
~Setiap detik yang aku lalui tanpamu sama dengan satu hari aku merindukanmu~
Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu, kini Angga sudah berada di Singapura selama enam bulan, dan sudah tiga setengah tahun usia pernikahannya dengan Keisha, perempuan yang telah mengambil hatinya.
Semenjak kedatangan Angga, kediaman Keluarga Andreas terasa sedikit hidup, tidak ada ketegangan yang berarti akibat perselisihan antara Sebastian dan Tuan Wilson. Para pelayan juga terlihat cukup gembira mendapatkan hiburan setiap hari akibat aksi Angga yang kelebihan tenaga melanggar peraturan kakeknya.
Kegiatan kekeluargaan yang pada awalnya tidak pernah Tuan Wilson dan Sebastian lakukan, pada akhirnya mereka melakukannya sekarang, seperti makan disatu meja atau membaca Koran pagi bersama.
“Jemy tolong aku!!” Suara Angga berhasil membuat Tuan Wilson menghentikan aktivitasnya meminum teh herbal kesukaannya sebelum sarapan pagi.
Saat ini Tuan Wilson dan Sebastian tengah duduk bersama di meja makan, mereka sedang menunggu Angga untuk makan bersama. Tapi seperti biasa pemuda itu tidak akan bergabung dengan mereka sebelum membuat keributan.
“Jemy, lihatlah cucuku.” Perintah Tuan Wilson pada Jemy yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Jemy hanya mengangguk dan segera melaksanakan perintah Tuannya menuju lantai tiga untuk melihat keadaan Tuan Mudanya.
“Apa benar dia putramu?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Tuan Wilson pada putranya Sebastian yang terlihat tenang menikmati secangkir kopi dan sepotong roti mentega di piringnya.
Sebastian menyesap kopinya sesaat kemudian ia melihat ke arah sosok pria yang bertambah kurus setiap harinya.
“Jika dia bukan putraku, dia tidak akan berani melawan Ayah.” Jawaban dari Sebastian membuat Tuan Wilson hanya menghela napas sejenak, terlihat jelas bahwa kakek tua itu sedang mendinginkan kepalanya.
“Dia sama keras kepalanya seperti dirimu.” Tuan Wilson kembali menyesap tehnya sambil menerawang masa lalunya. Ketika dia kesulitan mendidik putra semata wayangnya yang terus membangkang. Hingga akhirnya dia kalah, dan tidak bisa menghentikan Sebastian menikahi Susi.
Sementara Tuan Wilson dan Sebastian sedang menikmati hidangan pagi mereka, Jemy terlihat pusing tujuh keliling menghadapi sikap Angga.
“Tuan Muda, kenapa anda berteriak?” Jemy langsung mendekati Angga yang berada di sudut ruangan sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya.
“Mereka mencoba menyentuhku Jemy,” ucap Angga dengan tangannya yang beralih memperbaiki kancing kemejanya.
“Kami hanya berusaha memasangkan dasi dan jas kepada Tuan Muda, Tuan. Tapi Tuan Muda terus memberontak, hingga kami terpaksa memegangi kedua tangannya,” tutur salah satu pelayan wanita yang sudah ditugaskan untuk mengurus Angga. Ia menunjukkan dasi yang masih berada di tangannya yang belum sempat mereka ikatkan di leher Angga.
Jemy hanya menghela napas panjang, dan berjalan menghampiri Angga serta menyuruh tiga pelayan wanita tadi untuk pergi.
Tiga pelayan itu memang sengaja ditugaskan untuk mempersiapkan kebutuhan Angga setiap pagi, karena pemuda itu bahkan tidak bisa berpakaian dengan benar, hingga membuat Jemy harus berulang kali menerima teguran dari Tuan Wilson.
Mungkin ini juga karena Angga tidak terbiasa memakai pakaian formal sebelumnya. Jadi Jemy harus lebih ekstra mengajari pemuda itu.
