
~Hanya kehangatan keluarga yang tidak akan pernah tergantikan~
Karena cuaca yang buruk sejak tadi pagi, pada akhirnya Angga dan Keisha mengunjungi kediaman Heru Prawijaya di sore hari, mereka pergi ke sana bertiga dengan Romi, karena Sebastian juga meminta orang kepercayaannya itu untuk menemuinya. Tadi pagi Sebastian menghubungi Angga untuk memberitahunya bahwa dia telah sampai di Indonesia dan ingin menemui dirinya dan menantunya. Angga pun menyanggupinya, dengan bertemu di kediaman Ayahnya.
Mobil Angga telah menepi di garasi rumah berlantai tiga milik Heru, kali ini Romi yang menyetir sementara dirinya duduk bersama istrinya di kursi penumpang. Keduanya turun dan bergegas masuk ke dalam. Di ruang tamu keluarga yang lain telah menunggu mereka, tidak hanya keluarga kecil dari Heru tetapi juga keluarga besarnya, para bibi dan paman Keisha. Mereka sengaja ingin mengadakan acara syukuran atas pernikahan keponakannya.
“Selamat datang sayang,” sapa Bibi Aini dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kemari sayang, kami sudah lama menunggumu,” tutur Hanum seraya merangkul bahu Keisha dan menariknya untuk duduk bersama mereka.
Sementara Angga, pemuda itu telah ditarik oleh Rafi dan bergabung dengan para perkumpulan keluarga laki-laki. Pemuda itu sedang banyak dihujani pertanyaan tentang pernikahannya dengan Keisha.
“Aku baru keluar dari rumah sakit. Kemudian paman tiba-tiba bilang sepupuku akan menikah besok. Berita itu seperti Guntur di siang hari untukku, karena baru saja aku memukul lelaki sialan itu. Sepupuku langsung ke datangan pangeran berkuda putih hahaha..,” goda Rafi sembari merangkul bahu Angga santai seperti layaknya seorang teman. Angga hanya tersenyum canggung sebagai balasan.
“Kau benar-benar luar biasa Angga, sampai bisa menaklukan hati singa betina.” Rafi melirik Keisha sesaat, pemuda itu mengingat bagaimana Keisha selalu menasehatinya dengan berbagai macam petuah yang menurutnya membosankan.
“Tapi singa betinaku sangat cantik,” kata Angga asal sembari melihat ke arah istrinya yang sudah di kerumuni Bibinya, Hanum, dan Helen. Mata pemuda itu tidak henti-hentinya memperhatikan wajah Keisha yang menurutnya sangat manis, meskipun perempuan itu tidak memakai make up.
“Jangan berani-berani mengatai putriku dengan sebutan singa betina, atau kalian akan aku tendang dari rumah ini,” ancam Heru menimpali sembari membalikkan halaman sampul majalah.
Nyali Rafi seketika menciut, dia berpura-pura mengambil segelas air minum dan meninggalkan Angga bersama pria paruh baya itu sendirian. Pemuda itu mencoba menghindar membuat masalah dengan pamannya, jika itu sampai terjadi, maka investasi yang sudah ditanamkan oleh Heru di perusahaannya bisa saja dicabut saat itu juga, terlebih dia sangat hafal betul sifat pamannya yang terlalu posesif pada Keisha.
“Nak, apa hubunganmu dengan istrimu baik-baik saja?” Tanya seorang lelaki yang usianya lebih tua dari Heru, Hendrian. Dia merupakan saudaranya Hanum, yang berarti juga pamannya Keisha.
“Ya, paman. Bahkan hubunganku dengan Nyonya seperti permen karet, sangat lengket.” Jawab Angga ramah sembari tersenyum lebar tanpa malu.
Mendengar hal itu, Heru langsung memelototi Angga tidak suka, pemuda itu mengalihkan pandangannya dan menyentuh belakang kepalanya, mencoba menetralisir tatapan mematikan dari Ayah mertuanya.
__ADS_1
“Ah aku salah bicara, Ayah mertua pasti akan memanggangku hidup-hidup kali ini," batin Angga.
“Nyonya?” Tanya Hendrian bingung.
“Ah.. maksudku istriku Keisha, dia sudah seperti Nyonya bagiku,” kata Angga asal yang justru membuat Heru semakin membulatkan matanya.
“Apa aku salah bicara lagi?” Tanya Angga dalam hati.
Kedua manik mata Heru mengarah pada menantunya mengawasinya dengan seksama, pandangannya tajam seperti pisau yang siap mengulitinya hidup-hidup. Angga hanya menelan ludah kasar, mencoba tidak mempedulikan pandangan mertuanya, tapi pemuda itu tetap tidak bisa.
“Jangan seperti itu Nak, kalian sudah menikah dan meskipun kamu pernah bekerja dengan Keisha dulu. Sekarang dia istrimu, jadi jangan memanggilnya dengan sebutan Nyonya lagi. Ingat kamu suaminya.” Nasihat Hendrian sembari mengelus kepala Angga lembut.
