
^^^~Terkadang apa yang kita khawatirkan akan menjadi kenyataan~^^^
As-Sana
***
Mobil taksi yang ditumpangi Julian saat ini masih berputar di balai kota, perjalanan dari bandara ke tempat penginapannya cukup menyita banyak waktu.
"Maaf Tuan, sedang terjadi kecelakaan di depan." Sopir taksi tiba-tiba mengerem mendadak membuat tubuh Julian sedikit tersentak ke dapan. Julian mengangguk mengerti, dia memegang lukisan Keisha dengan hati-hati. Hampir saja kanvas yang memuat wajah kekasihnya itu terjatuh dari kursi penumpang.
Perlahan, ekor mata Julian menyisir setiap tempat di sana. Dalam sekali pandang ia bisa menangkap sebuah bangunan kecil yang menjual berbagai macam bunga yang indah.
"Kita putar arah saja ke toko bunga itu. Saya ingin membeli sesuatu."
Tanpa menunggu lebih lama, sopir taksi langsung memutar kemudinya ke jalur yang mengarah pada toko bunga "Anggasa Florist". Tidak butuh waktu lama, mobil taksi pun berhenti. Julian segera turun meninggalkan lukisannya tetap di dalam mobil. Ia berpesan pada sang sopir untuk menunggunya sebentar saja.
Di depan toko, Julian dapat mencium berbagai aroma wewangian dari berbagai macam jenis bunga. Melihat itu ia jadi mengingat Keishanya. Kaki Julian segera memasuki toko, tangannya membunyikan lonceng kedatangan di samping pintu masuk.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu."
Eli langsung menyambut ramah pelanggan pertamanya. Toko baru saja dibuka, jadi belum ada banyak pembeli yang datang. "Berikan saya satu tangkai Mawar Kuning." Julian mengedarkan pandangannya ke segala sisi ruangan. Ia bisa merasakan desain asing yang berbeda dari tempat minimalis tersebut.
Menyadari ada sesuatu yang sedang di perhatikan oleh pelanggannya Eli membuka suara, "Pemilik toko bunga ini juga suka bunga Mawar kuning. Oleh karena itu, kami juga menghias sudut ruangan ini dengan bunga itu." Eli memilihkan tangkai bunga yang segar baru saja dipetik dari taman belakang.
"Tuan tidak perlu membayarnya, bisanya Nona Keisha juga suka memberikan bunga secara gratis jika masih pagi."
Netral biru kehijauan milik Julian berkilat, ia mendengar nama yang tidak asing. "Keisha?" tanyanya. "Apa Tuan mengenal Nona Keisha?" Eli justru bertanya balik. Pandangan perempuan itu mencoba menerawang manik batu rubi milik Julian.
__ADS_1
'Keisha ku tidak mungkin di sini'
Karena tak kunjung mendapatkan respon dari pria asing yang berdiri di depannya, Eli mengguncang bahunya. "Tuan? Anda tidak apa-apa?" Julian tersentak kaget. Lelaki itu mengangguk mengiyakan. "Tunggu Tuan, kami memberikan bunganya gratis, jadi Anda tidak perlu membayarnya." Eli buru-buru mengembalikan uang yang diberikan Julian. Namun, pria itu tetap memaksa Eli untuk menerimanya.
"Saya membayar bunga ini bukan karena pemilik toko menjualnya, tapi karena bunga ini adalah bunga yang disukai kekasih saya," tutur Julian mengambil tangkai Mawar tersebut lalu menyelipkannya pada saku kemeja yang ia kenakan.
Eli tak bisa berbuat apa-apa, jadi ia terpaksa mengambil uang itu memasukkannya ke dalam laci di kolong meja kasir. "Terima kasih," ujar Eli terakhir kali menatap punggung Julian yang mulai menjauh menghilang di balik pintu keluar.
"Pria aneh. Tapi? Kekasihnya juga menyukai bunga yang sama seperti Nona Keisha. Apa mungkin? Tidak-tidak, mana mungkin itu terjadi. Nona Keisha cuma mencintai Tuan Angga, bukan pria lain."
