
~Ketika seseorang sudah menemukan cinta sejatinya, maka dunianya akan berputar hanya padanya~
Angga masih mendekap tubuh Keisha erat tidak berniat untuk melepaskannya sedetik pun, pemuda itu masih takut kalau perempuan itu akan meninggalkannya lagi. Ketika hujan mulai reda, ia baru melonggarkan pelukannya, Angga mengamati setiap inci wajah istrinya, pemuda itu menarik bibirnya ke atas membentuk senyum tipis.
“Sekarang kita pulang Nyonya,” ujar Angga sembari menangkup kedua pipi Keisha dan mengusapnya lembut. Keisha mengangguk kecil sebagai jawaban, pemuda itu menggandeng tangan istrinya menuntunnya memasuki mobil.
Selama perjalanan pulang ia tidak melepaskan tangan perempuan itu, ia menautkan jari jemari ramping milik Keisha dengan jari jemarinya dan menggenggamnya begitu erat. Sementara tangannya yang satu, ia gunakan untuk menyetir mobil. Setelah sampai di gedung berlantai dua rumah mereka, pemuda itu baru mulai melepaskan genggamannya.
“Tuan Muda,” sapa Romi saat melihat Angga telah keluar dari mobil dan bergegas membuka pintu mobil di sisi lain.
Pemuda itu menuntun Keisha hati-hati keluar dari mobil meskipun perempuan itu sedang tidak terluka. Sikapnya begitu lembut.
“Romi, tolong parkirkan mobilku, dan bilang pada Pak Anton untuk segera mengunci pintu gerbang. Aku ingin beristirahat dengan istriku,” pinta Angga ramah sembari merangkul bahu Keisha dan membawa perempuan itu masuk ke dalam.
“Baik Tuan Muda,” jawab Romi mengerti. Pria itu tidak berani bertanya apa-apa lagi pada Angga, sudah terlihat jelas jika suasana hati Tuan Mudanya tidak baik, dan penampilannya yang berantakan sudah menjadi bukti yang cukup untuk menggambarkan semuanya.
Angga memapah Keisha menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan hati-hati, setelah sesampainya di kamar ia bergegas mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Keisha yang basah karena ulahnya tadi. Raut mukanya terlihat cemas dan sedikit bersalah.
“Angga, bersihkan tubuhmu dulu,” pinta Keisha menghentikan aksi Angga yang sedang mengelap wajahnya dengan handuk kering. “Lihat tubuhmu juga kedinginan,” sambung Keisha lagi seraya menyingkirkan poni Angga yang jatuh menutupi matanya. Tangan perempuan itu dapat merasakan kulit suaminya yang sudah dingin seperti es, dan tubuhnya yang mulai menggigil.
Keisha mengambil alih handuk di tangan Angga dan membasuhkannya perlahan di wajah pemuda itu, menghapus buliran air hujan di sana.
“Apa ini Nyonya?” Tanya Angga dengan tatapan sedikit marah, saat melihat pergelangan tangan Keisha yang berwarna merah karena ulah Helen di restoran tadi.
“Bukan apa-apa, ini hanya luka kecil.” Elak Keisha sembari mengeringkan rambut Angga.
“Ini bukan luka kecil Nyonya! Ini bekas cakaran. Lihat! Luka ini sampai membuat kulit pergelangan tangan anda mengelupas. Bagaimana anda masih mencoba membohongi saya? Tidak bisakah anda lebih jujur pada saya Nyonya? Saya tahu pasti ini perbuatan adik anda,” kata Angga dengan nada yang cukup tinggi, pemuda itu bergegas menghentikan pergerakan tangan Keisha yang mencoba mengeringkan rambutnya.
Ia mendudukkan Keisha di tepi ranjang dan mengambil cream untuk luka yang sudah tinggal setengah isinya, cream yang ia beli untuk mengobati luka di tumit Keisha saat hari pertama mereka berkencan.
__ADS_1
Angga terlihat serius mengoleskan cream itu di pergelangan tangan Keisha, mata pemuda itu menunjukkan tatapan penuh amarah tapi juga kesedihan. “Besok kita akan ke rumah sakit,” kata Angga datar masih setia mengobati luka itu.
“Untuk sementara jangan melakukan pekerjaan rumah, biar aku dan Romi yang melakukannya. Dan mulai besok Romi akan mengawal anda kemanapun anda pergi,” kata Angga masih terdengar tajam. Tidak ada senyum di bibir pemuda itu, wajahnya terlihat serius tapi tatapannya terlihat sendu.
