My Old Wife

My Old Wife
Suatu Keajaiban


__ADS_3

~Ketika Tuhan telah berkehendak, apa pun bisa terjadi~


Satu tahun telah berlalu. Kini sudah genap lima tahun usia pernikahan Angga dan Keisha, mereka telah sepakat untuk menetap di Kanada. Angga menjalankan perusahaan kakeknya, Tuan Wilson. Sementara Keisha mulai membuka toko bunga di daerah taman pusat kota Ottawa.


Untuk Romi dan Lianda, keduanya sekarang telah terikat dengan suatu hubungan. Entah bagaimana tapi dua manusia yang berbeda sifat itu telah resmi bertunangan tiga bulan yang lalu.


Mereka berencana akan melangsungkan upacara pernikahan bulan depan setelah mereka berdua mengumpulkan uang untuk membeli rumah dan menetap di Kanada menemani Tuan Mudanya.


"Angga," tegur Keisha pada suaminya saat tangan pria itu mulai melingkar di perutnya ketika ia masih berdandan di depan cermin. Orang yang ditegur hanya berdehem kecil. Keisha berusaha melepaskan pelukan Angga tapi pria itu justru mengencangkannya.


"Kamu harus segera bersiap-siap, nanti Romi akan kesiangan karena menunggumu hmm," tutur Keisha halus seraya memegang kepala Angga yang bersandar di bahunya. Rambut Angga masih basah belum dikeringkan, ia baru saja selesai mandi.


Romi sekarang telah menjadi asisten Angga dan menjadi tangan kanannya dalam menjalankan bisnis kakeknya.


"Selamat hari jadi pernikahan sayang," bisik Angga di telinga Keisha. Angga mencium pipi Keisha lalu menyandarkan dagunya kembali di bahu perempuan itu.


"Selamat hari jadi pernikahan juga untukmu." Keisha mengusap rambut Angga acak lalu mencium pipi suaminya. Angga tersenyum senang, ia perlahan-lahan melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang.


"Jadi malam ini kita akan merayakannya?" Tanya Angga antusias, senyumnya mengembang lebar. "Ya, apa pun maumu sayang," kata Keisha halus seraya mengambil handuk kecil di almari untuk mengeringkan rambut Angga.


Pria itu tertawa kecil saat tangan ramping istrinya memijat kepalanya dan membasuh sisa air yang menetes di wajahnya.


"Kau tahu sayang?," tanya Angga seraya melihat mata Keisha. "Kau semakin cantik akhir-akhir ini," goda Angga lagi. Tangannya mulai nakal bermain di pinggang Keisha.


"Hmm," jawab Keisha seadanya, ia masih setia mengeringkan rambut Angga lalu mengambil kemeja yang sudah ia siapkan tadi di kasur.


"Kamu juga semakin manis," puji Angga lagi. Sekarang sifat nakalnya mulai keluar, ia mulai berdiri dan mendekatkan wajahnya ke arah Keisha. Angga menarik pinggang Keisha lalu menghembuskan napas tepat di depan wajah istrinya.


"Aku jadi ingin men___" sebelum Angga menyelesaikan kalimatnya, Keisha sudah menarik hidung Angga hingga pria itu memekik kesakitan. "Sakit Nyonya!" Keisha tertawa kecil saat Angga menjauhkan wajahnya dan memegang hidungnya yang memerah.


"Segera pakai bajumu, aku akan menyiapkan makanan untuk kita sarapan." Kata Keisha halus seraya membuka kenop pintu keluar dari kamarnya. Perempuan itu terkekeh kecil saat melihat aksi suaminya gagal. Ya, Angga memang selalu bersikap seperti itu ketika dia berencana untuk libur bekerja.


Di laintai bawah Keisha sudah melihat Romi dan Lianda di meja makan, mereka berdua sedang menata piring dan sendok. Keduanya sekarang tampak akur. "Pagi Nona," sapa Lianda terlebih dahulu. Keisha tersenyum tulus ke arah Lianda.

