My Old Wife

My Old Wife
Kembali Memaafkan


__ADS_3

~Jika Tuhan dapat memaafkan hambanya, maka manusia seharusnya juga bisa memaafkan kesalahan saudaranya~


Keesokan paginya Angga dan Keisha ditemani Jemy pergi ke rumah sakit tempat Kevin dirawat. Sementara, Willy menjemput Heru dan Helen beserta putrinya di bandara. Pemuda itu mendapat kabar bahwa ayah mertua dan adik iparnya melakukan penerbangan ke Singapura pagi-pagi buta.


Sesampainya di rumah sakit, salah satu perawat langsung menyambut kedatangan mereka. Perawat itu tidak lain adalah orang kepercayaan dari Tuan Sebastian. Tanpa banyak membuang waktu, perawat itu segera mengantarkan putra Tuannya untuk menemui pasien yang sudah mereka awasi beberapa hari ini.


Angga dan Keisha beserta Jemy digiring menuju ke salah satu ruang rawat khusus yang terletak di paling ujung lantai dua. Dekat dengan ruang rawat pasien umum. "Tuan Kevin ada di dalam Tuan," tutur perawat tersebut seraya memberikan ruang pada Angga untuk melihat.


Dari balik kaca buram kecil yang berada di daun pintu, Angga dapat melihat samar-samar sosok laki-laki yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien.


"Aku akan menemuinya," ucap Angga yang mengisyaratkan pada perawat itu untuk pergi. Jemy pun juga menyadarinya dan langsung pamit undur diri. "Saya akan menunggu di luar Tuan Muda." Angga pun mengangguk kecil sebagai persetujuan. Ia memegang tangan Keisha sesaat kemudian memutar kenop pintu itu secara perlahan.


Kevin yang mendengar decitan suara daun pintu dibuka segera menoleh melihat siapa yang datang. "Lama tidak berjumpa," sapa Angga terlebih dahulu. Wajahnya terlihat biasa tapi tatapannya cukup dingin, mungkin karena pemuda itu tidak bisa bersikap ramah dengan Kevin mengingat perbuatan pria itu di masa lalu pada istrinya.


Mata Kevin melihat secara seksama dua sosok manusia yang ia kenal. Kevin sedikit tersenyum tipis. Tangannya menepuk kursi di samping ranjangnya mengisyaratkan agar pasangan itu untuk duduk.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Angga lagi mewakili istrinya. Pemuda itu menuntun Keisha untuk duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam erat jari-jemari Keisha tidak ingin melepaskannya.


"Aku baik-baik saja," jawab Kevin. Pandangannya beralih menatap sahabatnya yang terlihat lebih anggun dari sebelumnya. Penampilan Keisha sekarang sedikit terlihat lebih feminim daripada saat dulu ketika ia mengenal perempuan itu. "Kau merawat istrimu dengan baik," puji Kevin yang dibalasi senyum tipis dari Angga.


Pemuda itu mengangkat tangan Keisha yang ia genggam lalu menciumnya di hadapan Kevin untuk menunjukkan keharmonisan hubungan mereka.


"Karena dia perempuan yang aku cintai, maka sudah seharusnya aku menjaganya dengan baik." Kata Angga lugas. Keisha hanya melihat interaksi kedua lelaki itu. Matanya dapat menerawang rasa syukur dalam hati Kevin dan perasaan cinta di mata Angga.


Ketika ia mengamati kondisi Kevin yang cukup menyedihkan, ia merasa iba atas apa yang telah menimpa pria itu.


"Helen dan Inara akan datang kemari," kata Keisha cukup lirih.


Hatinya merasa kasihan melihat sahabatnya seperti ini, penampilan Kevin yang sekarang membangkitkan rasa simpati di hati Keisha. Hanya sekedar simpati tidak lebih, karena sekarang perasaan cintanya untuk Kevin telah hilang. Sebab hatinya telah dimiliki Angga sekarang, pemuda yang menjadi suaminya.


Angga yang menyadari bahwa istrinya membutuhkan waktu berdua untuk berbicara dengan Kevin mencoba memberi ruang. Pemuda itu berusaha menyingkirkan rasa egonya dan lebih percaya pada Keisha. "Aku akan ke kamar mandi sebentar," kata Angga sembari bangkit dan melepaskan genggaman tangan Keisha perlahan-lahan.

