My Old Wife

My Old Wife
Sesion 2 – Part 10 Kunjungan ke Kantor


__ADS_3

^^^~Cinta sepasang kekasih bukan persoalan cantik atau tampan, melainkan tentang kesetiaan~^^^


As-Sana


***


Romi memasuki ruangan, ia langsung menyerahkan beberapa berkas penting di meja Angga. Hari ini sekertaris mereka Merry izin tidak masuk bekerja karena sakit, sehingga hampir semua tugas Romi yang menanganinya.


“Tuan Muda, ada beberapa orang yang melamar menjadi rekan kerja kita.”


Tumpukan file proposal tawaran kerjasama memenuhi meja Angga. “Lalu?” lelaki berparas rupawan itu mengangkat kepala, mendongak menatap Romi penuh tanda tanya. “Ada beberapa desainer yang menawarkan produknya untuk kita lihat,” terangnya menambahkan.


Akhir-akhir ini Angga sedang memperluas bisnisnya bukan hanya soal makanan, minuman, maupun perhiasan. Namun, dia diminta Sebastian untuk mencoba merintis industri tekstil mengingat latar belakang Angga yang dulu terbiasa dengan dunia fashion.


Angga mengambil file-file tersebut, membaca sekilas bionarasi di sana tentang karir, harga pokok, apa yang ditawarkan? Dan jenis desain pakaian seperti apa yang mereka milik? Dalam kumpulan proposal tersebut ia menangkap nama yang cukup tak asing di kepalanya.


“Dia salah satu desainer terbaik di bidang fashion tahun kemarin, pakaiannya telah banyak dipakai bintang model beberapa bulan ini.” Romi sekilas menjelaskan keterangan yang sempat ia baca sebelum diberikan pada tuan mudanya. “Kau yakin dia bisa memberikan desain yang kita inginkan?” tanya Angga menimpali. Sejenak, Angga membaca nama “Ella Jinsky” di sana. Desainer yang tampak tak asing baginya.


Romi terdiam beberapa saat, sebelum kembali menjawab, “Kita akan tahu saat mewawancarai mereka siang nanti.” Angga mengangguk mengerti ia menyerahkan berkas-berkas itu lagi kepada Romi, pria itu merenggangkan ototnya sejenak. Menyandarkan punggung pada badan kursi.

__ADS_1


“Siang ini aku akan makan bersama istriku, kau yang atasi mereka." Senyum Angga terbit mengingat video call yang ia lakukan bersama Hasa dua puluh menit yang lalu.


“Nona Keisha akan datang kemari?” Angga mengangguk antusias sebagai jawaban. “Itu berarti saya harus mewawancarai mereka sendiri?” lagi-lagi tuan mudanya menganggukkan kepala mengiyakan.


Melihat mimik muka Romi yang tampak pucat seketika membuat Angga memangku tangan mengerling nakal. “Apa kau takut Romi? Katakan padaku, apa kau takut karena akan banyak dikepung wanita?” sudut bibir Angga ditarik ke samping, ia tahu satu hal rahasia Romi sekarang kalau Lianda dokter pribadinya dulu sampai sekarang sangat pencemburu pada suaminya. Sejak kelahiran Bernard putra mereka, Lianda bertambah over protective pada Romi.


“Ah, … seandainya Nyonya Keisha seperti itu aku pasti akan sangat senang.” Goda Angga membayangkan apabila Keishanya cemburu. Namun sayang, sampai sekarang wanita pujaannya itu tak pernah menunjukkan tanda-tanda tersebut.


“Suatu saat, pasti ada waktunya Tuan Muda akan mengerti bagaimana rasanya,” tutur Romi tampak kesal. Ia sudah hapal sekali tabiat Angga yang terbiasa senang di atas penderitannya. Lihat? belum juga Romi selesai memikirkannya tuan mudanya itu sudah tertawa menyaksikan kesulitan yang ia hadapi.


“Benar-benar tak berempati,” gumam Romi yang berhasil membuat Angga menghentikan tawanya. “Siapa? Aku?” jari Angga menunjuk wajahnya lalu menutup mulutnya tak kuasa melihat bagaimana kesalnya Romi sekarang.


“Aku tahu Romi, kau tak perlu malu.”


Tawa Angga langsung lepas saat Romi berlalu pergi dengan muka merah seperti tomat. Astaga, lelaki itu pasti malu sekarang karena tanpa sadar Angga mengungkap rahasia yang sebenarnya sangat Romi tutupi.


Setelah kepergian Romi, telepon kantor Angga berbunyi. Rupanya panggilan tersebut berasal dari penjaga resepsionis di depan yang mengabarkan kalau Hasa kecilnya telah tiba bersama sang istri.


“Ayah!”

__ADS_1


“Halo sayang, kau sudah datang bersama Ibu hm…?”


Tawa Hasa terdengar, sepertinya anak itu sedang berebut telepon dengan Keisha. “Ayah, aku dan Hasa akan menunggu di depan.” Mendengar suara Keisha yang terdengar lembut nan merdu senyum Angga segera terbit. “Aku akan segera sampai di sana sayang,” jawab Angga semangat.


Dengan cepat panggilan dimatikan, Angga bergegas keluar dari ruangan menuju lift di depan. Karena terlalu senang akan bertemu dengan anak dan istrinya Angga sampai tak menyadari kalau ada perempuan dengan rok span biru berpakaian renda menabraknya. Semua berkas yang dipegang perempuan tersebut jatuh berserakan di lantai menyentuh kaki Angga.


“Maaf Nona,” dengan sopan Angga berjongkok mulai memunguti semua file yang bertebaran di sekitarnya. “Tidak apa Tuan Angga.” Wanita itu tersenyum manis mencoba mencuri perhatian lelaki tampan di hadapannya. Namun, ternyata usahanya sia-sia. Pria itu tak melirik sedikitpun ke arahnya. “Kalau begitu saya izin pamit,” bahkan sekarang Angga melaluinya bagai barang tak menarik meski ia sudah menunjukkan pesonanya.


‘Dia bahkan tak melihatmu Ella, usaha yang bagus!’ batinnya kesal.


.


.


.


.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2