__ADS_1
“Mereka hanya mencoba berbuat baik Tuan Muda, anda tidak perlu bersikap seperti ini,” tutur Jemy seraya menuangkan segelas air putih untuk Tuan Mudanya.
“Aku tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk berpakaian Jemy, aku bisa melakukannya sendiri. Mereka saja yang mencoba mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhku. Bahkan Merry asistenku dulu tidak berani melakukannya.” Angga mengambil air dari tangan Jemy dan meminumnya. Kemudian ia menerima jas dan dasi yang diberikan Jemy.
“Anda masih belum dapat mengikat dasi dengan benar Tuan Muda, jadi biarkan mereka membantu anda.” Jemy melihat Angga yang sedang berdiri di depan cermin untuk mengikat dasi dilehernya. Terlihat jelas bahwa pemuda itu kesulitan membuat tali simpul yang baik hingga membuatnya harus mengulangi beberapa kali.
“Biar saya bantu,” tawar Jemy tapi Angga segera menepis tangan Jemy yang hampir saja menyentuh kerah kemejanya. Kemudian ia menatap Jemy tajam seperti tatapan mematikan milik Tuan Wilson.
“Kau mau apa? Jangan bilang kau juga mau menyentuhku! Hanya istriku yang boleh melakukannya!” Tutur Angga ketus hingga membuat Jemy langsung mengurungkan niatnya dan membiarkan Tuan Mudanya melakukan hal itu sendiri.
“Jangan keras kepala Tuan Muda. Anda akan membutuhkan waktu lama untuk mengikatnya, bahkan Tuan Wilson dan Tuan Sebastian terlambat datang ke kantor kemarin, karena menunggu anda.” Ungkap Jemy mengingat perbuatan Angga yang berhasil membuat kedua Tuannya itu kehilangan kliennya dari Jepang. Akibat menunggu Angga yang terlalu lama mengikat dasi karena pemuda itu tidak membiarkan orang lain untuk membantunya.
“Kalau mereka tidak mau terlambat, maka datangkanlah istriku kemari.” Ujar Angga dengan senyum manis di bibirnya. Jemy hanya menghela napas panjang mendengar ucapan Angga, karena pemuda itu mempunyai seribu jawaban untuk membuat Keisha datang ke Singapura dengan berbagai macam alasan.
“Saya akan menunggu Tuan Muda di bawah bersama Tuan Wilson dan Tuan Sebastian, pastikan anda selesai pada pukul 07.00 tepat, karena kita akan melakukan sarapan bersama.” Tutur Jemy sembari menunduk hormat dan meminta ijin untuk pergi. Tapi Angga hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun.
“Kakek sudah membuatku terpisah dengan Nyonya selama satu tahun, mana bisa aku membuatnya tenang-tenang saja?" Batin Angga dalam hati sembari melepas ikat sampul dasinya yang sudah terbentuk kemudian mengikatnya lagi dari awal.
Jemy yang mengintip Angga dari celah daun pintu hanya dapat mengusap dadanya pasrah.
“Pantas saja Tuan Muda membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengikat dasinya. Saya harap anda lebih bersabar Tuan Wilson.” Gumam Jemy kecil kemudian segera menuruni anak tangga menuju lantai dasar menemui Tuan Wilson dan putranya.
Semenjak Angga tidak ada di rumah perempuan itu sedikit merasa kesepian, jadi ia mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam hal yang dapat ia lakukan untuk mengisi waktu luang.
Sekarang Keisha bukan wanita karir lagi, perusahaannya Jewelry Group sudah ia serahkan pada Rafi untuk mengolahnya, mengingat sepupunya itu banyak membantunya selama ia tidak berada di Indonesia.
Namun Rafi tetap akan memberikan kentungan perusahaan padanya dan lima puluh persen saham perusahaan untuknya. Bisa dibilang ia tetap memiliki kekuasaan di Jewelry Group secara tidak langsung meski ia bukan menjabat sebagai direktur lagi di sana.
