My Old Wife

My Old Wife
Season 2 – Part 24 Kepingan Memori


__ADS_3

...~Masa lalu bukan penentu masa depan, karena apa yang terjadi didepan belum bisa diprediksi~...


...As-Sana...


***


Tiga tahun yang lalu, di hari kelahiran Hasa. Keisha sempat dinyatakan mengalami koma, perempuan itu tak sadarkan diri hampir satu pekan lebih. Angga yang setiap hari mengunjungi istrinya di rumah sakit dengan membacakan cerita-cerita novel romansa, sambil sesekali dia menceritakan kehidupan orang-orang terdekatnya.


"Tuan Angga, bisa kita bicara sebentar." Belum selesai Angga berdialog dengan sang istri yang cuma terpejam tanpa membuka mata, wanita berjas putih menghampirinya. Meminta waktu sebentar untuk berbincang.


Kini Dokter Margareth mempersilahkan Angga duduk, mereka akan mengobrol santai sembari mendengarkan tangisan bayi di ruang lain yang sedang dirawat suster.


Pertama-tama Dokter Margareth membicarakan kondisi Hasa yang tampak sehat walau hanya meminum asih dari ibu susu. Anak itu pintar, dia tak menolak meski itu bukan asih dari ibu kandungnya. Ketika dirasa suasana cukup mencair, barulah Angga bertanya alasan yang membuat Dokter Margareth memanggilnya.


Tak luput senyum tipis tersungging di bibir Dokter Margareth sebelum berkata, "Tuan Angga masih ingat, saat saya bilang jika kami hanya bisa menyelamatkan satu di antara ibu dan anaknya. Apa yang akan Anda lakukan?" Angga mengangguk mengerti, ini pertanyaan yang diajukan sebelum Keisha mulai dioperasi.


"Anda menjawab dengan tegas agar saya menyelamatkan keduanya baik ibu dan putranya."


"Apa ada masalah dengan Istriku?"


Wanita itu menggeleng kecil sebagai jawaban, "Bukan, Nona Keisha akan secepatnya sadar. Saya sudah bilang dia baik-baik saja, tubuhnya hanya tak mampu menerima efek dari operasi yang kami lakukan. Setelah semua membaik dia akan pulih."


Angga menghembuskan napas lega, raut mukanya tampak natural. Dia sempat berpikir ada hal lain yang terjadi pada perempuan yang dicintainya. "Namun, ada beberapa hal yang perlu Tuan Angga pahami." Dokter Margareth memberikan berkas laporan operasi, beserta gambar pemeriksaan rahim Keisha seusai melahirkan Hasa.


"Saat kami mencoba mengeluarkan Hasa, ada hal yang tidak kami duga. Anda bisa lihat di sini, jalur yang mengarah pada organ inti. Ada pembekuan darah di sana."


Manik hitam Angga mencoba memahami bentuk gambar yang tak ia mengerti karena hanya tenaga medis yang bisa membacanya.


"Memang ini terlihat seperti gangguan kecil. Tapi? Nona Keisha baru saja melakukan operasi besar."


"Apa yang harus aku lakukan?"


Senyum tersemat di bibir Dokter Margareth, ia berbicara baik-baik. "Saya tahu, Tuan Angga adalah suami yang baik," ucapnya terpotong.


"Saya meminta agar Tuan Angga dapat menahan diri supaya tak berlebihan saat menyentuh Nona Keisha. Bagi perempuan normal akan butuh waktu sekitar tiga tahun agar dinding rahim terbentuk dan mampu mengandung kembali. Namun, ini berbeda dengan kasus Nona Keisha. Butuh waktu sekitar lima tahun agar semuanya kembali normal."

__ADS_1


"Apa istriku akan baik-baik saja?"


Dokter Margareth tak menyangka akan bertemu dengan lelaki seperti Angga. Pria yang terlihat sangat mencintai istrinya tak memikirkan kondisinya sendiri. "Selama itu Anda akan mengalami masalah Tuan Angga? Apa Anda tidak khawatir dengan kondisi biologis Anda?" Bukan menjawab, wanita berjas putih ini justru bertanya balik.


"Asalkan istriku selamat. Aku akan melakukannya."


