
^^^~Cintaku tumbuh seperti musim semi, ia merekah dan kian bersinar~^^^
-Angga Wilson Andreas-
***
Angga masih betah memeluk tubuh Keisha dari belakang, lelaki itu enggan membuka mata sebelum wanita itu yang membangunkannya. “Angga, ini sudah siang.” Tangan Keisha mencoba melepaskan pelukan sang suami yang berlama-lama mendekap tubuhnya. Lelaki yang dipanggil semakin menarik pinggang istrinya mendekat, menyandarkan kepalanya di punggung Keisha.
“Angga,” panggil perempuan itu lagi dengan halus.
"Sebentar lagi Nyonya, aku masih mengantuk,” jawabnya manja mempererat pelukan.
Keisha tersenyum tipis, menyentuh pucuk kepala Angga yang poni rambutnya sedikit mengenai kerah bajunya yang terbuka. “Baiklah sepuluh menit lagi, setelah itu bangun dan mandi.” Dalam sekejap tiba-tiba Angga beranjak membalikkan tubuh Keisha di bawahnya, pria itu mulai tersenyum nakal. “Sepuluh menit?” ibu jarinya mulai membelai mata Keisha turun ke hidung sampai ke bibir.
Perempuan yang mengetahui niat nakal Angga lantas berpura-pura memejamkan mata. Namun, ketika Angga mulai memajukan wajahnya untuk memulai sebuah ciuman, detik itu juga Keisha menarik daun telinganya.
“Aw sakit Nyonya!”
Keisha tertawa kecil, melepaskan diri dari kungkungan sang suami. “Segera mandi, ” tuturnya mengecup pipi Angga sekilas lalu beranjak dari ranjang. Tanpa bisa menolak, Angga menurut melakukan apa yang istrinya perintahkan.
Satu jam kemudian, mereka telah bersiap. Lelaki yang telah menjadi ayah itu melambaikan tangan pada anak dan istrinya di teras. “Dada Ayah!” seruan Hasa memberikan ciuman jarak jauh saat melihat Romi datang membuka pintu mobil siap menjemput ayahnya. “Hati-hati di jalan, jangan lupa makan siang,” pesan Keisha menambahkan.
“Mari Tuan Muda,” ajak Romi menarik bahu Angga tetapi lelaki itu tidak mau bergeming.
“Tuan Muda!” panggilnya lagi.
"Seandainya aku tidak harus bekerja, hidupku pasti akan bahagia,” gumam Angga masih mematung menatap dua orang yang sangat ia cintai. Romi cuma mendengkus, menyeret tubuh Angga masuk ke dalam mobil. Semakin hari sifat aneh tuan mudanya bertambah parah saja.
‘Kalau Anda tidak bekerja, saya juga tidak akan makan,’ batin Romi menimpali diam-diam.
***
__ADS_1
Pagi yang indah untuk Angga menjadi fajar yang memilukan bagi Ella. Semalaman ia memutar sebuah video yang sama. Kaset CD lama yang ia simpan sejak beberapa tahun silam. Di sana, di layar laptopnya Ella bisa melihat paras rupawan seorang lelaki yang sedang diwawancarai.
“Bagaimana perasaan Tuan saat mendengar kabar, bahwa Tuan menempati urutan pertama dalam berita harian bulan ini? Tuan mampu meraih piala FEA setelah enam belas bulan terjun di dunia entertaiment.”
Manik cokelat kekuningan Ella berkilat, menanti jawaban dari pria yang tidak pernah luput ia perhatikan perkembangannya.
“Ah itu…, saya merasa lega.”
“Hanya itu? Tidak ada perasaan senang atau yang lain?”
Lelaki yang memperoleh pertanyaan beruntun dari repoter itu tersenyum samar.
“Tuan Angga ini unik, saya baru pertama kali menemui model pria seperti Tuan.” Sang reporter tertawa menerima jawaban dari bintang model yang cukup terkenal namanya akhir-akhir ini. “Kalau boleh tahu, apa Tuan Angga telah memiliki kekasih?”
