
~Saat engkau tidak tahu harus kemana, maka aku ada di sini sebagai rumahmu~
Malam harinya Angga telah tiba di Indonesia bersama dengan Lianda dan Romi, mereka bertiga segera menuju ke kediaman Heru Prawijaya. Kedatangan mereka ke sana tentu untuk menyampaikan bahwa Sebastian telah memberikan restu, sehingga Angga dan Keisha dapat segera menyiapkan pernikahan mereka.
Saat Keisha melihat mobil yang memasuki pekarangan rumah mereka, perempuan itu langsung membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan saat dirinya melihat sosok pemuda yang memenuhi pikirannya seharian ini, Keisha langsung menyambutnya dengan senang hati. Keisha membuka pintunya lebar-lebar agar Angga dan dua orang temannya dapat masuk ke dalam rumah.
Heru, Hanum, dan Kevin tidak kalah terkejutnya melihat kepulangan Angga, mereka berharap kepulangan mereka membawa kabar baik.
"Bagaimana? Apa Ayahmu merestuimu?" Heru meletakkan majalah yang dibawanya, pria itu merangkul pundak Angga dan membawanya duduk di sofa.
"Iya, Ayah mertua. Ayahku telah memberikan restu untukku," kata Angga dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Tuan Sebastian, telah menerima Nona Keisha sebagai menantunya. Kami di sini diutus oleh Tuan Sebastian untuk mengurus segala keperluan Tuan Angga dan Nona Keisha," kata Romi menyambung perkataan Angga.
"Dia Romi pengawal Ayahku, dan disampingnya Dokter Lianda. Mereka berdua adalah orang kepercayaan Ayahku." Jelas Angga pada semua orang.
"Kalau begitu, aku akan segera mengurus perlengkapan pernikahan kalian. Kevin, bisa kau telpon Nina untuk menyewa gedung pernikahan," pinta Heru pada menantunya yang juga duduk di sana dan sedang meminum kopi.
"Tentu, Ayah mertua." Kevin beranjak pergi daru duduknya dan memulai panggilan telepon.
Hanum menyuguhkan tiga cangkir teh hangat dan beberapa piring kue kering untuk tamunya. Perempuan itu langsung membuatkan minuman tatkala melihat mobil Angga memasuki pekarangan tadi.
"Biar Ibu yang mengurus undangannya, nanti kalian hanya perlu memberikan daftar orang yang kalian ingin undang," tutur Hanum ikut berbicara. Perempuan itu mendudukkan dirinya di samping suaminya.
"Tidak perlu Ibu, aku mungkin hanya akan mengundang beberapa teman dekatku saja, biar nanti aku undang mereka secara langsung," kata Angga sembari tersenyum ramah pada Hanum.
"Tidak bisa Nak, menantu Ibu harus memilih gaun pengantin dan melakukan foto prewedding, biar Ibu yang mengurus keperluan lainnya," perempuan itu tersenyum ramah ke arah Angga seraya menggenggam tangan suaminya.
Angga tidak bisa membantah lagi, jadi pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
"Tuan dan Nyonya, sebenarnya Tuan Sebastian telah menyiapkan semuanya. Jadi kalian tidak perlu repot-repot untuk mengurus keperluan pernikahan Tuan Muda kami. Sebelum kami pulang tadi, Tuan Sebastian telah memerintahkan para staffnya. Jadi serahkan semuanya pada kami," kata Romi sopan.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatan Romi, bahkan Tuan Angga dapat melangsungkan pernikahannya besok lusa," sambung Lianda.
Semua orang di sana tercengang tidak terkecuali Heru, pria paruh baya itu sungguh tidak menyangka kalau putrinya akan menikah dengan seorang pangeran. Dia bahkan tidak sempat melakukan apa pun untuk pernikahan putrinya.
"Ayah, aku sudah memberitahu Nina dan Nona Anggie juga. Mereka bilang mereka akan segera menyiapkannya. Nina akan menghubungi pemilik hotel malam ini, dan Nona Anggie akan menghubungi para reporter untuk meliput acara itu," ucap Kevin.
Pria itu berjalan mendekati Heru, dan hendak duduk di kursinya, tapi aksinya terhenti saat Ayah mertuanya memberikan perintah untuk membatalkan semuanya karena Tuan Sebastian, Ayahnya Angga telah mengurus semuanya.
"Kevin, kamu hubungi saja para kolega bisnis kita dan rekan-rekan yang lain, bahwa kita akan melangsungkan pernikahan putriku Keisha lusa depan," tutur Heru. Mata pria itu beralih memandang istrinya Hanum, dia pun memerintahkan hal yang sama. Agar istrinya menghubungi para keluarga besar untuk datang ke acara pernikahan Keisha dan Angga.
"Tuan Heru, Nona Keisha dan Tuan Muda besok dapat melangsungkan foto prewedding dan pemilihan gaun pengantin di toko butik kepercayaan kami," ucap Romi lagi membuka suara.
Heru menggeleng pelan, kalau untuk yang satu ini dia tidak bisa mengizinkannya. Jika perlengkapan gedung dan lainnya telah disiapkan besannya tentu setidaknya dia harus menyiapkan untuk baju pengantin. Kalau mereka juga yang melakukannya, maka Heru berarti tidak berkontribusi apa pun dalam pernikahan putrinya.