Inilah yang Dokter Margareth suka dari suami pasiennya, beruntung wanita memiliki pasangan seperti Angga. "Saya tahu Anda bisa bekerjasama." Dokter Margareth menuliskan sesuatu di kertas, ia meminta suster datang mengecek kondisi Keisha.


"Namun, ada kabar baik. Tuan Angga tetap bisa menyentuh Nona Keisha sesuai prosedur kesehatan. Di mana Tuan Angga harus menetapkan batas-batas tersebut," tambahnya.


***


Di lain sisi, di Vancouver Julian baru saja mendapatkan pemeriksaan. Pria itu sempat mengalami kritis. Sudah banyak suntikan kesehatan yang masuk lewat selang infus yang menancap di pergelangan tangannya.


Zenn bersama adiknya yang menangani Julian secara bertahap. Selama hampir satu pekan, nyawa Julian di ambang batas.


"Dia belum juga sadar, tubuhnya terus menolak obat yang aku beri." Zenn membuka catatan medis Julian, ia menelusuri rekam jejak lelaki itu. Saat membaca riwayat medisnya, Zeen terperangah. Ia hampir tak percaya ternyata lelaki ini sejak kecil telah banyak mendapatkan perawatan.


"Dok, ada Dokter Gazen yang berkunjung. Katanya dia ingin menemui pasien."


Lelaki bermata kecokelatan itu memandang tubuh Julian yang terbaring di ranjang, ia menatap Dokter Zenn sekilas. "Kau mengenal pasienku?" tak ingin membuang waktu, Zenn bertanya pada intinya. Dokter Gazen mengangguk membenarkan. "Aku mengenalnya sangat lama," jawabnya.


"Baiklah, aku percaya kau akan menjaga pasien ku dengan baik. Aku akan memberikan waktu untukmu."


Seusai memberikan izin pada Dokter Gazen masuk, ia keluar meninggalkan Julian sendirian di sana bersama lelaki itu. Namun, secara diam-diam Zenn menguping pembicaraan mereka.


"Apakabar Julian? Kau pasti mengingatku? Dan kau juga pasti merindukan Keisha."


Zenn menyuruh suster yang hendak masuk pergi lagi. Ia tak ingin melewatkan info tentang pasiennya yang cenderung sangat tertutup.


"Keishamu telah menikah, dia memiliki suami yang sangat mencintanya. Dia hidup bahagia dengan keluarga kecilnya."


Dari balik pintu, Zenn bisa melihat dokter itu memegang tangan Julian.


"Apa kau mau meninggal tanpa melihat Keisha? Cinta pertamamu?"

__ADS_1


"Dokter, ada pasien yang membutuhkan operasi segera." Belum selesai Zenn mendengarkan perbincangan Gazen dengan Julian, ia terpaksa meninggalkan ruangan itu untuk melakukan operasi pada pasiennya yang lain.


***


Satu pekan setelah pembicaraan Angga dengan Dokter Margareth. Lelaki itu menerima panggilan dari rumah sakit kalau istrinya telah sadar. Saat itu Angga yang sedang melihat pertunjukan Peter segera berpamitan pergi. Dia begitu senang mendengar kabar baik tersebut.


"Jemy, di mana istriku?"


"Dia di dalam Tuan Angga."


Angga berlari membuka pintu ruangan tergesa-gesa, di sana dibalik punggung Romi ia bisa menangkap bayangan perempuan berpakaian rumah sakit duduk menatapnya sembari tersenyum.


Detik itu juga Angga memeluk istrinya kuat-kuat, tak ingin melepaskan. "Jangan pernah meninggalkanku Nyonya. Aku sungguh sangat takut kehilanganmu."


***


Bertepatan dengan sadarnya Keisha di Ottawa, Julian juga mulai membuka mata. Suster yang mengetahui secara tiba-tiba kesadaran Julian bergegas memanggil Zenn untuk memeriksanya.


"Tuan Julian tiba-tiba membuka mata. Dia menggerakkan tangannya."


Senyum Zenn terbit langsung menemui Julian. Lelaki itu membuka pintu, pandangannya beradu pada sosok Julian yang lemah tak berdaya.


"Kau sudah sadar, itu melegakan." Buru-buru Zenn melakukan pemeriksaan terhadap Julian dan mengambil tindakan.


.


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2