__ADS_1


"Apa Tuan Muda sudah bersiap Nona?" Tanya Romi mengingat sifat Angga yang sekarang mulai malas berangkat ke kantor, mungkin karena pekerjaan mereka semakin menumpuk hingga terkadang membuat Tuan Mudanya harus menginap beberapa hari di sana.


Sebelum Keisha menjawab, Angga sudah menyela ucapannya. "Aku sudah siap." Angga terlihat menuruni anak tangga sembari memakai jas dan membenarkan kancing kerah kemejanya. Keisha segera membantu Angga dan memasangkan dasinya. "Terimakasih sayang," kata Angga seraya tersenyum manis.


"Pagi Tuan Angga," sapa Lianda. Angga pun tersenyum ke arah Lianda kemudian berjalan bersama Keisha menuju meja makan. Keisha segera mengambilkan nasi dan lauk di piring Angga.


"Tuan Muda kenapa dengan hidung anda?" Tanya Romi penasaran karena melihat warna merah yang cukup jelas di hidung Angga. Pria itu tersenyum, "istriku menggigitnya."


Lianda langsung menyemburkan minumannya setelah mendengar ucapan Angga. Ah sungguh pikiran wanita ini terlalu kemana-mana berbeda dengan Romi yang hanya berpikir sejenak bagaimana cara istri Tuan Muda melakukannya.


"Nona Keisha, bagaimana bisa anda menggigit hidung Tuan Muda?" Keisha hanya acuh tak menanggapi pertanyaan Romi karena apa yang dikatakan Angga tidak benar adanya.


"Kau ingin tahu Romi?" Tawar Angga tersenyum nakal. Romi mengangguk sekilas, Angga semakin melebarkan senyumnya. Tangannya dengan cepat menarik Keisha hingga membuat perempuan itu tersentak kaget saat Angga menyapukan bibirnya di hidung Keisha lalu turun ke bibirnya. "Seperti ini," kata Angga bangga seraya mengusap bibir istrinya.


"Anda tidak tahu malu, Tuan Muda," seru Romi kesal seraya menutupi mata Lianda. "Romi biarkan aku melihatnya," ketus Lianda tidak terima karena tangan Romi menghalangi pandangannya.


"Ini tidak baik untukmu," imbuh Romi lagi. Lianda langsung menggigit jari manis Romi yang ada di depan wajahnya hingga membuat tunangannya memekik kesakitan.


"Akan aku tunjukkan." Angga sudah mendekatkan wajah Keisha mencoba mengulang kejadian tadi. Tapi Keisha segera menjewer telinga Angga sebelum suaminya itu melakukan aksi jahilnya. "Aw.. sakit sayang!" Pekik Angga mengaduh kesakitan.


"Jangan dengarkan dia Lian, aku hanya mencubit hidungnya." Tutur Keisha seraya memasukkan sesuap nasi kemulut Angga agar pria itu tidak mengatakan hal yang tidak-tidak.


Angga mengusap telinganya yang sedikit berkedut panas. Sementara Romi tertawa puas sembari meniup jari manisnya yang terasa perih karena gigitan calon istrinya.


Acara makan pagi itu berjalan harmonis dihiasi dengan beberapa perdebatan kecil antara Angga dan Romi. Setelah selesai makan pagi, mereka berempat berangkat bekerja sesuai dengan aktivitasnya masing-masing.


Romi mengantar Lianda ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor, sama halnya dengan Angga yang juga mengantar Keisha ke toko bunganya.


"Nanti sore aku akan menjemputmu sayang," ucap Angga seraya membuka daun pintu mobil. Keisha mengangguk mengerti. Angga tersenyum lebar, lalu mencium kening perempuan pujaanya. "Hati-hati di jalan," tutur Keisha saat pria itu memasuki mobil dan mulai menyalakan mesin beroda empat tersebut.


"Elly jaga istriku dengan baik!" Titip Angga pada pegawai wanita yang usianya lebih muda darinya. Perempuan itu memiliki darah campuran Inggris dan Rusia. Dia sudah bekerja dengan Keisha selama lima bulan lamanya. "Pasti Tuan." Elly tersenyum lebar seraya mengangguk paham.


