
~Hati yang membenci akan selalu tersakiti, tapi hati yang merindu akan selalu mendamba kasih sayangnya~
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 tepat, malam semakin larut dan cuaca sudah terlihat tak bersahabat, awan mulai menggumpal membentuk gulungan-gulungan kecil dengan kilatan petir di langit. Ketika guntur mulai bersahutan hal serupa juga terjadi pada Angga, badai di hati pemuda itu semakin bergemuruh karena sejak sore tadi ia tidak bertemu dengan istrinya.
Ketika ia menjemput perempuan itu di kantor tadi sore, Fina sekertarisnya mengatakan bahwa istrinya telah meninggalkan kantor sejak tadi pagi dan belum kembali ke kantor lagi, semua meeting juga telah di handle oleh Ferdian asistennya.
Karena tidak menemukan Keisha di kantor Angga pulang ke rumah, tapi Romi memberitahunya bahwa Keisha juga tidak ada di rumah. Pada akhirnya Angga memutuskan untuk berkunjung ke kediaman ayah mertuanya berharap Keisha ada di sana, tapi nihil perempuan itu juga tidak ada di rumah ayahnya.
Bukan mendapatkan kabar tentang Keisha, Angga justru mendapat kabar dari Bi Asih bahwa Tuan Heru sekeluarga sedang berada di rumah sakit karena Nona Helen mengalami pendarahan. Angga berpikir mungkin Keisha sedang menjenguk adiknya, tapi saat pemuda itu tiba di rumah sakit ia juga tidak menemukan sosok yang dicarinya.
Melihat wajah Angga yang sedikit panik dan frustasi memikirkan Keisha, pada akhirnya Helen membuka suara dan bercerita secara pribadi kepada Angga tentang semua yang telah dialami oleh Keisha hari ini baik pertemuannya di kafe sampai dengan pertengkarannya dengan Kevin. Setelah mendengar penjelasan dari Helen, Angga begitu marah tapi pemuda itu tidak ada waktu untuk menuruti emosinya karena yang terpenting baginya sekarang adalah menemukan istrinya.
“Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku akan menghabisimu!" Ancam Angga pada Kevin seraya menarik kerah bajunya secara kasar dan menghempaskan tubuh lelaki itu ke dinding hingga mengeluarkan dentuman yang cukup keras. Bisa dipastikan tulang punggung Kevin akan sedikit retak karena benturan tersebut.
Ini adalah sisi yang berbeda dari Angga yang belum pernah ia tunjukkan selama ini, karena pemuda itu selalu bersikap manis di luar. Jika bukan karena mencemaskan Keisha mungkin Angga sudah memukul Kevin habis-habisan. Sementara Helen, Angga hanya menatapnya tajam dan tidak berkata apa pun. Hati pemuda itu sedang tercabik-cabik begitu sakit tapi juga merasa panas.
Angga meninggalkan rumah sakit itu tanpa berpamitan pada ayah dan ibu mertuanya, karena yang ada di kepalanya saat ini hanya rasa amarah yang menggebu-gebu, jika ia sampai lepas kendali dihadapan Heru dan Hanum maka ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Jadi pemuda itu hanya memilih menghindar dan mengabaikan mereka.
“Anda dimana Nyonya?” Batin Angga masih menyetir mobilnya dan menelusuri jalanan kota Jakarta yang padat.
Sekarang sudah lebih dari tiga jam Angga mencari Keisha, waktu juga terus berjalan dan hari semakin gelap. Pikiran Angga semakin kacau, ia terus mengacak rambutnya yang tidak gatal dan sesekali membenturkan kepalanya di setir mobil. Bayangan-bayangan buruk mulai bermunculan di benaknya, hatinya gusar dan tidak tenang.
Ketika melihat perempuan yang berpenampilan sama dengan Keisha ia selalu turun dari mobil dan melihatnya.
“Nyonya anda kemana sa-ja____,” kata-kata Angga terhenti saat mendapati bahwa tangan perempuan yang ia tarik bukan Keisha melainkan perempuan lain.