“Iya, paman. Aku akan mengingatnya. Terimakasih,” ucap Angga sembari mengangguk paham dan sedikit bersalah karena telah membuat salah paham pria beruban itu.
Sebenarnya pemuda itu tidak bermaksud memanggil Keisha dengan sebutan Nyonya lagi, tapi apa daya hatinya sudah terbiasa. Itu adalah panggilan kasih sayangnya, dan hal ini justru menimbulkan kesalah pahaman. Sehingga membuat Paman Hendrian mengira dirinya pernah bekerja pada Keisha sebelum menikahinya.
“Lebih baik Kakak ikut denganku, kita bicarakan masalah pekerjaan,” bujuk Heru pada akhirnya sembari menutup majalah bacaannya dan bersiap meninggalkan ruangan itu.
Namun sebelum pria paruh baya itu pergi dari sana, Bi Asih datang tergopoh-gopoh menghadap padanya, menyampaikan informasi penting kalau ada lelaki berjas hitam dengan pengawalnya yang sedang mencari Heru dan Keisha. Heru sudah menduga kalau tamu itu mungkin adalah besannya, Tuan Sebastian. Dan benar adanya, pria yang duduk di kursi roda dengan paras yang menawan sama persis dengan menantunya adalah Tuan Sebastian, orang yang dihormati di dunia bisnis dan pemerintahan.
Heru mempersilahkan tamunya untuk masuk, para anggota keluarga yang lain mulai melihat ke arah pria yang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh pemuda berjas hitam lainnya. Dalam benak mereka mulai bertanya-tanya siapa pria tersebut, yang terlihat menawan dan tinggi jika saja dia berdiri. Matanya cokelat kehitam-hitaman seperti orang luar, bukan orang Indonesia.
“Ayah,” sapa Angga terlebih dahulu. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Sebastian.
Semua orang yang mendengar sebutan “Ayah” dari mulut Angga, seketika mereka langsung tahu kalau itu adalah Tuan Sebastian yang sudah diceritakan Heru pada mereka.
“Selamat datang Tuan, mohon maaf karena kami tidak menyambutmu dengan baik,” kata Hanum mengawali ucapan suaminya.
__ADS_1
Sebastian mengangguk dan tersenyum ramah ke arah wanita itu, kemudian dia beralih melihat putranya yang sudah sangat ia rindukan. Romi yang pada awalnya sedang menghindar dari keramaian, juga ikut menghampiri Sebastian dan memberikan hormat untuknya seperti biasanya.
“Maafkan Ayah karena tidak datang di hari pernikahanmu,” kata Sebastian lirih.
Angga mengangguk sebagai jawaban, pemuda itu berjalan menghampiri Keisha dan menggenggam tangannya. Dia bermaksud mengenalkan istrinya pada Ayahnya.
“Aku sudah tahu, dia pasti Nona Keisha. Terimakasih karena sudah merawat istri dan anakku dengan baik, aku tidak bisa membalas kebaikanmu,” tutur Sebastian ramah, mata lelaki itu sedikit sendu namun teduh memandang wajah Keisha.
Keisha tersenyum ramah dan menggeleng kecil, perempuan itu memberanikan diri bersimpuh di hadapan Sebastian dan menyentuh tangannya yang terasa dingin.
“Seharusnya saya yang berterimakasih Tuan, keluarga Anda telah banyak memberikan kasih sayang pada saya. Jika tidak ada Nyonya Susi dan Angga, mungkin saya tidak akan seperti ini.”
Sebastian menyentuh rambut Keisha lembut menyalurkan rasa rindunya pada istrinya yang sudah meninggal. Mata pria itu menerawang ke dalam mata manik Keisha yang teduh seperti milik wanita yang dicintainya.
“Angga, bisakah Ayah bicara berdua dengan istrimu?” Tanya Sebastian yang beralih memandang ke arah putranya.
Angga hanya mematung, lidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar berkata “iya”, pemuda itu takut Sebastian akan berbicara hal yang tidak-tidak. Mengingat pria itu pernah tidak merestuinya saat itu.
“Angga,” panggil Keisha pelan yang berhasil menyadarkan Angga dari lamunannya.
“Iya, A-yah.” Jawab Angga ragu-ragu.
Sebastian menggenggam tangan putranya seolah-olah mengatakan padanya untuk percaya pada dirinya. Kemudian Willy mendorong kursi roda Sebastian memasuki salah satu ruangan di sana, diikuti oleh Keisha yang mengekor dibelakangnya. Mereka berbicara di dalam tanpa ada yang mendengarnya, semua orang merasa cemas tentang hal yang akan dibicarakan Sebastian pada Keisha.
_______^_^_______
MAAF YA saya baru bisa UP...
__ADS_1
Semoga suka🤗🤗 dan jangan lupa tekan like dan vote serta komen yaa... 😊😊 biar saya semangatt😚