
^^^~Tidak ada hal yang paling dirindukan sang suami selain istri dan anaknya~^^^
As-Sana
***
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit bagi Angga untuk tiba di lantai bawah. Ia bisa menangkap bayangan Keisha beserta Hasa sedang menunggu di ruangan khusus samping lobi. Melihat penampilan istrinya yang anggun memakai pakaian serba putih bersih dengan syal melilit di leher Angga jadi mengingat momennya saat Keisha masih belum mengandung putra mereka.
Ketika hendak memasuki ruangan, tiba-tiba Angga mempunyai ide gila. Lelaki itu memanggil penjaga resepsionis untuk memanggil Hasa kemari meninggalkan Keisha sendirian.
“Nona Keisha, Tuan Angga ada meeting sebentar. Saya di sini diminta Tuan Angga untuk membawa Tuan Kecil jalan-jalan agar tidak bosan.”
Keisha yang memangku Hasa membiarkan putranya turun mengikuti nona penjaga resepsionis. Ia tahu Hasa adalah anak yang mudah bosan kalau hanya berdiam diri saja. “Jika Hasa merepotkanmu, kamu bisa mengembalikannya padaku.” Keisha tersenyum lembut membuat lelaki yang mengintip dari balik pintu tersenyum lebar.
“Baik Nona, Tuan Angga juga berpesan Nona lebih baik menunggu di ruangan Tuan Angga saja di atas.” Keisha mengangguk beranjak berdiri, Angga yang melihat putra bersama istrinya mulai berjalan ke arah pintu ke luar buru-buru pergi dari sana.
“Dada Ibu!” Hasa melambaikan tangan mengikuti ke mana wanita muda mulai membawanya berkeliling.
Setelah melihat si kecil pergi Keisha menuju ke lift. Baru saja perempuan itu menekan tombol lift sebuah tangan tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya memaksanya masuk ke dalam lift saat pintu terbuka. “Tolong lepaskan!” nada suara Keisha mengeras memberontak.
Namun, mulutnya dibungkam rapat langsung dihimpit ke dinding sampai tak bisa bergerak. Netra sehitam arang milik Keisha membola saat mengetahui siapa lelaki yang melakukan ini padanya. “Angga?” jari telunjuk suaminya itu langsung menyentuh bibirnya.
__ADS_1
“Ini aku sayang.”
“Bagaimana bisa kau?”
“Hust…jangan banyak bicara. Nanti yang lain bisa mendengarnya.”
Angga semakin mendekatkan tubuhnya, pria itu melepas syal yang menggantung di leher Keisha. Perlahan wajahnya menghirup aroma parfum Keisha yang wangi memabukkan. “Kau tidak perlu cemas, aku sudah menyuruh Romi untuk mematikan CCTV di sini,” ekor mata Angga melirik alat kecil berlensa merah di sudut atas lift. Keisha tak mampu berkata-kata, suaminya telah mempersiapkan semuanya.
“Jadi? … kau juga yang meminta nona penjaga resepsionis mengambil Hasa dariku?” Angga terkekeh menjauhkan tubuhnya. Ia tahu istrinya sangat pintar, tanpa lelaki itu memberitahukannya Keisah sudah mengetahuinya semuanya.
Sejengkal demi sejengkal Angga memajukan tubuhnya lagi, mulai membuka kancing baju Keisha perlahan. “Hanya lima menit,” Keisha mengangkat alisnya meminta agar Angga menerima waktu yang ia berikan untuk lelaki itu memuaskan dahaganya.
“Tidak sayang, lima belas menit. Baru kita akan makan siang setelah itu,” goda Angga mengangkat dagu sang istri mengedipkan mata. Sungguh mode nakalnya mulai menyala sekarang. Tak bisa menolak, pada akhirnya Keisha membiarkan Angga mulai mencium dirinya sepuas yang ia inginkan.
“Kenapa kau menertawakanku Nyonya?” tanyanya berbisik halus menelusupkan tangan di punggung wanita itu. “Itu karena kau sangat lucu Angga.” Spontan lelaki yang dibilang lucu itu menarik kembali tangannya memasang wajah penuh tanda tanya. “Maksudnya?” manik hitam Angga menatap intens. Keisha mendekatkan kepalanya di dada Angga, ia mulai mendengar detak jantung pria tampan tersebut.
Angga yang menyadari tindakan Keisha hendak menghindar, akan tetapi perempuan itu telah menahannya. “Di sini aku bisa tahu betapa suamiku mencintaiku,” ujar Keisha tertawa kecil. Setelah puas menempelkan kepalanya di tempat jantung Angga berada, jari jemari Keisha beralih menyentuh daun telinga suaminya yang memerah.
“Lalu, di sini aku tahu. Kalau suamiku ini begitu malu berada di dekatku.” Angga mulai salah tingkah mendengarnya, pria itu memalingkan muka menahan desiran aneh yang kian bergemuruh. Lagi-lagi, istrinya mampu membuat Angga mati kutu.
“Aku tidak begitu,” bela Angga penuh rona merah di pipi.
__ADS_1
“Angga.” Lelaki yang dipanggil enggan menoleh masih setia membuang muka ke samping.
“Lihatlah kemari, hmm,” bujuk Keisha lebih lanjut.
Deg. Lelaki itu terlonjak kaget saat Keisha berjinjit menempelkan bibirnya tepat di pipi. “Tapi aku menyukaimu yang seperti itu, Anggaku yang pemalu dan penuh kasih sayang.” Desiran aneh mulai timbul di dada Angga, detakkannya mampu mengguncang fungsi jantungnya.
“Bagaimana bisa Nyonya bersikap manis seperti ini? Aku jadi tidak bisa melepaskan Nyonya sekarang,” gerutunya memeluk Keisha erat-erat tak mau melepaskan. Tangan Keisha menyentuh pucuk kepala Angga, mengusapnya lembut sembari berbisik, “Maka selesaikan sekarang. Sebelum Hasa kembali.”
Dalam hitungan detik Angga mencium bibir Keisha dalam, menyesap kemanisan di sana. Tangannya mulai meraba pinggang sampai naik ke tulang belikat. Ia ingin meminum anggur manis dari wanita itu saat ini juga, perlahan tapi pasti setiap inchi dari tubuh Keisha ia nikmati seperti memakan cokelat kesukaan Hasa, sangat manis. Bahkan lebih manis dari madu yang baru diambil dari sarang lebah.
“Aku mencintaimu Nyonya,” bisiknya setiap kali selesai membuat ruam di kulit putih bersih sang istri.
“Aku juga,” balas Keisha halus mulai merasakan kehangatan dari sentuhan lelaki yang telah menjadi ayah bagi putranya.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung
Terima kasih atas segala dukungannya.