“Maaf Tuan, anda salah orang.”
Angga menunduk hormat dan meminta maaf, ini sudah keempat kalinya ia salah orang. Pikirannya makin kacau, bisa dibilang ia mulai gila. Angga mencari di sepanjang trotoar dan menjalankan mobilnya perlahan-lahan di tempat-tempat yang pernah mereka datangi, di mini mart, di setiap restoran, di lapangan hoki saat mereka berkencan, dan di taman hiburan. Tapi semuanya nihil, Keisha tidak ada di semua tempat tersebut.
Ia juga sudah menghubungi Keisha berulang kali, bahkan tak terhitung entah berapa panggilan yang ia lakukan, mungkin sudah hampir tujuh puluh panggilan dan berapa banyak pesan yang ia kirim untuk istrinya. Namun dari semua panggilan dan pesan itu, tidak ada satu pun yang terjawab atau pun mendapatkan pesan balasan.
“Romi, apakah istriku sudah pulang?” Tanya Angga dari balik telepon.
__ADS_1
“Belum Tuan Muda, apa ___” belum sempat Romi menyelesaikan ucapannya, Angga sudah menutup teleponnya.
Pemuda itu tidak dapat berpikiran jernih, seandainya Angga dapat tenang sedikit mungkin ia dapat meminta bantuan dari Romi dan orang-orang kepercayaan ayahnya untuk mencari Keisha, tapi ia tidak memiliki pemikiran sampai ke sana. Karena otaknya sudah mulai buntu.
“Anda di mana Nyonya? Kemana lagi saya harus mencari anda?” Gumam Angga dalam hati mulai frustasi.
Langit yang memang mendung sejak tadi mulai menitikkan air hujan, para pejalan kaki juga mulai mencari tempat berteduh, bahkan tidak jarang mobil juga ikut menepi ke kafe atau restoran terdekat. Tapi tidak dengan Angga, pemuda itu masih setia memacu mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata mengamati sekeliling jalan berharap dapat menemukan sosok wanita yang dicintainya.
Tatkala mobilnya melalui halte bus, sekilas Angga dapat melihat wajah yang ia kenal, sosok itu sedang duduk sendirian di kursi tunggu, sesekali menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk menciptakan sedikit kehangatan di tengah dinginnya hujan.
“Nyonya,” kata Angga pelan tapi masih bisa di dengar oleh Keisha.
Tiga menit yang lalu pemuda itu telah keluar dari mobil, ia berlari di tengah hujan tanpa mempedulikan tubuhnya yang mulai basah karena guyuran air tersebut, yang ada di pikirannya hanyalah segera menghampiri perempuan itu dan memeluknya agar ia tidak bisa pergi lagi dari sisinya.
“Nyonya, bagaimana anda bisa berada di sini? Kenapa anda tidak menjawab panggilan saya atau membalas pesan saya? Bagaimana bisa anda menaiki bus? Bahkan anda baru satu kali menaiki kendaraan ini saat bersama saya? Bagaimana jika nanti anda tersesat? Dan tidak pernah kembali pulang ke rumah, kenapa anda selalu membuat saya cemas Nyonya? Kenapa?” Tanya Angga bertubi-tubi, pemuda itu memeluk erat tubuh Keisha dan membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
“Kenapa anda tidak membagi beban anda pada saya Nyonya? Tidak bisakah anda mengandalkan saya sedikit saja? Jika Helen tidak memberitahu saya semuanya, akankah anda akan tetap diam dan menanggung semuanya sendiri? Apa anda tidak pernah sedikitpun menganggap saya sebagai suami anda?” Angga melepaskan pelukannya dan menatap mata Keisha lekat-lekat. Mata pemuda itu terlihat sendu, terdapat banyak kesedihan di sana.
“Angga,” panggil Keisha halus seraya menyentuh pipi pemuda itu yang basah karena guyuran air hujan.