"Tuan Romi, untuk yang satu ini. Biarkan keluarga kami yang mengurusnya. Tuan Sebastian telah melakukan banyak hal, kami pun juga ingin ikut andil dalam pernikahan putri kami," Heru memandang Romi dengan serius, pria itu mencoba untuk berbicara hati-hati agar Romi tidak sakit hati.
"Baiklah Tuan, saya akan menyampaikannya nanti dengan Tuan Sebastian," Romi menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Dan aku akan membantu Kakak untuk memilihkan tema yang tepat untuk foto prewedding mereka," timpal Helen seraya tersenyum cerah. Dia merasa senang karena akhirnya Kakaknya akan segera menikah.
Saat semuanya sibuk membicarakan persiapan pernikahan Angga dan Keisha, dua orang itu justru bersikap biasa saja. Mereka sibuk memandang satu sama lain.
"Nyonya, saya telah kembali dan menepati janji saya," batin Angga dalam hati.
Setelah acara diskusi untuk persiapan pernikahan Angga dan Keisha selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 tepat. Angga dan dua orang kepercayaan Ayahnya pergi berpamitan untuk pulang, mereka akan menjemput Keisha besok pagi untuk melakukan rencana yang telah disepakati tadi. Untuk sementara Romi dan Lianda akan menginap di hotel dekat dengan letak apartemen Angga, karena tidak mungkin mereka akan bermalam di tempat Angga karena luas apartemennya yang kecil.
Keesokan harinya, Angga datang ke kediaman Heru Prawijaya untuk menjemput calon istrinya, Ibu mertuanya, dan Helen untuk memilih baju pengantin, mereka juga akan melangsungkan foto prewedding. Karena besok adalah hari dilangsungkannya pernikahan Angga dan Keisha. Hari ini Angga sengaja tidak ditemani oleh Romi dan Lianda, karena mereka dan Heru serta Nona Anggie sedang mempersiapkan acara untuk besok.
"Selamat pagi Ibu mertua, Nyonya Keisha, dan Adik Ipar," sapa Angga ramah. Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk ketiga perempuan itu, mereka akan melangsungkan perjalanan ke butik pilihan Hanum.
"Pagi Kakak Ipar, apa kita bisa pergi sekarang?" Tanya Helen antusias.
__ADS_1
Angga mengangguk dan membiarkan ketiga perempuan itu untuk duduk di mobilnya.
"Kakak, duduklah di depan bersama calon suamimu, biar aku dan Ibu yang duduk di belakang," ujar Helen mencegah Keisha saat hendak ikut bergabung bersama Ibu dan dirinya duduk di kursi belakang.
"Hahaha.. Kemari Nyonya, saya sudah menyiapkan tempat yang khusus untuk Nyonya," Angga menarik tangan Keisha dan membuat perempuan itu duduk di samping kursi kemudi. Dia juga membantu Keisha memasangkan sabuk pengaman, Keisha merasa malu saat dirinya diperlakukan demikian oleh Angga di depan Ibu dan adiknya. Selama perjalanan perempuan itu tidak berani menatap wajah Angga. Dia fokus memandang ke depan.
"Nyonya terlihat gugup," batin Angga.
Pemuda itu berusaha mencuri-curi pandang ke arah Keisha sambil mengemudikan mobilnya. Angga merasa bahwa hari ini Keisha berbeda, dia tidak memakai pakaian formal kantor seperti biasanya, perempuan itu mengenakan dress panjang berwarna cokelat muda dengan rambut yang disanggul seadanya, penampilannya begitu anggun.
"Manis." kata Angga dalam hati saat memperhatikan wajah Keisha dari samping.
"Kakak Ipar, jangan melihat Kak Keisha terus- menerus. Dia tidak akan pergi dari sisimu, lebih baik kamu perhatikan jalan. Lihat! Lampu hijau sudah menyala," ledek Helen sembari menutup mulutnya untuk menyembunyikan tingkahnya yang menertawakan Kakaknya sedari tadi yang terlihat kaku.
"Ah iya, maafkan aku," kata Angga cepat. Dia segera menjalankan mobilnya saat lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau.
"Helen jangan menggoda Angga, biarkan dia menikmati wajah calon istrinya," timpal Hanum untuk menghentikan kekehan putri bungsunya.
"Iya, maaf," jawab Helen masih dengan tawa di bibirnya.
Keisha yang mengetahui dirinya menjadi pusat pembicaraan Ibu, adiknya, dan calon suaminya segera memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Bodoh kamu Angga, benar-benar bodoh. Pasti sekarang Nyonya marah padamu," kata Angga dalam hati merutuki tindakannya yang terlihat memalukan di depan Ibu dan adik iparnya. Jika saja pemuda itu tidak sedang mengemudikan mobil, dia pasti sudah menjambak-jambak rambutnya.
"Kenapa jantungku mulai berdebar?" Tanya Keisha dalam hati.
___________________^_^
Jangan Lupa VOTE + LIKE + KOMEN ya...🤗🤗
Nanti Author UP lagi.. ditunggu saja..
__ADS_1
Semoga kesedihan kalian di part sebelumnya sedikit terobati ya..😊