“Nona ada paket untuk anda,” ucap Romi menyerahkan kotak persegi panjang yang dihias pita berwarna merah muda di atasnya, beserta setangkai mawar kuning lengkap dengan kertas lipat yang diikat di sana.
Keisha mengambil kotak itu dari tangan Romi, ia membuka kertas lipat tersebut dan mulai membacanya. Sudut bibirnya sedikit diangkat ke atas saat ia mengetahui siapa pengirimnya.
Selamat hari minggu sayang.
Jangan lupa untuk makan tepat waktu, aku tidak mau saat pulang melihat istriku kurus kering karena tidak diperhatikan suaminya.
__ADS_1
Aku mencintaimu.
Suamimu yang tampan, Angga.
Keisha melipat kertas itu kembali, dia beralih membuka kotak persegi panjang yang dihias oleh pita di atasnya. Sebuah suplemen makan dan vitamin ada di dalam kotak tersebut beserta sebuah permen rasa stroberi. Juga ada kertas warna merah yang bertuliskan untuk Romi dari Angga.
"Romi ini dari Angga untukmu." Keisha memberikan kertas tersebut pada Romi. Kemudian ia beralih mengambil mawar kuning yang dikirim bersamaan dengan paket tadi dan memasukkannya ke dalam vas bunga kaca yang digantung ditiang rumahnya.
"Terimakasih Nona." Romi membuka isi surat tersebut, kemudian ia mulai membacanya. Mata Romi membola saat melihat tulisan Tuan Mudanya yang begitu berantakan berbeda dengan tulisan yang ada pada surat Keisha.
Romi,
Jika kamu membiarkan lelaki lain mendekati istriku saat aku tidak ada. Maka dapat aku pastikan, saat aku kembali. Kamu akan kehilangan rambutmu.
Aku mengawasimu.
Tuan Mudamu tersayang, Angga.
Romi segera memegang kepalanya setelah membaca surat dari Angga, pria itu sedikit merinding membayangkan rambutnya habis tanpa tersisa seperti milik Pak Satpam yang ada di tempat kerja Keisha. Romi ingat betul Pak Satpam itu pernah berkata padanya bahwa Tuan Mudanya adalah rubah yang licik.
"Nona Keisha, mulai sekarang saya yang akan membeli segala keperluan anda. Anda tidak perlu keluar rumah jika tidak ada urusan penting," ujar Romi cepat dengan keringat dingin yang mulai mengucur di dahinya.
Keisha yang melihat Romi terlihat ketakutan segera memberikannya segelas air putih yang kebetulan ia bawa sebelum datang ke taman belakang.
"Apa Angga mengatakan sesuatu yang buruk padamu?" Kata Keisha curiga, karena Romi mulai seperti itu setelah membaca surat dari suaminya.
"Bukan Nona, Tuan Muda hanya berpesan agar saya menjaga Nona dengan baik. Beliau tidak mengatakan hal buruk pada saya." Romi menunduk hormat dan menyembunyikan perasaannya agar perempuan itu tidak menyadarinya. Karena jika sampai Tuan Mudanya mengetahui ini. Bisa dipastikan ia tidak hanya kehilangan rambutnya.
"Baiklah aku percaya padamu," ucap Keisha pada akhirnya. Dia kembali melanjutkan aktivitas berkebunya setelah dia meminum vitamin yang diberikan Angga barusan. Romi berterimakasih pada Keisha, kemudian ia pamit undur diri untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda yaitu memberi makan si Putih.
Angga memang sudah sering mengiriminya paket, bahkan hampir setiap hari. Jadi Keisha tidak terlalu terkejut saat menerimanya. Sebaliknya dia selalu menanti paket itu dan menyimpan semua barang pemberian suaminya atau segera memakainya.
Maaf Menunggu lama.
Terimakasih karena masih setia membaca My Old Wife.
__ADS_1
Salam sayang As-Sana.