yang baru saja datang dan memeriksa ujung pelipis Rafi yang terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Dok apa yang terjadi pada anak saya? Tolong selamatkan putra saya," pinta Bibi Aini dengan tangis yang tersedu-sedu.
"Tenanglah Kakak Ipar, semua akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada putramu, keponakanku sangatlah kuat," ujar Hanum Ibunya Helen mencoba menenangkan Aini.
"Rafi akan baik-baik saja Bi, " sambung Helen seraya merengkuh tubuh perempuan paruh baya itu.
Mereka semua duduk di kursi tunggu, perasaan mereka dipenuhi dengan kecemasan dan ketakutan karena Dokter belum juga keluar dari ruang UGD setelah lebih dari setengah jam. Dalam hati Keisha mendoakan sepupunya, perempuan itu tidak henti-hentinya melantunkan ayat-ayat suci untuk keselamatan Rafi.
"Kei Ayah ingin bertanya padamu."
Ucapan dari Heru membuat semua pasang mata disana mengalihkan perhatiannya dan beralih menatap Keisha dan Ayahnya. Mendengar panggilan dari Heru, perempuan itu segera mengakhiri doanya dan menatap mata Ayahnya lekat-lekat.
"Kenapa tadi saat Rafi memukul Doni, dia berkata bahwa Doni hanya mempermainkanmu?"
Pertanyaan dari Heru tentu membuat semua orang yang ada di sana mencoba kembali mengingat memori beberapa saat lalu. Pada awalnya suasana di restoran itu begitu tenang, namun berubah menjadi gaduh tatkala dengan tiba-tiba Rafi memukul Doni. Mereka juga heran dengan sikap Rafi yang berubah secara frontal, yang mana pada awalnya tenang dan duduk manis menikmati hidangan, tiba-tiba menjadi agresif dan melayangkan tinju pada calon menantunya.
Mata Heru langsung membulat saat membaca pesan teks yang dikirim Ferdian untuknya. Tanpa pikir panjang Heru membanting ponsel Keisha sampai hancur berkeping-keping, entah setan apa yang merasuki Heru saat ini dia menjadi emosi dan benar-benar murka pada putrinya.
"Bagaimana kamu bisa menyuruh asistenmu untuk menyelidiki calon suamimu? Apa kamu sudah tidak percaya pada Ayah? Apa kamu berpikir bahwa Ayah akan mencari lelaki jahat untukmu?" Maki Heru dengan muka yang merah padam.
"Ayah, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa kalau Doni___"
Belum selesai Keisha berkata, Heru sudah memotong perkataannya. Dia kini menatap mata putrinya penuh dengan emosi.
"Doni apa? Memangnya Doni berbuat apa? Sampai kamu mencurigainya. Ayah tidak habis pikir Kei, kamu telah mengecewakan Ayah."
__ADS_1
"Doni memanfaatkan aku Ayah, dia ingin menikah denganku hanya untuk mendapatkan semua harta Ayah."
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Keisha, pipi bersih perempuan itu kini dihiasi dengan cap tangan berwarna merah.
"Kamu salah Kei! Ayah memang sengaja memberikan aset Ayah pada Doni. Karena hanya itu yang Ayah bisa lakukan agar kamu bahagia!"
"Ayah egois, hanya karena ingin aku menikah, Ayah sampai rela kehilangan semua hal yang sudah Ayah rintis dari nol. Lalu bagaimana dengan Ibu dan Helen? Kalau semua Ayah berikan untukku, lalu apa yang Ayah sisakan untuk mereka? Mereka juga keluarga Ayah, mereka juga punya hak atas apa yang Ayah miliki!"
Heru terdiam dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan putri sulungnnya, bahkan saat mengambil keputusan untuk memberikan semua aset perusahaan pada calon menantunya Doni, dia tidak memikirkan hal ini. Hal yang ada dalam pikirannya saat itu, hanyalah agar putrinya Keisha dapat segera menikah dan membangun rumah tangga dengan pria yang baik.
"Apa Ayah kasihan melihatku? Apa Ayah malu karena memiliki putri yang belum menikah sampai sudah berumur sepertiku?"
Pertanyaan yang dilontarkan Keisha bagai boomerang untuk Heru, hingga tanpa pikir panjang dia mengutarakan semua isi perasaan yang dia pendam.
"Iya! Ayah kasihan melihatmu seperti ini! Ayah tidak sanggup lagi mendengar orang menghinamu karena kamu belum menikah! Ayah tidak bisa lagi membungkam mulut orang yang berbicara buruk tentangmu! Dan Ayah juga tidak tega melihatmu terus ditolak oleh pria hanya karena kamu tidak bisa memberi mereka keturunan," kata Heru dengan nada bergetar.
"Ayah tidak perlu mengasihaniku, Aku tidak butuh dikasihani. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku mohon, Ayah jangan pernah ikut campur tangan lagi dalam urusanku. Ini hidupku, biar aku yang menentukan jalan hidupku." Pungkas Keisha sembari berlari meninggalkan ruangan itu.
"Kakak! Kakak mau kemana?" Teriak Helen cemas, dia hendak berlari mengejar Keisha namun suaminya mencegahnya.
"Ayah, seharusnya Ayah tidak berkata seperti itu pada Keisha," tutur Hanum menasihati suaminya.
"Aku salah, aku sudah melukai hati putriku lagi," sesal Heru dengan air mata yang sudah sampai di pelupuk matanya.
__ADS_1
Di tempat lain, kediaman keluarga Haris Anggara juga sedang terjadi kegaduhan. Tuan Haris tengah menginterogasi putranya Doni terkait keributan yang terjadi di restoran tadi. Setelah memaksa Doni untuk menjelaskan semuanya, Tuan Haris merasa malu. Dia bingung harus mengatakan apa pada besannya, kalau mengetahui bahwa putranya menikahi Keisha hanya karena harta.