
~Kebahagiaan tidak bersifat abadi, suatu masa itu akan hilang digantikan dengan rasa yang lain. Kecuali jika engkau yang tetap membuat kebahagiaan itu ada dalam hatimu, meski hatimu dirundung kesedihan~
Di sebuah ruang minimalis yang hanya berisi empat bilik kamar termasuk ruang tamu, bunyi alarm dari jam weker yang diletakkan di atas meja terus berdering hingga membuat sesosok manusia bertubuh jakung itu menggeliat beberapa kali, kemudian mengusap wajahnya kasar saat sinar matahari mulai menyentuh matanya.
Kantung mata panda tercetak jelas dikedua matanya, kumisnya tampak tebal karena lama tidak dicukur, dan rambutnya memanjang sampai menyentuh bagian lehernya. Sosok itu adalah Kevin, seorang pria yang sangat menawan dan menjaga penampilannya dulu. Tapi kini tidak lagi, semenjak ia bercerai dengan istrinya dan tidak merawat diri.
Kevin melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas, ada beberapa pesan masuk ke kotak massage-nya. Pesan dari Helen yang mengingatkannya tentang acara piknik di akhir pekan bersama putrinya, Inara.
Ya, setiap akhir pekan satu bulan sekali ia bersama dengan Helen dan Inara akan menghabiskan waktu satu hari bersama sebagai keluarga untuk putri mereka. Meski kini mereka telah resmi bercerai, tapi kasih sayang untuk Inara menjadi prioritas utama bagi mereka berdua. Hal itu yang setidaknya Kevin dan Helen sepakati sebelumnya.
Kevin segera membersihkan tubuhnya, kemudian memakai kemeja bersih yang sekarang terlihat longgar ditubuhnya karena ia banyak kekurangan berat badan. Lalu Kevin mulai menyalakan oven untuk memanaskan makanan sisa semalam yang belum ia habiskan sebagai sarapan paginya.
Kak Kevin, aku dan Inara sudah berada di taman. Kak Kevin bisa langsung menyusul kemari tanpa harus menjemput kami di rumah Ayah terlebih dahulu.
Helen.
Pesan singkat dari Helen memberhentikan aktivitas makannya sesaat, mulutnya yang terasa masam membuatnya tidak berselera makan. Ia memasuki toilet dan memuntahkan semua isi perutnya. Sesaat Kevin menatap bayangan dirinya di depan cermin di atas wastafel.
“Lihatlah orang ini! Semakin hari ia terlihat menyedihkan.” Monolog Kevin sendiri berbicara pada pantulan bayangannya di depan cermin. Bibirnya tersenyum sinis menertawakan wajahnya yang terlihat seperti monster yang mengerikan.
“Kamu bahkan membuat putrimu ketakutan. Pantaskah kamu disebut sebagai seorang Ayah? Tidak! Kamu bahkan tidak pantas disebut sebagai manusia,” ucapnya lagi sembari tertawa. Tapi buliran air bening mengalir di pelupuk matanya.
“Mana ada manusia yang tega membunuh adiknya sendiri? Lalu mengambing hitamkan orang yang telah menolongnya? Hahaha.” Kevin menghina dirinya sendiri, bibirnya tertawa tapi matanya menangis. Sungguh benar-benar ironis.
Setelah cukup puas dengan kegilaannya sendiri, Kevin membasuh mukanya kemudian ia memakai jas dan sepatunya. Mengambil kunci mobilnya bersiap untuk pergi menemui putri dan mantan istrinya.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Kevin telah sampai di taman tempat Helen dan Inara berada. Ia memarkirkan mobilnya kemudian memasuki kawasan taman yang tampak cukup ramai di hari libur.
Ketika kakinya mulai melangkah masuk ke dalam, orang-orang mulai melihatnya dan berbisik-bisik, Kevin sudah tahu pasti mereka sedang membicarakan penampilannya. Kevin hanya tersenyum tipis dan terus masuk ke dalam mencari Helen dan putrinya yang sudah menunggunya di dalam.
Di salah satu wahana taman bermain tampak Helen sedang duduk di bangku tunggu, perempuan itu memegang botol minum dan keranjang anyaman rotan yang berisi makanan Inara dan dirinya beserta mantan suaminya jika pria itu mau memakannya.
Kevin yang melihat sosok Helen pun segera menghampirinya. Dia mendudukkan dirinya di samping perempuan itu. “Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama,” ujar Kevin membuka pembicaraan. Helen menoleh ke arahnya dan tersenyum. “Tidak apa-apa Kak. Aku dan Inara saja yang datang terlalu pagi,” sahut Helen seraya matanya tetap setia memandang ke depan melihat Inara sedang bermain dengan bola di tangannya.
Anak itu terlihat sangat aktif berlari ke sana kemari, mengejar bola berbahan karet berwarna merah muda yang terus menggelinding di tanah.
“Makanlah Kak, aku sengaja membuatkan ini untukmu.” Tutur Helen sembari menyerahkan sepotong sandwich berisi telur lengkap dengan sosis; saus; sayur; dan tomat.
“Terimakasih.” Kevin menerima sandwich pemberian Helen kemudian memakannya secara lahap. Tapi baru beberapa gigitan ia memakannya, ia sudah memuntahkannya kembali.