__ADS_1


"Aku akan segera menyusul," ucap Keisha cepat. Perempuan itu menyadari bahwa Angga mencoba memberi waktu pada dia dan Kevin untuk mengobrol. Angga hanya mengangguk sembari tersenyum manis ke arah Keisha seolah mengatakan pada perempuan itu bahwa ia baik-baik saja.


Kini ruangan tampak senyap sesaat, keheningan terjadi. "Sudah lama kita tidak mengobrol Kei," kata Kevin memulai pembicaraan. Panggilan akrabnya untuk Keisha dulu sebagai sahabat ia lontarkan. "Iya, sangat lama." Kata Keisha mencoba mengingat memorinya di masa lalu.


"Maafkan aku, karena tidak menyadari perasaanmu dulu." Kevin sejenak melihat ke luar jendela lalu melirik Keisha sebentar. "Aku tahu kamu mencintaiku, tapi aku pura-pura buta tidak melihatnya." Kevin kembali menarik napas dalam lalu menghembuskannya lagi.


"Maaf karena kamu telah memberikan banyak untukku dan Siska, tapi aku tidak bisa membalasnya." Kata Kevin pelan.


Keisha mengulas senyum lebar. "Aku justru berterimakasih padamu karena tidak membalas perasaanku saat itu." Manik hitam milik Keisha sedikit berbinar dia melihat ke arah Kevin. "Karena jika kamu membalasnya saat itu, maka aku tidak akan bersama Angga sekarang." Keisha semakin mengangkat bibirnya ke atas.


"Karena aku baru sadar bahwa perasaanku padamu dulu adalah rasa nyaman persahabatan. Tapi sekarang? Perasaan yang aku rasakan pada Angga berbeda. Jika dulu aku rela membiarkanmu diambil Helen. Tapi tidak untuk Angga, aku mulai bersikap egois. Aku hanya ingin pemuda itu hanya melihatku, bukan wanita lain. Aku takut kehilangannya." Keisha memejamkan matanya sejenak ia mulai mengenang memori yang sudah ia lewati bersama pemuda itu.


Keisha tersenyum kembali dengan menyunggingkan bibirnya lebar. "Aku sangat mencintai Angga. Aku harap kamu juga menyadari perasaanmu sendiri." Keisha melihat ke dalam mata Kevin.


"Bahwa kamu juga sudah jatuh cinta pada Helen tanpa kamu sadari. Sejak kamu mencium Helen di pekan raya waktu itu, aku sudah tahu bahwa cintamu hanya untuknya."


Keisha beranjak dari duduknya, ia akan pergi. "Aku harap kamu melupakan masa lalu dan mulai menatap masa depan. Jika kamu merasa bersalah pada Siska, aku yakin dia sudah memaafkanmu sejak dulu. Kamu yang lebih mengenal dirinya bukan orang lain." Kata Keisha lagi, perempuan itu berjalan ke luar.


Ketika ia membuka kenop pintu sosok pemuda pujaannya telah berdiri bersadar pada dinding menghadap padanya. "Aku mencintaimu Angga. Sangat mencintaimu," ujar Keisha tanpa sadar dan langsung berlari memeluk Angga yang berada cukup jauh darinya. Mata perempuan itu berair, ia menangis.


Tangannya mengusap punggung Keisha halus menyalurkan rasa damai, dagunya ia sandarkan pada bahu Keisha mencoba menyejajarkan tingginya meski ia lebih tinggi dari perempuan itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku Angga," ujar Keisha lagi. Entah kenapa semua kekhawatiran dalam hati Keisha seolah-olah mulai keluar satu per satu.


"Tidak akan, aku tidak akan pernah meninggalkamu. Aku berjanji." Keisha semakin memeluk Angga erat, air matanya mengalir deras membanjiri kerah jas Angga.


Kevin yang melihat pemandangan itu tersenyum tulus, bibirnya terangkat ke atas. Daun pintu ruangannya yang masih terbuka membuatnya dapat melihat sahabat dan suaminya itu dengan jelas. Dan di sana ia juga melihat kepala kecil seorang anak perempuan yang sedang mengintip.


"A-yah."


