
~Sekeras-kerasnya hati manusia pasti ada suatu masa dimana hati itu akan melunak~
Manik cokelat kehitam-hitaman Tuan Wilson yang memiliki pandangan tajam seperti elang, suatu ketika pernah melunak. Masa itu adalah waktu pemakaman menantunya. Hari dimana sudah terlambat untuknya meminta maaf. Dan detik terakhir ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupan putranya. Yang sudah ia rusak begitu dalam hingga luka itu membekas tanpa bisa disembuhkan.
Dua tahun setelah kecelakaan yang menimpa putranya Sebastian, Tuan Wilson kembali berkunjung ke negeri gemah ripah loh jinawi. Negeri subur nan makmur yang menjadi saksi bisu kisah cinta putranya yang telah ia renggut. Ia datang ke Indonesia bermaksud membawa menantunya kembali ke rumah. Untuk mengembalikannya pada kehangatan suaminya.
Namun naas, kedatangannya sudah terlambat. Karena saat itu menantunya telah dikabarkan meninggal dan sedang dalam prosesi pemakaman.
"Su-si," ucap Tuan Wilson dengan bibir yang bergetar saat melihat peti mati menantunya telah dikubur ke dalam tanah oleh petugas rumah sakit yang memakai pakaian serba putih. Saat itu payung hitam dibuka secara lebar meski cuaca sedang terik tanpa hujan.
Orang-orang yang datang dalam prosesi pemakaman itu hanya menunduk lesu dengan tatapan sendu. Hal itu juga berlaku untuknya, mata yang terbiasa dingin tanpa perasaan saat itu berubah menjadi hangat dan dipenuhi dengan air mata. Dirinya hanya dapat mematung melihat istri putranya itu pergi untuk selamanya dari dunia ini.
Ketika ia hendak melangkah lebih dekat ke arah pemakaman perempuan yang pernah ia sakiti untuk terakhir kali. Kakinya terasa berat, beban dihatinya membuatnya tidak berani melangkah meski hanya sejengkal saja. Jadi pria paruh baya itu hanya bisa berdiri di ujung tempat paling jauh dari pemakaman, dan memandang nanar ke arah kerumunan.
Saat prosesi pemakaman berakhir dan hari beranjak malam, ia tetap di sana tanpa merubah posisinya sedikitpun. Jemy orang yang saat itu mendampinginya pun tidak mampu membujuknya untuk meninggalkan tanah hijau yang dipenuhi rumput segar dengan gundukan batu nisan tersebut.
"Tuan, langit mulai mendung. Mari masuk ke dalam mobil," ujar Jemy sembari membuka payung hitam yang sudah sedari tadi ia bawa. Jemy memegang tangan Tuan Wilson, mengajaknya melangkah menuju mobil. Namun Tuannya itu bahkan tidak bergeming sedikitpun, hingga hujan turun semakin deras dan lebat membasahi pakaian mereka berdua.
Ketika guntur menggelegar di langit-langit dan badai mulai datang, Jemy sudah tidak dapat menahan lagi. Ia menarik paksa tangan Tuan Wilson untuk mengikutinya, tapi pria paruh baya itu seperti patung yang sudah terpaku kakinya di bumi pemakaman.
"Tuan anda bisa sakit!" paksa Jemy pada akhirnya dengan nada sedikit membentak. Tapi Tuan Wilson hanya diam, matanya sendu dan bola matanya sudah berwarna merah hanya menatap ke arah makam menantunya. "Jika Tuan seperti ini, Nyonya Susi tetap tidak akan kembali hidup!" Tukas Jemy sedikit menekan. Ini adalah pertama kalinya dia berani berucap kasar pada pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Apa yang akan aku katakan pada putraku Jemy? Jika ia sudah tidak sanggup lagi hidup di dunia ini? Kakinya lumpuh, dan istrinya?" Kata-kata Tuan Wilson tercekat sampai ditenggorokan tanpa dapat dikeluarkan lagi. Pita suaranya semakin menghilang, bahunya bergetar dan kakinya lemas. Ia pingsan, Jemy beserta rekannya segera membopong tubuhnya masuk ke dalam mobil.
Tiga hari setelah kejadian itu, Tuan Wilson masih terbaring di rumah sakit. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Jemy dan orang-orang kepercayaanya yang lain. Bahkan Sebastian dan istrinya pun tidak tahu. Hari demi hari kesehatan Tuan Wilson terus menurun. Kematian Susi menantunya menjadi pukulan yang kuat bagi jiwanya.