“Kakak tidak apa-apa?” Tanya Helen cukup khawatir, ia segera memberikan sebotol air mineral pada Kevin. “Aku tidak apa-apa, kamu tidak perlu cemas.” Kevin meminum air pemberian Helen kemudian membersihkan mulutnya. Tatapannya terlihat sendu saat ia menyadari bahwa sudah hampir tiga hari ia selalu memuntahkan makanannya. Hanya air yang dapat mengisi perutnya yang kosong.
“Tidak apa-apa Kak, itu bukan masalah untukku.” Helen menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Perempuan itu sekarang terlihat lebih bijaksana daripada dulu. Semenjak Inara lahir sifat manjanya telah hilang.
Kevin menegakkan kembali tubuhnya, bersandar pada kursi, matanya menerawang ke depan menyaksikan putrinya tengah asik tertawa ria di sana bersama anak-anak yang lain. “Inara sudah semakin besar,” tutur Kevin yang dibalasi anggukan dari Helen. Kevin menoleh ke arah Helen, ia dapat melihat banyak perubahan pada sosok perempuan itu.
“Terimakasih karena telah merawat putriku dengan baik,” ucap Kevin lagi. Helen melihat ke arahnya dan tersenyum tipis, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Dia juga putriku, Kak Kevin tidak perlu berterimakasih.” Helen memberi senyum terbaik untuk lelaki yang dicintainya. Pria yang telah mengisi sebagian hidupnya dulu.
“Mama..!!” Panggil Inara seraya berlari kecil ke arah Helen. Tangannya yang mungil membawa bola dipelukannya, terlihat beberapa bekas tanah liat di mulutnya. Gadis kecil berusia kurang lebih dua tahun itu baru saja terjatuh.
__ADS_1
“Mama bolanya nakal Ma, dia membuat Ala jatuh.” Adunya dengan suara cadel khas anak kecil. Tangisannya pecah saat Helen memeluknya dan mengusap pucuk kepalanya sayang. Inara melepas bola di tangannya dan membuangnya jauh-jauh hingga menggelinding ke kaki Kevin.
“Jangan menangis sayang,” bujuk Helen seraya mengecup kening Inara dan membersihkan sisa tanah di pipi serta area bibirnya. Kevin mendekat ke arah putrinya, dia membawa benda yang dijatuhkan Inara tadi. “Nanti Ayah akan menghukum bolanya, Ara jangan menangis lagi ya.” Kata Kevin mencoba menenangkan putrinya.
Inara tampak melihat Kevin sesaat, pada awalnya ia beringsut takut. Tapi saat gadis kecil itu melihat mata Kevin, ia tahu bahwa itu adalah ayahnya. Jadi dia langsung melepas pelukan dari ibunya dan beralih berlari mendekati Kevin. “Ayah!” Panggil Inara antusias sambil menangis kencang.
Kevin langsung memeluk putrinya, lalu menggendongnya. “Ala lindu Ayah,” ucap Inara semakin terisak dan memeluk leher Kevin. “Ayah juga merindukanmu sayang,” timpal Kevin sambil menciumi wajah Inara dan menghapus ingus di hidungnya.
Inara menjauhkan wajahnya dari Kevin menolak ciuman ayahnya karena merasa geli dengan kumis Kevin. “Ayah hentikan, Ala tidak mau.” Tukas Inara membekap mulut Kevin dengan tangan mungilnya. Gadis kecil itu berhenti menangis dan tertawa senang saat ayahnya mengusap kepalanya.
Helen hanya tersenyum menyaksikan ayah dan anak itu, hatinya merasa senang saat melihat Kevin dan Inara bersama. “Aku harap kamu dan Inara akan seperti ini selamanya Kak.” Batin Helen berdoa dalam hati.
“Ayah semakin kulus, Ala tidak suka.” Kata Inara setelah diturunkan dari gendongan Kevin. Gadis kecil itu menggenggam tangan Kevin yang kekurangan daging di sana.
Kevin hanya tersenyum tulus lalu mengusap kepala putrinya. “Ayah hanya sedang berdiet sayang, nanti kalau Ayah gemuk. Badan Ayah akan terlihat bulat seperti bola ini.” Kevin mengembungkan pipinya kemudian menunjuk bola berwarna merah muda di sampingnya.
Inara hanya mencebikkan bibirnya, kemudian ia memegang pipi Kevin yang menggembung. “Tapi Ala lebih suka kalau Ayah bulat sepelti ini,” kata Inara lagi. Kevin beralih mencubit pipi putrinya dengan gemas. “Iya, nanti Ayah akan makan yang banyak agar Ara senang.” Inara tersenyum senang dan langsung mencium pipi Kevin.
Mendengar ucapan putrinya, Helen kembali memperhatikan Kevin. Sosok lelaki yang pernah menjadi suaminya dan pria yang masih ia cintai sampai detik ini. Tubuh pria itu sangat kurus hingga tulangnya sedikit menonjol, matanya cekung dan dipenuhi tinta hitam. Bibir ranumnya dulu yang selalu memberi ia ciuman hangat kini nampak pucat, layakanya orang sakit. Sosok Kevin yang seperti ini membuat hati Helen sedikit sendu, rasa cemas mulai menghantuinya. Ia takut kalau Kevin akan meninggalkannya.
Beberapa part ke depan kita fokus ama cerita Helen dan Kevin ya...
Sana ucapkan terimakasih karena masih setia membaca My Old Wife ^_^
__ADS_1