Keisha menangkup kedua pipi pemuda itu, menghapus tetesan hujan di sana. Dia dapat melihat mata Angga yang sudah berwarna merah, rambutnya basah beserta pakaiannya, dan raut mukanya yang terlihat marah namun juga terlihat sedih. Tidak ada lagi senyum dalam bibir pemuda itu, yang ada hanyalah luka. Melihat pemandangan itu, hati Keisha merasa perih, dadanya sesak dan terasa sakit.
“Maafkan aku,” ucap Keisha sembari mencium bibir Angga yang sudah terlihat pucat. Angga hanya diam mematung, dia tidak menanggapi ciuman Keisha.
Namun, saat perempuan itu mulai melepaskan bibirnya, Angga menarik ceruk leher Keisha dan menanamkan ciuman kembali, dia mencoba mengobati perasaannya. Hatinya yang sempat rapuh karena takut merasa kehilangan akan sosok perempuan yang dicintainya.
Di bawah guyuran hujan yang semakin deras, petir yang menyambar di langit, dan hawa dingin yang menyelimuti keheningan malam itu, menemani keduanya untuk saling melepas rindu. Keisha menitikkan air mata meresapi setiap perasaan yang diberikan Angga padanya.
“Aku mencintaimu.”
Kata itu lolos dari bibir Keisha, pernyataan cinta yang begitu tulus ia sampaikan pada Angga. Perempuan itu telah menyerahkan semuanya untuk pemuda di hadapannya ini, yang telah berhasil menguasai hatinya.
"Saya juga mencintai anda Nyonya," Angga juga kembali menyatakan perasaannya pada Keisha, tidak terasa buliran air bening juga jatuh di pelupuk matanya.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang tadi, Keisha selalu berpikir bahwa hubungannya dengan Angga belum pada tahap sempurna, mendengar penuturan Helen hari ini membuat ia kembali bertanya pada hatinya, pada jiwanya, dan pada akal sehatnya. Kemudian saat ia melihat Angga saat ini yang datang padanya dengan keadaan berantakan.
Membuatnya sadar akan perasaannya sendiri bahwa ia telah lama jatuh cinta pada pemuda ini, pemuda yang melamarnya di kantor pertama kali, pemuda yang menimbulkan keributan setiap hari, pemuda yang selalu mengusiknya dan membuatnya tersenyum setiap saat serta melupakan kesedihannya.
“Jangan pernah tinggalkan saya Nyonya.” Angga menyatukan wajahnya dengan Keisha, kening mereka bertemu dan keduanya saling menatap dengan dalam mencari bayangan mereka masing-masing di manik hitam orang terkasihnya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” jawab Keisha sembari menganggukkan kepalanya kecil.
Angga langsung mencium kedua mata perempuan yang dikasihinya mencoba menyapu air mata di sana, kemudian pemuda itu memeluk istrinya dengan erat, meletakkan kepala perempuan itu di dadanya.
“Terimakasih.” Ucap Angga lirih.
Malam itu menjadi penyatuan bagi perasaan mereka, mengakhiri keraguan dalam hati keduanya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka, yang ada hanyalah sebuah benang merah yang semakin berjuntai panjang mengikat mereka dalam suatu hubungan yang suci.
______^_^______
Hallo Salam Sayang dari As-Sana🤗🤗
Sana mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha bagi mereka yang merayakan 🙏🙏
Mohon maaf karena kemarin libur dua hari🙏🙏, karena kesehatan Sana sempat turun lagi.. Tapi alhamdulillah sekarang sudah membaik..
Maaf karena telah membuat kalian kangen sama Angga dan Kei terlalu lama..😢😢
Besok hari minggu insyaAllah Sana up lagi.. mohon doanya agar Sana tetap sehat dan bisa melanjutkan MOW🙏🙏
Sana tetap mohon dukungannya dengan memberikan Like + Vote + Komen + Rate Bintang Lima..
Salam dari Angga dan Kei untuk Reader Tercinta 😊😊
__ADS_1