Kesehatan psikologisnya juga terancam.
Setiap malam ia akan bangun karena mimpi buruk. Rasa bersalah terus menghantuinya. Selama belasan tahun ia tidak dapat tidur dengan nyenyak, bayangan Susi terus teringat di wajahnya. Ia semakin frustasi saat mengetahui kehidupan putranya hampir sama dengannya.
"Jemy berikan lima puluh persen saham kita untuk untuk pembangunan panti asuhan."
Bahkan setelah sebagian asetnya ia sumbangkan untuk panti asuhan yang pernah mengasuh Susi, itu tidak dapat mengurangi beban di hatinya. Rasa bersalahnya terhadap Susi masih menggerogoti nuraninya, tak ayal saat ia melihat perempuan yang menyerupai menantunya atau memiliki latar belakang sama dengan perempuan itu. Ia akan kembali mengingat kesalahannya.
__________
"Tuan, penerbangan akan segera dilakukan satu jam lagi." Jemy memberitahu Tuannya saat mengetahui mata pria tua itu menatap kosong ke sembarang arah. Tuan Wilson hanya mengangguk mengerti. Pikirannya masih mencoba memgembalikan kesadarannya dan menariknya dari masa lalu. Waktu paling kelam dalam sejarah kehidupannya.
Mereka sekarang sedang berada di Bandara Internasional Ottawa, untuk melakukan penerbangan ke Singapura.
"Nyonya," suara itu berasal dari Angga cucunya, terlihat jelas wajah memelas yang ia tunjukkan pada istrinya agar tidak melepaskannya.
Perempuan itu hanya tersenyum ke arah suaminya, tangannya yang ramping mengikat syal berwarna merah pekat agak gelap di leher Angga. Dan kemudian ia akan menepuk dada suaminya, membersihkan sedikit debu di sweeter hangat milik Angga.
__ADS_1
"Saat kamu merindukanku, kamu hanya tinggal menghubungiku." Tutur Keisha halus sembari menangkup kedua pipi Angga yang cukup dingin karena temperatur udara di Ottawa yang sedang menurun.
Angga mengangguk seperti anak anjing, Tuan Wilson yang melihat interaksi pasangan itu hanya tersenyum tipis. Jemy yang menyadari hal tersebut pun langsung mengambil layar ponselnya dan mengabadikan momen itu.
"Saya akan mencetaknya dan memajangnya di tempat kerja anda Tuan," tutur Jemy pelan seraya tersenyum ke arah Tuan Wilson. Pria tua itu hanya mengangguk mengerti.
"Jika Tuan ingin, saya juga bisa memasang foto Tuan Sebastian dan Nyonya Susi juga," tambah Jemy lagi seraya menunjukkan foto Sebastian yang sedang tersenyum senang di taman hiburan bersama perempuan yang dicintainya.
"Kau?" Jemy yang mengerti perkataan Tuannya langsung menunduk hormat. Tapi kali ini bukan untuk meminta maaf karena telah melakukan kesalahan, melainkan sebaliknya.
"Saya mengambilnya saat diam-diam mengikuti Tuan Sebastian sedang berkencan dengan Nyonya Susi, Tuan." Tuan Wilson tersenyum samar mendengar penuturan Jemy, ia langsung mengeluarkan sesuatu dari kantong saku jasnya dan memberikannya pada Jemy.
"Anda yakin Tuan?" Ucap Jemy terkeju saat mengetahui Tuan Wilson memberikan lembaran cek bernilai ratusan dollar padanya. Jemy langsung membungkuk untuk mengucapkan terimakasih.
"Saya berjanji akan bekerja lebih giat Tuan," imbuh Jemy lagi sedikit antusias. Kemudian ia kembali melihat Angga dan Keisha yang terlihat sedang berpelukan untuk melepas rasa rindu. Sementara Romi di sana hanya diam mematung seperti robot sembari memegang koper milik Angga.
"Romi! Maukah ku carikan perempuan untukmu?" Teriak Jemy sedikit keras hingga membuat pria yang dipanggil namanya itu menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.
Tuan Wilson hanya menikmati pemandangan itu, suatu hal yang nampak indah dimatanya. Ia juga tidak menegur Jemy yang mulai berjalan ke arah cucunya untuk mendekati Romi dan menggodanya.
Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke -75 Tahun 🖒🖒🖒🖒🖒
__ADS_1