Putrinya Inara berada di sana, bersama dengan sosok perempuan lain di belakangnya. Iya, Helen dan Inara telah tiba di rumah sakit sejak tadi ketika ia masih berbicara berdua dengan Keisha.

__ADS_1


"Ayah...!!! Ala lindu Ayah." Panggilnya dengan menangis kencang. Inara berlari langsung ke arah Kevin mendekati ranjangnya, Kevin yang melihat itu pun reflek merentangkan tangannya. Ia memeluk Inara yang menangis histeris. Pria itu sampai lupa pada selang infus yang masih menempel di tangannya.


Mata Kevin beralih melihat sosok perempuan yang berdiri di belakang putrinya. Helen terlihat pucat, tubuhnya makin kurus dan tidak ada lagi riasan make up di wajahnya. Kevin baru menyadari bahwa tidak hanya dirinya saja yang menderita, tapi juga Helen, ibu dari putrinya.


"Apa aku telah salah?" Batin Kevin.


Matanya masih setia melihat sosok Helen yang berdiri diambang pintu, mata perempuan itu berkaca-kaca. Ia membungkam mulutnya agar tangisnya tidak terdengar.


Melihat Helen seperti itu hati Kevin cukup nyeri. Ah, mungkin ini perasaan yang selama ini ia pendam. Dia mencintai perempuan ini, tapi rasa bersalahnya yang terlalu besar pada adik dan sahabatnya membuat rasa itu terpendam dalam kubangan kebencian.


Ia tidak bisa berdamai dengan masa lalunya, maka dari itu ia melampiaskan kesalahan itu pada Helen dan juga menyiksa dirinya.


"Maukah kau membesarkan Inara bersamaku?" Tanya Kevin lirih. Helen mengangguk kecil sebagai jawaban, deru air matanya mulai mengalir deras.


Dokter Andhika yang awalnya berniat untuk melakukan pemeriksaan pada Kevin mengurungkan niatnya. Pria itu tersenyum tulus, entah kenapa matanya juga terasa perih saat melihat pemandangan dua pasangan di sana, Keisha bersama suaminya dan Kevin dengan keluarga kecilnya.


"Sepertinya semua telah berdamai dengan masa lalu. Apa kau tenang sekarang putri kecil? Karena kedua orang yang kamu sayang telah menemukan kebahagiaan mereka." Gumam Dokter Andhika pelan mencoba berdialog dengan Siska.


Sementara Heru, pria itu hanya mematung melihat pemandangan tersebut. Hatinya menghangat, ada banyak kebahagiaan yang tidak dapat ia ungkapkan. Melihat kedua putrinya bahagia itu sudah cukup untuknya. "Aku harap kedua putriku tidak akan menderita lagi." Batin Heru dalam benaknya.


Willy hanya tersenyum simpul menyaksikan pertemuan keluarga itu. Berbeda dengan Jemy yang sudah merah matanya dan hidungnya sedikit sembab. "Apa kau butuh sapu tangan? Aku bisa meminjamkannya." Tawar Willy ramah kepada rekan kerjanya.


"Tidak perlu," tutur Jemy meraih dasi Willy untuk mengusap ingusnya. Wily yang baru menyadari ulah rekannya segera melepas dasinya. "Itu menjijikan," imbuh Willy.


Jemy menengadahkan kepalanya dari aksi membersihkan ingus, lalu ia melihat ke arah asisten baru Tuan Sebastian. "Ini aku kembalikan. Kau juga boleh memakainya jika perlu." Willy begidik ngeri melihat bekas ingus Jemy di dasinya. Ia langsung membuang dasi kesayanganya ke tempat sampah.


"Aku masih punya satu kotak lemari dasi seperti ini." Tukas Willy. Jemy mengangguk lalu melihat ke arah Angga.


"Tuan Muda, maafkan saya karena sempat menindas anda." Kata Jemy parau sembari mengusap hidungnya yang memerah. Ia menyesal telah mendidik Angga dengan keras atas perintah Tuan Wilson.


Jangan lupa dukung Sana ya! Biar Sana semangat nulis hehehe..

__ADS_1


Kisah Keisha dan Angga akan indah pada waktunya. Sana mohon pada reader untuk bersabar...🙏🙏


Salam Angga & Keisha ✉


__ADS_2