Angga melajukan mobilnya membelah jalan raya, menuju ke kantornya. Sesaat setelah kepergian Angga, Keisha segera memasuki toko bunganya bersiap membuka toko untuk menyiapkan beberapa pesanan bunga kemarin yang belum sempat ia rangkai.

__ADS_1


"Pagi Bibi," sapa anak kecil memakai topi bludru dengan syal di lehernya. Di tangannya sudah ada sebuah keranjang anyaman rotan yang telah dihias kain merah. "Pagi Peter," ucap Keisha sembari menaruh beberapa tangkai bunga pesanan Nyonya Moly pelanggan setianya.


"Hari ini kita akan pergi ke rumah Nyonya Moly." Keisha menata rapi beberapa tangkai bunga Lili, Dahlia, Mawar, dan Peony di keranjang Peter.


Bunga tersebut merupakan jenis tanaman Perennial yaitu tanaman yang tumbuh lama bahkan sampai musim dingin seperti sekarang. "Bibi akan menemaniku mengantarnya?" Tanya Peter sembari membersihkan sisa salju di jaketnya.


Keisha tersenyum tulus seraya mengusap kepala Peter. "Ayo berangkat," ajak Keisha meraih tangan Peter dan menggenggamnya.


Keisha menitipkan toko pada Elly sementara dirinya mengantarkan pesanan bunga bersama Peter. Anak itu sekarang bekerja sambilan di toko Keisha 'Anggasa Florist', selain menjadi pianis jalanan di sore hari.


Mereka pergi jalan kaki ke rumah Nyonya Moly yang terletak cukup dekat dengan toko bunganya. Sesampainya di sana, Nyonya Moly wanita paruh baya yang usianya sudah berkepala enam itu segera menyambut kedatangan Keisha dan Peter.


Mereka dipersilahkan masuk untuk sekedar minum teh. Harum Lavender menyengat tercium dihidung Keisha saat memasuki rumah itu.


"Bibi tidak apa-apa?" Tanya Peter khawatir karena melihat kondisi Keisha cukup pucat. "Bibi tidak apa Peter, Bibi hanya sedikit kelelahan." Keisha mengusap kepala Peter. Entah kenapa kepalanya sedikit terasa pusing saat mencium harum ruang tamu Nyonya Moly.


Wanita paruh baya itu menyuguhkan beberapa roti beras kukus yang masih hangat. "Makanlah Nona, maaf aku telah merepotkan Nona Keisha untuk mengantar bunganya." Nyonya Moly menyeduhkan teh untuk Keisha. Tapi Keisha tidak segera menerimanya karena pusing kepalanya semakin berdenyut.


"Bibi benar-benar tidak apa-apa?" Peter semakin khawatir melihat keadaan Keisha.


"Anda terlihat tidak baik-baik saja Nona Keisha. Tunggu sebentar, saya akan mengambil alat kesehatan saya." Nyonya Moly dulu adalah seorang dokter kandungan di rumah sakit pusat.


"Tidak perlu repot Nyonya, saya baik-baik saja." Tolak Keisha halus tapi Nyonya Moly sudah terlanjur membawa alat kesehatanya dan sudah mulai melakukan pemeriksaan pada perempuan itu. "Seharusnya anda tidak terlalu memforsir tenaga anda Nona, terlebih saat anda sedang mengandung." Penjelasan Nyonya Moly seperti sebuah petir bagi hati Keisha.


Keisha menutup mulutnya agar tidak menjerit. Ia sungguh tidak menyangka, sesuatu yang hanya mimpi untuknya sekarang menjadi kenyataan.


"Apakah yang anda ucapkan itu benar Nyonya?" Tanya Keisha dengan nada bergetar. Nyonya Moly mengangguk sebagai jawaban. "Anda bisa memeriksanya ke rumah sakit untuk memastikannya lagi," tutur Nyonya Moly seraya tersenyum ramah.


Air mata mengalir begitu saja di pelupuk mata Keisha, Tuhan begitu baik padanya hari ini sehingga ia memberikan hal yang sangat ia harapkan bersama suaminya.


Jangan lupa dukung Sana dengan berikan Like + Vote + Komen sebanyak-banyaknya (:


Salam Angga & Keisha✉

__ADS_1


__ADS_2