My Old Wife

My Old Wife
Sesion 2 – Part 12 Siapa Wanita itu?


__ADS_3

^^^~Kebencian hanya akan membawa luka yang lebih dalam~^^^


As-Sana


***


Setelah memadu kasih dengan sang istri, Angga melepas jasnya memakaikannya pada Keisha. Ia memperbaiki penampilan perempuan itu yang tampak berantakan karena ulahnya. Di sana, pada leher jenjang Keisha ia banyak meninggalkan jejak kemerahan. Perlahan, tangan Angga mulai mengancing kerah baju Keisha dan melilitkan syal wanita itu kembali.


"Kenapa Angga?" Keisha menyentuh pipi pria yang tampak sendu di hadapannya. Lelaki itu menundukkan kepala langsung memeluk tubuhnya erat. "Maaf Nyonya, aku berlebihan," ujar Angga menyesal yang tak bisa mengotrol diri tadi. Keisha cuma tersenyum tipis, mengusap punggung Angga sayang. Ia tak ingin suaminya merasa bersalah.


Masih dalam posisi berpelukan, pintu lift terbuka. Tampaknya Romi sudah memperbolehkan bagi karyawan lain memakai lift tersebut. Pandangan para pegawai langsung jatuh pada wanita yang berada dalam pelukan bosnya.


"Anu... Tuan Angga, maaf kami mengganggu." Semua orang tampak gugup, tak berani melihat Angga yang sekarang mulai menyembunyikan kepala Keisha dalam pelukannya.


Ella yang kebetulan juga berada di sana, memicingkan mata mengamati perempuan dalam dekapan Angga Wilson. Ia penasaran ingin melihat rupa perempuan itu.


Angga yang menyadari para karyawan telah datang, segera membawa Keisha pergi dari sana. "Tidak apa, kalian bisa pakai lift ini. Aku dan istriku akan segera keluar." Senyum manis dan sikap Angga yang begitu lembut memperlakukan wanita itu membuat mereka tahu bahwa bosnya sangat mencintai istrinya.


"Ayah!" baru Angga melangkah keluar dari lift, Hasa sudah datang bersama nona penjaga resepsionis. Anak itu berlari memeluk kaki Angga seperti biasa. Karena Hasa telah tiba, Keisha sedikit menyembulkan kepala ingin melihat putranya.


"Ayah, Ibu kenapa? Lehel Ibu melah-melah." Ocehan Hasa yang tiba-tiba mengomentari tentang keadaan Keisha, menyita perhatian semua karyawan. Mereka mencoba menahan tawa, baik laki-laki maupun perempuan dewasa di sana sadar kalau bosnya baru saja menenggak anggur manis.


Angga yang mengetahui itu langsung berjongkok membungkam mulut si kecil sebelum ia berkata yang tidak-tidak. "Hasa sudah lapar 'kan?" tanya Angga mengalihkan topik pembicaraan. Hasa pun mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu kita makan sekarang," ajaknya menggandeng Hasa lalu merangkul Keisha membawanya pergi dari sana.


Seperginya Angga dan keluarga kecilnya, orang-orang yang memasuki lift mulai membicarakan mereka. Telinga Ella sampai panas mendengarnya.


"Tuan Angga, itu sangat mencintai istrinya."

__ADS_1


"Aku dengar beritanya, kalau Tuan Angga biasa tidak ke kantor karena tidak mau berpisah dengan istrinya di rumah."


"Dulu saat putranya baru lahir, Tuan Angga justru sering bolos bekerja." Mereka mengangguk membenarkan. "Dan Romi yang menangani semuanya," tambahnya lagi.


Mereka tertawa mengingat tadi bosnya ketahuan habis bercinta oleh anaknya. Melihat ekspresi Angga yang cemas-cemas takut, itu adalah ekspresi lucu yang belum pernah mereka lihat. Ella yang mendengar obrolan para karyawan menggigit bibir bawahnya merasa kesal. Ia tidak terima Angga memiliki kehidupan yang bahagia dalam cintanya.


***


Di sisi lain, Julian baru saja menata semua barang-barangnya di apartemen yang akan ia tinggali sementara. Lelaki itu memajang lukisan kekasihnya di dinding kamar. Kemudian menaruh bunga Mawar kuning tadi di vas kaca berisi air. Sejenak, pikiran Julian cukup terganggu dengan ucapan dari pegawai toko bunga tadi pagi yang melayaninya. Pria itu menyentuh lukisan Keisha sambil mengingat kenangan masa lalu mereka.


'Apa Tuan mengenal Nona Keisha?'


Hembusan kasar keluar dari mulut Julian, "Apakah kau ada di sini Keisha? Apa kau telah kembali ke Kanada? Tapi kenapa aku tak bisa menemukanmu?"


Desiran aneh dalam dada Julian bergemuruh, ia merasa senang. Ada secuil harapan baginya untuk menemui Keishanya jika itu benar. "Apabila kau ada di Ottawa, aku akan menemukanmu bagaimanapun caranya," tuturnya.


***


Sore harinya, setelah melakukan wawancara dengan perusahaan Angga. Ella langsung menuju ke salah satu restoran yang terletak cukup jauh dari perusahaan tersebut. Perempuan itu memesan makanan tanpa melihat harga dan menu olahannya. Ia sedang di rundung emosi. Pikirannya dipenuhi dengan kekesalan pada Angga Wilson.


"Apa kau tidak punya telinga untuk mendengar? Aku tidak memesan makanan ini?" omelnya marah-marah.


Eliot yang kebetulan melayaninya terus membungkuk meminta maaf berulang kali. Namun, pria itu tidak salah mencatata. Jelas-jelas tadi wanita ini memesan menu itu.


[Maaf Nona, tapi tadi Anda yang memesan semuanya.]


Secarik kertas ia berikan di meja Ella. Perempuan itu merobeknya lalu memanggil Paman Gio - pemilik restoran.

__ADS_1


"Pelayan Anda ini tidak becus bekerja. Dia sungguh tidak tahu kata 'tidak' saya sudah bilang kalau saya tak pernah memesan makanan ini. Tapi dia memaksa saya memakannya lalu membayar semuanya."


Paman Gio melihat Eliot sejenak. Kemudian ia meminta pelayan lain membawa catatan menu makanan. "Nona, Anda memang memesan semua makanan ini." Rahang Ella mengatup rapat, menggebrak meja.


"Jadi? Maksud Tuan saya berbohong?"


"Saya tidak bilang seperti itu."


"Wah-wah luar biasa. Anda membela orang yang salah. Seharusnya Anda tidak mempekerjakan pria bisu seperti ini."


Mendengar penuturan Ella, Eliot mendongakkan kepala menggeleng kencang. Lelaki itu tak ingin ada keributan yang berarti di restoran tempat ia bekerja.


[Saya minta maaf, biar saya yang bayar semua makanan ini. Nona bisa memesan menu yang baru.]


"Bagus itu lebih baik, kau menyadari kesalahanmu dengan cepat," tutur Ella mulai mengambil buku menu menulis makanan yang biasa ia makan setiap hari.


.


.


.


.


.


~ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2