Jari jemari Ella mengeras melihat bagaimana mana mimik muka lelaki itu yang tampak malu, daun telinganya merah dan tangannya mulai menggaruk kepala melakukan tindakan bodoh.
“Ehm…, saya sudah menikah. Sekarang usia pernikahan saya kurang lebih hampir dua tahun.”
Menyaksikan ekspresi Angga di dalam video membuat Ella tersenyum sinis, memicingkan mata merasa kesal.
“Dia wanita yang cantik, manis, dan sangat baik.”
Prang…
Video Angga dalam acara fashion beberapa tahun uang lalu langsung mati seketika saat Ella melemparkan kaleng soft drink ke sana, tepat mengarah pada wajah Angga di layar benda canggih berteknologi tinggi. Perempuan tersebut mengingat bagaimana perlakukan sombong Angga yang menolak permintaan dia mentah-mentah saat Ella meminta lelaki itu mengantarnya ke rumah sakit satu pekan yang lalu.
Ekor mata Ella melirik, menatap puluhan poster model pria yang ia pajang di dinding kamarnya. “Angga Wilson, kau telah menipuku. Maka aku pun akan menipumu,” tuturnya tajam penuh kebencian.
***
Di sebuah rumah minimalis yang cukup terawat, seorang pemuda berseragam merah kuning tengah melakukan doa untuk perempuan yang ia sayang. Cinta pertamanya yang kandas sebelum dimulai.
__ADS_1
[Aku akan berangkat bekerja, semoga Tuhan menjagamu dengan baik hari ini.]
Eliot meletakkan suratnya di depan pigura foto perempuan tersebut, sahabat sekaligus cintanya di kala kecil. Namun, karena suatu hal mereka berpisah.
Setelah selesai melakukan doa-doa suci untuk teman masa kecilnya, Eliot merapikan bajunya mulai mengambil tas dan pena. Saat ia merogoh saku celananya, tanpa sengaja lelaki tunawicara itu masih menemukan beberapa lembar dolar. Itu adalah uang yang seharusnya ia kembalikan pada temannya Angga kemarin.
‘Aku akan ke sana lagi dan mengembalikan uang ini,’ batinnya tersenyum bahagia mulai mengambil sepeda lalu mengayuh pedal menuju ke restoran Paman Gio, tempat ia bekerja sebagai pelayan di sana.
***
Berbeda dengan kehidupan Angga, Ella, dan Eliot. Julian justru baru saja tiba di Ottawa, ia dijemput salah seorang pemandu perjalanan yang telah ia pesan jauh-jauh hari selama tinggal di kota ini. Pelukis terkenal itu memejamkan mata sejenak, menikmati hawa udara pagi Ottawa yang segar. Lukisan kekasih ilusinya juga turut serta menemaninya.
“Mari Tuan.” Sang sopir taksi telah menunggunya.
“Biarkan Keishaku bersamaku, kalian tidak perlu membawanya.” Sopir taksi tersebut mengangguk mengerti ketika penumpangnya melarang ia memasukkan lukisan terbungkus kertas itu ke dalam bagasi.
Setelah mengangkut semua barang-barangnya, mobil taksi yang ditumpangi Julian segera melaju menuju tempat penginapan yang ia sewa. “Keisha kita akan menulis cerita baru, di kota ini. Kau, aku, dan cinta kita.”
Apa yang dikakatan Julian memang benar, bahwa cerita cinta baru akan dimulai. Namun, bukan hanya menghubungkan ia dengan Keisha, melainkan dengan orang-orang lainnya. Sang tunawicara Eliot, sang desainer Ella, dan seorang suami Angga.
Julian tidak akan pernah tahu bahwa kedatangannya di Ottawa akan mengukir kisah cinta baru penuh ketulusan dan pengorbanan, yang akan mewarnai langit Ottawa biru kelautan di musim dingin.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1