“Iya, aku mengerti.” Keisha mengangkat dagu Angga tapi pemuda itu tetap tidak juga melihat pada dirinya. Matanya melihat ke arah lain.
“Maafkan aku, aku tahu aku salah. Aku akan lebih hati-hati menjaga diriku mulai saat ini. Jadi jangan marah lagi, hmm” bujuk Keisha sehalus mungkin. Tapi Angga tak kunjung juga melihat ke arahnya, pemuda itu masih kukuh menolehkan kepalanya ke arah lain.
Keisha menangkup kedua pipi Angga yang tidak berisi, menghadapkan wajah pemuda itu tepat ke arahnya, dia melihat manik hitam yang begitu indah di sana. Wajah putih bersih, alis yang tidak terlau tebal maupun tipis, hidung yang mancung, dan bibir semerah cherry meski sedikit pucat.
“Apa kamu membenciku?” Tanya Keisha pada akhirnya.
Angga segera menggeleng cepat mata pemuda itu berkaca-kaca. “Bagaimana saya bisa membenci anda Nyonya?” gumam Angga kecil. Ketika melihat mata pemuda itu yang hampir saja menangis, Keisha langsung menyapukan bibirnya ke pemuda itu. Memberikan rasa hangat di sana.
“Aku tidak ingin melihat orang yang kucintai bersedih,” ujar Keisha pelan seraya mengusap sudut mata suaminya.
Keduanya tidak menyadari jika mereka terlalu hanyut dalam perasaan itu, rasa yang hangat penuh dengan cinta dan kasih sayang, hingga tanpa terasa raga mereka telah bersatu, mengikis semua jarak yang ada di antara mereka. Dan merajut jaring baru dalam rumah tangga mereka. Mencoba menciptakan malaikat kecil yang akan mengisi harmoni keluarga mereka, meskipun kelahiran si malaikat itu akan membutuhkan penantian lama atau mungkin memakan waktu seumur hidup mereka.
“Terimakasih Nyonya,” ucap Angga dalam hati sembari mengecup pucuk kepala istrinya.
Kini perempuan itu telah menjadi milik Angga seutuhnya baik secara lahir maupun batin. Angga menyelimuti tubuh Keisha dengan selimut yang tebal agar perempuan itu tidak merasa kedinginan, pemuda itu juga menyingkirkan rambut yang menutupi mata dan lehernya agar Keisha tidak merasa gerah.
Setelah itu ia meletakkan tangannya untuk dijadikan bantal oleh Keisha dan mendekap istrinya dengan erat agar perempuan itu merasa nyaman. Keduanya tidur dalam mimpi yang indah. Menanti sinarnya surya di pagi hari.
“Pagi sayang,” sapa Angga dengan senyum manis di bibirnya saat melihat mata perempuan pujaan hatinya telah terbuka sedikit demi sedikit.
“Pagi,” Keisha menggosok matanya dan mulai mengerjap-ngerjap, dia melihat Angga yang sudah rapi dengan kaos dan jeans di tubuhnya.
“Tidurlah lagi, aku akan menyiapkan sarapan untukmu,” pinta Angga sembari mengecup kening Keisha lembut. Keisha kembali memejamkan matanya, perempuan itu merasakan sakit di tubuh bagian bawahnya.
__ADS_1
Sejak pukul 05.00 pagi, Angga telah bangun dari tidurnya, pemuda itu sudah membersihkan ruangan kamarnya yang berantakan akibat aktivitasnya semalam. Dia juga sudah mengganti seprei yang ternoda oleh tanda cinta mereka dan menggantinya dengan yang baru saat Keisha masih tertidur tadi.
“Maafkan saya karena sempat marah semalam Nyonya,” batin Angga dalam hati seraya menutup pintu kamarnya dengan perlahan-lahan.
_______^_^________
HALLO READER Kesayangan As-Sana🤗🤗
Mohon maaf jika para reader sekalian kecewa dengan part ini.. Sana memang sudah berkomitmen tidak membuat adegan dewasa..
Dengan beberapa alasan, (1) Agar tidak melanggar aturan kontrak MT/NT, (2) Karena yang baca cerita ada yang masih sekolah hehehe, (3) Agar kalian bayangkan sendiri hahahaha (senyum jahat).. Maafkan Author😌
Sana ucapkan mohon maaf sekali lagi.. ya reader.. terutama bagi kalian yang sudah lama menanti MP mereka🙏🙏
Semoga kalian tetap bersedia memberi like + komen + vote untuk My Old Wife yaa 🤗🤗
Salam dari Angga & Keisha (:
__ADS_1