***
Setelah kepergian Julian beberapa saat dari Anggasa Florist, sekarang ganti Eliot yang memasuki toko. Pelayan di resto sebelah itu menitipkan uang kembalian untuk Angga kepada Eli. "Kalau Tuan Angga sudah memberinya, kamu tidak perlu mengembalikannya." Sebisa mungkin Eli menolak beberapa dolar yang saat ini diletakkan di meja kasir.
Namun, lelaki yang menaruhnya di sana tetap bersikukuh ingin agar Eli memberikan itu kepada suami Nona Keisha.
Eliot justru membungkuk begitu lama tak mau menegakkan badan sebelum Eli mengiyakannya.
Dengan pasrah Eli mengambil uang kertas itu memasukkannya di laci yang berbeda. "Aku akan memberikannya. Tapi kalau Tuan Angga tidak mau menerimanya, aku akan mengembalikan ini padamu lagi."
Mendengar jawaban dari pegawai toko bunga itu Eliot tersenyum lebar, mengangkat kepala lalu berterima kasih.
Dalam hati Eli berpikir, kenapa semua orang hari ini ingin mengembalikan uang yang biasa diberikan Tuan Angga atau Nona Keisha? Padahal kedua majikannya itu memberikannya secara ikhlas tanpa niat tertentu.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Eliot pun langsung menuju ke restoran Paman Gio bersiap melakukan tanggung jawabnya sebagai pegawai yang teladan.
Tidak berselang lama, seusai kedatangan dua pria aneh yang dilayani Eli. Keisha tiba di toko bunga bersama dengan Jemy. Perempuan itu menyapa Eli dengan sopan lalu membawa Hasa ke dalam untuk memulai pekerjaannya.
__ADS_1
Sementara Jemy menghampiri Eli menanyakan siapa yang datang ke toko bunga ini sebelum ia dan Nona Keishanya sampai di sana.
"Dua pria asing, aku tidak tahu. Tapi mereka berdua aneh," komentar Eli pada Jemy yang mulai mengambil alat penyiram tanaman.
"Aneh bagaimana?" Jemy menyahut singkat masih sibuk menuangkan air. "Entahlah, tapi mereka menolak menerima kebaikan Tuan Angga dan Nona Keisha. Oh ya Jemy, apa nama Nona Keisha pasaran di Ottawa?"
Lelaki berkemeja hijau toska itu berhenti menyiram tanaman menoleh pada Eli, pegawai toko yang sudah seperti sahabatnya sendiri.
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa, cuma tadi pelanggan pertama yang datang seperti mengenal Nona Keisha saat aku menyebut namanya."
"Ada apa Eli? Apa ada orang yang mencariku?" kini Keisha ikut bergabung dengan obrolan mereka. Dia bersama putranya membawa dua pot kecil yang akan di taruh di teras depan.
Eli yang tiba-tiba mendengar lontaran pertanyaan dari pemilik toko bunga yang sedang ia bicarakan terlonjak kaget, ia bergegas menggelengkan kepala. "Tidak ada Nona Keisha," jawabnya ramah.
Keisha cuma tersenyum tipis berlalu pergi membawa Hasa. "Ibu, bunganya mekal," ucap si kecil tertawa menyentuh pucuk-pucuk daun Peony yang indah kehijauan.
Keisha yang mengetahui putranya bahagia pun senang, ia mengambil alih pot kecil di tangan Hasa menaruhnya di tanah. "Nanti siang kita ke kantor Ayah untuk makan bersama, apa Hasa mau?" Bocah yang ditanya mengangguk antusias, matanya berbinar-binar setiap kali mendengar ayahnya disebut oleh sang ibu.
Eli yang melihat interaksi Keisha dan Hasa di depan teras tak berani mengganggu. Ia berpikir mungkin lebih baik tidak memberitahukan tentang pelanggannya tadi pagi kepada Keisha. Cukup dirinya saja yang tahu soal mereka.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung